
Sebenarnya Rafa malas bekerja pada hari ini, pikirannya dan hatinya sedang mengingat-ingat memori yang menyenangkan Bersama Widya. Rafa yang menyandarkan badannya di bangku sofa kerja yang elastis, dengan tangan terlipat dibelakang kepalanya senyum-senyum sendirian mengenang memorinya. Sampai pada saat dikagetkan oleh sahabatnya Parkin yang masuk ke ruangan kerja Rafa tanpa permisi.
“Hayoo, ada yang senyum-senyum sendiri nih, sepertinya tiba-tiba hari ini sudah sehat ya yang katanya kemarin izinnya sakit”
“Resek loe." sambil melemparkan sebuah pulpen ke arah Parkin.
“Ayoo dong… certain, pasti habis jalan-jalan kan kemarin, coba aku tebak, kalau pergi sama Jessica, tidak mungkin karena kemaren Jessica juga mencari kamu loh Raf… Oooo pasti kamu pergi sama Anna yaa?,” Parkin asal menebak.
“Ngacok kamu." Ucap Rafa cepat.
“Abis kamu habis jalan-jalan sama siapa dong?”
“Urusanmu aja belom kelar, mau ngurus urusan orang lain aja, nihh… kerjaanmu sudah selesai” kata Rafa sambil menyodorkan beberapa file kepada Parkin.
“Wahh… keren, sudah selesai?, makasih yaa”
“Awas, jangan lupa janjimu, traktir,”
“ beres …”
Untuk sesaat Parkin melupakan alasan Rafa senyum-senyum sendirian di kantornya, dan meninggalkan Rafa begitu saja.
“Thanks brow.” kata Parkin sambil lalu.
Lega rasanya hati Rafa, Parkin yang sok mengorek-ngorek cerita dan pasti mulutnya bocor tidak bisa jaga rahasia, pastinya dalam waktu satu jam gossip pasti menyebar ke seluruh dosen. Tepat saat Rafa sedang siap-siap masuk kelas mengajar, di depan Jessica masuk yang melongok kan kepalanya dari balik pintu kerja Rafa.
“Hai Rafa”
“Ooo…Hai Jes”
“Kemaren kamu sakit yaa?, kata Parkin kamu ijin sakit, sakit apa Raf?”
“Oo.. Yaa Jes, kurang enak badan aja, mungkin badanku ini butuh istirahat total dirumah, tapi sekarang udah baikan kok, terima kasih,”
“Oke,” kata Jessica sambil menutup pintu dan meninggalkan Rafa.
Disusul Rafa yang tidak lama menyusul Jessica keluar ruang kerja Rafa untuk mengisi kuliah pagi ini.
Hari ini, ada tiga kelas yang harus diisi Rafa, bayangan lelah telah menghantui Rafa yang pasti akan terjadi saat pulang nanti. Kelas
Rafa diawali pada pukul delapan pagi di kelas Matematika Kalkulus, kemudian
dilanjutkan dengan mata kuliah Geometri transformasi pada pukul sebelas siang,
setelah mengajar mata kuliah geometri transformasi sudah masuk waktu dhuhur
setelah itu dilanjutkan dengan makan siang.
Setelah Rafa menyelesaikan sholat dhuhur nya, dibelakang Rafa sudah menunggu Parkin untuk mengajak Rafa makan siang karena bayaran menolong pekerjaan Parkin.
__ADS_1
“Oo… kupikir kamu lupa janjimu,”
“Mana mungkin aku lupa, Rafa.., kamu itu teman karibku,”
“Hhmmm…Kamu itu, kalau ada maunya,” sambil mendekati Parkin tangan Rafa merangkul Parkin berjalan bersama-sama menuruni tangga gedung kampus.Rafa dan Parkin pun tertawa bersama-sama, sambil berjalan sambil berbagi cerita lucu.
Dua jam waktu makan siang telah usai, rutinitas Rafa dimulai lagi untuk mengisi jadwal mengajar di kelas Aljabar Linear selama dua jam pelajaran.
“Selamat siang anak-anak."
“Siang Pak." saling sahut-sahutan.
Rafa merapikan buku pelajarannya terlihat Anna duduk di bangku depan, tepat dihadapan meja dosen. Rafa hanya tersenyum menganggukkan kepala, dibalas dengan senyuman manis Anna yang membuat hati Rafa berdegup kencang. Setiap melihat Anna dan senyumannya,Rafa tidak mengerti, jantungnya berdegup kencang, darah mengalir tidak karuan dalam tubuhnya. Otak Rafa tidak bisa berfikir jernih saat mengajar, Rafa hanya membaca beristighfar berulang-ulang dalam hati.
“Yaa..Allah buatlah hatiku tenang,”Doa Rafa dalam hati.
Dua jam berlalu, mahasiswa dan mahasiswi kelas Rafa satu persatu meninggalkan kelas, tinggallah Rafa seorang yang sedang merapikan buku pelajarannya untuk bersiap pulang juga.
“Sore Pak,”
“yaa… Sore,” sambil dilihatnya siapa yang menyapa Rafa. Ternyata Anna.
“Hati-hati di jalan,” kata Rafa sambil tersenyum pada Anna.
Anna memberanikan diri karena kemaren Anna mencari-cari Rafa untuk bertanya tentang makalah yang mau dibahas dengan Rafa.
“Pak, ini makalah yang saya buat, tolong direvisi,”
diberikan Anna.
