
Setelah dari sekolah, Tika menuju rumah Bu Pandu, mampir ke Angkringan 99, dimana terlihat Aldi dan Angga yang asyik ngegame disana.
yang memang angkgingan itu tak jauh dari rumah Bu Pandu.
" Woy, anjing lama banget, ditungguin juga." ucap Aldi.
" Sorry bro, ada kerjaan, gua duluan ya soalnya, mau kerja lagi nanti malam saja di, Angkringan Abah aceng." ucap Darma dan melajukan motornya meninggalkan mereka.
" Woy, jiancok cah kae." ucap Aldi kesal.
Sampai dirumah Bu Pandu juga kelima temannya yang sudah disana Darmapun ikut bergabung di ruang tamu.
" Jadi begini saja, mungkin kalian bingung too mau kasih apa buat guru guru kalian,
Bu sudah ada ide untuk itu dan juga sedikit murah kok biayanya."
" Untuk Pak Dadang dan Pak Indra kep.sek
berikan Sepatu ,dan untuk Ibu sendiri, Bu Nesty dan Bu Nana, berikan Kemeja Batik saja." Dan Ibu pun sudah siapkan, karena memang Bu Nesty juga jualan sepatu dan kemeja jadi mudah bagi Ibu mencarinya, juga tadi Ibu sudah bicarakan sama guru yang bersangkutan.
Jadi besok silahkan kalian sendiri bagikan, hanya perlu, membungkusnya satu per satu.Untum punya Ibu tak usah, juga Ibu ucapkan terima kasih banyak."
ucap Bu Pandu.
"Sama sama Bu, ucap mereka dan membungkusnya satu persatu, karena Darma tak ikut membantu mereka membungkus Hadiah tersebut.
Malah asyik dengan rokoknya di sudut teras depan Rumah.
Bu Pandu di bantu Sintya menyiapkan minuman dan kue untuk dinikmati bersama.
" Oh, dasar kucaii, yang lain sibuk, malah asyik sendiri." ucap Sintya dan menyodorkan kopi untuk Darma.
" Ah, itukan kerjaan cewek, lama lama nanti aku bisa kaya Ferik, uppss." ucap Darma dan menutup mulutnya sendiri keceplosan.
" Uh, dasar, alasan ." ucap Sintya dan melnajutkan berkumpul dengan teman lainnya yang sedang membungkus hadiah untuk Bapak dan Ibu Guru.
" Ini uang hadiah milik Darma dan Ajeng totalnya 13.000.000,
dan masing masing mendapatkan 6.5juta.
Untuk kalian Ferik sintya dan rana rani
total hadiah kalian 9.500.000
jadi setiap kalian mendapatkan 2.1juta
yang 100rb buat belanja hadiah
karena belanja hadiah habis 1.2 juta jadi yang 1.juta aku ambil dari hadiah Ajeng dan Darma karena memang ada hak kalian disini.
Jadi Darma dan Ajeng berhak atas 5.000.000, dan kalian 2.300.000,." ucap Bu Pandu, dan membagi hadiah mereka satu persatu yang memang sudah di masukan amplop masing masing oleh Bu Pandu.
" Baik. Bu. dan terima kasih." ucap mereka semua.
" Bu seumpama , saya nitip uang ini untuk tabungan kami bisa." ucap Sintya.
" Benar Bu, kami berniat nabung 1 juta , setiap dari kami. yang nantinya kami gunakan, untuk kumpul bersama atau bisa sebagai Reuni kami setelah kami masuk keperguruan tinggi." Ucap Ajeng
" Iya, Bu kalo boleh, kami juga berniat kumpul disini setiap minggunya,." ucap Ferik.
" Boleh, banget, Ibu senang sekali, kalo kalian berencana mau kumpul disini, yang juga ibu sendirian, hanya dengan anak ibu Tika, karena kepergian suami ibu, jadi setiap minggunya kalian kesini akan membuat saya ada teman ngobrol dan sharing jadi Ibu akan awet muda karena sering kumpul kalian. haha." ucap Bu Pandu dan tertawa.
Darma tak mendengar apa yang mereka bicarakan , dan tetap pada Hapenya karena sedang menyusun tugas Susunan berita, yang telah di kirimkan oleh Ketiga wartawan itu.
