
Suasana pagi yang cerah, dengan kicauan burung-burung yang saling bersautan, Widya dan Steward sudah bersiap-siap pergi ke tempat pembuatan undangan pernikahan. Sedari pagi Widya mempersiapkan hidangan sarapan yang ditata rapih di meja makan, karena ada banyak tamu yang menginap di rumah Widya. List nama-nama undangan sudah ditulis di kertas oleh kedua belah pihak untuk menulis nama-nama sanak saudara terdekat saja yang diundang. Setelah para tamu menyantap sarapan dan berbincang santai di ruang tamu.
Setelah selesai menyantap makanan, kemudian Steward dan Widya pergi untuk fitting baju pernikahannya. Setelah selesai fitting baju, sambil mengendarai mobil Steward melihat Widya dan tersenyum.
Ia bercerita bahwa dirinya sebenarnya mempunyai paman, adik dari ayahnya. Uncle Jordan, dulu pernah tinggal di Indonesia tepatnya di Denpasar, Bali. Namun sekarang Uncle Jordan telah menetap di negara Kanada.
“Mungkin ayahmu mengenal Uncle Jordan, dia juga pengusaha hebat dibidang garment,” sahut Steward pada Widya.
Widya mendengarkan dengan cermat apa yang diceritakan Steward, sekali-sekali Widya memandang Steward, saat Steward berbicara.
"Dulu Papa pengusaha Garment loh, namun kalah persaingan jadinya perusahaan Papa bangkrut,” Kata Widya pada Steward.
Steward yang nampak kaget mendengar cerita Widya karena Steward baru tahu kalau Pak Handoko dulunya pernah mempunyai perusahaan dibidang Garment.
“Kupikir ayahmu pengusaha batubara,” Kata Steward sambil melihat Widya sekilas sambil menyetir mobil. Widya hanya tersenyum pada Steward.
“Usiamu berapa pada saat itu, Wid?” Tanya Steward penasaran.
“Usiaku pada saat Papa jatuh dulu, masih duduk dikelas VII SMP, usiaku kira-kira masih lima belas tahun.
“Kemudian, Mama cerita, Papa mendapat bantuan dari seorang sahabat Papa, Pak Pramudya, yang tak lain adalah Papanya Rafa, kamu kan kenal Rafa”Kata WIdya bercerita pada Steward.
__ADS_1
“Maksudmu, Rafa teman kamu dosen yang di Amsterdam itu?” Tanya Steward pada Widya dengan nada bingung dan penasaran.
“Iya,” Sahut Widya singkat.
“Hhhmmm.” Ujar Steward tanda mengerti sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Om Pramudya itu memberi bantuan kepada Papa, karena tahu kalau Papa bisa diandalkan memegang salah satu perusahaan milik om pramudya, sampai akhirnya Papa bisa membeli perusahaan itu pada om Pramudya menjadi milik Papa sekarang,” sambung Widya lagi.
Dua minggu berlalu tanpa terasa, Widya dan Steward sibuk mempersiapkan pernikahan dan juga jalan-jalan mengelilingi Jawa Tengah tempat hiburan dan pariwisatanya, mampir ke kota Jogjakarta yang terkenal dengan Malioboro. Dalam dua minggu ini adalah hari-hari terindah yang Widya dan Steward rasakan.
Acara pernikahan Widya dan Steward hanyalah mengundang keluarga inti saja, namun bila disatukan dalam satu acara, para undangan cukup banyak juga. Rafa mengajak Fatimah pun hadir dalam acara pernikahan WIdya dan Steward sebagai tamu undangan.
__ADS_1
Semua berkumpul di tengah-tengah ruangan yang sudah dipersiapkan untuk acara ijab Qobul, dengan disingkirkan meja dan kursi sofa ruang tamu ke halaman belakang. Sebagian ada yang duduk di lantai dengan beralaskan karpet halus dan lembut, Sebagian lagi ada yang duduk di bangku-bangku kecil yang tersusun rapih dan bisa menyaksikan acara ijab Qobul Nya.
Pukul setengah delapan pagi, Pak Penghulu dari kantor KUA yang sudah dipesan untuk datang sebagai Penghulu pernikahan WIdya dan Steward sudah hadir ditengah-tengah ruang tamu. Dengan duduk bersila dan dibatasi oleh meja kecil yang tersusun rapih dan dihiasi oleh taplak meja bernuansa putih dan pot bunga yang siisi dengan bunga tulip putih sebanyak lima tangkai dengan kelopak yang mekar dan indah. Bunga-bunga yang menghiasi hiasan dinding yang bergelantungan di kayu-kayu jati list tembok ruang tamu, sehingga terlihat cantik, harum dan romantis.
Tepat pukul Sembilan pagi, acara ijab Qobulpun akan dimulai, nuansa islamipun mengukir indah di ruang tamu. Dihadiri hanya para tamu, Steward, Pak Penghulu, dan Pak Handoko.Widya yang dirias cantik bak pernikahan pertamanya, menunggu di dalam kamar. Deg-degan jantung berdebar tiada henti dihati Widya. Ditemani oleh Sarah yang selalu mendampingi Mamanya.
Sarah dengan sabar terus berusaha mengajak Widya, Mamanya untuk bercerita agar Widya tidak terlalu gugup dan stress.
Satu setengah jam lebih berlalu dari jadwal yang diperkirakan dimulai dari jam Sembilan pagi, tiba-tiba terdengar keributan terjadi diruang tamu, Widya dan Sarah terkaget saling memandang satu sama lainnya dengan rasa takut dan raut wajah yang tampak bingung dengan apa yang terjadi di ruang tamu itu. Tak lama kemudian, Ridwan datang masuk ke dalam kamar Widya dan bercerita melaporkan apa yang terjadi di ruang tamu.
“Ma..Gawat, Opa ngamuk-ngamuk Ma, dengan tamu yang katanyanya sih pamannya Papa Steward,” Lapor Ridwan pada Mamanya dengan semangat atau terlalu gugup dengan apa yang telah terjadi di ruang tamu.
__ADS_1
"Astaghfirullah... apa yang terjadi Nak?" Tanya Widya penasaran.