TAMTAMA 2019

TAMTAMA 2019
Jamu Nyonya Mirna


__ADS_3

Kedatangan mereka, membuat Darma merasa tak nyaman, ia beranggapan bahwa mereka akan menahan dirinya untuk berangkat ke Australia. Namun kedatangan mereka malah sebaliknya, mereka bersama sama memberikan dukungan penuh, bertolak dengan upaya mereka sebelumnya yang memang mereka menyatakan ketidak setujuan atas rencana Darma. Merekapun juga memberikan sebuah kado perpisahan sebagai kenang kenangan untuk Darma. Juga mereka akan mendampingi keberangkatan Darma lusa nanti.


Ajeng tiba terlambat, kemudian ia pun segera bergabung dan duduk disamping Darma lalu ikut makan, atas hidangan yang telah disiapkan oleh Ibu Darma dibantu teman temanya.


Setelah selesai makan, Bu Pandu mengawali memberikan Darma sebuah kenang kenangan dan diikuti oleh sahabatnya.


Darma menerima banyak hadiah, saat itu sebagai kenang kenangan. Mereka ada yang memberikan Jaket, kaos, kemeja ,Jaz , jam tangan dan juga masih banyak lainnya.


Suasana senang dan bahagia nampak dirasakan oleh Darma atas pemberian kado dari Bu Pandu dan para sahabatnya. Menandakan mereka semua mendukung atas, pilihan Darma. Merekapun nampak bercanda ria dan melontarkannasehat nasehat untuk Darma, selama menjalani kuliah di Australia.


Sampai tiba ahirnya mereka pamit pulang, karena waktu yang sudah beranjak malam.


" Kami pulang dulu, besok minggu kami akan mengantarmu sampai bandara." ucap Bu Pandu dan ditimpahi oleh sahabat sahabatnya, berpamitan.


Aldi dan Angga tetap tingga di rumah Darma, karena memang niatan mereka yang ingin mengajak Darma untuk mabuk, Darma tak pikir panjang, segera meladeni mereka, itung itung sebagai kenang kenangan sebelum ia akan pergi.


Ibu dan Ayah Darma, membiarkan mereka. Hingga ahirnya mereka, yang menghabiskan beberapa minuman, merekapun mabuk berat dan ahirnya tertidur diruang tamu sampai pagi hari. Pagi hari sekitar jam 5 pagi mereka bangun dan berniat melakukan joging, yang mana telah hampir dua bulan ini, tak sempat mereka lakukan.


Mereka Lari pagi start dari rumah Darma kemudian berlari sampai di sebuah lapangan Tri lomba juang dilapangan ini tersedia alat alat fitnes ringan. Darma, Aldi dan Angga yang gemar berolah raga nampak mereka sedang melakukan olah raga ringan, dengan mengunakan sebuah barbel guna membentuk otot mereka.


Tak hayal tubuh mereka bertiga, sangat atlatis. Tapi tubuh Aldi dan Angga tak seatletis Darma karena Darma setiap pagi menyemparkan diri untuk menggunakan Barbel dirumahnya, untuk membentuk atletis tubuhnya.


Di lapangan Mugas atau tri lomba juang dihari biasa tak banyak pengunjung. Beda di hari Minggu dan hari libur pasti banyak pengunjung yang datang kesini.


Setelah mereka capek dan hari mulai siang, mereka berjalan pulang.


" Ayo, pulang!! kita godain (Babu Pondok ) pembantu perumahan." ucap Aldi.


" Iya, pas jam segini pasti mereka , sedang menyapu halaman." ucap Angga.


" Halah, seleramu,, pembantu." ucap Darma sambil menyeburkan sisa air minumnya, kemudian berlari meninggalkam Aldi dan Angga.


Aldi dan Angga yang tak terima perlakuan Darma, mengumpat " anjing " dan berlari mengejar Darma.


Karena Darma memang berlari sangat cepat, hingga membuat Aldi dan Angga tertinggal jauh dibelakang. Darma duduk di sebuah bangku dipinggir trotoar jalanan perumahan, sambil menunggu Aldi dan Angga yang tertinggal jauh dibelakang.


Darma duduk sambil merokok, dan mengawasi dua orang pembantu yang sedang menyapu didepan halaman Rumah majikan mereka. Dua Pembantu tersebut nampak menyapu sambil bercengkrama. Beberapa menit kemudian Aldi dan Angga nampak menghampiri Darma sambil terkopoh kopoh nafasnya karena kecapekan berlari, dan duduk disamping Darma.


" Ah, lemah..! segitu saja sudah ngos ngosan." ucap Darma mengatai mereka berdua.


" Asem, kurang latihan Fisik." ucap Aldi.


" Dari tadi kamu, mengintai dua pembokat itu, too." ucap Angga.