Mereka pun membuka amplop mereka,
satu persatu , serta menghitung uang hadiah itu masing masinng 1juta diberikan pada bu pandu, dan sisanya 1,3 juta di taruknya di amplop Darma.
" Ini punya saya dan Darma buk." ucap Ajeng dan memberikan uang 2 jutanya kepada bu pandu, dan sisa 3 jutanya ikut dimasukkan ke amplop Darma.
" Ini nanti tolong serahkan pada Darma ya, Bu, mungkin kalo kita yang memberikan dia akan menolak." Ucap Ajeng.
" Iya, bu kami sepakat untuk memberikan hadiah kami untuk Darma sebagai tambahan biaya Kuliahnya nanti," Ucap Sintya.
" Kami sebagai sahabatnya hanya bisa berbuat demikian tak lebih, untuknya." ucap Rana.
" Sungguh, kalian, Begitu perduli satu sama lain, dan membuat persahabatan kalian bukan sekedar persahabatan melainkan jalinan persaudaraan." ucap Bu Pandu.
" Oh, iya mumpung ini masih jam 11 juga kalian belum makan , ini kan, sudah hampir waktunya jam makan siang, apa sebaiknya kita masak buat acara makan makan bersama saja bagimana."
ucap Bu Pandu.
" Iya, buk setuju,"
ucap mereka semua.
Bu pandu mengarahkan mereka menuju dapur dan membagi tugas tiap tiap mereka untuk memasak Ayam bumbu kecap, dan sambel trasi,
" sintya kamu beli daging Ayam ya , suruh antar Darma, " ucap Bu Pandu dan memberikan sejumlah uang.
karena memang Sintyalah yang lebih sering belanja, atau pergi kepasar
dibanding keempat temannya, karena mereka yang nota bene anak kalangan atas, atau yang juga bisa disebut dengan anak mami, tak mungkin bisa disuruh kepasar.
Sintya segera mengajak pandu untuk membeli daging Ayam,
" Kucaii, ikut aku," ucap Sintya,
Darmapun kaget, karena melihat kearah Ruang tamu sudah pada bubar,
juga atas ajakan Sintya.
"Kemana???
dan yang lain mana??"
tanya Darma.
" Memasak, ayo kita beli daging Ayam, ke pasar." ajak Sintya.
merekapun bergegas menuju pasar tak jauh dari situ,
ditengah jalan menuju pasar mereka, di kagetkan dengan, Angga dan Aldi yang mengejar mereka,
" Hayooo, kalian mau ngapain, Jangan kemaruk kamu Cumii, Ajeng dan sintya mau kamu pacarin semua."
ucap Angga.
" Uhh, brisik, looe begundal,
sudah sana, kita mau cari buku." ucap Sintya.
" Ampun, neng jangan galak galak gitu, to." canda Aldi.
" Nanti malam, kita jadi nongkrong kan, kucaii ?" ucap Aldi dan bersiap meninggalkan mereka.
" Pastilah," ucap Darma
Setelah sampai pasar,dan membeli Daging Ayam, mereka segera kembali kerumah
Sampai dirumah Bu Pandu, Sintya dan Darma langsung menuju dapur.
Darma segera mengambil segelas es syrup buatan Ferik, dan meninggalkan mereka.
" Akukan anak laki sendiri jadi urusan masak memasak itu urusan kalian." ucap Darma,
" Loe kira gua , bukan laki " ucap Ferik.
" Kamu tu, manusia setengah dewa." ucap Darma mencandai, dan berlari.
" Sialan luuu." ucap Ferik sambil melempar pecahan es batu.
Dan menimbulkan tawa dari mereka semua.
Darma melanjutkan merokok sambil mengerjakan tugasnya, sebagai penyusun berita, di depan teras rumah bu pandu,
__ADS_1
mereka berlima dan Bu Pandu terlihat sibuk memasak sambil ngobrol.
" Oh, iya, Ibu dengar kalian masuk jalur undangan SNMPTN, pada ambil jurusan apa?? " tanya Bu Pandu.
" UNNES ,Ilmu komputer ," Ajeng.
" UNNES, Hukum ," Ferik.
