Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
19 Kembalinya Steward


__ADS_3

Tepat pukul setengah delapan pagi, rombongan tim penyelamatan Steward datang untuk menjemput Steward, sebagai rasa tanggungjawab dari pihak penyelenggara. Saat Steward dijemput, keadaan Steward sudah membaik, hanya kakinya saja dalam kondisi terbalut dan pincang. Stewardpun berpamitan dengan Pak Anto dan berterima kasih padanya, dan terutama mengucapkan terima kasih dan pamit pada Santi.


Pihak keluargapun sudah diberi kabar bahwa Steward sudah ditemukan dan dalam keadaan sehat, dan sedang dalam proses penjemputan.


Disisi lain, Widya yang sebelumnya sudah memberi kabar pada Lira. Sepupu Steward itu sudah mengabarkan kepada keluarga Steward di Leiden. Sehingga semua keluarga besar dari Belanda berangkat ke Indonesia. Selama menunggu kabar akan keberadaan Steward, Pak Handoko berkenalan dengan keluarga Leiden yaitu Mr. Berg dan Mrs. Berg.


Mr. Berg ayahnya Steward, bercerita banyak tentang Steward dan kerja kerasnya selama ini. Dari jerih payah Steward membuat keluarga Berg bisa mengumpulkan sapi sebanyak dua ratus sapi, bercerita sampai bisa menyumbangkan beberapa puluh sapinya untuk dikelola pemerintah.


Pak Handoko hanya mendengarkan dan menggangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum. Tak menyangka bahwa calon menantunya adalah orang hebat di Belanda.


Sekitar pukul satu siang akhirnya datang rombongan dua mobil masuk ke dalam rumah Widya. Keluarga Widya, dan keluarga Steward keluar ke teras untuk menyambut Steward.


Setelah Steward keluar dari mobil, Ridwan langsung berlari memeluk Steward.


“Maafkan Aku Om." Ujar Ridwan memeluk Steward.


“Aku setuju kalau Om menikah dengan Mama,” Kata Ridwan seraya menatap Steward karena merasa bahwa lelaki itu tak berbicara omong kosong.

__ADS_1


“Alhamdulillah,” Ujar Steward. Steward yang merasa bahagia. Ia memeluk tubuh Ridwan.


“Om nggak apa-apakan. Maafin aku ya, gara-gara menyelamatkan Aku Om jadi kayak gini,” sambung Ridwan lagi.


“Nggak apa-apa, yang pentingkan Om sudah ada disini,” Kata Steward sambil mengacak-acak rambut Ridwan.


Steward berjalan pincang sambil di panggil Om oleh Ridwan, mereka berjalan menuju teras rumah yang sudah disambut oleh keluarga besar. Steward saling bersalaman, Sarah yang memeluk Steward bahagia kemudian saling tersenyum rindu dengan Widya dan senyuman Bahagia dan lega karena Steward selamat dan dalam keadaan sehat.


Diruang keluarga, seluruh keluarga yang hadir tertawa senda gurau, dengan meja makan yang sudah tersedia banyak hidangan yang menggiurkan. Steward mendatangi Widya, di kursi yang sedang menyantap makanan.


“Alhamdulillah, baik. Kamu masih sakit kakinya?” Tanya Widya lagi.


“Sedikit, tapi lebih baik sekarang,” Jawab Steward.


“Terima kasih ya, kamu sudah nyelamatkan Ridwan saat Ridwan tersangkut tali,” Ucap Widya.


“Itu kewajibanku untuk menolong Ridwan, Widya. Jangankan Ridwan itu anakmu, orang lain aja semisalnya mengalami hal yang sama, aku akan mencoba melakukan hal yang sama, Aku ingat kata Imam masjid dimana aku belajar kemarin. Jika ketika kita berbuat baik pada makhluk Allah yang lain. Kita sedang berbuat baik pada diri kita sendiri. Karena Kebaikan akan juga datang pada kita. Lihatlah sekarang. Ridwan menerima ku. ” Kata Steward menatap Widya.

__ADS_1


Widya malu tersipu sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.


“Sudah dong, jangan sedih lagi. Aku kan sudah disini bersamamu,” kata Steward.


Tak lama kemudian, Pak Handoko, memulai pembicaraan di ruang tamu.


“Alhamdulillah, Steward selamat dan kebetulan keluarga saya sudah ada disini, dan keluarga Steward ada disini juga, berhubung mahalnya tiket pesawat terbang ke Belanda jika hal ini diulur terus, maka saya mau membahas tentang rencana pernikahan anak-anak kita antara Steward dan Widya bagaimana?” Tanya Pak Handoko memulai pembicaraannya.


Ia sudah mulai menyukai Steward.


“Kami dari pihak keluarga Steward hanya menunggu keputusan Steward saja, apapun pilihan Steward kami hargai dan kami restui demi kebahagiaan Steward anak kami, bagaimana Steward?” Tanya Papanya pada Steward


“Terima kasih sebelumnya atas restu Pak Handoko pada saya untuk menjadikan Widya sebagai istri saya, terutama Ridwan dan Sarah yang sudah ijinkan saya untuk menjadi papa sambungnya. Saya juga ingin pernikahan kami sederhana saja, dihadiri oleh kedua keluarga kita saja. Dari pihak saya, tinggal menunggu saudara-saudara saya sekitar empat orang dan anak-anaknya, paman Robert dan bibi Stevia berserta anak-anaknya, semua tiket saya yang atur,” Kata Steward Bahagia.


“Ya sudah, bagaimana kalau dua minggu lagi. Kita buat di belakang rumah kita saja pesta pernikahannya,” Kata Pak Handoko menawarkan rumahnya sebagai tempat pesta pernikahan Widya dan Steward.


Akhirnya semua keluarga sepakat pernikahan Widya dan Steward diadakan dua minggu lagi dengan tema pesta kebun. Selama dua minggu Widya dan Steward disibukan dengan bolak balik ke KUA dan bagian kedutaan Belanda karena pernikahan antara dua kebangsaan yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2