
Setelah mendengar penjelasan dari dokter
hati Almira langsung lega
tadinya dia sangat takut kehilangan neneknya
karena hanya sang nenek satu-satunya keluarga yang dia punya.
terima kasih dokter ucap tulus Almira
sama-sama,,sahut sang dokter
kalau begitu saya permisi dulu
sampai jumpa besok saat pemeriksaan nenek kamu.
Almira mengangguk kan kepalanya.
setelahnya sang dokter pun melangkahkan kakinya.
baru empat kaki dia melangkah
tiba-tiba sang dokter berhenti, terus berbalik ke arah Almira
sang dokter muda tersenyum
dan di sambut pula oleh Almira dengan senyum menawannya,membuat kedua lesung pipit nya terlihat.
deg
jantung sang dokter muda itu seakan berhenti beroperasi
dia mematung dan menatap Almira dengan ekspresi yang sulit terbaca.
membuat Almira mengerutkan keningnya
kenapa pak dokter menatap saya seakan mau menguliti saya?
membuat saya jadi merinding
mending saya ke ruangan nenek saja lah
melihat bagaimana keadaan nenek
batin Almira.
setelah itu Almira celingak celinguk
mencari para tetangganya yang bersamanya tadi,,
pada kemana ya? kok sepi
apa mereka sudah di ruangan nenek
ah lebih baik saya nyusul saja
lirih Almira sambi berlalu
tanpa menghiraukan sang dokter yang masih menatap gerak geriknya.
baru saja sang dokter ingin menegur Almira
tapi Almira keburu menghilang dari hadapannya.
lah kemana gadis itu?
perasaan tadi dia masih berdiri di sana
tapi kok sekarang tak ada?
apa aku keasikan melamun ya
monolognya.
ya sudahlah aku pulang saja
apalagi ini sudah sore
lagipula di rumah ada acara keluarga
batinnya lagi
lalu sang dokter tampan itu pun berlalu dari tempatnya berdiri.
dan melangkah menuju parkiran
__ADS_1
ke tempat dia memarkirkan mobilnya
dan membuka pintu depan,lalu menyalakan mesin mobilnya,dan keluar dari puskesmas tersebut.
sementara di ruangan inap nenek Dijah
tampak para tetangganya mengerubungi
bangsal tempat tidurnya nenek Dijah
di tangan kanan nenek Dijah di pasang jarum infus.
para tetangga merasa kasihan dengan kehidupan nenek Dijah
cobaan selalu bertubi-tubi menghampirinya.
setelah kehilangan suami tercintanya
hidup nenek Dijah menjadi sepi,serasa dunia runtuh.karena sang penopang sudah tiada lagi.
tapi seiring berjalannya waktu
nenek Dijah bangkit kembali,,,apalagi putra semata wayangnya sudah menikah dengan wanita pilihannya.
meski pernikahan sang putra tidak di restui oleh keluarga sang menantu
karena keluarga dari sang menantu keturunan orang berada dan juga keturunan ningrat.
makanya pernikahannya tidak di restui
dan sang menantu di buang oleh keluarganya karena menikah bukan dengan sesama bangsawannya.
tapi karena mereka saling mencintai
maka tidak masalah jika dirinya di buang.
selang dua tahun menikah,,sang menantu akhirnya hamil juga
kebahagiaan pun makin mereka rasakan
meski kehidupan sang menantu berbalik
yang tadinya bergelimang harta
tapi sang menantu tidak pernah mengeluh
dengan keadaannya.
dia malah bahagia bisa hidup dengan orang terkasihnya.
menginjak tujuh bulan kehamilan menantunya,cobaan pun datang lagi menghampiri nenek Dijah
yaitu kematian putra semata wayangnya
karena kecelakaan motor.
membuat sang menantu dan nenek Dijah terpukul, bahkan hampir saja membuat kandungan menantunya bermasalah
kalau tidak segara di tangani oleh dokter.
setelah dua bulan kematiang sang putra
kehidupan nenek Dijah dan menantunya kembali membaik
mereka menata kembali hidupnya setelah di porak porandakan oleh cobaan yang sangat berat.
tak terasa kandungan sang menantu sudah memasuki sembilan bulan, tujuh hari.
sang menantu mulai merasakan mules di perutnya dan dia pun bangkit dari tempat tidurnya mencari ibu mertuanya
untuk membawanya ke kelinik terdekat
mungkin sudah saatnya dia mau melahirkan.
beberapa jam pun berlalu setelah sang menantu di tangani oleh bidan yang di klinik tersebut
sempat menegang karena sang menantu pingsan di saat pembukaan terakhirnya.
akhirnya sang menantu di bawa ke rumah sakit kota yang lengkap dengan alatnya.
setelah sampai di rumah sakit tersebut
menantunya langsung di bawa ke ruangan operasi.
karena pasien harus segera di tangani.
__ADS_1
tiga jam berada di ruang operasi
terdengarlah suara tangisan bayi
membuat nenek Dijah yang tadinya deg-degan dan mondar-mandir di depan ruangan tersebut
seketika menyunggingkan senyumnya.
tak selang suara tangis bayi tersebut
terbukalah pintu ruangan operasinya
dan keluarlah seorang perawat sambil mendorong ranjang bayi.
nenek Dijah seketika mendekat dan ingin menghampiri cucunya.
ini cucu saya suster?
tanya nenek Dijah sambil matanya berair saking terharunya.
ya bu,,,tapi maaf mau saya bawa dulu untuk di bersihkan jawab suster tersebut sambil berlalu.
nenek Dijah sangat senang karena cucunya selamat
tapi belum satu menit kesenangan nenek Dijah
tiba-tiba keluarlah dua perawat dari ruangan tersebut sambil berlari ke arah ruangan lain
hal itu membuat nenek Dijah
bingung sendiri
apa yang terjadi di dalam?
dan kenapa para perawat itu berlari sambil menunjukkan muka cemas nya
kenapa dengan menantuku?
tak lama dua perawat yang tadi itu datang kembali sambil berlari tergopoh-gopoh
sambil membawa alat dan satu kantung darah.
dan mereka pun langsung saja masuk ke dalam,tanpa menghiraukan pertanyaan dari nenek Dijah.
ya allah,,,ada apa dengan menantu hamba?
hamba mohon ya allah
selamatkanlah menantu hamba ya allah
nenek Dijah berdo'a sambil menahan isakannya.
tak lama terbukalah pintu ruangan operasi
dan keluarlah tim dokter
dan perawat rumah sakit tersebut.
ketua dari tim dokter tersebut menghampiri nenek Dijah
dan meminta maaf karena gagal dalam menyelamatkan menantunya.
bagai di sambar petir yang beruntun
membuat nenek Dijah luruh ke lantai
sambil tangannya memegang dadanya
yang terasa ngilu.
seluruh tubuhnya terasa membeku
jantungnya terasa berhenti berdenyut
lidahnya kelu
yang hanya ada air mata yang keluar dengan derasnya tanpa bisa di hentikan lagi.
nenek Dijah belum percaya jika sang mentu pergi meninggalkan nya begitu saja.
dia mau bangun tapi badannya tidak mampu di gerakin
nenek Dijah hanya mampu berteriak di dalam hatinya.
kenapa kehidupan ini begitu kejam kepadanya.
__ADS_1