
"bang Athan".panggil Jack
mendengar suara Jack,Athan dan leo pun langsung berhamburan ke tempat Jack berada.
"Jack akhirnya loe sadar".seru leo
"ini sudah di padepokan eyang bang".tanya Jack dengan suara masih lemas
"iya udah itu eyang lagi ke sini".sahut Athan sembari menunjuk eyang yang sedang berjalan mendekat
"cu udah sadar kamu".kata eyang sembari duduk di sisi ranjang
"udah eyang".sahut Jack lemas sembari mengambil tangan eyang untuk di salaminya
"Ratih cepat buatkan teh hangat".perintah eyang kepada Ratih
"iya eyang".jawab Ratih sembari berjalan menuju dapur
"sekarang apa yang kamu rasakan".tanya eyang pada jack
"masih sakit eyang dadanya".jawab Jack sembari memegangi dadanya
"oh gitu maaf ya cu eyang tidak bisa menyembuhkan kamu secara total,tapi eyang janji eyang akan merawat kamu hingga sembuh".kata eyang sembari mengelus rambut Jack yang terbaring lemas
"iya eyang sebelumnya makasih dan minta maaf juga aku malah banyak ngerepotin eyang".sahut Jack
"enggak kok cu kamu nggak ngrepotin eyang justru eyang malah yang harus minta maaf karena eyang telah gagal menjalankan amanat dari Datuk kalian".ujar eyang sembari berlinang air mata
"eh bang tuh liat eyang sama Jack malah bikin drama di depan kita,di shooting aja yuk bang siapa tau viwers kita naik total".kata leo menilai perilaku eyang dan Jack
"huss sembarangan kamu".senggol Athan pelan
sesaat kemudian Ratih pun datang dengan membawa segelas teh hangat.teh itu langsung di minum kan kepada Jack.jack pun merasa ada sedikit kekuatan setelah meminum teh itu.
tak terasa panggilan adzan untuk shalat magrib pun berkumandang dari surau kecil di padepokan eyang.mereka lantas berwudhu untuk menunaikan shalat.
Jack yang saat itu masih lemas di bantu oleh leo untuk berwudhu.setelah itu mereka semua pergi ke surau eyang.
mereka langsung menunaikan shalat sunah sebelum magrib sembari menunggu eyang datang.
tepat mereka menyelesaikan shalatnya eyang pun datang dan langsung menyuruh muridnya untuk segera memuat shaf-shaf shalat dan meluruskannya.eyang menunjuk salah satu diantara leo dan athan untuk mengimami shalat.namun mereka tidak ada yang mau malah berbalik meminta eyang untuk mengimaninya.
untuk mengambil jalan tengah eyang langsung mendorong Athan selaku anak tertua dari mereka untuk mengimami shalat.dengan terpaksa athan pun menjadi imam shalat pada magrib itu.
suara Athan yang merdu membuat para murid eyang terlena dan lupa dengan semua hal.shalat pun selesai eyang lantas menyuruh kang Danu untuk membersihkan kamar yang biasa Athan dan kedua saudaranya tempati jika mereka ke padepokan.
kemudian eyang mengajak ke tiga cucu sahabatnya itu untuk makan malam.sementara semua murid eyang di suruh mengaji di surau itu.mereka pun kembali ke kediaman eyang dan langsung duduk di ruang makan.
ruang makan yang sederhana namun bersuasana tenang.eyang tidak pernah makan di atas meja saat di rumahnya,jadi mereka makan di atas lantai ubin beralaskan tikar.
setelah semuanya duduk dan berbincang beberapa saat Ratih pun menghidangkan makan malam itu.makanan yang sederhana namun menggugah selera untuk siapa saja yang melihatnya.
setelah semua itu terhidang eyang langsung mempersilahkan mereka untuk segera makan, sementara Ratih dia kembali ke dapur untuk makan di sana.
"bang itu siapa".tanya Jack pada leo
"itu cucunya eyang, namanya Ratih".sahut leo
"kamu kenal gak sama dia".tanya balik leo
"enggak tuh Abang berdua kenal".tanya Jack lagi
mereka berdua menggelengkan kepala tanda mereka tidak mengenal Ratih cucu eyang ma'ul.tapi dalam pikiran Jack ia masih sedikit ingat dengan sosok Ratih ini.jack merasa bahwa nama itu tidak asing di ucapkan oleh mulutnya.
