Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
31 Kejutan dan Dikejutkan


__ADS_3

Hari ini semua anggota keluarga sudah mempersiapkan keberangkatan menuju kota Leiden. Setelah selesai sarapan pagi yang disantap di teras belakang dengan udara yang segar dan sepoi-sepoi. Semua berangkat dengan menggunakan dua mobil yang sudah dipersiapkan di depan rumah. Tak lupa Pak Handoko memberikan Sherlock kepada Pak Pram, yang sebelumnya sudah bertanya dulu pada Lira karena menurut Pak Pram, Pak Pram berserta istri dan keluarganya akan langsung berangkat ke kota Leiden.


Jarak yang di tempuh Satu jam perjalanan dari Amsterdam ke kota Leiden, sangat menyenangkan karena sepanjang perjalanan mereka disuguhi oleh pemandangan penuh dengan penghijauan dan perbukitan.


Sesampainya dua mobil hitam tersebut di depan rumah Steward, ayahnya Mr. Berg yang sedang menebang kayu mendekatinya dengan kebingungan siapa tamu tersebut. Tak lupa Steward dan saudaranya yang sedang sibuk di Gudang dengan membawa sebongkah Jerami untuk kuda-kudanya dan sapi-sapinya, mendekati mobil tersebut dengan kebingungan.


“Siapa yang datang, Pa?”.


“Aku tidak tahu” kata Mr. Berg berjalan bersama-sama mendekati mobil tersebut.


“Pak Handoko, Widya, Sarah, ada apa ini?”.


“Pak Handoko” sapa Mr. Berg.


“Mr. Berg, apa kabarnya, maaf kami sekeluarga datang kemari tidak memberi kabar, karena kami ingin memberi kejutan pada keluarga Mr. Berg dan Steward”.


“Ya, kalian memang sudah membuat cukup kaget kami”.

__ADS_1


“Pak Handoko.” sapa Steward pada Pak Handoko.


“Steward, maafkan kesalahan saya.” sapa Pak Handoko langsung mendekap memeluk Steward.


“Maaf?” Steward bingung dan melihat paman Jordan dan tante Widya turun dari mobil hitam satunya.


Jordan dan Nirwana hanya mengangguk tersenyum pada Steward.


“Mari, mari masuk ke dalam dan ceritakan semuanya” sambut Mr. Berg pada semua keluarga besar yang datang.


Widya hanya tersenyum.


“Sarah..Ridwan, apa kabarmu, Nak?” sapa Steward memeluk Ridwan.


“Baik, Om.” jawab Sarah dan Ridwan bergantian.


“Ayo, masuk.” ajak Steward.

__ADS_1


Setengah jam kemudian Pak Pram datang, dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah mereka berjumpa dengan ibunya Steward. Mrs. Berg menyambut dengan kehangatan. Kemudian di ruang tamu mereka saling berbicara serius, untuk menerangkan duduk permasalahannya.


“Mr. dan Mrs. Berg saya atas nama keluarga besar mohon maaf atas kesalahpahaman diantara keluarga kita sehingga membuat membatalkan pernikahan anak-anak kita. Pak Pram sudah menjelaskan duduk permasalahan antara saya dengan Jordan adik Mr. Berg dan semua sudah selesai. Jadi Saya atas nama orang tua Widya, meminta agar Steward dan Widya untuk menikah.”


Wajah Steward berubah menjadi sangat bahagia dan memandang Widya.


“Alhamdulillah, doaku terkabulkan” ucap Steward pelan.


“Terima kasih atas kedatangan Pak Handoko dan keluarga, setelah kami pulang dari Indonesia, Jordan dan Nirwana sudah banyak bercerita pada kami. Sungguh kami sangat berterima kasih. Tapi semua terserah anak saya, bagaimana menurutmu Steward?” jawab Mr. Berg.


Namun saat Steward baru akan menjawab, tiba-tiba kehadiran seorang perempuan mengagetkan semua yang ada disana.


“You can't marry Widya, I'm pregnant with your steward's child.” Ucap perempuan bule itu dan membuat semua mata tertuju pada perempuan itu.


Widya menatap perempuan berambut pirang tersebut. Perempuan dengan mata coklat. Rambut orange, membuat ia terlihat lebih seksi dengan dress sebatas paha.


Steward terpaku menatap perempuan itu. Bibirnya keluh. Ingin ia membantah. Ingin ia marah, tetapi bayangan masalalu Kembali hadir di pelupuk mata Steward.

__ADS_1


__ADS_2