
Steward mendatangi rumah Lira, Lira dan Anthony kaget dengan penampilan baru Steward. Di ruang keluarga, Steward menceritakan kemana saja selama ini menghilang tidak ada kabar. Kemudian, Steward berniat pergi ke Indonesia untuk menemui Widya.
Lira dan Anthony berpesan pada Steward, sebaiknya steward pulang dulu, untuk melihat Mamanya. Mamanya Steward sakit.
“Baiklah, aku pulang, dulu, Assamu’alaikum." Steward meninggalkan rumah Lira.
“Wa’alaikumsalam."
Perjalanan selama satu jam akhirnya Steward datang ke desa Leiden. Langsung menuju rumahnya karena mau melihat Mamanya sedang sakit.
Sesampainya Steward masuk kerumah, Papanya, Linda dan Danny melihat perubahan terhadap penampilan Steward, tidak dengan jubah Panjang, namun, sikap dan tingkah laku maupun tutur kata Steward juga berubah.
Steward mejelaskan bahwa Steward sudah pindah agama menjadi memeluk Islam. Sudah berjalan dua bulan, Steward belajar Islam di Amsterdam. Steward memohon maaf kepada Papanya, Mamanya dan saudara-saudaranya yang selama ini selalu memberikan masalah pada keluarganya.
Kemudian, Steward ingin melanjutkan untuk bertemu dengan Amanda, karena Amanda adalah Wanita yang paling luka atas perlakuan Steward.
“Amanda, bisa kita bertemu” Steward mencoba menelpon Amanda
“Baiklah, kita bertemu pagi ini di coffee shop nya Linda yaa.” Jawab Amanda.
“Terima kasih Amanda."
Sejam sudah berlalu, Steward sudah menunggu Amanda di Coffe shopnya Linda. Kemudian disusul Amanda yang mendatangi Steward, sedikit bingung dengan penampilan Steward, rapih, lebih kalem, lebih bersih.
“Ada apa yaa.” Kata Amanda malas.
“Amanda, begini, maaf atas perlakukan aku selama ini ke kamu, aku memang jahat banget sama kamu, sering sekali menyakiti hati kamu” Kata Steward, kemudian diam sebentar, lalu dilanjutkannya lagi.
“Aku tahu kamu adalah Wanita yang baik, aku nggak pantas dapetin kamu, dan kamu berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari aku,” Kata Steward.
“Apa kamu bilang tadi? Tanya Amanda bingung."
“Iya, Amanda, aku sudah pindah agama menjadi Islam. Aku berpikir bahwa aku ingin bertanggung jawab atas kesalahan kita beberapa waktu lalu. Aku bersedia jika kamu bisa mengikuti keyakinan ku yang sekarang.” Jawab Steward.
"Sebenarnya aku sedang jalan dengan Thomas, sudah berjalan tiga bulan,” Amanda mencoba menjelaskan.
“Apa? Jadi maksud mu. Kamu tetap akan bersama Thomas?.” Tanya Steward penasaran.
"Ya. Maafkan aku. Anggap saja apa yang terjadi lalu adalah khilaf. Dan aku tak akan bisa mengikuti keyakinan mu." Ucap Amanda cepat.
Baru Steward ingin kembali menjelaskan sesuatu. Amanda cepat berpamitan.
“Ooo… Oke, aku harus menemui Thomas dulu dikantornya, aku tinggal dulu yaa,” Kata Amanda diam sejenak, kemudian buru-buru meninggalkan Steward.
“Tapi Amanda kamu mau memaafkan aku kan?" Tanya Steward lagi.
“Yaa..Ya… aku sudah lama memaafkan kamu kok, bye.” Jawab Amanda buru-buru.
“Alhamdulillah, sekarang saatnya ke Indonesia.” Ucap Steward yakin.
Setelah mendapatkan alamat Widya dari Lira di kota Semarang, kemudian Steward merapikan beberapa pakaian lalu dimasukannya ke dalam koper. Kemudian Steward meminta izin kepada Mama dan Papanya untuk bisa ke Indonesia menjemput pujaan hati Steward.
“Go For It” Mama dan Papanya merestui anaknya.
__ADS_1
Keesokan harinya, Steward berangkat ke Amsterdam menuju bandara internasional menuju Indonesia. Di bangku duduknya, Steward selalu ber Istighfar dalam hatinya. Karena ia sadar bahwa ia adalah insan yang banyak salah dan khilaf di masalalunya. Laki-laki yang duduk disebelah Steward merasa heran pada Steward. Tampak Steward gagah, dan keren dengan rambut pirangnya, dan logatnya khas orang Belanda asli. Saat diajak ngobrol, Steward tampak ramah dan sopan, ternyata Steward beragama Islam.
Selama perjalanan penerbangan dari Belanda menuju Jakarta Bandara Internasional, akhirnya sampai juga. Kemudian, dilanjutkan pindah pesawat untuk dilanjutkan terbang menuju Semarang. Steward tidak perduli dengan rasa capeknya yang menghinggap di badannya, Setidaknya Steward bisa melepaskan lelapnya sambil menunggu panggilan di ruang tunggu menuju pesawat terbang.
Pukul empat sore, Steward sampai di kota Semarang, kemudian dicarinya taksi untuk mengantarkannya menuju alamat Widya sesuai dengan alamat yang diberikan Lira pada Steward. Sampainya Steward di rumah yang berpagar kayu yang terbentang Panjang, dengan tembok yang ditutupi dengan daun-daun pagar.
“Bismillah, Yaa..Allah, tolonglah hambaMu ini.” Steward memohon.
“Assalamu’alaikum.” kemudian Steward menekan sebuah tombol bel yang dilekatkan di dinding pagar.
