
" Sudah, aku akan menjelaskan suatu rahasia,untuk kalian. Tapi aku harap kalian rahasiakan ini, takut akan mempengaruhi keadaanku." ucap Darma.
" Apakah, ada kaitan dengan kepergianmu kali ini, dan Pak Indra?." tanya Ajeng penasaran."
" Ok. ceritakan, kita bisa jaga rahasiamu." ucap Sintya.
" Baiklah, sebenarnya Kami, aku, Aldi dan Angga masuk dalam, anggota Denjaka, tentara pasukan kusus, dan Pak Indra adalah Komandan Batalion dibawah Panglima TNI, yang bertugas untuk merekrut Pasukan muda seperti kami.
Denjaka adalah pasukan tentara, operasi antiteror dan antisabotase, Denjaka dapat pula dilibatkan dalam operasi rahasia “jenis lain” berdasarkan perintah langsung Panglima TNI.
Meski begitu, keberadaan satuan ini terkesan dirahasiakan. Bahkan penugasannya pun acap kali tak diakui ataupun tercatat resmi oleh Markas Besar TNI.
Oleh sebab itu, sebagai langkah awal, aku diminta untuk menjalani latihan secara kusus selama tiga bulan. Dan rencana ku untuk pergi kuliah ke Australia adalah hanya alibi saja. Yang mana aku akan merubah identitas asliku, dan yang berangkat ke Australia adalah ( Jaka ) prajurit lainnya yang menggunkan identitasku. Jadi semacam tukar identitas diantara kami." ucap Darma bercerita.
" Terus, kamu kok bisa, masuk di anggota Tentara kusus Denjaka dan mulai kapan? dan bagaimana kamu membagi latihan dan sekolahmu?" tanya Sintya heran.
" Kami di tunjuk Pak Indra, saat awal kami bertiga tergabung dalam ekstra kulikuler Taekwondo, dan tepatnya saat pertengahan kelas XI. Kami dipanggil secara rahasia oleh Pak Indra. Kemudian setelahnya kami setiap pulang sekolah dan hari minggu diminta ikut latihan taekwondo, namun kenyataanya itu adalah latihan tentara kusus.
Kami pernah ijin sebulan guna menjalani latihan untuk lomba kejuaraan nasional Taekwondo, selama satu bulan itu kami menjalani sebuah latihan di gunung, berupa latihan fisik dan juga tembak menembak, dan latihan lainnya.
Juga kami selama ini, sering ke angkringan karena sebuah misi, untuk mengawasi gembong *******, yang melakukan perekrutan jaringan ******* kepada anak anak muda seusia kami.
Dan kepergianku kali inilah, adalah salah satu misi guna menangkap jaringan ******* tersebut. Mungkin bisa sampai satu sampai dua tahun lamanya, karena aku harus menyamar dan menyusup dalam jaringan itu. Sebab Jaka adalah prajurit yang sudah menjadi target rekrutan para jaringan ******* itu. Maka aku yang menggantikannya dalam misi itu, karena Jaka belum siap segala hal. Juga Jaka di Australia ada sebuah latihan menjadi seorang hacker.
Oleh karena itu, dengan tuntutan Misi kami sebagai Anggota Tentara Pasukan Kusus Denjaka maka kami harus sering merubah identitas dan menyembunyikan identitas asli kami. Jadi tak menimbulkan ancaman dari pihak pihak terkait, untuk kami dan keluarga kami nantinya." ucap Darma bercerita.
" Oh, sangat berat, dan berbahaya sekali tugasmu kali ini, aku malah tambah hawatir takut akan ada sesuatu yang menimpamu." ucap Ajeng menghawatirkan Darma.
" Benar, mengapa kamu memilih jalan untuk menjadi Tentara, mengapa kamu tak menjalani hidup sebagai orang biasa. Karena tugasmu sebagai Tentara mungkin akan membahayakan dirimu." ucap Sintya juga hawatir.
" Benar, tugas sebagai tentara memang sangatlah berat, namun semua itu tak aku hiraukan karena cita citaku dari kecil yang ingin menjadi seorang Tentara.
