
Sesampai dititik lokasi Darma segera mencari tempat yang pas.
Di titik titik lain yang sudah ditentukan Selvi, terlihat Anggota Tim Rajawali sudah mulai siap.
Terlihat Anggota Elang juga ikut bagian dari misi ini, yang mana mereka menyamar sebagai petugas PLN , memasang sebuah kamera pada tiang tiang listrik guna memudahkan Selvi mengatur susunan rencana.
Riyan bersiap dengan menyamar menjadi penjual sayur di ujung jalan rumah Dr. Ashari.
Jeny dan Rima terlihat di lantai atas sebuah Rumah warga sekitar komplek itu, bersiap dengan senjata snipernya.
Fino , Leny , Neni dan Rino bersiap di depan kediaman Dr. Ashari.
Darma bingung dengan keberadaan titik Ahmad yang tepat di titiknya berada.
Dari layar Ponselnya titik keberadaan Ahmad sama lokasinya sekarang, namun Darma tak melihat keberadaan Ahmad.
Saat ini, Darma duduk disebuah Pos Ronda di ujung perempatan.
" Cek lokasi, Ahmad." ucap Darma.
" Aku dibawahmu, kucai.! ucap Ahmad sedikit mengeluarkan moncong senjatanya tepat di tengah tengah kaki Darma yang duduk di Pos Ronda itu.
" Hoo, halah, apa kau baik baik saja disitu.?" tanya Darma.
" Aku, baik baik saja, beri aku sebatang rokok dan nyalakan lebih dulu." pinta Ahmad.
Kemudian Darma memberikan sebatang rokok, kepada Ahmad melalui celah lantai pos ronda itu.
Dr. Ashari setelah persidangan, penangkapan beberapa Anggoa Dewan yang terlibat skandal Kasus KKN, akan kembali kekediamannya.
Sesuai informasi yang diterima Selvi, ada beberapa pembunuh bayaran yang akan, melakukan percobaan pembunuhan terhadap Dr. Ashari yang dilakukan di titik lokasi Darma sekarang.
Sebab di lokasi itu yang merupakan sebuah perempatan mengarah jalan keluar masuk komplek. Jadi memungkinkan para pembunuh bayaran dalam beraksi, berjalan dari arah berlawanan rombongan Dr. Ashari, kemudian melepaskan tembakan kemudian mengebut berjalan kabur, karena jalanan itu sangat efektif dalam pengeksekusian juga mudah untuk kabur.
Rombongan Dr. Ashari yang memang dikawal beberapa anggota Kepolisian juga Ketentaraan, dijalan raya mobil yang dinaiki Dr. Ashari memungkinkan berjalan sangat cepat menghindari adanya pihak pihak mencelakai Beliau.
Jadi para pembunuh bayaran , sangat tepat memilih jalan ini, sebab perempatan ini memungkinkan Mobil Dr. Ashari berjalan pelan saat berbelok diperempatan jalan ini menuju Rumah Beliau.
Hampir satu jam bersiaga, Tim Pansus, belum menemukan hal hal mencurigakan.
Selang beberapa saat, 3 motor melintas di depan Darma, dan satu motor berhenti tepat di depan Darma. Dua motor lainya berhenti agak jauh disana, namun tetap pada jalur yang sama.
Selvi menginformasikan bahwa , dari pantauan kamera CCTV, Selvi mampu mengidentifikasi keenam pengendara motor itu. Yang tak lain mereka berenam adalah pembunuh bayaran.
Darma berpura pura main game dihapenya, tatkala mengerti dua pembunuh bayaran berada di pinggir jalan tak jauh dari tempatnya berada.
Menurut identifikasi Selvi dua orang ini Johan dan Yacub, pembunuh bayaran handal, dan menjadi salah satu DPO.
Salah satu kawanan itu menghampiri Darma, Yacub sang driver.
" Dek, pinjam korek." kata Yacub mengorek informasi dari Darma.
"Ini, Bang." jawab Darma memandang Yacub kemudian menyerahkan koreknya.
Namun Darma kembali memainkan Gamenya.
" Ngapain, kamu disini, dek?" tanya Yacub.
