Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
30 Permohonan Maaf


__ADS_3

Seminggu berjalan, semua anggota keluarga Pak Handoko memiliki tugasnya masing-masing, ramai riuh bagaikan pasar yang mondar-mandir di ruang keluarga untuk mempersiapkan perjalanan jauh ke Eropa. Widya, Ainun yang selalu selalu bertanya pada anggota keluarga untuk mengingatkan jangan ada yang tertinggal. Widya juga tak lupa dengan berkas-berkas yang harus dipenuhi untuk memenuhi syarat menikah di luar negeri. Ridwan yang membantu mengangkat-angkat barang-barang untuk dimasukan ked lam mobil. Telpon berbunyi terus pada Pak Handoko untuk memberitahukan bahwa keluarga Pak Pram sudah dalam perjalanan menuju Airport.


Tujuan pertama keberangkatan sekarang adalah menuju negara Canada. Di sini Pak Handoko ingin berkunjung ke rumah adik kesayangannya Nirwana yang sudah lima belas tahun tak bertemu. Rasa berdebar-debar dan uraian kalimat yang akan Pak Handoko akan bicarakan selalu diucapkan olehnya. Genggaman tangan Ainun menenangkan hatinya, dengan senyum simpul yang diberikan Pak Handoko padanya.


Perjalanan ini menempuh dengan transit di negara Korea, namun para penumpang tidak boleh keluar dari wilayah Airport selama empat jam. Ridwan dan Sarah sangat bersemangat untuk berkeliling-keliling Airport yang sangat besar, dan bernuansa “Opa” dalam serial Korea. Kemudian Mereka makan siang di restaurant mie. Padahal di negara Indonesia, makan mie merupakan makanan biasa-biasa saja, namun di negara Korea, Ridwan dan Sarah menikmati makan mie tersebut seperti belum pernah makan mie. Mereka menebak-nebak mie yang mereka makan dengan rasa sama yang di jual di Indonesia. Tingkah laku mereka sangat lucu membuat Pak Handoko dan Ainun, Pak Pram dan istrinya tertawa. Widya hanya menggeleng-geleng kepala saja dan tersenyum, karena di usia anak-anaknya yang tidak terbilang masih kecil, tetapi tingkah laku mereka seperti kanak-kanak yang tidak malu banyak orang yang melihat tingkah laku mereka.


Terdengar pengumuman bahwa bagi penumpang keberangkatan menuju Canada dengan nomor pesawat Can343 setengah jam lagi akan berangkat. Setelah mendengar informasi tersebut, Pak Handoko berdiri dan berjalan mendekati kasir untuk membayar bill. Kemudian mereka semua bergerak menuju gate empat dua untuk menunggu keberangkatan.


Perjalanan menuju negara Canada merupakan perjalanan lintas waktu, sehingga saat melewati lintas waktu terlihat sangat indah di luar jendela. Fenomena alam yang sangat indah dengan perpaduan aneka warna menjadi satu. Setelah melewati fenomena alam tersebut, berarti tidak lama lagi akan sampai di negara Canada.


Setelah sampai di Negara Canada, mereka langsung menuju rumah Nirwana. Rumah yang harus ditempuh selama dua jam perjalanan dari kota. Memang ini adalah ciri khas Nirwana yang tidak suka keramaian. Sehingga dalam perjalanan Pak Handoko hanya tersenyum dan bergumam “Memang itulah Nirwana”. Rasa semangat Pak Handoko dan deg-degan membuat tangan Ainun di genggam sangat keras oleh Pak Handoko, Ainun yang merasa sangat kesakitan, tetapi ia pertahankan hanya untuk memberi dukungan pada suami tercintanya. Ia tahu hanya itu saja yang bisa ia berikan pada suaminya.


Sesampainya keluarga besar Pak Handoko dan Pak Pram, di depan rumah Nirwana, ada sosok Jordan yang sedang menebang kayu di pinggir rumahnya untuk menghangatkan tungku api. Pak Pram yang menepuk pundak Pak Handoko sebagai isyarat untuk menunggu sebentar untuk memberitahukan kedatangannya dan keluarga di sini. Pak Handoko hanya menganggukkan kepalanya saja.