Steward menunggu untuk beberapa saat, kemudian.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Steward untuk kedua kali.
“Wa’alaikumsalam” terdengar teriakan salam dari dalam rumah Widya.
Saat membuka pagar, mbok Siti bingung ada londo di depan rumah, dan bingung mau bicara apa pada londo yang ke sasar.
“Siapa mbok?,” Tanya Widya pada mbok Siti.
Steward mengenali suara Widya yang lembut dan menggetarkan hati Steward.
“Iki loh, mbak Wid, ono wong londo neng umah” Jawb mbok Siti.
“orang bule?” Pikir Widya, cepat-cepat Widya menyusul mbok Siti ke depan pagar, sambil merapihkan kerudungnya lalu menyusul mbok Siti.
“Yes.. can I help you” Ucap Widya pada si bule.
Saat dua mata saling memandang antara Widya dan Steward, tatapan yang membuat mbok Siti lama menunggu, capek, dan kesal.
‘Wes toh mbak Wid, ojo kesuen toh” Ucap mbok Siti meninggalkan Widya dan Steward berdua, masuk ke dalam rumah.
Setelah tersadar, Widya memulai pembicaraannya, sambil mempersilahkan Steward masuk ke dalam rumah.
“Dari mana kamu tahu rumahku?” Tanya Widya pasi.
“Hai Wid, apa kabarmu?” Tanya Steward.
“Baik” Jawab Widya singkat.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, dari mana kamu tahu rumahku?” Tanya Widya lagi dengan kesal.
Tiba-tiba Mama Widya keluar untuk melihat siapa yang datang.
“Siap Wid?” Tanya Ainun Mama Widya.
“Oiya Ma, ini kenalkan Steward, sepupunya Lira di Belanda dulu,” Kata Widya menjelaskan.
“Assalamu’alaikum” Kata Steward sambil berjabat tangan.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Ainun.
“ Saya Steward, temennya Widya” Ucap Steward pada Ainun.
__ADS_1
‘Iya.. silahkan lanjutkan, silahkan duduk,nak” Lanjut Ainun sambil masuk ke dalam.
“Sejak kapan kamu menggunakan salam” Tanya Widya heran melihat Steward.
“Aku sudah menjadi mualaf sebelum ke Indonesia, dan belajar Islam sudah empat bulan ini” Steward berusaha menjelaskan.
Kemudian Steward menjelaskan kapan, dimana Steward belajar Islam.
“Wid, aku mau minta maaf padamu, tentang kelakuanku yang dulu berusaha menciummu saat aku sedang mabuk,” Kata Steward.
“Aku datang dan menyusul kamu untuk meminta kamu menjadi istriku, kamu mau kan Wid,” Pinta Steward langsung to the point.
“Aku mencintai saat pertama dulu kita jumpa di coffe shop dulu, senyumanmu tidak bisa aku lupakan, setelah aku mengenalmu, aku semakin menyukaimu, dan sekarang setelah aku masuk Islam, aku selalu berdoa pada Allah untuk memohon petunjuk dan diteguhkannya hatiku, aku semakin mantab untuk melamar mu,” Steward terus menjelas dan memberikan pengertian pada Widya.
“Lalu kenapa kamu dulu berusaha mencium, dan dalam keadaan mabuk?” Tanya Widya lagi, Widya masih kesal pada Steward.
“Itu karena Rafa temanmu itu, mengatakan bahwa dia adalah tunanganmu dan kalian sebentar lagi mau menikah, mangkanya aku marah dan langsung pergi,” Jawab Steward lagi.
“Aku nggak tau… beri aku waktu untuk berfikir” Jawab Widya
“Udah lah… jangan lama-lama, Lira sudah cerita sama aku tentang perasaanmu padaku, kita saling mencintai Widya,” Paksa Steward pada Widya.
Kesal rasanya Widya pada Lira, tidak bisa menjaga rahasia.
“Jangan salahkan Lira, Wid. Lira baik orangnya, sayang kamu, sayang kita. Katanya liat aku yang serius sama kamu,” Seakan Steward bisa membaca pikiran WIdya saat ini.
“Tapi bagaimana dengan Papa dan Mama?” Tanya Widya.
"‘Kamu juga belum mengenal anak-anakku,” Jelas Widya melanjutkan.
“Aku sudah tahu semua tentang kamu, suamimu, anak-anak dari Lira,” Jeals Steward menenangkan Widya.
“Biar aku berbicara pada orangtuamu, oke," Sambung Steward lagi.
“Baiklah,” Jawab Widya.
“Baiklah apa? Tanya Steward memastikan.
“Iya.. Baiklah aku mau menjadi istrimu, tapi dengan satu syarat,” Ujar Widya.
“Syarat apa itu Wid, katakan saja, aku akan melakukan apapun demi kamu,” Jawab Steward.
“Kita harus pergi ke makam suamiku, untuk memperkenalkan kamu padanya,” Jawab Widya.
“Baiklah, kalau itu maumu, jika membuat kamu tenang, aku akan melakukannya."
Tiba-tiba Ainun Mama WIdya keluar dengan menyuguhkan teh hangat untuk Steward, dan sepiring kue-kue yang tersusun melingkar.
“Terima kasih bu." Jawab Steward.
“Nak Steward kapan datang dari Belanda?” tanya Ainun.
“Baru sampai bu, dari Jakarta, langsung terbang ke Semarang dan langsung ke sini,” Steward menjelaskan.
__ADS_1
“Yaa Sudah, Bagaimana kalau nak Steward tidur di sini saja, di ruang tamu kami, sekalian kita ngobrol-ngobrol yaa dengan Papa nya Widya” Kata Ainun ramah.
“Alhamdulillah, baik bu” Jawab Steward pada Ainun