" Nunggu teman, Bang, mangkir sekolah." ucap Darma dan tetap fokus pada Hapenya.
" Sekolah, yang serius jangan keseringan mangkir." ucap Yacub menasehati.
" Iya, Bang." ucap Darma menghentikan main gamenya.
" Jualan Obat, belum ada yang laku, dek." ucap Yacub , yang memang mengunakan kemeja hijau bertuliskan *** PIN obat herbal alami.
Mereka sengaja menyamar sebagai sales penjual obat herbal.
" Yowalah, Bang. beginilah jaman sekarang apa apa serba mahal, cari uangpun susah." ucap Darma mengskrapi.
" Itu kenapa dek.? ada beberapa Polisi di depan salah satu Rumah.?" tanya Yacub.
" Gak tahu, Bang, aku gak memperhatikan malah." jawab Darma.
" Ya sudah, lanjutin ngegamenya, Abang mau jalan , tapi nunggu kawan yang sedang memutar komplek." ucap Yacub berjalan menghampiri Johan yang duduk di pinggir jalan sambil memegangi tasnya.
Mungkin ditas itulah, Johan mentimpan senjata apinya.
Selang beberapa saat, suara sirine berbunyi, suara dari mobil Polisi yang mengawal Mobil Dr. Ashari.
Darma mengintruksikan kepada Ahmad, Leny dan Rima. Bahwasanya Eksekutor adalah pengendara motor ketiga paling ujung disana. Dan pengendara pertama dan kedua adalah pengalih keadaan.
Berbeda dengan informasi Selvi yang mengatakan mereka berenam akan menembak bergantian apabila salah satu eksekutor gagal menembak Dr. Ashari.
Darma menjelaskan kembali, bahwa pengendra pertama, memiliki sebuah senjata mesin ringan IMI UZI MP2, akan menembak beruntun motor Polisi Pengawal kemudian saat terjatuh tak mungkin Polisi pengawal akan segera balik menyerang, disitulah tugas pengendara kedua menembak atau melumpuhkan Polisi yang mengejar Pengendara pertama, yang memilik senjata yang sama, kemudian Pengendara ketiga segera menembak Dr. Ashari yang lolos dari pengawalan.
" Jadi sekarang apa rencanamu." tanya Selvi.
" Lumpuhkan segera, saja. Jadi Jeny dan Rima segera lumpuhkan pengendara pertama jadi saat melihat pengendara pertama jatuh pengendara 2 dan 3 akan menghampirinya, kemudian aku akan berlari kearah mereka dan melakukan serangan kepada pengendara ke 3, Ahmad lumpuhkan pengendara ke 2. Setelah itu , harap semua anggota lainnya segera merapat ketersangka, untuk mengamankan mereka. Aku akan segera kabur.
" Baiklah, semua ikuti, intruksi Darma." ucap Selvi menyerahkan komando kepada Darma.
__ADS_1
" Hilangkan peredam suara tembakan kalian." ucap Darma.
Setelah Rombongan pengawalan Mobil Dr. Ashari akan masuk pintu gerbang komplek.
" Tembak." ucap Darma mengkomando.
Dor, Dor, Dor, Dor
Sura tembakan mengenai tangan dan kaki, kedua pengendara motor pertama, hingga membuat mereka berdua jatuh terkapar di bahu jalan.
Kemudian Darma berlari kearah pengendara motor 2 dan 3, " Menyingkir Bang ada suara tembakan Polisi." ucap Darma berlari.
Namun pengendara 2 dan 3 malah tancap gas, dan mengeluarkan senjatanya siap menyerang,
Ahmad yang sebelumnya, merubah posisinya kemudian meluncurkan tembakan mengarah pengendara motor ke2 , Dor Dor , kedua pengendara motor keduapun terjatuh, melihat keempat temannya tergeletak dijalan tertembak. Pengendara ke3 mencoba berbalik arah untuk kabur, namun Darma segera mengeluarkan senjatanya sebuah Pistol, lalu menembak pengendara motor ke 3 yang akan membelokan motornya , Dor , Dor , Dor. Tiga tembakan Darma tepat mengenai tangan dan kaki eksekutor, juga kaki pengemudinya. Mereka semua pun tergeletak di jalan.
