Takdir Cinta Widya

Takdir Cinta Widya
22 Flashback Kisah Masalalu Pak Handoko


__ADS_3

“Mama disini aja yaa… nanti Ridwan kasih info lagi… ,” cepat-cepat Ridwan keluar dari kamar Widya bagaikan informan.


Air mata Widya tak tertampung lagi, dengan tangan yang mengatup wajah yang sudah dirias cantik, tapi Widya tak perduli akan riasannya sekarang.


“Sabar Ma, kita tunggu berita dari mas Ridwan ya..,” Sambil mengelus punggung Widya, Sarah memberi dorongan dan semangat pada Mamanya.


Tak lama kemudian, Steward masuk ke dalam kamar Widya. Diketuk-ketuk kamar Widya untuk meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar, Sarah mendekati pintu untuk membuka kamar agar mempersilahkan Steward masuk ke dalam kamar Widya.


“Sarah, boleh tinggalkan saya dengan Mamamu sebentar?” Ucap Steward pelan dan lemas memohon ijin agar Sarah meninggalkan Widya dan Steward sendirian. Widya yang hanya terdiam duduk di meja rias melihat Steward mendekatinya.


“Baiklah” Ujar Sarah pada Steward.


”Ma.. Sarah tinggal dulu yaa”Ucap Sarah pada Widya. Widya hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengiyakan.


Steward mendekati Widya dan duduk dipinggir bibir Kasur.


“Widya… Kamu tahu kan kalau aku sangat mencintaimu dan anak-anak. Aku sudah menganggap anak-anakmu sebagai anak-anakku juga, bahkan mereka sudah memanggilku dengan sebutan papa tadi, jadi maukah kamu menunggu aku, aku akan menjadikan kamu istriku kelak, aku minta ijin pergi sebentar untuk menyelesaikan masalah-masalah kita. Sepertinya ada masalah yang timbul sekarang.” Ucap Steward pada Widya lembut.


“Ada apa sebenarnya Steward?” Tanya Widya bingung.


“Percayalah padaku, kamu percaya kan denganku?” Tanya Steward.


Widya mengangguk tanda mengiyakan pada Steward. Kemudian Steward tersenyum pada Widya kemudian Steward keluar kamar Widya dan meninggalkan Widya sendiri. Ibu dua orang anak itu hanya diam memandang Steward. Air mata Widya yang tak terbendung lagi akhirnya bercucuran deras di pipi Widya.


Acara pernikahan Widya dan Stewart Pun akhirnya berantakan. Para tamu satu per satupun meninggalkan rumah Widya. Steward dan Keluarga Stewart Pun memohon maaf dan meminta ijin untuk meninggalkan rumah Widya untuk berangkat pulang ke Leiden.


Mr. Berg berkali-kali memohon maaf atas semua yang terjadi dan meyakinkan Pak Handoko bahwa Mr. Berg dan istrinya tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi. Pak Handoko dan Bu Ainun hanya diam dan shock akan peristiwa kemarin.


Flashback On


Acara ijab Qobul Pun akan dimulai, semua yang hadir dengan semangat dan Bahagia untuk menjalani acara ijab Qobul Steward. Pada saat Steward mengucapkan janji suci ijab qobul, datang Uncle Jordan dan istrinya memasuki ruangan.


Tiba-tiba Pak Handoko berdiri bangkit dari duduknya dan marah-marah dengan suara yang menggelegar ke seluruh ruangan, Para tamu pun dibuatnya bingung.

__ADS_1


“Ada apa kamu kamari hah !!! belum puas kau hancurkan hidup kami?” Tanya Pak Handoko marah-marah dengan mengacungkan telunjuk pada seorang lelaki.


“Apa hubungannya orang ini denganmu Steward?” ujar Pak Handoko pada Steward dengan mata melotot marah mengarah pada Steward.


“Dia pamanku Pak, uncle Jordan. Dia adiknya Papa,” jawab Steward takut-takut.


“Aku tau siapa dia, aku tahu Namanya. Jadi jangan kau sebut-sebut lagi namanya di hadapanku, acara pernikahan ini batal. Aku tidak setuju!” Ucap Pak Handoko sambil berdiri dan penuh amarah. Ia pun meninggalkan ruangan tersebut.


“Dan kau… tidak cukupkah kamu menghancurkan hidup keluargaku?, kemana saja kau selama ini pengecut?” kata Pak Handoko sambil keluar ruang tamu menuju rumah.


Tak lama kemudian, Bu Ainun berdiri tegak dan berlari kecil menyusul Pak Handoko.


Sebenarnya dahulu, ketika Widya masih duduk di kelas VIII SMP, Widya termasuk orang kaya di kota Semarang, Pak Handoko bekerja di perusahaan Garment sebagai pimpinan sekaligus sebagai pemilik perusahaan Garment. Pak Handoko yang bekerja keras merintis dan membangun perusahaan Garment miliknya dari kecil hingga menjadi perusahaan besar dan mempunyai banyak pelanggan-pelanggan dalam maupun luar negeri.


Banyak suplier-suplier yang ingin bekerja sama dengan Pak Handoko, ia pun dibantu oleh asisten pribadinya yang bisa diandalkan. Apalagi saat Pak Handoko tidak ada di tempat, yaitu adik kesayangannya dan adik satu-satunya Pak Handoko, Nirwana.