" UNDIP, kedokteran ," Sintya.
" UNDIP,arsitektur teknik, " Rana dan Rani.
" Bagus, Cocok dengan karakter kalian masing masing. Oh iya Ajeng, kenapa kamu gak ikut jejak kakakmu ??" ucap Bu Pandu.
" Nggak, Bu, saya gak suka terikat dalam kesatuan, Buk, ingin berdikari sendiri dan menjadi wanita karir," jawab Ajeng.
" Pemikiran yang sangat bagus," ucap Bu Pandu.
" Kami malah, bingung dengan Darma akan kah Ia nantinya sampai ke jenjang S1nya atau pupus ditengah jalan."
ucap Sintya.
" Benar, kita semua tahu dengan keadaan perekonomian mereka,
takut nantinya orang tuanya tak mampu, membiayai , walau pun nantinya darma sambil kerja, paruh waktu apakah cukup, untuk biaya kuliah yang sangat mahal."
ucap Ajeng.
" Memang benar, maka dari itu, sebagai upaya membantunya Ibu menyuruhnya mengantar jemput Anak ibu, dan memberikan sejumlah uang, sebagai tambahan untuk sekolahnya, yang sebelumnya menolak, pemberian kami, karena memberinya secara cuma cuma,
juga Bu Nesty sebagai wali kelas Darma telah mengarahkannya untuk program beasiswa, oleh karena itu bu Nesty mengarahkan ke UNNES yang banyak menyediakan program biasiswa, dan telah, ada hasil, tapi belum turun berapa dana beasiswa tersebut. " ucap Bu Pandu.
" Oh, sukurlah kalo begitu, juga rencana kami , mengadakan kumpulan seminggu sekali itu , juga untuk mengetahui perkembangan Darma nantinya , kita bisa saling jumpa dan mengerahui kabar satu sama lain." ucap Ajeng.
" Yaudah , panggil darma untuk makan, hamya tinggal nggulek sambal aja."
ucap Bu Pandu serta memanggil Tika, untuk ikut makan.
Darmapun masuk setelah panggilan ferik, dan mereka segera bersama sama menikmati makanan itu dan saling menunjukan keakraban diantara mereka.
dalam sebuah persaudaraan.
" Buk, dirumah sebesar ini, ibu tinggal sama tika saja too, tanya Rani disela makannya.
" Iya, emang kenapa, kamu mau nemani ibuk," jawab Bu Pandu,
" Enggak, Bu, tanya saja." Ucap Rani,
" Aku tahu, pertanyaanmu menjurus kemana?,Rani. Suami Ibu, pergi, dengan wanita lain, jadi untuk kalian, berhatilah untuk mencari pasangan, jangan hanya melihat dari luarnya saja. Kalian yang masih muda dan inilah masa puberitas kalian , jadi dimasa ini , adalah masa yangvpaling rawan untuk kalian,
salah salah kalian malah terjerembak dalam pergaulan bebas.
Juga mungkin didunia perkuliahan nanti kalian dihadapkan dengan banyak pria, jadi berhati hati dalam mencari teman pria.
Ucap Bu Pandu.
" Oh, jadi, pria itu, rata rata suka selingkuh ya buk, dalam beberapa kasus, banyak perceraian akibat suami lebih memimilih wanita lain" ucap Rani.
" Iya, pada dasar nya semua laki laki itu sama buaya." ucap Sintya, dan membuat Darma tersedak dan batuk.
" Itu, buayanya, tersinggung." ucap Ajeng dan membuat tawa mereka semua.
" Susah jadi pria sendiri." ucap Darma dan langsung menjulurkan tangannya seakan menyetop Ferik yang mau menjawab, dan membuat mereka tambah tertawa.
" Oh, iya Darma, bagaimana persiapan kuliahmu, nanti, kamu jadi masuk UNNES
sesuai anjuran Bu Nesty kan." ucap Bu Pandu.
" Iya,bu, Siap." jawab Darma.
" Adakah kendala biaya mungkin," tanya Bu Pandu kembali.
