
Steward pulang ke Leiden dengan hati marah, patah hati, sedih semua menjadi satu, membuat Steward tidak perduli lagi dengan apapun, sehingga kerjaannya Steward hanyalah mabuk, mabuk dan terus mabuk. Keluarganya sudah berusaha meminta agar Steward berhenti mabuk dan bekerja lagi, tapi apa daya, Steward tetap mabuk, dan terus memanggil-manggil nama Widya.
Amanda, mencoba mendekati Steward yang sedang mabuk tergeletak di meja bar, tengah malam. Amanda memberanikan diri untuk menjemput Steward untuk pulang ke rumah. Keesokan harinya, disaat Steward tersadar dari mabuknya, Steward bingung dan tersadar bahwa tubuhnya mengenakan apapun bersama Amanda. Perempuan yang berada di sebelahnya sedang tertidur lelap.
“Oh.. Tuhan, apa yang telah aku lakukan." pikir Steward kacau sambil mengacak-acak rambutnya.
Steward, berdiri dan bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian keluar kamar, meninggalkan Amanda, menuju dapur. Ternyata di dapur sudah ada Mama, Papa dan Linda yang sedang bercengkrama tertawa sambil menikmati sarapan paginya. Tidak dengan Steward, kali ini Steward hanya mengambil dua lapis roti oles dengan segelas susu. Tak lama kemudian, satu persatu anggota keluarga pergi untuk melanjutkan rutinitas kerjanya masing-masing. Aman Pun keluar malu-malu melihat Steward tetapi Steward acuh tak acuh pada Amanda.
"Amanda, aku pergi” Kata Steward berlalu saja meninggalkan Amanda.
Semenjak itu, sikap Steward acuh pada Amanda berusaha menghindari Amanda. Kerjanya Steward hanyalah di siang hari bekerja, dan malam hari mabuk lagi.
“Steward, bisa kita bicara.”
“Oo..Amanda”jawab Steward malas.
Sebelum Amanda memulai pembicaraan, Steward memulai percakapan.
“Amanda, aku minta maaf padamu, soal kemarin.”
“Maksudmu?”
“Kita melakukan hal itu, disaat aku mabuk, aku tidak sadar."
PLAK!
Amanda keluar dengan menangis, meninggalkan kedai kopi, Steward diam saja menerima perlakukan Amanda, bentuk hukuman dari Amanda, Steward meras pantas mendapatkannya.
“Hei, Steward, jangan kau mainkan Amanda sesukamu yaa…, Amanda itu suka sama kamu sejak duduk di kelas SMP” Kata Thomas marah.
Thomas meninggalkan kedai kopi kemudian memanggil Amanda untuk menyusul Amanda.
Thomas adalah petugas kebakaran di kota Leiden, teman Steward dan tetangga Steward juga. Mereka besar Bersama, dan saling kenal karena penduduk Leiden mempunyai penduduk dengan jumlah yang sedikit.
“Aku tidak bisa begini terus.., aku harus bertemu Widya, aku mau minta penjelasannya” Pikir Steward.
Pagi ini, Steward sudah mempersiapkan kebutuhan susu untuk disalurkan ke supplier di Amsterdam, sekaligus untuk mampir kerumah Lira.
Siang hari, setelah menyelesaikan tugas rutin, Steward mampir ke rumah Lira untuk bertemu dengan Lira.
Ding…Dong!.
“Ooo Steward, ayoo masuk”Ucap Anthony.
__ADS_1
“Hai Anthony, ada Widya."
“Masuklah dulu, ada yang ingin kami sampaikan padamu."
“Lira…bisa kamu kemari, sayang."
“Iya… sebentar.”
Tak lama kemudian Steward, Anthony, dan Lira duduk berkumpul di ruang keluarga. Sepuluh menit berdiam diri tanpa ada yang berbicara, akhirnya Steward menanyakan Widya.
“Widya dimana?” Steward celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan, tanpa hasil.
“Itulah yang ingin kami bicarakan padamu, Steward."
“Ada apa?” Steward curiga.
Akhirnya Lira memulai pembicara dengan mata yang saling pandang dengan Anthony.