"kok kaya kenal ya".gumam Jack dalam hati
******
pagi pun tiba.tania dan mawar menjalankan rutinitasnya setiap pagi,namun pagi itu sedikit berbeda.tania yang biasa menanyakan masakan ibunya setiap pagi,pagi itu hanya diam yang membuat sang ibu kebingungan.
sementara mawar dia yang terbiasa bersenandung dengan suaranya yang pas-pasan pagi itu pun hanya diam.bi Iin memperhatikan gerak-gerik sang majikan muda yang diasuhnya dari bayi itu merasa heran.
"non kenapa kok pagi ini bibi merasa ada yang aneh sama non".tanya bidan Iin
"gak papa bi mawar cuma begadang tadi malam jadi sekarang masih agak ngantuk".jawab mawar berbohong
"oh gitu ya non tumbenan amat non begadang". tanya bibi lagi
"iya nih bi banyak tugas dari kampus jadi sampai larut aku tidurnya".kata mawar berbohong lagi
"ya udah sekarang non mandi dulu bibi siapkan makanan buat non mawar ya".ujar bi Iin
"iya bi makasih".sahut mawar sembari berjalan ke kamar mandi
__ADS_1
sementara Tania dia sudah rapi dan ingin sekali melambatkan ia pergi ke kampus pada hari itu.ia masih merasa tidak aman jika ibunya di tinggal sendirian di rumah.ia pun berpikir keras supaya ibunya tidak kenapa-napa.
"buk,ibu siang ini mau kemana".tanya Tania
"emm paling ke rumah Simbah,katanya di ladang Simbah kapulaga nya sudah siap panen".sahut ibunya
"ohh gitu ya Bu.buk nanti kalau ada orang yang ngasih sesuatu ke ibu,ibu tolak aja ya".pesan Tania pada ibunya
"memangnya kenapa nak".tanya sang ibu
"udah Bu nurut aja sama tania.pokoknya jangan ibu terima pemberian dari orang lain selain saudara ibu atau dari Simbah.kalau orang itu memaksa ibu terima nanti kalau Ratih pulang berikan saja pemberian itu pada Ratih".jawab Ratih
"iya deh nak ibu bakal ingat pesan kamu".sahut ibu Tania dengan tersenyum
setelah itu ibu pun pergi ke ladang untuk melihat apakah ada sayur yang cocok untuk di masak siang itu.namun ia baru ingat kalau ia harus ke rumah Simbahnya Tania jadi mungkin di tidak usah masak siang itu.
sementara Tania masih saja Bimbang pada ibunya.apakah dia bakal ingat tentang pesan nya itu.ia khawatir karena ibunya orang yang selalu merasa tidak enak jika menolak pemberian orang.apa lagi orang itu sangat dekat dan akrab dengan ibu.
"hayo melamun aja".kata ibu mengagetkan Tania
"ih ibu apaan sih".sahut Tania sembari memanyunkan bibirnya
"kamu kenapa sih nak kok kaya orang yang lagi banyak pikiran gitu.kamu mikirin apa?.pengen nikah?". tanya ibunya
"ihhhh ibu nikah lagi yang di bahas".sahut Tania kesal
"ya mungkin aja.atau kamu lagi marahan sama pacar kamu".tanya ibu mengintrogasi
"enggak buk aku gak apa-apa kok.lagian ibu kan gak ngebolehin Tania pacaran".sahut Tania dengan manyun
"ya mungkin kamu ngelanggar pantangan ibu kan".ledek ibu
"ya gak dong Bu".sahut Tania
"iya deh terus kenapa kok pagi ini ibu rasa kamu ada yang beda".ujar ibunya
"beda apanya Bu aku tambah cantik ya".kata Tania memuji dirinya
"bukan itu kamu itu kaya orang yang lagi bimbang banyak pikiran gitu.emang kenapa ada masalah cerita dong sama ibu".kata sang ibu sembari menggenggam tangan anaknya itu
"enggak buk aku gak apa-apa aku gak ada masalah kok".sahut Tania sembari tersenyum
namun dalam hatinya ia berkata"ibu lah masalahnya aku takut ibu kenapa-napa.jadi aku mohon sama ibu supaya ibu mengingat pesan tania".ujarnya dalam hati sembari memegangi tangan sang ibu
"ya udah kalau kamu tidak mau bicara sekarang gak papa tapi kapan pun kamu mau bercerita ibu siap mendengarkan cerita kamu".kata ibu menyemangati Tania
"oh iya nak nanti kamu pergi ke rumah Simbah aja ya terus makan di sana gak apa-apa kan".kata sang ibu sembari tersenyum
"iya buk nanti Tania ke sana kok".sahut Tania