Nirwana saat itu masih duduk dibangku kuliah tingkat akhir jurusan ekonomi di Universitas Diponegoro. Nirwana sangat cerdas dan tangkas saat diberi tugas oleh kakaknya, Pak Handoko. Nirwana cekatan saat mengerjakan proyek-proyek yang diberikan oleh Pak handoko, dengan hasil yang memuaskan. Terutama bila diberi tugas untuk bertemu client-client dari luar negeri untuk membahas penawaran harga bahan-bahan mentah untuk diproduksi menjadi pakaian-pakaian garment nya.


Nirwana sangat cantik dan pandai berhias diri. Orangnya baik, ramah, sehingga banyak client-client yang sering mengajak Nirwana untuk berkencan, tetapi selalu ditolak oleh Nirwana, dengan berbagai macam alasan. Nirwana sangat supel terhadap orang-orang yang mengenalnya, tetapi kalau berhubungan dengan cinta dan hati, Nirwana sangat tertutup dan pemilih. Hingga pada saat bertemu dengan client asing dari Kota Leiden, Belanda, Nirwana mulai goyah.


Pak handoko langsung memberikan persetujuan Kerjasama dengan Jordan.


Semenjak itulah kedekatan berawal antara Nirwana dengan Jordan. Awalnya Nirwana menjelaskan tentang keadaan perusahaan dengan mengajak Jordan mengelilingi pabrik kain dan tugas-tugas setiap unit di pabrik itu. Kemudian, hampir setiap hari Nirwana menemani Jordan dalam pekerjaannya, karena memang itu juga tugas kerjaannya Nirwana yang Pak Handoko berikan.


Dihari-hari berikutnya, kedekatan Nirwana dan Jordan berlanjut di luar kantor dan diluar jam kerjanya. Hari ini, Nirwana tidak masuk kerja, tadi pagi Nirwana sudah menelpon Pak Handoko untuk minta ijin karena Nirwana sedang tidak enak badan. Badan Nirwana demam, karena selain sibuk bekerja di kantor, Nirwana juga sedang dikejar deadline di kuliahnya. Setiap hari Maya, sahabat Nirwana selalu menelpon Nirwana karena Nirwana dicari-cari oleh Pak Karyo, Dosen pembimbing Nirwana di kampus. Pak Handoko, memberikan hari libur untuk Nirwana adik kesayangannya, untuk istirahat dulu sampai sembuh dan menyelesaikan skripsinya yang tertunda selama setahun ini.


“Sudah, Nir, kamu istirahat aja dulu, dan selesaikan dulu kuliahmu yang tertunda cukup lama itu, sudah ada si Yoga yang gantiin posisi kamu disini,”


“Tapi mas, Yoga itu kan sudah ada bagian kerjaannya sendiri di kantor,” kilah Nirwana.


“Udah mas kasih tanggungjawab itu ke dia, kata Yoga dia sanggup kok menjalankan tugas kamu,”


“Ooo oke mas, kalo gitu, setelah aku selesai kuliahku, aku balik kerja lagi yaa,”

__ADS_1


“Beres.. pokoknya setelah kamu selesai kuliah kamu mas kasih jabatan manager deh,” rayu Pak Handoko.


Beberapa hari Nirwana menyembuhkan badannya dari sakit demamnya yang tinggi, setelah sembuh, Nirwana dijemput oleh Maya sahabatnya dengan motor antik milik Maya. Motor itu sudah termasuk motor tua di jaman mereka di tahun itu. Maya bisa saja membeli motor keluaran edisi baru, tetapi Maya tetap mempertahankan motor yang jadul itu karena motor itu adalah pemberian Papanya yang sudah meninggal.


Pada satu sore, ia berjalan bersama Maya dan tiba-tiba Maya berteriak histeris.


“Nir!! Nir!! Ada cowok bule tuh… ganteng banget,”


“Mana?” tanya Nirwana sambil menolehkan kepalanya ke arah tangan Maya menunjuk.


“Jordan?” ucap Nirwana tak percaya.


“Kamu kenal cowok bule itu Nir?.. eeh..eeh dia datang dia datang” ujar Maya pada Nirwana sambil menggoyang-goyangkan lengan Nirwana.


“Hai…” sahut Jordan pada Nirwana dan Maya.


“Hai..” jawab Nirwana dan maya berbarengan.


“Kamu disini rupanya, kenapa kamu tidak bekerja lagi di kantor Pak Handoko? Aku mencari mu selama ini” ujar Jordan.


Dengan berbahasa Inggris Nirwana menjawab dengan lancar dan fasih.


"Kemarin aku sakit, kemudian Pak Handoko memberikan ijin aku untuk istirahat dan sekaligus untuk menyelesaikan kuliahku yang tertunda cukup lama” jawab Nirwana.


Dengan lantang, Maya pun tak kalah berbahasa Inggrisnya dengan Nirwana.


“Hai…kenalkan aku Maya, sahabatnya Nirwana, teman kuliahnya Nirwana,”


“Halo.. aku Jordan, teman kantornya Nirwana,”


“Ooo!!! HHmmm…I see,” jawab Maya mengangguk-anggukkan kepala sambil melirik nakal pada Nirwana saat berjabat tangan dengan Jordan.


Bersambung

__ADS_1


(Sabar ya ini kenapa jadi flashback)


__ADS_2