“Sebenarnya Widya sudah pulang ke Indonesia sejak empat hari lalu."
“Maksudmu Lir?"
“Ya.. Widya sudah pulang ke negaranya, Widya sudah tidak ada lagi di rumah ini."
Steward langsung lemas tak bertenaga, matanya langsung menampung air mata yang siap-siap berlomba untuk diteteskan di pipi Steward.
“Sebenarnya Widya melarang untuk mengatakannya padamu,” Kata Lira ragu
“Mengatakan apa Lir."
“Tapi kulihat dirimu sungguh-sungguh dan serius pada widya, maka ku katakan padamu, kalau sebenarnya Widya memilih dirimu dibandingkan Rafa, hanya saja ia tak mungkin Memilih mu yang keyakinan kalian berbeda.” Ucap Kira.
“Tapi karena kebodohanmu itu, membuat Widya sakit hati padamu, sebenarnya apa yang kamu pikirkan waktu itu?" Tanya Lira pada Steward.
“Kemarin itu, Rafa temannya widya itu memperkenalkan diri sebagai calon suami Widya." Ucap Steward pelan.
“Hhmmm” Lira saling pandang dengan Anthony.
Kemudian Lira menjelaskan duduk perkaranya antara WIdya, Rafa, dan kedua kelurga mereka. Rencana menjodohkan antara Widya dan Rafa. Steward yang hanya terdiam mendengar semua penjelasan tersebut.
Steward tiba-tiba berdiri tanpa pamit, pikiran menerawang entah kemana, keluar dari rumah Lira. Steward hanya berjalan mengikuti Langkah kakinya pulang.
Setelah kejadian itu hari demi harinya ia tak menemukan ketenangan. Ia merasa gamang, ia merindukan Widya, ucapan Lira yang mengatakan bahwa ia tak bisa bersama Widya adalah karena dirinya yang bukan seorang muslim.
__ADS_1
Hari itu langkah kakinya membawa Steward. Hampir selama dua jam Steward hanya berjalan terus, hingga Langkahnya membuat Steward Lelah dan Steward duduk di tangga teras suatu bangunan.
Beberapa saat terdengar azan berkumandang dari bangunan itu. Beberapa orang berjubah panjang memasuki bangunan tersebut. Badan Steward bergeser sedikit ke samping karena banyak orang yang berdatangan masuk ke dalam bangunan itu. Dibukanya lebar-lebar pintu masuknya oleh salah satu orang diantara mereka. Dilihatnya oleh Steward orang-orang itu beribadahnya sama seperti dulu Steward lihat di gereja kemaren saat menemani Widya ibadah.
Steward terpaku melihat pemandangan saat ini, aneh tapi indah. Terasa ada getaran di dada, mendengar alunan suara dari dalam bangunan itu. Kemudian, sampai pada saat bahu Steward di tepuk oleh salah satu dari mereka yang membuat Steward kaget.
Steward duduk di sofa dan disuguhkan teh hangat di meja oleh seorang lelaki.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Imam Sofyan, seorang imam masjid.
“Sepertinya anda punya masalah”Lanjutnya.
“Ajari aku agamamu”Spontan Steward menjawab hal itu. Entah kenapa ia merasa ada ketenangan saat mendengar adzan itu berkumandang.
“Maaf apakah Anda ada yang memaksa?", Tanya Pak Imam Sofyan.
"Tidak, saya beberapa hari ini mencair ketenangan. Tapi tak saya temukan. Tolong ajari saya tentang agama Anda." Ucap Steward.
“Sekarang mari ikut dengan saya, mari saya ajari cara bersuci, karena di agamaku selalu bersuci dalam beribadah yang disebut dengan Wudhu. Setelah melihat dan memperhatikan Imam Sofyan berwudhu, diikuti steward penuh perhatian.
Setelah berwudhu, Steward dan Imam Sofyan duduk bersila, berhadapan sambil memegang buku yang diambilnya di rak yang direkatkan di tembok dekat tiang penyangga gedungnya. Buku ini bukan Al-qur’an namun buku ini adalah buku tentang mukjizat atas ciptaan Allah, tentang karunia Allah, dan kebesaran ciptaan Allah yang dikaitkan dengan peredaran alam semester."