"kamu ada kelas pagi atau siang".tanya sang ibu
"nanti agak jam delapan bu".jawab Tania
"ya udah kamu habiskan makanannya terus kamu cuci piringnya.ibu mau berangkat sekarang ke ladang soalnya".kata sang ibu
"iya Bu.ibu hati-hati ya ingat pesan Tania sama ibu".sahut Tania sembari mengingatkan sang ibu mengenai pesannya
"iya nak ibu akan ingat pesan kamu".jawab sang ibu sembari mengambil caping dan memakai sepatu boots
ibu pun pergi ke ladang Simbah yang jaraknya 500 meter dari rumah simbah.namun biasanya ibu pergi ke rumah Simbah untuk minum jamu Brata wali sebelum ke ladang.
"ibu kenapa ya kok masih mau kerja kasar seperti itu.apa ayah ngirim uang nya kurang".gumam Tania dalam hati
ayah Tania adalah seorang pengusaha kuliner yang cukup sukses.ia memiliki beberapa cabang resto dan kafe di kota.namun karena desakan bisnisnya ia jadi jarang pulang dan sering menginap di lantai atas ruko yang ia kelola langsung.
sebenarnya ia ingin sekali membawa Tania dan ibunya ke kota untuk tinggal di sana.namun ibu Tania menolak karena ia kasihan dengan orang tuanya yang sudah sepuh.ia khawatir tidak ada yang bisa merawat mereka di kala sakit.sedang kedua saudaranya telah berkeluarga dan memilih pindah dari desa.
ayah Tania pun paham dengan situasi itu.ia pun tidak bisa memaksa kehendak istrinya.lagi pula sang istri juga memiliki ladang yang cukup luas sehingga kalau bukan dia siapa lagi yang mengurus.
"apa aku telpon ayah aja ya".katanya pada diri sendiri
Tania pun menelepon ayahnya pagi itu untuk mengetahui perihal berapa uang bulanan yang di berikan sama ayah.
"assalamualaikum yah".kata Tania setelah teleponnya tersambung dengan milik ayahnya
"waalikumsalam nak gimana kabar kamu".sahut ayah
"Alhamdulillah yah sehat.ayah di sana sehat".kata Tania
"iya nak ayah Alhamdulillah sehat".jawab sang ayah
"tumben kamu nak nelpon ayah ada apa.kamu perlu uang ya buat bayar kampus kamu".tanya sang ayah
__ADS_1
"enggak kalau yang aku pengenin sih ayah pulang".jawab Tania
"aduh kalau itu maaf banget ya ayah belum bisa.sebenarnya kemaren ayah mau pulang karena ayah udah kangen kamu.eh tapi malah ada halangan.mungkin satu bulan lagi ayah pulang".sahut sang ayah
"yah Tania mau tanya boleh gak".tanya Tania
"boleh mau tanya apa".sahut sang ayah
"ayah kalau ngirim uang ke ibu berapa sih".tanya Tania
"emang kenapa nak kok kamu nanya kiriman ayah ke ibu".kata ayahnya kaget
"ini yah maaf ya yah.soalnya ibu itu selalu bekerja di sini aku kasihan sama ibu yah.aku pengen kerja part time ibu gak ngebolehin.tapi ibu sendiri malah bersusah payah cari kerja".kata Tania dengan suara parau
"nak ibu kamu itu bandel banget.ayah sudah pernah bilang jika ibu gak punya uang dia minta sama ayah aja.tapi justru ibu kamu masih kerja aja".jelas sang ayah
"oh gitu ya yah.tolong ya yah bilangin ke ibu gak udah kerja lagi".pinta Tania pada ayahnya
"iya nanti ayah coba ya.kamu juga bantuin karena kalau ayah yang bilang nanti ibu gak bakal mau".sahut sang ayah
"iya nanti Tania bantuin".sahut Tania
"ya udah ya nak ayah mau buka toko dulu nanti kita ngobrol lagi".kata sang ayah
"ih ayah lebih sayang toko ketimbang Tania".Rajuk Tania
"ya enggak dong sayang.tapi emang sekarang ayah mau buka toko soalnya udah banyak pesanan online.maaf ya sayang".sahut ayahnya
"iya deh yah.yang semangat kerjanya ya.assalamualaikum".kata Tania
"waalikumsalam".sahut sang ayah
kemudian Tania pun memutuskan teleponnya dan tanpa sengaja dia melihat nama kontak mawar di situ.langsung terlintas dalam pikirannya soal perkataan naura.jadi ia putuskan untuk memberi pesan pada mawar supaya mulai saat itu mereka pergi-pulang berangkat sendiri dengan motor sendiri.