Rafa dan Anna berbicara dan membahas makalah sambil berjalan keluar ruangan. Rafa tidak menyadari bahwa Jessica memperhatikan mereka berdua ada sebersit ketidaksukaan Jessica terhadap Anna, karena sikap Rafa berbeda terhadap Anna, sepertinya Rafa memperlakukan sangat special pada mahasiswinya itu. Bukan memperlakukan Anna karena Anna adalah mahasiswinya, tapi Jessica melihat dari sikap Rafa dan tatapannya kepada Anna menunjukkan kalau Rafa suka dengan Anna.
Jessica mengejar Rafa dan Anna dari belakang, tiba-tiba berhenti saat satu meter mendekati Rafa dan Anna, kemudian.
“Rafa..”
“Oo..Jessica, ada apa?”
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda…” Jessica memegang lengannya Rafa sambil berjalan meninggalkan Anna.
“Maaf Anna, saya pinjam dulu gurumu ini,” kata Jessica yang suaranya menekankan pada kata gurumu ini.
“Yaa Bu Jessica, silahkan, sudah selesai juga kok, permisi, mari Pak Rafa, Bu ,”Anna tersenyum sambil meninggalkan mereka berdua.
Mata Rafa hanya memandang Anna pergi dalam diam.
“Yaa Jes… ada yang bisa saya bantu?”
“Aku mau ajak kamu untuk menonton bioskop, ada film bagus baru masuk minggu ini, katanya rame dan keren filmnya, “ajak Jessica
__ADS_1
“Oiya…film apa?”
“Filmnya terbarunya Star Wars,”
“Waah, boleh tuh, aku suka dengan film Star Wars, sekarang rilis film terbarunya loh”
“iya, The Force Awakens, Kalo gitu ayo lah, aku ambil mobil dulu ya, kamu tunggu di depan gerbang kampus,”
“oke”
Beberapa saat kemudian, muncul Jessica dengan mobilnya, dengan mobil berwarna biru laut metalik, dilengkapi dengan tombol untuk membuka kap atap yang bisa membuka secara otomatis.
Sambil berjalan, Jessica membuka kap atapnya, kemudian memasang musik pop koleksinya, dengan angin yang menghembuskan rambut Jessica yang Panjang bergelombang membuat Jessica semakin seksi. Rafa tampak grogi melihatnya, kemudian mengawali percakapan untuk mengalihkan rasa malunya pada Jessica.
“Kita mau menonton dimana,?"
“Oo..tadi aku sudah searching di aplikasi bioskopnya, sepertinya IMAX di Pathe Arena ada,”
“Okelah” Rafa menyetujui
Satu jam kemudian dengan ramainya mobil yang tumpah dijalan dengan kemacetan yang melintang akhirnya sampai juga Rafa dan Jessica di Pathe Arena. Sesampainya di Pathe Arena, Jessica menggandeng tangan Rafa dan mengaitkan di lengan Rafa, dan Rafa membiarkannya memasuki ruangan IMAX.
IMAX adalah bioskop baru yang ada di Pathe arena, Bioskop ini terletak di dekat arena “stadion Ajax” yang bisa ramai saat hari pertandingan. Aneka jajanan bioskop (popcorn, keripik, minuman, dan lainnya)
tersedia dengan harga yang lumayan mahal. Keanggotaan emas sebesar dua puluh
delapan euro/bulan tersedia dan memberi akses masuk gratis tanpa batas ke semua
film dan diskon dua puluh lima persen untuk makanan ringan.
Setelah Dua jam Rafa dan Jessica menonton Star wars di IMAX Pathe Arena, akhirnya Rafa dan Jessica berniat menghabiskan waktu di Starbucks dan memesan dua gelas es coffee espresso milk dengan campuran gula merah bubuk
dan aroma jasmin membuat es coffee espresso milk menjadi pilihan favorite.
Satu jam Rafa dan Jessica mengobrol santai. Namun tiba-tiba Rafadan Jessica dikagetkan oleh sosok yang menyebalkan. Sosok ini tidak lain adalah Parkin yang berisik.
“Hai..”
“Hai..Parkin”
“Eits… Sampai barengan jawabnya, ada apa nih, wahhh…kalian jahat ya, jalan-jalan nggak ajak-ajak aku, abis dari mana,?” sambung Parkin
“Oo..kami abis nonton Star Wars,” jawab Rafa
“Ahh… jahat, kenapa nggak ajak aku,”
“Ah… ajak kamu?, kamu kan orang yang paling sibuk yang aku kenal, tidak pernah betah berlama-lama di rumah,” sahut Rafa pada Parkin.
“Yaa…menyebar pesona boleh doong,” sambil menggoda Jessica dan menarik bangku terdekat untuk bergabung dengan Rafa dan Jessica.
__ADS_1
Selama dua sampai empat jam berlalu di Starbucks Rafa, Jessica dan Parkin bercanda gurau menghabiskan waktu Bersama, kemudian dilanjutkan dengan bermain bowling. Suatu persahabatan terpancar diantara mereka bertiga. Tanpa terasa waktu sudah semakin larut, akhirnya mereka pun pulang mengingat besok masih waktu kerja.
Rafa masih menelaah hati nya untuk siapa, antara tiga nama perempuan yang ada di hidupnya. Mau tak mau ia harus memilih diantara tiga nama itu. Salah satunya Widya.