
Keheningan terjadi lagi beberapa saat.
“Kamu sendiri bagaimana Wid? Turut berdukacita atas meninggalnya suami kamu. Aku tak ikut melayat saat itu. Aku sudah ada disini.”
“Kamu nggak usah minta maaf, kematian adalah memang takdir yang tidak bisa kita elakan bukan? Begitupun setiap perjalanan kehidupan seseorang." ucap Widya
“Ya… kamu benar." Ucap Rafa merenungi kisahnya yang batal menikah.
Keheningan terjadi lagi… cukup lama.
“Yuk.. kita pulang,” Ucap Rafa melihat dari tadi Widya sepertinya juga tak nyaman bersama dirinya.
“Yuk..” Jawab Widya cepat dengan nada pelan.
Rafa dan Widya pulang dengan berjalan kaki…sekali-sekali mereka berbincang dengan pertanyaan dan jawaban yang standard, sunyi, hambar, dan monoton. Beberapa hari kemudian, Rafa datang ke café untuk membeli secangkir kopi hangat dan sepotong roti bakar untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kampusnya. Setelah membayar di kasir, Rafa memilih bangku yang nyaman dan sejuk dengan pemandangan di pagi hari di teras luar.
Terlihat Widya berjalan sendirian di pinggir jalan untuk mencari-cari buku-buku yang dijual di emperan jalan, kata Lira buku-buku yang dijual di emperan jalan harganya jauh lebih murah dari pada yang dijual di toko buku. Dimana memang ada satu tempat yang menjual buku-buku seperti itu di negara ini.
“Widya.!" Panggil Rafa sambil melambai-lambaikan tangan.
Widya merasa seperti ada yang memanggil namanya dan Widya memutar-mutar kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari sumber suara yang memanggil namanya. Terlihat Rafa di seberang jalan.
“Hai,” Widya Pun melambai balik pada Rafa.
Widya mendekati Café dimana Rafa duduk, masuk dari pintu luar, memesan secangkir kopi hangat dan sepotong Roti bakar yang harum dengan varian yang baru Widya coba. Kemudian Widya bergabung di meja Rafa.
“Kamu tadi cari apa wid?”
“Nggak ada, cuma lihat-lihat aja siapa tau ada novel yang aku suka,” Jawab Widya.
“Kamu suka baca novel juga, suka novel apa,?”
“Novel Romans, kamu juga suka baca buku novel juga?”
__ADS_1
“Iya, tapi aku lebih suka buku novel Triller,”
“Wow…keren. Kamu suka kemari juga Raf?”
“Kadang-kadang” Jawab Rafa sambil menyesap kopinya.
“Kalo aku sering kemari dengan Lira, karena nuansanya nyaman, roti bakarnya khas banget,aku suka” Ucap Widya dengan wajah berbinar dan antusias.
“Ooo.... Kamu sudah jalan-jalan kemana aja Wid?” Tanya Rafa.
“Aku sudah jalan-jalan ke kebon binatang Atiz zoo, Museum Body world, Museum Rembrandt house, aku juga sudah ke mesjid Alfatih loh, ternyata mesjid itu aslinya gereja yaa, keren banget bangunannya tidak dirubah,” Cerita Widya pada Rafa.
"Dia masih cantik walau sudah janda. Sepertinya ia masih merawat dirinya. Kepribadiannya juga menyenangkan. Tetapi sepertinya ia juga tak nyaman dengan Perjodohan ini." Batin Rafa.
“ Kalau gitu gimana kalau kita jalan-jalan ketempat yang belum kamu kunjungi?” ajak Rafa
“Boleh, tapi apa tidak merepotkan pak dosen?” canda Widya berusaha bercanda memecahkan suasana.
Setelah Rafa dan Widya menyelesaikan sarapan pagi mereka, tidak lupa Rafa menelpon teman kantornya, terdengar oleh Widya nama Parkin disebut oleh Rafa. Rafa berbicara dengan Bahasa Belanda oleh lawan bicaranya di telpon.
‘Sudah siap?”
“Yuk ..”
