
Jordan, melangkah keluar teras flatnya di Tembalang. Ia menarik napas Panjang. Ia mengeluarkan earphone yang dipasangkannya di telinga, lalu duduk bersandar di bangku sofa memanjang. Suasana hatinya saat itu, bertolak belakang dengan langit malam yang cerah penuh bintang-bintang yang menerangi malam. Wajar saja. Saat itu Jordan baru menerima telpon dari bosnya dan memastikan tentang rencana Jordan untuk mendekati Nirwana.
Pikirannya melayang ke langit yang penuh bintang. Sehingga Jordan dikagetkan dengan suara dering telpon dari orangtuanya. Mama.
“Jordan… bagaimana kabarmu, Nak, kapan sampai Indonesia?” tanya sang Mama disebrang suara. Suara yang sangat ingin didengarnya, membuat ia menjadi tenang. Untuk sesaat Jordan tidak memikirkan pekerjaannya.
“Mam, aku sudah sampai kok, sekitar jam delapan malam waktu Leiden,” Jordan berusaha menjelaskan perbedaan waktu pada sang Mama agar Mama tidak bingung dengan perbedaan waktu antara waktu Belanda dengan waktu Indonesia.
“Syukurlah Nak” jawab Mama.
“Kamu sudah makan belum, Nak?” tanyanya lagi. Sepertinya hubungan batin antara anak dan ibu sangat kuat antara Jordan dan Mamanya. Mama tahu dengan telepati seorang ibu, saat anaknya sedang gelisah dan merasa sedikit kacau.
“Sudah Ma,” Jordan berbohong pada Mama. Padahal Jordan hanya mengisi perutnya dengan snack-snack dan beberapa minuman soda yang dibelinya di supermarket.
“Jangan lupa makan makanan sehat yaa Jordan, Mama nggak ada di tempat Jordan sekarang, jadi jaga Kesehatan kamu” pesan Mama pada Jordan. Jordan pun hanya terdiam membeku, karena sepertinya Mama mengetahui kalau Jordan membohongi sang Mama.
“Iya Ma,” jawabnya singkat.
__ADS_1
Beberapa minggu tinggal di Semarang dan Jordan mulai bisa menghapal rute jalan dari flatnya dan kantor Pak Handoko. Apalagi setelah beberapa kali Jordan pergi bersama-sama dengan Nirwana.
Nama itu selalu terngiang-ngiang di pikirannya, sosok wajah Nirwana yang cantik jelita selalu terbayang di mata Jordan.
Diambilnya telponnya dari saku celananya, dan meraba-raba angka-angka yang tertera di gagang telponnya, di geser-gesernya daftar nama yang tertera di layar telponnya, ntah apa yang dicarinya. Hingga jarinya berhenti di nama Nirwana.
Dengan pelan Jordan menghembuskan napas yang ditahannya. Astaga, ia tidak pernah segugup ini seumur hidupnya, baik dalam urusan pekerjaan ataupun Ketika menghadapi Wanita mana pun. Kenap gadis yang satu ini selalu membuatnya merasa gugup, selalu bertanya-tanya, selalu ragu? Ia tidak pernah seperti ini. Sungguh, ini tidak normal. Ditekan pelan-pelan nomor yang terdaftar atas nama Nirwana.
“Halo, siapa ya,?” tanya suara disebrang telpon.
“Hai..Ini aku, Jordan,” kata Jordan ragu.
Jordan merasa gugup, dan bingung untuk jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Nirwana padanya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Nir, bagaimana kuliahmu, apa kamu sudah makan, jaga Kesehatan yaa, jangan terlalu lelah,” rentetan kata yang terucap entah kemana Jordan berbicara. Jordan merutuk dirinya sendiri dengan memukul-mukul kepalanya sendiri.
__ADS_1
“Bodoh…bodoh.” Gerutu Jordan dalam hatinya.
Nirwana tersenyum disebrang telpon, walaupun Jordan tidak bisa melihatnya, tapi Nirwana senang atas perhatian Jordan padanya.
“Keadaanku baik, sehat wal’afiat, kuliahku baik-baik saja, sebentar lagi aku mau sidang, doakan ya!!” jawab Nirwana satu-satu atas pertanyaan Jordan yang Panjang.
“Sepi rasanya tidak ada kamu di kantor, hambar,” keluh Jordan pelan, namun suaranya cukup jelas ditelinga Nirwana.
Nirwana pura-pura tidak mendengar ucapan Jordan dan berkata.
“Apa, apa yang barusan kamu katakan tadi?” Tanya Nirwana pura-pura tak mendengar.
“Ah!! Nggak, nggak ada. Nggak apa-apa kok. Oke deh, sampai nanti Nir, selamat malam.” pamit Jordan pada Nirwana.
Jordan langsung menutup gagang telponnya dan memasukan kembali ke saku celana.
“Bodoh… berani-beraninya kau telpon dia malam-malam begini, bagaimana tanggapan dia tentang aku nanti.” Batin Jordan merasa malu. Jordan merutuk dalam hati.
__ADS_1
Nirwana duduk di bangku sofa berlengan di ruang tamu, dengan memainkan jemarinya untuk memilih tontonan tv yang menghibur. Seharian Nirwana merasa salah tingkah, hatinya berbunga-bunga. Ia bahkan tersenyum sendiri mengingat percakapannya dengan Jordan beberapa jam lalu.