Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
32 Melepaskan mu


__ADS_3

"Amanda...." Ucap Steward dengan mematung di sisi Widya.


Amanda terlihat sedikit lebih gemuk. Perutnya juga terlihat sedikit lebih buncit.


"Apa yang baru saja anda katakan." Ucap Widya dengan aliran darah yang terasa panas dan terasa cepat mengalir.


"Yes, I'm Pregnant. And this is our baby." Ucap Amanda.


[Ya. saya hamil. dan ibu adalah bayi dari kami.]


Tubuh Widya lemas, ia memejamkan matanya untuk menenangkan hati yang sedang berdetak cepat. Darah yang terasa mendidih.


Pak Handoko menatap Steward tajam.


"Katakan ini tidak benar Steward." Bentak Pak Handoko padanya.


Steward terkulai lemah. Ia tahu apa yang dikatakan Amanda adalah memang betul. Ia pernah melakukan hubungan badan dengan Amanda disaat mabuk. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada sesal yang datang di awal. Semua selalu datang di akhir. Begitupun rasa sesal di hati Steward. Ia hanya menunduk dan mengangguk. Ia mengakui apa yang di katakan Amanda adalah benar. Ia tak ingin menjadi lelaki pecundang.

__ADS_1


"Astaghfirullah..... Apa aku tak sedang bermimpi?" Tanya Widya.


Sarah memeluk ibunya. Pak Handoko tampak ingin memukul Steward jika tidak di tahan oleh Mr Berg.


"Baj1ngan Kamu Steward!" teriak Pak Handoko.


"Saya bisa jelaskan. Ini semua terjadi sa-"


"Tidak ada penjelasan yang ingin saya dengarkan. Kamu telah menyakiti saya Steward. Jika kamu mengakui apa yang Amanda katakan. Kamu harus melepaskan aku. Kita tak bisa melanjutkan pernikahan kita walau ada cinta diantara kita. Amanda, dia membutuhkan kamu." Ucap Widya seraya berlari keluar.


Ibu dua anak itu menyesali hatinya yang begitu lemah. Kenapa ia begitu cepat membuka hati untuk Steward.


"Widya!" Teriak Pak Handoko dan Sarah juga Steward.


Daraaah segar mengalir dari kepala Widya. Perempuan itu terlihat terpejam. Bau anyir menyengat karena kepala yang membentur bagian depan mobil dan juga aspal.


"Mama....?!" Teriak Sarah.

__ADS_1


Tak lama sebuah ambulan datang dan membawa tubuh Widya. Pak Handoko menghajar Steward berkali-kali. Lelaki Bule itu hanya pasrah. Ia sadar bahwa semua salahnya. Ia yang telah menyakiti Widya hingga terjadi kecelakaan tersebut. Saat ia akan ikut, Mr. Berg menahan putranya.


"Jangan Son. Mereka sedang marah. Tunggu amarah mereka reda."


Steward kembali kerumahnya. Ia memakai Amanda. Ia marah pada Amanda.


"Dulu, saat aku akan bertanggungjawab. Kamu tidak ingin. Kamu bilang kamu tidak menyukai ku! Kenapa sekarang kamu hadir disaat aku dan Widya hampir menikah!" Teriak Steward kesal.


Amanda menangis tersedu-sedu. Ia juga tak menyangka jika ia hamil karena satu kegiatan yang ia lakukan bersama Steward.


"Maafkan aku. Aku tidak mungkin menikah dengan lelaki lain." Ucapnya.


"Tapi keyakinan kita berbeda. Jika kamu ingin aku bertanggungjawab. Maka kamu ikut keyakinan ku. Kita tak mungkin bersatu dengan perbedaan keyakinan Amanda!" Keluh Steward.


Amanda pun sudah memikirkan hal ini. Ia tertunduk, ia pun mengatakan jika ia bersedia.


"Aku mohon, tunggu Widya sadar. Jelaskan semuanya pada dia. Aku akan tetap menikahi kamu. Tapi tidak sebelum Widya tahu jika ini semua tak disengaja. Agar luka di hatinya tak terlalu sakit." Ucap Steward pada Amanda.

__ADS_1


Perempuan itu pun hanya diam sambil menangis. Ia tak menyalahkan Steward, saat itu lelaki bernama Steward itu telah menemuinya. Namun ia sendiri menolak Steward. Beruntung ia bertemu Steward yang mengerti bahwa setiap yang di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di hari akhir. Ia lebih melepaskan Widya.


"Sungguh hati tak mampu melepaskan mu, Widya..... Aku mencintaimu...." Gumam Steward dalam hatinya.


__ADS_2