" Ada sih, Buk namun saya, alhamdulilah dapat kerjaan Bu, sebagai penyusun Berita, kemaren tak sengaja bertemu beberapa Wartawan, setelah ngobrol mereka menawarkan pekerjaan itu, dan lumayan hasilnya buat tambah biaya kukiah, juga kerjaan itu, hanya menyusun saja, mudah, tak begitu menguras waktu dan pikiran jadi tak mempengaruhi kuliahku nanti." jawab Darma.
" Syukur, kalo begitu,
" Tapi, bu,." jawab Darma.
" Gak usah, tapi, tapi, ini bentuk kasih sayang teman temanmu, jika kamu menolak jadi kamu menolak sayang mereka terhadapmu." Ucap Bu Pandu.
" Benar, ini semua karena kita ingin bersama sama mewujudkan mimpi kita bersama," ucap Ajeng.
dan diteruskan ucapan dari mereka semua,
" iya darma terimalah," ucap Sintya.
" Terima kasih, ya, aku tak tau bagaimana membalas kebaikan kalian." ucap Darma.
" Ya sudah, ini, pergunakan dengan bijak, juga tambahan dari Bu Nesty juga dari Ibu, mohon diterima." ucap Bu Pandu.
" Jangan, buat Mabok lhoo yaa, sama begundal begundal tadi, kamu janjian sama mereka mau mabok too." ucap Sintya.
" Mabok bae mabok bae, maningnmaning mabok bae, " ucap Ferik centil dan membuat tawa mereka.
" Sudahlah, itu juga yang ibu khawatirkan untuk kalian semua, takut akan terpengaruh dengan pergaulan yang salah, karena di masa kalian ini lah masa masanya,, pencarian jati diri, kalian, apabila salah mengambil langkah, ya sudah akan susah." ucap Bu Pandu.
" Terima kasih Bu atas, nasehat ibu, yang akan kami ingat dalam hidup kami."
ucap Ajeng.
mereka pun bergegas memberesi piring mereka masing masing dan mencucinya,
" Coy, nitip piringku ya, ok, ucap Darma.
" Uhh dasar,, ngrokok lagi, pasti."
ucap Sintya.
Darma hanya tersenyum dan meninggalkan mereka.
Setelah beres mereka berkumpul kembali di ruang tamu yang , luas menyambung ruang keluarga , sambil ngobrol dan nonton tv juga, membantu Tika mengerjakan tugas,
" Buk, kan untuk beberapa bulan ini kita libur boleh tidak kami sering sering kesini." ucap Rana.
" Benar dari pada kita main , tak jelas, timpah Rani.
" Boleh, sekali, ibu akan senang sekali, bila kalian sering kesini."
ucap Bu pandu.
" Oh, iya, buk kalo kita mencoba meReseller dagangan Bu Nesty gimana? kan lumayan, jadi kita main disini, gak asal maen saja, jadi ada hal positif yang kita kerjakan, juga kita kan bisa jual secara Online juga Ofline, masarkannya." ucap Ajeng
" Wah, betul itu, aku setuju," ucap mereka semua,,
" Boleh juga, ide yang sangat brilian, temen Ibu juga, punya banyak produk yang mungkin dapat dipasarkan ,
seperti bedak lipstik , dan lainnya,
ada kok Ibu katalognya."
ucap Bu Pandu.
Ya, sudah mari kita susun, rencana,,
Merekapun, mulai menyusun sebuah pemasaran produk, melalui online dan offline, dan membuat toko di salah satu marketplace atau toko online.
Beberapa saat kemudian, setelah memposting beberapa produk, dari Gambar Katalog yang diberikan Bu Pandu.
Ajeng mulai mendapatkan, beberapa minat pembeli ,, dan banyak dari calon pembeli yang tanya tanya produk lain,
tak butuh waktu lama bagi Ajeng untuk menarik pembeli, yang mana Ajeng yang banyak pengikut Instagram dan Facebooknya, juga daya tarik dari kecantikannya, jadi ketika Ajeng mempost, bedak lipstik dan skin care, dll, membuat mereka langsung tertarik.
" Bahwasanya melihat kecantikan Ajeng lah yangbmembuat mereka tertarik, mereka mungkin beranggapan bila menggunakan produk tersebut nantinya akan cantik seperti Ajeng, yang mungkin Ajeng telah menggunakan produk tersebut.
