
Sebuah ruangan ICU tampak tubuh widya masih terbaring lemah dengan selang oksigen yang membantu bernapas. Sebuah benturan keras membuat Widya harus tak sadarkan diri. Seluruh keluarga cemas. Ridwan pun begitu khawatir pada kondisi Mama nya. Ingin sekali ia menghajar Steward. Namun semua itu tak mungkin Ia lakukan. Kini ia dan keluarga hanya bisa fokus pada kondisi Widya yang harus segera mendapatkan pertolongan. Hari demi hari hingga berganti minggu, tiba di mana dokter menyarankan agar Widya kembali harus di operasi tulang punggung.
Kabar Widya yang kecelakaan dan sedang menuju rumah sakit membuat Steward menanti di Bandara. NAmun dirinya diacuhkan oleh putra keluarga Widya. Namun seorang lelaki yang justru geram tiba-tiba datang dan memukul Steward.
“Buughhh!”
“Aaaawwhhh… Are Your creazy?!” Teriak Steward.
“Yes, it’s because of you!.” Bentak Rafa.
Ayah Widya melerai perkelahian itu. Ia meminta dua orang leaki itu tak membuat keributan di dalam rumah sakit. Mereka akhirnya keluar dari arah rumah sakit dan berbicara di depan ruang lobby.
“Aku mohon maafkan aku,…” Ucap Setward lirih. Ia juga merasa tersakiti dengan kondisi ini. Ia mencintai Widya tetapi untuk tidak bertanggungjawab pada Amanda adalah sesuatu yang tak mungkin. Kini ia adalah Steward yang baru.
“Mau tidak mau, aku bersalah dan harus mempertanggungajawabkan apa yang aku perbuat..” Kembali Steward menyesali akan apa yang terjadi.
Rafa tampak kesal, ia sebenarnya menyukai Widya. Namun kabar Widya di khianati oleh Steward membuat ia kecewa. Ia bisa merasakan apa yang Widya rasakan.
“Jangan temui Widya jika ia sudah sadar, ia akan sulit memaafkan kamu. Kamu pasti tahu rasanya luka yang diberi Alkhohol…” Pinta Rafa pada Steward.
Rafa meninggalkan Steward seorang diri. Rafa pun menanti di depan ruang operasi. Pak HAndoko tampak kalut. Ia begitu khawatir terjadi sesuatu dengan Widya.
“Takdir cinta Widya begitu miris…” Ucap Pak HAndoko seraya tertunduk.
“Om, setiap kita pasti punya takdir sendiri dan saya yakin, Widya bisa melalui semua ini… dia perempuan yang kuat…” Ucap Rafa untuk menenangkan Pak Handoko.
Satu jam lebih Widya pun keluar dari ruang operasi, tubuhnya terbaring di ranjang pesakitan dan di dorong oleh perawat untuk menuju ruang rawat VVIP. Mereka pun menanti kesembuhan Widya, hari berganti minggu. Widya sadar di hari ke 25 pasca operasinya. Tubuhnya lemah dan sakit semua di sendi-sendinya.
“Widya…” Ucap Pak HAndoko saat melihat widya membuka kedua matanya.
__ADS_1
Widya hanya terdiam menatap Pak Handoko. Seketika bayangan Steward muncul dalam ingatannya. Sudut matanya meneteskan air mata. Pak Handoko cepat memberikan minum untuk widya menggunakan sendok.
“Minum dulu…” Ucap Pak Handoko lirih. Ia mengerti apa yang membuat air mata putrinya jatuh. Widya memang janda, tapi ia tetap putrinya.
“Papa panggil dokter dulu.” UCap Pak Handoko berjalan keluar ruangan.
Tak berapa lama muncul perawat dan dokter. Dokter memeriksa kondisi mata dan denyut nadi Widya. Beberapa alat pun dilepas dari tubuh Widya.
“Pa….” Ucap Widya pelan.
“Jangan banyak berbicara dan berpikir dulu. Fokus pada kesembuhan mu. Kedua anak mu masih membutuhkan kamu…” Ucap Pak Handoko.
Widya pun menutup mulutnya rapat. Ia juga menutup matanya, ia tak ingin kondisi nya kian parah. Ia harus sehat, ada Sarah dan Ridwan yang harus ia perhatikan.
Dua bulan berlalu, Widya telah pulih. Ia akan kembali ke Indonesia. Seseorang mencoba menemuinya terhenti di depan bandara karena di hadang oleh Rafa.
“Aku harus meminta maaf padanya.” Ucap Steward.
“Apakah tak bisa mengirimkan pesan?! Tolong jangan buat Widya lebih sakit dari ini…” Pinta Rafa.
Namun Steward menepuk pundak RAfa.
“Kamu mencintai nya?” Tanya Steward.
“….” RAfa bingung menjawab pertanyaan mendadak dari Rafa.
“Okey, Bahagiakan Widya.” Ucap Steward seraya berlalu.
Rafa pun bergegas masuk ke bandara. Ia akan ikut pulang ke Indonesia. Entah kenapa Rafa merasa sekarang Widya berbeda dari sebelumnya. Saat turun dari pesawat pun Widya masih tak terlalu banyak bicara.