Terlihat dari jauh Jordan dan Pak Pram sedang berjabat tangan hangat dan berbicara, sekali-sekali terlihat Jordan yang melihat kearah Pak Handoko. Kemudian Jordan bergerak masuk ke dalam rumah dan Pak Pram berjalan mendekati Pak Handoko dan keluarga.


“Yuk, pada masuk ke dalam rumah, Jordan sudah tahu kedatangan kalian, dan sedang memberitahukan Nirwana akan kedatangan kita”.

__ADS_1


Pak Handoko hanya menarik napas Panjang, dan membuangnya udaranya melalui mulut. Tangan lembut Ainun mengusap-usap punggung Pak Handoko.


“Yuk Pa.” ajak Ainun masuk ke dalam rumah.


Setelah masuk teras rumah, Pak Handoko dan keluarga besarnya disambut oleh seorang wanita yang cantik, walaupun sudah memasuki umur tua, karena terlihat uban-uban yang bermain-main di rambutnya, tetapi kecantikannya tidak memudar.


Pelukan hangat langsung ditujukan pada Ainun dan Pak Handoko, air mata mengucur deras di kedua orang tersebut. Pertunjukan yang penuh drama terlihat oleh Ridwan dan Sarah. Mereka hanya saling memandang kemudian melihat Pak Handoko lagi.


Usai adegan pelukan penuh dengan tangis air mata, dan muka sembab, tetapi penuh bahagia. Satu-per satu diperkenalkan oleh Pak Handoko kepada keponakan-keponakannya.


“Sarah, Ridwan ini tantemu, Tante Nirwana Namanya”.


“Ayo, masuk ke dalam. DI luar sangat dingin. Jordan sudah membakar api di cerobong tungku.”


Saat satu per satu masuk ke dalam ruang tamu rumah Nirwana, pemandangan hangat dan penuh dengan bulu-bulu yang menyelimuti ruang tamu, mulai dari bangku sofa hingga karpetnya. Rumah yang dari luar terlihat rumah beton, tetapi saat masuk ke dalam rumah, rumah Nirwana bernuansa serba kayu oaks.


Jordan dan Nirwana berbincang-bincang dengan Pak Handoko dan Pak Pram di ruang tamu. Widya, Ainun dan anak-anak bercanda-canda di ruang keluarga di bagian tengah yang ada tungkunya. Mereka disuguhi susu coklat yang hangat dan kue jahe buatan Nirwana.

__ADS_1


Empat puluh menit berlalu, akhirnya terlihat dari dalam ruang keluarga, Pak Handoko memeluk Jordan dan Nirwana. Pak Pram dan istrinya pamit mau balik ke kota, karena di kota ada saudaranya Pak Pram, dan berniat ingin menginap disana. Hembusan napas lega dilakukan oleh Widya.


“Alhamdulillah.”


“Masih kuat kan perutnya, tante masakin ayam kalkun yaa, buat makan malam, coba kalian ke atas, disana ada dua kamar kosong, pilih masing-masing mau tidur dimana?” ujar Nirwana pada Ridwan dan Sarah.


“Baik tante.” seraya berdiri tegak dan berjalan ke arah yang ditujukan oleh Nirwana.


Nirwana, Ainun, Widya asyik meracik makanan di dapur. Kebahagiaan telah menyelimuti keluarga besar Pak Handoko.


Pak Handoko, dan keluarga besarnya menginap selama empat hari, setelah itu dilanjutkan perjalanan menuju Amsterdam dan langsung ke rumah Lira. Di sana mereka disambut hangat oleh Lira dan suaminya. Rencana untuk memberi kejutan pada Steward dan keluarga sangat memberikan kebahagiaan pada Lira.


“Ide yang sangat keren, aku setuju. Tadi Steward menelpon ku, Wid. Dia stress kamu dihubungi berkali-kali tidak diangkat-angkat. Pantas saja kamu tidak mengangkatnya, ternyata kamu kesini.”


“Tante, Om, bagaimana kalau besok kita ke Leiden?”


“Oke… kita berangkat besok ya. Hari ini kita jalan-jalan di kota Amsterdam”.

__ADS_1


“Asyik…kita jalan-jalan”.


__ADS_2