Rafa dan Widya pun Bersama-sama keluar dari café tersebut dan berjalan menuju wisata kincir angin di Amsterdam. Rafa melihat sisi periang dari Widya. Baru dua kali bertemu Widya, Rafa merasa janda beranak dua itu dewasa.
Setelah berjalan-jalan menikmati kincir angin, kemudian Rafa dan Widya melanjutkan ke wisata berikutnya yaitu ke Dam square.
Dam square adalah tempat alun-alun di Amsrterdam yang menyajikan beragam tema wisata dalam satu Kawasan. Mulai dari tempat bersejarah di Amsterdam, hunting makanan khas Amsterdam, bahkan terbilang romantis. Selain itu, Dam Square juga menyajikan makanan khas Eropa, hingga makanan khas ala Amsterdam.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang, dan terdengar azan yang berasal dari Smartphone milik Widya dan Rafa.
“Yuk, aku tau masjid keren yang belum kamu datangin”
__ADS_1
“Masjid apa Namanya Raf?”
“Nanti kamu juga tahu”
Setelah Widya sampai pada mesjid yang mengagumkan, dengan sendirinya Widya langsung mencari dimana bagian sholat khusus perempuan dan dimana tempat berwudhunya.
Tampak Widya mendekati Rafa.
"Luar biasa ya keindahan masjid ini." ucap Widya.
"Westermoskee ini adalah Masjid pertama kali dibangun pada tahun 2013 dan selesai pada tahun 2015. Dalam Bahasa Turki, Westermoskee disebut dengan Ayasofya Camii atau Hagia Sofia, sebuah gereja di Istambul yang diubah menjadi mesjid. Mesjid ini memiliki satu kubah dan satu minaret dan arsitektur luar yang serupa dengan Hagia Sophia. Luas bangunan masjid ini sekitar delapan ratus persegi dan dapat menampung jamaah hingga 1700 jamaah." Jelas Rafa sudah seperti tour guide pada turis.
Widya pun mengangguk-angguk kepalanya.
"Kamu sering kemari?" tanya Widya.
"Baru beberapa kali. Aku termasuk muslim yang tak seperti para mualaf disini." ucap Rafa jujur.
Widya menautkan alisnya.
"Maksudnya, kadang aku merasa bingung. Aku ini orang Islam dari lahir, tapi.... Ibadah saja terasa berat sekali. Malas sekali. Tetapi melihat para mualaf di lingkungan sekitar ku. Mereka begitu semangat menjalani ibadah shalat lima waktu bahkan Sunnah-Sunnah nya. Hhhh...." Ucap Rafa menghela napasnya.
Ia pun sebenarnya merasa bingung. Ia tak merasakan kebahagiaan. Padahal jika mata yang memandang ia lelaki yang sukses dan tentu bahagia. Ia berpikir jika mungkin ia kurang beribadah.
"Berdoa, Allah itu maha membolak-balikkan hati hambanya. Maka sebuah hidayah untuk tekun beribadah juga harus didoakan dan satu paling penting. Dipaksakan. Karena sesuatu yang baik itu memang harus setengahnya di paksa. Jika tidak memang sulit untuk mendapatkan hidayah Raf. Upss... Maaf Pak dosen jadi terkesan menggurui." ucap Widya malu.
Rafa terkekeh melihat mimik wajah Widya yang merona.
"Tidak apa-apa. Kamu ada benarnya. Aku memang terlalu santai, nyaman dengan diriku. Aku seolah tak butuh Tuhan." Kembali Rafa mengeluh tentang isi hatinya.
"Maka dari itu jika shalat menjadi kebutuhan maka kita aka risau saat tak segera melakukannya. Dipaksa untuk mulai menjadi kebutuhan. sama seperti makan. Lapar tak lapar kita harus tetap makan di saat jam makan karena jika tidak, lambung kita akan bermasalah."Ucap Widya lagi.
Rafa pun memandangi Widya. Ia merasa ada ketenangan berbincang bersama Widya di pertemuan mereka hari ini. Widya pun mengajak Rafa pulang karena menyadari lelaki itu memandangi dirinya.
__ADS_1