Dan anehnya, dulu Pak Indra merekrut kami bertiga karena membaca sebuah Biodata yang kita kumpulkan saat awal masuk SMA atau MOS." ucap Darma.
" Baiklah, kalo memang semua itu adalah cita citamu, kita berdua hanya bisa mendukung dan berdoa untuk keselamatan juga kesuksesan dirimu dalam menjalankan Misimu." ucap Sintya.
" Iya, aku akan senantiasa menunggu kepulanganmu, untuk menggapai sebuah impian kita bersama yang pernah kamu janjikan padaku." ucap Ajeng sedikit bersedih akan kehawatirannya kepada Darma.
__ADS_1
Saat Darma mau menjawab untuk menjawab perkataan Ajeng, tiba tiba Sintya memotong.
" Impian apakah itu, hayoooo, ada yang disembunyikan padaku." ucap Sintya menghardik.
" Rahasia, kita berdualah, kamu tak perlu tahu, tunggu saja tanggal mainnya." ucap Darma membuat penasaran Sintya.
Sintya pun nampak kesal dan nerocos mencoba memaksa Ajeng dan Darma untuk menceritakan impian yang telah mereka rencanakan.
" Apain sih, besok biar Ajeng menceritakannya untukmu." ucap Darma saat Sintya mencubiti tangannya karena Sintya penasaran.
Ajeng yang terlihat murung dan tak menghiraukan Sintya yang merengek untuk menceritakan kisahnya dengan Darma.
" Darma, aku akan menunggumu dan selalu menantimu,sampai tiba saatnya nanti kamu kembali." ucap Ajeng tertunduk dan meneteskan air mata.
Darma melihat keadaan Ajeng seketika, menarik dalam pelukannya,
" Aku akan kembali, secepatnya." ucap Darma berjanji.
" Awas saja bila kamu, tak cepat kembali, akan kuhabisi kau." ucap Sintya mengancam.
" Iya, mumpung ada waktu satu minggu kedepan, ayo besok kita jalan jalan." ucap Darma.
" Iya, kalo sekarang emang kenapa." ucap Ajeng menimpai.
" Hari ini, aku ada janji, sama Pak Indra untuk menentukan sebuah rencana." ucap Darma.
" Baiklah, segeralah kembali, kami akan mengambil plastik kemasan dan label yang kemaren kamu pesan, mencoba dengan desain kemasanmu dahulu." ucap Ajeng.
" Iya, sayang kalo tidak dipakai sudah terlanjur kamu pesan, dan desain yang baru kita rancang bisa untuk kedepannya bila sudah mulai ramai." ucap Sintya.
" Ya , sudah, tolong temani Ibu dan Bapakku, selama kepergianku, dan terima kasih atas dukungan serta kerelaan kalian membantu menjual Ibuku." ucap Darma.
" Sudahlah, ini adalah bisnis jadi saling bantu guna mencari keuntungan bersama." ucap Ajeng.
" Iyalah, untuk mencari muka sama calon mertua." ucap Sintya mencandai dan tertawa.
Ajeng pun seketika mencubit Sintya atas ucapanya.
__ADS_1
Darmapun segera berangakat karena Aldi dan Angga sudah tiba menjemputnya. Ajeng dan Sintya juga berangkat mengambil plastik kemasan jamu yang telah Darma pesan.
Darma , Aldi dan Angga diminta Pak Indra datang ke kantor Polsek, yang kemaren mereka ditahan kesana. Tak pikir panjang mereka segera berangkat kesana. Dengan kebiasaan mereka selalu kemana-mana Boti ( bonceng tiga ), mengunakan motor Aldi. Karena mereka mengetahui jalan jalan tikus dan memungkinkan mereka tak lewat di jalan raya agar tak kena tilang polisi.
Setiba di kantor Polsek , Mereka sudah ditunggu oleh Pak Indra. Disana mereka langsung melapor kepada Bapak Polisi yang berjaga, karena memang mereka diwajibkan untuk wajib lapor. Atas tindakan mereka menghajar Ipda Krisna , Bagus dan Hendro waktu lalu.
