
Saat ini, jam menunjukkan pukul lima sore, waktu Indonesia Barat. Matahari tampak jelas makin terlihat menguning dari teras rumah. Angin sepoi-sepoi meniup membuat Widya, Ainun Mama Widya dan Steward tampak akrab dan bercengkrama di teras depan rumah Widya. Burung-burung terlihat kontras dan tampak jelas berterbangan kesana dan kemari mungkin setelah mereka mencari makan seharian penuh.
Tak lama kemudian, sebuah mobil masuk ke dalam halaman teras yang dibukakan gerbangnya oleh mbok Siti. Detak jantung Steward berdegup kencang menghadapi Papa Widya, ia tidak tahu karakter Papanya.
Saat Pak Handoko keluar dari mobil, Widya, Ainun Mama Widya dan Steward yang berdiri menyambut kedatangan Papanya Widya, menyapa dan bercium tangan Papanya Widya.
“Assalamu’alaikum.” Sambut Steward.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Pak Handoko
“Oiya Pa, kenalin ini Steward teman Widya, sepupunya Lira.” Widya memecahkan suasana
“Ooo, halo.” Jawab Pak Handoko pada Steward.
Widya berusaha tersenyum pada Steward. Dan memberi semangat pada Steward.
Azan maghrib berkumandang, kebetulan dekat rumah Widya ada Mesjid, kemudian, Steward memohon ijin pada Ainun mamanya Widya untuk pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
“Pa.. tuh liat Steward, pergi ke mesjid untuk sholat berjamaah, Papa juga pergilah ke Mesjid,” Ujar Ainun Mama Widya.
“Alaaah, cari perhatian dia sama keluarga kita Ma, karena ada maunya tuh… paling juga mualaf pura-pura.” Kata Pak Handoko seraya berlalu ke arah kamar.
Satu jam kemudian, azan berkumandang lagi menandakan masuk waktu sholat isya, kemudian setelah Steward pulang dari mesjid.
“Steward, ayo makan dulu.” Ajak Bu Ainun. Sedangkan Pak Handoko tampak dingin saja.
“Baik, sebentar, saya ganti pakaian dulu,”
Setelah selama satu jam Pak Handoko, Ainun, Widya dan Steward menyelesaikan makan malamnya dengan keheningan. Kemudian, Steward memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“Maaf Pak, ijinkan saya untuk memulai pembicaraan,”
“Silahkan,” Jawab Pak Handoko.
“Saya berniat untuk melamar Widya sebagai istri saya dan pendamping hidup saya,” Kata Steward dengan hari yang berdebar kencang.
“Kamu mau kasih makan apa anak saya, dan cucu-cucu saya? saya juga tidak mau anak saya tinggal di luar negeri." Ucap Pak Handoko.
__ADS_1
“Kamu sudah tahu kalau Widya itu sudah punya anak dua?” Tanya Pak Handoko kembali melanjutkan ucapannya setelah menyeruput teh hangat di cangkirnya.
“Sudah Pak,” Jawab Steward dengan suara khas bulenya.
Lelaki bule itu terlihat menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Karena itu juga hati saya semakin mantab untuk membuat Widya menjadi istri saya, karena saya benar-benar menyukai Widya Pak, karena Widya sudah mempunyai anak, maka saya juga harus menyayangi anak-anak Widya, berarti anak-anak Widya adalah anak-anak saya juga, insyaallah saya tahu apa yang harus dilakukan jika saya menikahi Widya, saya tidak hanya harus memperhatikan Widya melainkan juga kedua anaknya,” Jelas Steward.
“Pekerjaan kamu apa?” Tanya Pak Handoko lagi
“Saya pengantar susu, Pak.” Jawab Steward jujur.
“Hanya pengantar susu?” Pak Handoko sedikit terkejut.
“Kamu mau kasih makan apa keluarga saya dengan hanya pengantar susu?.” Ucap Pak Handoko memandang Steward Remeh.
“Tapi saya yakin, insyaallah saya bisa membahagiakan Widya dan anak-anaknya,Bukankah dalam agama Islam setiap rezeki makhluk Allah sudah ada bagiannya dan tak akan tertukar. Tinggal bagaimana kita berusaha menjemputnya dengan cara yang Allah Ridho.” Jawab Steward.
“Jadi kamu mau kasih makan keluarga saya dengan gaji pengantar susu?” Tanya Pak Handoko lagi.
“Iya pak, saya yakin bisa membahagiakan mereka, bukankah Keberkahan bukan dari pekerjaan apa? Tapi dari kehalalan saat memperolehnya?” Ucap Steward yang malah memberikan pertanyaan pada Pak Handoko.
“Kamu dicarikan jodoh baik, masa depan cerah, tampan, tapi malah kamu pilih tukang susu,” Ucap Pak Handoko secara spontan tanpa memikirkan perasaan Steward.
“Kemarin, Papa juga sudah curiga. Kenapa tiba-tiba Pak Pram memutuskan untuk membatalkan perjodohan kalian, dan Pak Pram tidak menjelaskan alasannya, Oooo ternyata ini alasannya,”
“Perbandingannya terlalu jauh antara dia dan nak Rafa, Wid. Kamu liat apanya sih dari dia ini?” Ucap Pak Handoko dengan wajah masamnya.