__ADS_1
“Widya lebih tertutup sekarang Raf, Om harap dia tidak kembali terpukul.” Ucap Om Handoko kala satu hari Rafa menyempatkan diri untuk berkunjung dan berniat menemui Widya. Tetapi Widya menolak bertemu dengan alasan sedang ingin fokus memperbaiki diri.
“Saya paham Om, semoga Ridwan dan Sarah tak kena imbasnya.” Ucap RAfa.
“Tidak, sepertinya Widya dan anak-anaknya masih cukup baik. Ia bahkan sering bercanda dengan kedua anaknya.” Jelas Pak Handoko.
Hingga Ridwan pada suatu malam bertanya pada Widya.
“Ma…. Kenapa mama sekarang sering menutup diri…” Ucap Ridwan hati-hati.
Widya menghentikan kegiatannya. Ia yang kini sibuk membuat kue dan menjualnya secara online juga melalui sebuah toko kecil. Ia buka celemeknya, kemudian ia duduk di sisi putra sulungnya.
“Kamu tahu, setiap orang mungkin punya takdir berdua. Namun kita punya dua takdir dalam hidup ini. Takdir yang tak bisa diubah, seperti kita lahir dari orang tua yang mana, kedua takdir yang bisa dirubah sesuai dengan ikhtiar kita, contoh dengan pandai dan tidak. Kita bisa merubahnya andai kita mau rajin belajar dan bersungguh-sungguh, sakit juga bisa dirubah jika kita sakit dan berobat…” UCap Widya seraya membenarkan posisi kuncir rambutnya yang sedikit kendur. Ia pun kembali menatap serius Ridwan.
“Dan takdir itu sendiri jika dilihat dari 3 cara. Cara Allah, malaikat dan kita manusia akan berbeda. Allah, tahu semua takdir hambanya di dunia ini. Bahkan selembar daun jatuh pun Allah tahu kapan waktunya. Bagi malaikat takdir kita sudah tercatat di Lauh Mahfudz dan tergantung kita mau merubahnya atau tidak seperti contoh menjemput rezeki. Jika mama tidak membuat kue dan hanya terpekur di kamar, apakah akan ada rezeki datang menghampiri?” Tanya Widya.
Ridwan menggeleng, ia tahu tentu tak mungkin hanya dengan tidur, shalat tanpa bekerja rezeki datang. Maka dibutuhkan ikhtiar untuk menjemput rezeki.
“Lalu dari kita manusia kita hanya bisa tahu takdir kita ketika semua terjadi, termaasuk yang terjadi dengan takdir cinta mama. Mungkin Allah tahu apakah ada jodoh mama di masa depan, begitupun malaikat, mereka bisa melihat apakah ada atau tidak. Mama, mama tidak tahu di depan apakah mama masih berjodoh dengan lelaki lain atau tidak. Yang mama bisa lakukan saat ini adalah menjalani hari-hari untuk merawat apa yang Allah titipkan yaitu kamu dan Sarah…” Ucap Widya dengan tatapan kosong seraya hatinya bermonolog.
‘Niat ku selama ini untuk beribadah salah… aku merasa kesepian. Aku pergi mencari ketenangan dan teman hidup… Aku berharap menikah mungkin akan bahagia, namun sepertinya takdir cinta ku masih menjadi rahasia… Ah, maafkan ya Allah… aku seharusnya tak pergi ketika mencari ketenangan tetapi mencari mu dalam hidup ku….’ Batin Widya.
Ridwan melihat air mata di kedua pipi mamanya. Lelaki itu kini mencoba mengerti jika mamanya ingin sendiri dan fokus pada dirinya dan Sarah.
Begitulah takdir cinta Widya, terpuruk ditinggal meninggal suami. Mencoba untuk menguatkan dirinya agar bisa berdiri di kaki sendiri. Ia justru mengenal cinta. Niat hati untuk healing, ia justru mengenal cinta. Widya lupa, jika ingin mencari ketenangan bukan dengan healing atau menyandarkan kebahagiaan pada makhluk tetapi sandarkan pada Allah yang tak pernah membuat kecewa pada hambanya, yang tak pernah melupakan janjinya dan yang paling tahu yang terbaik untuk hambanya. Kini Widya sadar, ia kemarin menikah bukan dengan niat ibadah. Kini Allah mengingatkan Widya lewat takdir cintanya, bahwa Allah adalah tempat sebaik-baiknya mendapatkan kebahagiaan. Allah lebih tahu yang terbaik buat hambanya, dan takdir adalah hak pregoratif Allah. Sekalipun manusi berjuang keras untuk menggapai apa yang ia ingin jika Allah tak meridhoi, sesuatu itu tidak akan terjadi. Inilah Takdir Cinta Widya. Kini ia lebih memilih cintanya untuk kedua anak dan untuk penciptanya Allah Subhanahu wa ta'ala.
THE END
(Ini bakal Reuni ya sama Mom Alleyah, Tania ya… ditunggu part 2 nya. Tapi peran utamanya anak-anak mereka. Oke aku otw endingin mak Tania ma Abang Abhi dulu ya biar bisa Reuni bulan 8 besok…. Kira-kira setuju ga kalau ketemu anaknya bang Ammaar ma Mbak Arumi nih?? Kalau setuju aku selipin sekalian kembar 3 nya Bang Ammar.)
__ADS_1