Setelah menembak, Darma mengomandoi untuk segera menyergap.
Fino, Riko, Leny , dan Neny juga Ahmad segera berlari kearah tersangka yang sudah terkapar. Karena memang menggunakan seragam lengkap jadi tak membuat curiga adanya Tim Pansus disitu.
Melihat hal itu, rombongan Petugas Pengawalan Dr. Ashari, bersiaga dan membentuk sebuah formasi, menjaga Dr. Ashari.
Dr. Ashari berhasil selamat sampai di dalam rumahnya.
Beberapa Petugas Polisi segera membantu meringkus keenam kawanan itu. Mereka mengamankan empat senjata mesin ringan IMI IZU MP2, yang biasa digunakan oleh anggota Kopasus.
Darma berjalan memutar dan duduk disamping Riyan yang menyamar sebagai tukang sayur.
Anggota Kepolisian dari Polsek datang dan langsung membawa keenam tersangka dibawa ke RS Kepolisian untuk menjalani perawatan karena terkena timah panas.
Beberapa Anggota Polisi dan Tentara menetralisir keadaan sekitar dan mengusir orang orang luar yang berada di sekitar komplek.
Darma dan Riyan, nampak akan diperiksa oleh Petugas yang melihat duduk di sisi perempatan jalan dari tengah tengah komplek.
" Hey, kalian pergilah dari sini." ucap Bapak Tentara mengusir mereka.
" Iya, Pak." jawab mereka berdua kemudian berjalan keluar komplek.
Ketika mereka berdua , baru berjalan beberapa langkah, Beberapa Tentara yang mengusir mereka nampak mencurigai mereka.
" Bukankah kamu Riyan." tanya salah seorang Tentara mengenali.
" Bukan, mungkin Bapak salah orang." ucap Riyan sambil menujukan sebuah isyarat kepada Tentara itu.
Darma dan Riyan segera keluar komplek.
Tiba didepan komplek nampak ramai akan beberapa warga yang ingin menyaksikan kejadian di dalam komplek perumahan elit itu.
Aldi dan Angga membukakan pintu Gerbang untuk mereka para penjual sayur dan orang orang yang berada dikomplek setelah diperiksa.
" Itu, motormu sudah dipindahkan oleh Ahmad saat menetralisir TKP, di sono no, segeralah sebelum orang orang menyadarimu." ucap Aldi berbisik.
" Bagus, Misi selesai." ucap Selvi.
Kemudian Darma segera, mengendarai motornya segera pulang.
Namun Selvi meminta Darma untuk datang ketempatnya.
Darmapun membelokan arah laju motornya, berjalan menuju ketempat Selvi.
Sampai di basecamp Selvi, Darma segera naik ke lantai dua, melewati kerumunan karyawan dan pembeli sepatu. Karena memang basecamp Selvi, jadi satu dengan toko sepatu, untuk mengelabuhi orang orang.
Darma segera mengambil minuman dingin dari kulkas lalu meminumnya.
" Untung saja, kamu mengetahui, tentang senjata yang dibawa tersangka, kalo tidak mungkin akan banyak jatuh korban." ucap Selvi.
" Iya, namun yang jadi, masalah mengapa tersangka memiliki , senjata itu, sebab senjata itu hanya dimiliki Denjaka dan Kopasus." ucap Alvia kebingunan.
" Ya, itu tugas kalian berdua, cari tahu." ucap Darma sambil membuka seragamnya berganti pakaian biasanya.
" Maka dari itu, aku menyuruhmu kesini, sebab Bapak Panglima TNI Pak Tri Admaja, meliburkan kita sementara dan digantikan Tim Tiger asuhan Bapak Pradopo, dan kita memajukan jadwal latihan." ucap Selvi.
" Ya, sudah, kumpulkan semua anggota, adakan rapat, nanti malam, aku akan terangkan sesuatu." ucap Darma kemudian pamit.
" Lhoh mau kemana kamu, kita belum selesai." ucap Alvia menahan Darma.