Pertanyaan-pertanyaan Steward tentang keesaan Tuhan, kaitannya alam semesta dengan bukti ciptaan Allah, dan penjelasannya dalam Al-qur’an. Semua jawaban-jawaban dari Imam Sofyan telah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Steward, rasa penasaran Steward atas keberadaan Tuhan, yang membuat Steward tidak percaya akan keberadaan Tuhan selama ini.
Steward kini tahu kenapa salah satu alasan Widya marah padanya. Perempuan itu marah karena disentuh saat belum halal di sentuh. Ia pun mengutarakan niat hatinya untuk masuk Islam.
“Alhamdulillah” Ucap Pak Imam.
“Baiklah, besok datanglah lagi kemari jam 8 pagi,” Lanjut Imam Sofyan.
“Baik Pak Imam."
Sambil berjabat tangan dengan Imam Sofyan, Steward meninggalkan Mesjid yang ada di salah satu Amsterdam itu. Masjid itu terdiri dari sejumlah relawan, yang melakukan pekerjaan di samping kegiatan rutinnya selama seminggu.
Setiap anggota dewan berkontribusi pada apa yang mereka kuasai, mulai dari konsumsi hingga media social. Posisi dewan bukanlah pekerjaan berbayar, dewan memastikan bahwa semua kegiatan berjalan lancar. Kebanyakan kegiatan di mesjid ini adalah tempat orang-orang ingin masuk Islam, dan ingin mengenal Islam.
Tepat esok hari pukul delapan pagi, Steward datang jam delapan kurang, disambut oleh Imam Sofyan. Dipersilahkan untuk masuk kedalam. Kemudian, Steward diarahkan untuk duduk dan dihadiri oleh orang-orang dengan jumlah sekitar lima belas orang yang antusias menghadiri detik-detik bersyahadatnya Steward.
Setelah diawali dengan pembukaan oleh imam Sofyan, sebagai imam mesjid AL-Ikhlas maka acara pembacaan syahadat dimulai. Steward diajak duduk ditengah-tengah berhadapan dengan Imam Sofyan disaksikan oleh orang-orang yang mengelilingi Steward dan Imam Sofyan, kemudian semua dimulai. Tanpa terasa air mata menetes di pipi Steward. Air mata kebahagiaan dan kesejukan yang menyegarkan seluruh hati dan jiwa Steward.
Hampir setiap hari Steward sempatkan datang ke Mesjid Al-Ikhas untuk belajar agama dengan Imam Sofyan. Sharing masalah dan bercerita tentang masalah yang dihadapi Steward untuk meminta Solusi pada Imam Sofyan. Imam Sofyan selalu berkata pada Steward untuk bertanya pada Allah, cerita pada Allah, untuk mendapatkan solusi masalah Steward sendiri.
Kemudian Steward diajari Langkah-langkah dan tata cara sholat berikut dengan bacaan surah-surah pendek yang mudah dihafal, termasuk Al-fatihah yang wajib untuk dihafalkan.
__ADS_1
Semakin dalam Steward mengenal Allah, semakin tenang hatinya, namun selalu disematkan doa untuk jodohnya. Ia juga meminta bantuan Pak Sofyan untuk mendoakan dirinya agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Steward menjadi jamaah yang rajin mendatangi majelis Ilmu di mesjid Al-Ikhlas, semakin Steward diperhatikan oleh Wanita-wanita yang mencuri pandangan dengan Steward, dengan wajah tampannya dengan cahaya Islam menyempurnakan ketampanan Steward.
Ada seorang kawan di majelis taklim Steward, Adam namanya, memperkenalkan kawan Wanita berjilbab yang cantik pada Steward, menurut Adam, siapa tahu aja jodoh. Wanita berjilbab ini Bernama Fatimah. Namun entah mengapa selama ia mengenal Fatimah. Tak ada getaran yang sama seperti ia rasakan ketika mengenal Widya. Ia merindukan Widya.