" Bu ini, banyak yang pesan," ucap Ajeng.
__ADS_1
" Ah, yang bener, secepat itu." jeng ucap Sintya penasaran.
Kemudian Ajeng meletakkan ponselnya di atas meja, dan mereka sama sama melihat ,beberapa pesanan yang masuk ke No whatsapp Ajeng,
ting ting ting ting,
bunyi notifikasi, pada ponsel Ajeng , berbunyi berkali kali, tanda pesan masuk dari calon pembeli.
" Baiklah, aku coba ambil barang, dan kamu list produk produk apa yang dipesan juga kira kira diminati, nanti kirim list itu pada Ibu,." ucap Bu Pandu.
Kemudian dari ponsel Rana Rani juga Sintya juga mulai ada yang ngrespon,,
" Aku juga dapat pesanan Bu. ", ucap Rana Rani dan Sintya bergantian.
Karena Ferik yang notabene pria dia tak posting produk tersebut karena rata rata yang dijual produk wanita, ia hanya membantu mereka dalam market place,
" Baiklah, list saja, " ucap Bu Pandu dan mengabil tasnya, kemudian bergegas mengajak Darma ambil barang,
" Tika dirumah sama kakak ini ya, " ucap Bu Pandu kepada Tika.
Kemudian berjalan keluar menemui Darma.
Atas ajakan bu pandu yang terlihat buru buru, Darmapun segera mengikuti perintah Bu Pandu tanpa ada pertanyaan.
Bu Pandu meminta Darma untuk pergi ke rumah Bu Nesty mengambil mobil dan beberapa barang, kemudian lanjut ke rumah seseorang teman Bu Pandu,
untuk mengambil produk.
sesui pesanan juga sebagai sampel.
sampai di rumah Bu Nesty,
Bu Pandu menyuruh menaruh motornya dan berganti mobil, juga memasukan beberapa barang kedalam mobil.
" Itu, anak anak maen, isenglah, mosting mosting, dagangan Mbak, juga Produk dari Lita, kok banyak yang minat,."
ucap Bu Pandu pada Bu Nesty.
" Ya, wes, malah bagus, too, juga buat tambahan uang jajan mereka, sukur sukur berkembang jadi distributor sendiri."
ucap Bu Nesty
" Amin, biar ada kegiatan positif, selama liburan. oh iya, mobilnya tak bawa pulang saja mungkin nanti buat riwa riwi." ucap Bu Pandu dan pamit meneruskan tujuan mereka,
" Iya, wes sana,," jawab Bu Nesty.
Darma pun segera melajukan mobilnya menuju arah rumah teman Bu Pandu, sesuai arahan Bu Pandu.
" Buat apa to, Bu , kok banyak banget, yang dibawa," tanya Darma penasaran.
" Ini kerjaan barumu, anak anak ingin membuka online shop atau resller,
tadinya iseng, eh, malah , banyak yang minat, makanya Ibu buru buru , ambil barang pesanan ini." ucap Bu Pandu.
Tak kurang dari Tiga jam mereka mampu me list 426 pesanan,dan mengirimkan ke WA Bu Pandu.
Sampai di Toko Lita teman Bu Pandu,
Bu Pandu membuka daftar yang telah mereka, kirimkan, dan meminta Lita menyiapkannya produk pesanannya, juga beberapa plastik kemas, karena Toko Lita kelasnya Agen jadi toko ini menyediakan
stok lumayan banyak.
Darma pun segera mengangkat barang barang tersebut kedalam mobil dengan dibantu karyawan Toko Lita,
" Aku, nitip uang dulu aja, ya 30juta, kamu hitung aja, totalnya nanti kalo kurang, besok aku kesini lagi."
" Oh iya , harganya sesui katalog kemaren bukan.?" ucap Bu Pandu.
" Iya, kamu jual sesuai katalog saja sudah untuk 20 s/d 30 %, dan boleh kok kamu jual lebih, kita kan Bukan MLM." ucap Lita.
" Ok, siap,deh." ucap Bu Pandu dan mengajak pulang Darma.
" Ini, sudah hampir mau jam 5, mereka pada dicariin oleh orang tuanya, tidak yaa, " ucap Bu Pandu cemas dan mencoba menelpon Sintya.