" Sudah, aku akan membawa sebuah bukti keterkaitan beberapa pihak, karena kasus ini sangat pelik." ucap Darma kemudian meninggalkan mereka.
Darmapun segera, menuju sebuah lokasi pemakaman umum. Tapi saat Darma clingukan mengawasi sebuah gedung bekas rumah sakit disamping TPU, Jelita dan Rafli menghampiri Darma, saat mereka berdua melintas dijalan itu, dan melihat Darma yang berdiri kebingungan.
" Ngapain kamu, disini." tanya Jelita
" Oh, kalian, ini kak, janjian sama teman." jawab Darma.
" Janjian, kok di kuburan, janjian sama setan." ucap Jelita tertawa.
" Kita ,sudah lama tak ngobrol, kita juga kuawalahan menyusun berita, Ayo nongkrong dulu." ucap Rafli mengajak.
" Bagaimana ya kak, tapi.." ucap Darma.
Kemudian " Dor " , sebuah peluru tembakan mengenai lengan Darma.
__ADS_1
Darma segera ingin mengeluarkan senjatanya kemudian berniat mengejar penembak itu yang segera ngebut menggunakan sebuah motor.
Jelita dan Rafli nampak kaget, kemudian menolong Darma dan melontarkan beberapa pertanyaan.
Sambil memegangi tanganya, Darma segera menghubungi Selvi.
Namun sebelumnya meminta Jelita dan Rafli untuk tenang.
" Mohon, tenang sejenak, nanti aku akan jelaskan." pinta Darma.
Jelita dan Raflipun terdiam, nampak menunjukan raut muka kebingungan dan terkejut, mengapa Darma mengalami hal demikian.
" Kak, tolong, cek CCTV, di beberapa lampu lalulintas dari arah Jalan wiliambut sampai Jalan Kalisari." ucap Darma sambil menahan sakit karena tembakan.
Sambil menghubungi Selvi, Darma meminta Jelita untuk memboncengkan dirinya dan Rafli dimintanya untuk membawa motornya.
" Kak, tolong bawa aku, kerumahmu." ucap Darma meminta.
Jelita tanpa balik bertanya segera melajukan motornya menuju rumahnya.
Dalam perjalanan menuju rumah Jelita, Darma tetap terhubung dengan Selvi.
" Sudah.!" jawab Selvi.
" Tolong perhatikan dua pengendara motor Scorpio warna biru, berjaket merah dan hitam, kalo bisa identifikasi identitasnya." ucap Darma mengintruksikan.
" Dapat , Darma dia Komandan Nurmantyo bersama Enggar, Komandan Batalion V. ada apa dengannya Darma?." ucap Selvi bertanya penasaran.
" Screen shot mukanya Kak, aku telah ditembaknya, aku sekarang baik baik saja di tolong oleh temanku yang tak sengaja melintas." ucap Darma.
" Benarkah, Darma , segera kirim lokasimu, aku segera kesana biar ku obati lukamu." ucap Selvi.
Kemudian Darma, segera menshare lokasinya kepada Selvi dengan menghidupkan GPS pada smartwachtnya. Otomatis Selvi dapat mengetahui lokasinya saat ini.
Selvi dan Alvia segera menyiapkan barangnya kemudian bergegas mengendarai motornya, menuju titik lokasi Darma berada.
Darma yang saat itu, hanya menggunakan kaos lengan panjang, jadi memungkinkan darah yang keluar dari lengannya diketahui pengendara disebelahnya. Dengan sigap Rafli memakaikan jaket yang ia kenakan, saat berhenti disebuah pemberentian lampu lalulintas.
Hampir 30 menit perjalanan, mereka sampai dirumah Jelita.
Sontak Bapak Ibu dan Adik Jelita, kaget dan panik melihat Jelita membawa seseorang yang terluka kerumahnya.
" Tenang , Pa, Ma, Darma orang baik, ia adalah Polisi." ucap Jelita beralasan supaya tak membuat mereka tambah panik.
" Maaf, Om dan Tante, percayalah, tak akan terjadi apa apa, komandan saya segera tiba." ucap Darma menekankan.
