
Setelah sampainya WIdya dan Steward di kediaman orang tua Widya, kedua orang tua Widya sudah menunggu mereka di ruang tamu, menunggu cerita dari mereka.
“Bagaimana, apa yang sedang terjadi?” Tanya Mama Widya
Widya berusaha menceritakan semua yang terjadi pada Ridwan di sekolah, peristiwa mengenai pemukulan Ridwan pada temannya, dan peringatan tentang Ridwan yang akan kehilangan beasiswa universitasnya.
“Widya, bingung..,” Kata Widya menutup ceritanya
“Mama dan papa sudah berdiskusi tadi malam, jadi Papa merestui hubungan kamu dengan Steward, karena ini adalah pasangan hidup kamu yang kamu pilih sendiri, maka apapun yang terjadi pada hubungan kamu dengan Steward semua adalah urusan kamu, dan kamu tanggung sendiri, Oke. Dan kamu? Aku pegang ucapan mu.” Kata Pak Handoko tegas.
Widya dan Steward tersenyum Bahagia.
“Alhamdulillah.” Ucap Widya dan Steward berbarengan.
“Jadi untuk sementara, kalian urus masalah Ridwan lebih dulu, setelah semua selesai, kalian harus segera menikah,” Kata Papa Widya melanjutkan
“Baik Pak… terima kasih atas restu Bapak, akan saya urus Ridwan dan Sarah, juga saya akan jaga mereka, Insyaallah.” Janji Steward pada Pak Handoko.
“Sekarang, tugasmu untuk mengurus Ridwan, sepertinya Ridwan tahu akan rencana kamu menjadi Papa tirinya, sebaiknya kamu tahu kalau Ridwan dan Dika itu ikatannya sangat dekat, Dika selain menjadi Papanya, Dika itu bagaikan teman akrabnya Ridwan,” Kata Pak Handoko menjelaskan.
“Baik, Pak,” Jawab Steward
Saat di teras rumah, tampak dari kaca kamar Ridwan jika Sarah tampak akrab dengan Steward, dan hal itu membuat Ridwan menahan gerahamnya. Ia merasa kecewa pada Widya dan Sarah yang sudah mau mengganti posisi papanya dengan orang lain.
"Bagi ku, papa cuma satu." Ucap Ridwan penuh amarah.
Saat malam harinya, Ridwan masuk kedalam kamar Sarah.
“Kamu tuh pengkhianat,” Tiba-tiba Ridwan berteriak pada Sarah
“Pengkhianat, maksudmu?”Sarah bingung
“Iya, kamu pengkhianat Papa. Kamu setuju Mama menikah lagi sama si bule itu, kan,” Kata Ridwan
“Mas.. Kita harus move-on mas, Papa sudah tidak ada, lagian juga Mama juga bahagia dengan om Steward,”
“Jadi kamu sudah melupakan Papa, segitu gampangnya Sar,?" Tanya Ridwan dengan kedua netra yang merah.
“Bukan melupakan Papa, Sarah masih tetap doakan Papa kok, setiap habis sholat Sarah tetep doakan Papa, kalo Sarah setuju Mama menikah lagi dengan om Steward, bukan berarti Sarah melupakan Papa, Mama butuh teman untuk diajak bercerita. Belum lagi biaya kita untuk sekolah.” Sarah berusaha menjelaskan.
__ADS_1
“Alaah, karena dia orang bule dan ganteng kan, mangkanya kamu setuju dengan dia,” Kata Ridwan
“Iya sih… Tapi in ikan pilihan hati Mama, mengenai bulenya itu bonus,” Kata Sarah
“Pokoknya aku tidak akan pernah setuju,” Kata Ridwan sambil meninggalkan Sarah sendirian di kamarnya.
Keesokan sore , Steward main kerumah Widya, Steward meminta Sarah bercerita tentang kedekatan Ridwan dengan Papanya. Kemudian Sarah bercerita semua hal waktu kebersamaan Sarah dan Ridwan pada Papanya.
“Mana Ridwan, Sar,?" Tanya Steward karena merasa sulit sekali mendekati sulung Widya itu.
“Lagi dibelakang, lagi main basket sendirian,” Ucap Sarah sambil memainkan kepalanya menunjuk kearah belakang rumahnya.
“Steward, kapan kamu datang,?" Tanya Widya.
“Barusan aja,” Jawab Steward yang mencari keberadaan lelaki yang akan menjadi anaknya jika ia menikah dengan Widya.
“Mau bertemu dengan Ridwan ya?" Tanya Widya yang melihat arah anak mata Steward.
“Akan ku coba,” Ujar Steward sambil menganggukkan kepalanya.
“Yaa sudah, Aku buatkan es sirup yaa buat kalian,”
“Hai…” Sapa Steward ketika sudah berada di dekat Ridwan.
“Boleh ikut main basket denganmu?” Kata Steward memulai pembicaraan.