" Iya, Bu, " ucap Sintya dibalik telpon.
" Ini sudah hampir jam 5 kalian dicariin orang tua kalian tidak.? " tanya Bu Pandu.
" Kami sudah pamit sih buk, kami barusan telpon ayah ibu kami," jawab Sintya.
" Baiklah, Ibu dan Darma bentar lagi nyampe, nanti kalian pulang dulu, saja." ucap Bu Pandu.
" Iya, Bu. " jawab Sintya dan menutup telponya.
sampai dirumah Bu Pandu, mereka bersama sama menurunkan barang barang itu, dan menyusunnya di ruang tamu,, dan sambil memilah milah, sesui pesanan.
Mereka, bingung antara pulang atau melanjutkannya, karena tanggung, juga ini orderan pertama mereka, jadi harus menunjukan pelayanan terbaik,
" Bu kami bingung," ucap Sintya.
Darma yang tahu, tentang apa yang mereka rasakan, ahirnya, berkata.
" Udah, kalian pulang dulu, nanti sehabis magrib aku susul , untuk kesini lagi." ucap Darma.
" Iya , sana mungkin orang tua kalian mencari." ucap Bu Pandu.
" Baik, Bu, " ucap mereka semua.
" Bu semisal , kita minep sini boleh Bu ini orderan pertama kita, jadi harus memaksimalkan dalam menyiapkannya, sampai ditangan pelanggan." ucap Ajeng,
"Baiklah, kalo memang itu mau kalian, tapi jangan dipaksakan kalo, tak dapat ijin dari orang tua kalian nanti." ucapBu Pandu.
" Baik, Bu kami pulang dulu,."
kata mereka semua dan bergegas pulang,
" Bu, saya pake mobilnya pulang ya, Bu. mau mandi dan ganti baju," ucap Darma.
" lya, bawalah, nanti langsung saja, susul mereka. " ucap Bu Pandu sambil memilah barang,membantu mereka, sementara mereka pulang.
Sampai dirumah, Darma memarkirkan mobil didepan rumahnya, karena rumah Darma di perkampungan jadi mobil yang terpakir memakan separuh jalan, juga jarang mobil lewat di kampungnya, jadi membuat orang orang disitu keheranan.
Saat darma, turun, disoraki tetangganya.
" hoalah, tak kiro sopo, "
" wes, koyo, wong gedong, saiki."
dll, sorakan dari tetangganya.
" Halah, gene kancane Pakde, gur kon ngumbane. " jawab Darma.
Darma pun masuk kerumahnya dan mengajak ibunya yang keluar sesaat melihat mobil parkir didepan rumah mereka.
" Iki, duit, 18,300,000, di tabung,
buat jaga jaga kuliahku, disek, nak arep nganggo sak perlune wae. " ucap Darma.
" Alhamdulilah le, rejeki, mu, pengen sekolah,." ucap Ibunya.
karena memang, hasil dari Ibu Darma yang hanya penjual Jamu dan Ayahnya sebagai pencuci mobil, mungkin tak cukup untuk biaya sekolah Darma.
Setelah mandi, dan berganti baju, Darma beranjak kedapur ambil makan.
sambil makan, Darma bercerita kepada Ibu dan Bapaknya yang sedang membuat jamu.
" Pak,buk, aku ketompo neng UNNES, jare bayare, yo lumayan larang, tapi aku yoo wes oleh, gawean, sesok nak kurang kurang tambahi yoo," ucap Darma.
" Iyo, iyo, too, lee, Ibuk karo Bapak kerjo nak ora golekno kowe golekno sopo,."
ucap Ibunya.
" Penting sekolah, seng temen ojo, mung mabok wae, Bapak lho, ket cilik nganti tuek , seng jenenge omben omben, gak tau, nduwe anak, mbejujak koyo kowe." ucap Bapaknya.
" Iyo,yo, Pak, ucap Darma dan memberikan uang 200 ribu pada Bapaknya,nggo tuku rokok, gen ora nesu nesu wae,." ucap Darma.
__ADS_1
Darma pun sholat dan memanjatkan rasa syukur atas nikmat dan risky yang telah ia dapatkan diharini.