" Baiklah, semoga akan baik baik saja." ucap Mama jelita dan mempersilahkan masuk.
Kemudian Jelita membawa ke teras belakang, sebab Darma menolak dibawa ke kamar tamu.
Dikursi teras belakang Darma segera menurunkan tasnya, kemudian melepas jaket serta kaosnya dibantu Jelita dan Rafli.
Saat Darma membuka kaosnya terlihat rompi ditubuhnya yang berisi Pustol dan beberapa belati. Hingga mengagetkan mereka semua. Kemudian Darma melepaskan Rompinya kemudian meletakkan di atas tasnya. Darma yang tak memakai baju memperlihatkan luka tembak dilengan kirinya, yang terus meneteskan darah segar.
Jelita segera mengelap luka Darma, dan Rafli dan Papa jelita mengepel lantai yang terkena ceceran darah Darma.
Mama dan Adik Jelita menyiapkan Air hangat dan mengambil kotak P3K, juga membawakan sebotol air minum dingin.
" Minum Kak, supaya sedikit tenang." ucap Adik Jelita membuka tutup botol Air mineral kemudian mentodorkan kepada Darma.
Darma segera menerimanya " Terima kasih dek, " ucap Darma lalu meminumnya.
Sepuluh menit berlalu, suara khas knalpot motor Ninja 250 milik Selvi terdengar. Alvia dan Selvi tiba , kemudian di sambut Rafli yang sedang mengepel lantai, terkena bercak darah Darma.
" Darma, ada dibelakang, mari aku tunjukan." ucap Rafli.
Alvia dan Selvi segera menuju tempat Darma berada, untuk segera melakukan operasi ringan terhadap Darma guna mengeluarkan timah panas di lengannya.
" Mohon maaf, boleh, tinggalkan kami sebentar." ucap Alvia kepada mereka.
Setelah mereka meninggalkan teras itu, Alvia bergegas membuka kotak peralatanya. Lalu mengoperasi Darma mengeluarkan timah panas itu.
Darma nampak memircingkan matanya tanda kesakitan.
Hanya butuh 10 menit, Selvi dan Alvia mengeluarkan peluru yang bersarang dilengan Darma, lalu memberikan obat luar ,guna mempercepat penyembuh luka lalu memerban luka Darma.
" Apa yang telah, terjadi? mengapa Nurmantyo menembakmu, apa dia terkait dengan beberapa Anggota Dewan yang tersandung Kasus KKN.? " ucap Selvi bertanya.
" Bisa jadi, iya.! Namun nanti saja kita kumpulkan anggota melakukan rapat intern, aku ada rencana lanjutan." ucap Darma.
" Dengan keterkaitan Nurmantyo, juga pasti akan mempengaruhi, basecamp kita." ucap Alvia.
" Tepat, aku mempunyai tempat yang sangat strategis. Tapi mengenai Misi kita menyerang Jaringan ******* bagaimana, soalnya aku yakin tim Tiger akan gagal sebab ada duri dalam daging diantara kita." ucap Darma.
" Apa sebaiknya kita melaporkan kejadian ini kepada Bapak Tri Admaja, juga tentang beberapa anggota yang menjadi musuh dalam selimut." ucap Selvi dengan sebuah pemikiran.
" Iya, sebab Misi kali ini begitu pelik, karena benar kata Bung Karno ( Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan sulit karena melawan bangsa sendiri.)" ucap Darma.
" Terus, bagaimana menjelaskan dengan keluarga temanmu ini.? " tanya Alvia hawatir akan membuat keberadaan tim pansus di endus oleh beberapa pihak.
Darma menemui Jelita, dan menceritakan kegelisahannya , tentang dirinya yang seorang Tentara Pasukan Kusus. Jelitapun mengatakan dengan yakin bahwa dirinya dan keluarganya akan menutup rapat rapat apa yang mereka ketahui, tentang Darma.
__ADS_1
Setelah menerima penjelasan Jelita, yang bisa diajak bekerja sama. Darma , Selvi dan Alvia berpamitan.
Darma mengajak Selvi dan Alvia menuju rumahnya.