Pak Indra mengajak mereka bertiga masuk keruangan Bapak Kapolsek. Pak Indra disambut dengan hangat, bahwasanya Bapak Kapolsek mengetahui tentang Pak Indra sebagai seniornya. Kemudian Pak Indra menjelaskan tentang Aldi, Angga dan Darma adalah anggotanya, juga meminta untuk menagguhkan hukuman mereka bertiga untuk wajib lapor, karena akan mengganngu kinerja mereka bertiga.
" Maaf Ndan, kami tidak tahu menahu, dan segera saya urus masalah ini." ucap Bapak Kapolsek.
" Sudah, jangan terlalu formal, takut dilihat bawahan kalian, bila anda panggil saya begitu." ucap Pak Indra.
" Baiklah, ndan.! Pantas saja tiga anggota saya, tak mampu menahan pukulan dari mereka yang hanya anak SMA, yang membuat kami tambah bingung lagi saat mereka bertiga menghajar sepuluh tahanan yang notabene tahanan kasus pembunuh bayaran." ucap Bapak Kapolsek heran.
" Maaf, atas tingkah ketiga anggota saya, karena itu, kami juga akan memberikan sanksi pada mereka bertiga, karena kejadian ini mungkin akan mempengaruhi keberadaan pasukan Denjaka." ucap Pak Indra.
" Mungkin kalo Bapak Kapolres, kemaren tak segera, memerintahkan untuk melepaskan mereka bertiga, mungkin akan payah, karena tindakan mereka bertiga yang mungkin akan dijerat pasal KUHP, toh memang semua akibat anggota saya juga yang salah." ucap Bapak Kapolsek.
" Benar, sesaat saya mendengar kabar kejadian mereka, saya segera meminta bantuan Pak Widjanarko Kapolsek, untuk membantu menangguhkan mereka." ucap Pak Indra.
" Oh, awalnya kami anggota yang bertugas disini, juga agak sedikit binggung atas amanat Pak Widjanarko, yang menurut kami agak janggal. Tapi karena perintah Atasan kami bisa apa.!" ucap Bapak Kapolsek.
" Baiklah, mohon untuk rahasiakan ini, takut akan membuat munculnya masalah baru hingga menyulitkan kami untuk bertugas." ucap Pak Indra.
" Tenang, Ndan .! saya akan mengurus semua ini, demi tercapainya keamana dan ketentraman di Negara kita tercinta ini." ucap Bapak Kapolsek.
" Terimakasih, atas kerjasamanya, karena kami takut akan terjadi masalah baru, yaitu Anda mungkin sudah tahu bahwasanya, kesatuan kita sedang mengalami sedikit kontak,( tragedi kapolsek ciracas ) jadi kami tidak mau masalah ini membuat perseteruan dikesatuan kita tambah panjang, akibat kesalah pahaman." ucap Pak Indra.
" Sudah Ndan, saya pribadi berjanji, tak akan memperkeruh suasana ini, karena sejatinya diantara kita semestinya saling
( mikul duwor lan mendem jero ) pepatah jawa." ucap Bapak Kapolsek.
Mereka berdua antara Pak Indra dan Pak Jatmiko Kapolsek , berjabat tangan militer dan saling dukung satu sama lain. Kemudian Pak Indra pamit undur diri.
Pak Jatmikopun mengantar mereka sampai di depan halaman Kantor Polsek, dan menyaksikan kepergian mereka.
Pak Indra yang mengendarai sebuah motor meminta Darma mengendarai motornya dan mengarahkan kesebuah tempat, dan diikuti Aldi dan Angga.
__ADS_1
Tiba disebuah Hotel bintang lima, Pak Indra menuju sebuah ruangan dan disusul Aldi , Angga dan Darma. Tiba disalah satu ruangan itu mereka disambut oleh beberapa orang disana dan juga Bapak Jendral TNI atau Komandan tertinggi Pasukan Denjaka, Bapak Jatmiko.