Ridwan hanya melihat Steward diam dengan wajah marah, dan melemparkan bola basket pada perut Steward kencang. Terasa bunyi buk pada perut Steward, dengan menahan hentakan bola yang mengenai perut Steward, Stewart Pun membalas lemparan bola basketnya pada perut Ridwan. Ridwan merasa kaget dan tersentak karena Steward membalas pada Ridwan. Kemudian beberapa saat Ridwan dan Steward saling lempar lemparan bola basket. Yang akhirnya setelah Ridwan melemparkan bola basket pada Steward, Ridwan meninggalkan Steward sendirian.
“Pengecut” Kata Steward pada Ridwan
Ridwan menengok kebelakang dan mendekati Steward.
“Apa kamu bilang tadi,?" Tanya Steward yang mengerti jiwa muda Ridwan.
“Iya..Kamu pengecut, diajak tanding bola eh, malah kamu pergi, itu apa Namanya kalo bukan pengecut,” Kata Steward santai.
“Oke, kita tanding, tapi apa hukumannya bagi yang kalah main,” tantang Ridwan, yang merasa pemain bola basket di sekolah.
“Bagaimana kalau yang kalah, dia harus push-up sebanyak lima ratus kali,? Tantang Ridwan
__ADS_1
“Boleh, dan harus ikut jalan-jalan kalau diajak jalan yaa, Bagaimana, setuju,? Jawab Steward menimpali
“Oke” Ridwan menyetujui kesepakatan dengan kesal
Pertandingan bola basket pun dimulai, Widya, dan Sarah melihat asyiknya Ridwan dan Steward bertanding bola, kemudian Pak Handoko dan Mama WIdya juga bergabung duduk di teras belakang untuk menyaksikan pertandingan bola basket diantara Ridwan dan Steward.
Hampir selama dua jam pertandingan bola basket berlangsung, akhirnya Ridwan kalah dan merasa kesal, kemudian membanting bola basket ke sembarang arah, dan meninggalkan Steward sendiri.
“Hei… lunasi dulu janjimu,” Kata Steward pada Ridwan.
Ridwan dengan baju yang basah kuyup mandi keringat, menoleh kearah Ridwan, dengan wajah kesal dan berat melaksanakan janjinya.
“Kamu sudah janji bila yang kalah lakukan dulu lima ratus kali push-up, kan Kamu sendiri yang buat peraturannya, peraturan dariku kan enak” Kata Steward seraya mengelap keringat pada dahinya.
Dengan kesal Ridwan melaksanakan push-upnya, tak lama kemudian, Steward membuat ancang-ancang push-up juga disamping Ridwan. Ridwan bingung, melihat Steward.
“Jika kamu memiliki kesulitan apapun, dan masalah apapun, aku siap membantu dan meringankan bebanmu,” Kata Steward melakukan push-up Bersama Ridwan disampingnya sampai lunas.
“Sudah..sudah…sudah. Minum dulu Nak.” Widya mendekati Ridwan dan Steward sambil memberikan dua gelas es sirupnya.
Sambil meminum segelas es sirup yang menyegarkan, tak lama kemudian Steward mengajak Ridwan untuk camping ke gunung, dengan mendaki dari kaki gunungnya.
“Wah.. asyik tuh, aku ikut dong,” Ucap Sarah dan Widya bersamaan.
“Maaf ladies, ini urusan laki-laki, Wanita Dilarang ikut,” Ucap Steward.
“Malas ah..,” Jawab Ridwan cepat.
“Tapi kamu sudah janji tadi, harus setuju jika diajak jalan-jalan kemana aja,” Steward membalas.
“Iya..iya,” Kata Ridwan sambil meninggalkan Steward dan Widya.
“Ternyata kamu jago juga yaa main basket, aku kok baru tahu sih,” Kata Widya.
“Banyak hal yang belum kamu tahu wid, tentang aku, bisa mabuk cinta nanti kamu sama aku, kalau aku ceritakan semua padamu,” Goda Steward
“Ihh… Ge-eR” Widya meninggalkan Steward.
Steward tersenyum saja sambil mengikuti langkah Widya dari belakang menuju rumah.
__ADS_1
Karena masalah pemukulan Ridwan terhadap teman sekolahnya, maka Ridwan terkena hukuman diskor tidak boleh sekolah selama seminggu. Maka dari itu, kesempatan Steward mendekati dan merebut hati Ridwan.
Pagi hari ini, Steward sudah mendatangi rumah Widya, untuk mengajak Ridwan camping ke gunung, semua persiapan sudah Steward persiapkan, dari penyewaan penginapannya, sampai akomodasi yang mendukung. Ridwan merasa malas mengikuti ajakan Steward, tetapi tidak mau dikatakan pengecut oleh Steward. Dengan bangga sebagai seorang laki-laki yang menepati janjinya, akhirnya Ridwan ikut dengan segala perlengkapan yang harus dibawa. Steward memohon ijin untuk mengajak jalan Ridwan selama empat hari pada Widya dan keluarganya.