
“Akhirnya kau jawab juga teleponku. Aku sudah berkali-kali menelponmu selama seminggu terakhir ini”.
Kata-kata itu terlontarkan ke gendang telinga Jordan, bahkan Jordan belum sempat menjawab ”Halo” pada lawan bicaranya di telpon. Mengenali suara saudaranya diujung sana. Jordan tertawa dan berkata.
"Berg, aku tahu kau rindu padaku kan, tapi tolong kecilkan suaramu. Aku tidak mau orang-orang akan mengira kita ada hubungan spesial kan”.
Jordan kemudian berdiri dan menghadap ke jendela kaca dirumahnya. Rumah sekaligus kantor buat Jordan, membuat nyaman Jordan untuk bisa fokus bekerja. Morgan adalah teman kuliahnya sekaligus partner kerja Jordan di kantor. Hanya saja Jordan lebih memilih rumahnya yang nyaman dan asri sebagai kantornya bekerja.
Rumah asri yang jauh dari keramaian, nyaman, halaman dengan penuh taman hijau dan bunga-bunga yang berwarna-warni menambah kenyamanan rumah itu. Dua hari sekali Jordan Kembali ke kantor untuk laporan kerjaan kepada Bos.
Perusahaan tempat Jordan bekerja adalah pabrik garment yang special membuat pakaian dan celana yang dijual di Mal. Di kantor ini Jordan mengajak Berg sepupunya untuk bekerja di tempat yang sama dengan Jordan bekerja, karena Jordan tahu kapasitas dan kemampuan Berg dalam bekerja.
“Sebenarnya aku tahu kau akan menelpon ku,”kata Jordan ringan.
“Dan aku minta maaf, selama ini belum sempat membalas telpon mu. Kamu sendiri pasti sibuk dan tidak pernah berada di dalam kantor, si Bos sepertinya suka sekali dengan hasil kerjamu,”. Berg memuji Jordan.
“Hahaha... Kamu mengejekku ya, Kau yang selalu saja dicari-cari Bos, bukan aku,”
Sambil tersenyum membanggakan diri Jordan berkata
“Jadi ada apa kau menelpon ku?” tanya Jordan penasaran.
Sambil berjalan di pinggir trotoar dan membenarkan tali sepatunya berg berkata
“ Hei… kau ada tugas dari Bos untuk menjalankan kerja sama dengan client dari Indonesia,”. Ucap Berg.
“Client itu adalah pengusaha bisnis terkenal dan maju di negaranya, Namanya Mr. Handoko,” jelas berg melanjutkan.
“Kau ikut denganku kan Berg,” jawab Jordan penuh harap.
Berg membuka pintu dengan tangan kosongnya ke dalam pintu café sambil menjawab telpon di tangan sebelah satunya.
“Maaf, kali ini aku tidak bisa ikut denganmu Jordan, karena Bos membutuhkan aku di sini, aku juga kan masih menangani bisnis dengan client dari Amerika itu dan harus berangkat ke Newyork Jum’at ini,”.
__ADS_1
Mata Jordan menyipit dan mengkerutkan dahi saat mendengarkan Berg pergi ke Newyork, walaupun Berg tidak bisa melihat semua itu tak percaya pada Berg.
“Emang benar kau pergi ke New York atas perintah bos?” tanya Jordan ragu.
Sambil tersenyum simpul tak lepas dari bibir Berg menjawab.
“Mau tahu saja kau!!!”.
Jordan tertawa.
“ Hei, aku kan hanya bertanya”.
Saat itu, tercium harumnya masakan Mama yang membuat penciuman Jordan menjadi aktif untuk mendekati asal harumnya masakan yang membuat perut Jordan menjadi menuntut makanan.
“Harum sekali masakanmu, Ma, masak apa?” tanya Jordan sambil mendekati kompor dan membuka tutup panci yang sedang di masak.
“Mama masak Saos tomat daging cincing kesukaanmu,” jawab Mama.
Di meja makan, saat Jordan menyantap makanan, Saos tomat daging cincang kesukaannya dicampur dengan rebusan kentang yang dihancurkan, bersama Papa dan Mamanya, Jordan berkata
“Pa, Ma Jordan minta izin yaa.. Jordan mau berangkat ke Indonesia ada tugas dari Bos untuk bertemu Client di sana,”.