………………
sementara mawar pagi itu juga menelpon sang ayah.ia memaksa ayahnya suruh pulang hari itu juga karena ia ingin memberi pesan pada ayahnya sama seperti pesan Tania ke ibunya.
setelah menelpon ia melihat nama kontak yang terpampang di layar hp nya.nama itu tak lain adalah nama Tania sahabat dekatnya.
ia pun memikirkan hal yang di pikirkan oleh Tania juga.ia lantas menulis pesan pada Tania yang berbunyi.
"Nia mulai hari ini dan seterusnya aku dan kamu berjauhan dulu ya.aku gak mau kamu terkena imbas dari masalah aku.jadi untuk siang ini kita pergi ke kampus sendiri-sendiri dulu ya hingga kita tau titik terang dari masalah ini".kata mawar lewat pesan yang di kirim dengan aplikasi hijau
namun selesai ia mengirim ia juga ia juga mendapat notifikasi pesan yang isinya hampir sama dengan apa yang ia tulis untuk Tania.ia pun bersyukur karena Tania sepemikiran dengannya.
*****
"Ratih ke sini cu".panggil eyang pada Ratih
"iya eyang ada apa".sahut Ratih sembari berjalan ke ruang makan
"sini makan bareng". perintah eyang pada Ratih
"maaf eyang saya di dapur aja". sahut Ratih
"sini aja gak apa-apa.kan kalian dulu pernah makan bareng di Empang dengan beralaskan daun pisang".ujar eyang mengingat masa kecil mereka
"masa sih eyang bercanda nih".kata leo
"enggak cu.coba kamu ambil kotak di dalam laci itu".perintah eyang pada leo
Leo pun langsung mengambil kotak itu dari laci yang eyang tunjuk.kemudian ia langsung memberikannya pada eyang.
eyang pun membuka kotak itu namun sebelumnya ia meniup debu yang menutupi kotak itu.kotak pun terbuka terpampang lah foto tiga anak laki-laki dan satu perempuan yang sedang asyik bermain.
"nih kalian lihat foto ini".ujar eyang
mereka pun kemudian mengambil salah satu satu dari foto itu.mereka berpikir keras siapa foto anak di balik foto itu dan apa maksud eyang.
"eyang ini maksudnya apa ya".tanya Ratih
"itu kalian waktu masih kecil".sahut eyang
"masa sih eyang kok mukanya kaya gini.abstrak banget kaya bukan orang".kata leo
"lha emang cu itu kalian.nah ini foto kalian waktu di Empang makan ikan bakar bersama".ujar eyang sembari memperlihatkan foto itu pada cucunya
terlihat jelas di foto itu Jack dan ratih sedang makan ikan bakar dan nasi.sementara Athan dan leo sedang membakar ikanya.
"sekarang kalian sudah ingat".tanya eyang
******
__ADS_1
"kita mau ambil tumbal anak siapa lagi den". tanya sosok pendek bertubuh gempal
"sepertinya orang yang ada di sebelah Herman itu cocok untuk kita jadikan tumbal.ku lihat dia selalu sendiri di rumah.jadi mudah untuk kita mengelabuhi nya".sahut sosok jangkung sembari tersenyum miring