“Tapi kami saling mencintai Pa, Widya sudah sudah dewasa Pa. Anak-anak butuh figur Ayah. Aku dan Rafa tak punya feeling apa-apa.” Jawab Widya sambil menundukkan kepalanya. Ia malu karena Papanya berkata seperti itu dihadapan Steward.
“Lulusan apa kamu Steward?” Pak Handoko kembali menyelidiki lelaki yang mengatakan menyukai putrinya.
“Saya lulusan pertanian,” Jawab Steward singkat.
“Nah, kan Wid… Sudah kerjaannya cuman pengantar susu, lulusan pertanian pula. Masa depannya mau jadi apa coba,” Pak Handoko terus mengomel pada Widya.
“Sudahlah Pa… kan masih ada kita. Kita kan bisa bantu mereka usaha. Ijinkan Widya menikah dengan Steward. Mama senang melihat Widya bahagia lagi setelah meninggalnya Dika. Sudahlah, saatnya Widya mencari dan menentukan pendamping sesuai dengan pilihan hatinya.” Kata Ainun Mama Widya pada suaminya.
__ADS_1
“Terserah kamulah,” Pak Handoko meninggalkan ruangan tersebut.
Mama Widya tersenyum pada Widya dan Steward sambil menyusul Pak Handoko.
“Nggak apa-apa, Mama coba bicarakan pada Papamu ya Wid,” Ucap Bu Ainun tak enak hati pada tamunya yang berniat baik.
“Terima kasih Ma,” Ucap Widya yang juga melirik ke arah Steward.
Di tengah malam, Steward terbangun, Ia berniat ke kamar mandi karena kamarnya tak ada kamar mandi atau toilet. Dan disaat yang sama dilihatnya Widya keluar kamar dan menuju ruang sholat.
“Oo,Wid, kamu mau sholat?" Tanya Steward.
"Tidak, aku ingin mengambil Quran ku yang tertinggal di ruangan mushola." Ucap Widya. Ia sengaja mengatakan hal itu. Ia tak ingin ada makhluk lain tahu jika ia sedang sangat menikmati di sepertiga malam melakukan shalat tahajud.
Widya cepat meninggalkan Steward. Ia tahu mereka bukan pasangan halal.
Tak terasa azan subuh sudah berkumandang, Steward sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke mesjid, agar bisa melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah pulang kembali ke rumah.
Pak Handoko hanya memperhatikan tingkah laku Steward dalam diam. Tetapi, Sarah suka dengan Steward, dan setuju kalau mamanya bahagia bersama Steward, Papa barunya yang orang bule. Semangat Sarah sama seperti semangatnya Widya. Akan tetapi, tidak dengan Ridwan yang dengan muka masam melihat Steward, saat berkenalan dengan Steward kemarin sore.
Keberadaan Steward dimata Ridwan seperti tidak ada, bahkan Ridwan melengos acuh saat salam dan tegur dari Steward pada Ridwan.
Ridwan juga berubah menjadi anak yang sulit diatur dan di nasehati. Tiap harinya selalu pulang malam. Sering Steward mengajak ngobrol Ridwan, tetapi Ridwan acuhkan. Beberapa hari di kediaman Widya, Steward mendapatkan hotel yang tak jauh dari kediaman orang tua Widya.
Suatu Ketika, Widya menerima telpon dari pihak sekolah Ridwan, yang melaporkan bahwa Ridwan terlibat perkelahian dengan teman sekolahnya, dan diharapkan Widya datang menemui kepala sekolah besok pagi.
“Baik Pak, saya akan datang besok pagi.”
Keesokan harinya, di pagi hari Widya baru akan pergi ke sekolah Ridwan, namun Steward sudah tiba dengan taxi online. Akhirnya Widya pergi ke sekolah Ridwan bersama Steward karena lelaki itu terus memaksa karena mendengar jika Ridwan berkelahi. Steward menjadi sorotan murid-murid SMA tempat Ridwan sekolah, ketika ia dan Widya memasuki ruang guru, dimana semua mata guru-guru Ridwan memandang kepada Steward, terutama guru Ridwan yang masih belum menikah. Mereka tersenyum melihat Steward dan memasang wajah cantik mereka.
Widya dan Steward duduk berdampingan menghadap meja kepala sekolah Ridwan. Tak lama kemudian, kepala sekolah Ridwan mendatangi Widya dan Steward lalu duduk di kursi kepala sekolah. Kepala sekolah yang langsung memulai pembicaraan, menjelaskan duduk permasalahan diantara Ridwan dan temen sekolahnya. Ridwan yang sudah duduk di bangku kelas tiga SMA, dan mempunyai prestasi di bidang pendidikan dan bola basketnya, sangat disayangkan jika hal-hal yang semacam perkelahian ini terjadi, karena bisa menggagalkan Ridwan masuk universitas dengan beasiswanya.
“Baik, Pak. Akan saya bicarakan dengan Ridwan nanti” Kata Widya.
“Maaf Bu, kalau boleh bertanya, ini siapanya bu Widya?”
“Oiya Pak, Maaf lupa memperkenalkan. Ini Steward kebetulan tadi bertemu saat akan kemari." Kilah Widya yang malu.
__ADS_1
Steward menaikan satu alisnya mendengar pengakuan Widya, tapi ia tak ingin mendebat Widya. Saat ini Ridwan lebih menjadi fokusnya.
Setelah berjabat tangan dengan kepala sekolah, maka WIdya dan Steward memohon ijin untuk meninggalkan sekolah tersebut.