Sambil menuang Saos tomat daging cincang di piring untuk Papa, Mama dan Papa menatap wajah Jordan kaget. Papa bertanya sambil menerima piring dari Mama.
“Kok tumben dikirim ke Indonesia, ada apa di sana?”
“Si Bos ingin Jordan bertemu Client yang berada di sana, Client itu katanya merupakan bisnisman yang berhasil di garment, dan Bos ingin Jordan belajar dari orang itu,” Jordan berusaha memberi pengertian pada orangtuanya.
“Lalu, apakah Berg juga ikut denganmu?” tanya Mama lagi.
“Sayangnya Berg tidak bisa ikut denganku kali ini, Ma. Berg diberi tugas oleh Bos untuk menangani Client yang berasal dari New York,” Jordan menjelaskan sambil menikmati masakan Mama.
“OOO….!!!,” kata Mama dan Papa berbarengan.
__ADS_1
Setelah Jordan, Mama dan Papa selesai makan, sambil merapikan meja makan dan mencuci piring kotor, Mama bertanya pada Jordan.
"Jadi kapan Kau mau berangkat ke Indonesia Jordan?" tanya Mamanya.
“Mungkin minggu depan Ma.” jawab Jordan sambil membantu meletakan piring bersih ke rak piring.
“Aku masih akan mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan untuk keberangkatan ke sana Mam,”
Jordan mengerang dan menjatuhkan dirinya di kursi sofa berlengan di depan tv ruang tamu. Diambilnya remote tv untuk mencari acara tv yang bisa menghibur dirinya dari penatnya kepalanya yang seharian berkutit dengan pekerjaannya tak kunjung selesai. Belum lagi Jordan harus mengumpulkan berkas-berkas yang harus dipelajari untuk presentasi di depan Client nya di Indonesia.
Tiba-tiba terdengar suara dering telpon berasal dari smartphone milik Jordan. Dilihatnya dari layar ponselnya untuk mengetahui darimana telpon itu berasal.
“Yaa Bos.” jawab Jordan.
“Jordan, apakah Berg sudah memberitahukan tugasmu?” tanya sang Bos.
“Sudah Bos, kemarin Berg sudah menjelaskannya padaku tentang pergi ke Indonesia,” jawab Jordan.
“Jordan, pelajari bagaimana Mr. Handoko itu bekerja dan berhasil dalam pekerjaannya, curi ilmunya, apa saja yang butuhkan agar berhasil dalam kariernya,” perintah bos yang Panjang lebar yang membuat kuping Jordan merasa panas.
“Oke…oke bos,”.
“Oiya, Jordan… satu lagi. Hal yang sangat penting dalam tugasmu,”
“Apa itu bos?”
“Kamu tahu kalau Pak Handoko itu mempunyai adik kesayangannya, Nirwana Namanya. Gadis itu cantik. Coba kamu dekati dia, buat gadis itu menyukaimu. Kau cari kelemahan Pak Handoko sehingga perusahaannya hancur,”.
“Apakah Berg tahu tentang hal ini bos?” tanya Jordan bingung terhadap tugas berat ini. Ada rasa menyesak dalam dadanya untuk menanggung beban dari bosnya ini.
“Dia tidak tahu tentang hal ini, sudah jangan libatkan Berg itu, Berg itu terlalu lemah terhadap hal-hal seperti ini, mangkanya aku tugaskan kau menemui Pak Handoko di sana,” kata Bosnya serius.
Kalimat terakhir dari bosnya itu selalu terngiang-ngiang di gendang telinganya, walaupun pembicaraan antara bos dengan Jordan sudah selesai dari setengah jam lalu. Jordan gelisah untuk yang kedua kalinya, Jordan mengacak rambutnya dan kali ini terasa lebih berat dari pada masalah Jordan yang pertama. Bayangan terbang menuju Indonesia dan rangkaian cerita antara ia dan Nirwana, adik Pak Handoko kelak terbayang dalam pikirannya. Jordan bingung apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1