" Yes, aku punya tantangan buat kalian, bila kalian berdua bisa mendapatkan no wa dua pembokat itu, aku kasih masing masing kalian seratus ribu." ucap Darma sambil mengibaskan dua lembar seratus ribuan.


" Ok. tantangan diterima." ucap Aldi dan Angga bersamaan.


Kemudian Aldi dan Angga berjalan menghampiri dua pembantu itu, yang sedang sibuk menyapu halaman.

__ADS_1


Darma sambil menikmati rokoknya, menyaksikan kedua sohibnya, sedang mendekati dua pembantu tersebut.


Aldi dan Angga nampak sedang mengajak bicara kedua pembantu itu, dan ahirnya mereka berhasil, mendapatkan nomor Wa dua pembantu itu. Kemudian Aldi dan Angga kembali berjalan menghampiri Darma dengan senyum sumringah.


" Mana , uangnya kami sudah mendapatkan no Wa dua pembantu itu." ucap Aldi lalu menyodorkan Hpnya yang muncul no kontak dan foto dua pembatu itu.


" Sialan, ku kira kalian tak akan berhasil." ucap Darma dan menyerahkan uang Dua ratus ribunya kepada mereka.


Setelah mereka berdua mendapatkan uang 200 ribu dari Darma, mereka berdua langsung berlari menuju dua pembantu itu, dan menyodorkan uang seratus ribu kepada pembantu itu.


" Terimakasih , atas kerjasamanya." ucap Angga setelah memberikan uang seratus itu kepada dua pembantu itu.


Darma nampak, kesal dirinya nampak telah ditipu oleh Aldi dan Angga.


" Wah, itu namanya licik, dan tidak fear." ucap Darma kesal.


" Iya, tidak itu adalah trik broo." ucap Aldi.


" Iya, broo, trik itu perlu dalam segala hal." timpah Angga.


"Sialan , kalian." ucap Darma mencoba memukul Aldi dan Angga, namun mereka yang menyadari atas tindakan Darma seketika berlari.


Setiba, diujung gang kamoung mereka, Aldi dan Angga nampak berjalan memisah dengan Darma, bergegas pulang kerumah mereka masing masing.


Darma sambil membuka kaosnya,karena gerah, hingga menunjukan bentuk atletis tubuhnya, dan menenteng Kaosnya.


Saat Darma masuk rumahnya, terkagetkan oleh Ajeng dan Sintya yang sedang membantu ibunya mengemas Jamu.


" Apaan sih, kenapa gak boleh?." ucap Ajeng.


" Percuma, olah raga terus, tapi mabok wae." ucap Sintya.


Darma seketika ,menyemburkan air minumnya, karena kaget atas perkataan Sintya.


" Aku, lhoo gak suka mabok." ucap Darma berjalan duduk di kursi didepan mereka, menyalakan sebatang rokok.


" Itu, malah ngrokok, " ucap Ajeng menghardik Darma.


" Sudah, stop, mengapa kalian terus saja menyudutkanku." ucap Darma.


" *****, kita begini karena kami sayang kepadamu, juga apa guna kami pagi pagi begini datang kemari, kalo bukan kami sayang padamu." ucap Sintya.


" Benar, kami tak mau kamu, terus terusan melakukan hal hal, yang merugikan untuk kesahatan tubuhmu, sayang bukan olah ragamu selama ini, juga lihat bentuk tubuhmu yang sispax, membuat itu butuh waktu yang cukup lama bukan." ucap Ajeng.


Darma pun tersadar akan ucapan Ajeng, bahwa dirinya memperlihatkan bentuk tubuhnya karena telanjang dada, sontak Darma berlari karena malu.


" Oh, tidak, " ucap Darma berlari menuju kamar mandi dan segera mandi.


Ajeng dan Sintya meneruskan kegiatannya membantu, Ibu Mirna ( Ibu Darma ).

__ADS_1


" Sebenarnya Bapak dan Ibu, sedih akan kepergian Darma, menuntut ilmu diluar negeri, Darma anak satu satunya kami, jadi mungkin akan sendirian selama kepergian Darma." ucap Bu Mirna menunjukan kesedihannya disela mengemas jamu buatannya.


" Kami juga menyayangkan, keputusan Darma Bu, namun kami tak berhak melarangnya, kami hanya bisa mendukung apa yang di cita citakan Darma, mungkin ini akan membawa kepuncak cita citanya." ucap Ajeng.


" Iya Bu, kami akan menyempatkan diri kemari, untuk sekedar menemui Ibu, untuk mengisi kekosongan hati selama kepergian Darma, karena kami telah berjanji pada Darma untuk menemui Ibu, selama ia pergi." ucap Sintya.


" Terima kasih ya nduk, kalian begitu baik kepada Darma dan Ibu, Ibu tak dapat membalas kebaikan kalian." ucap Bu Mirna.


" Ngak, Bu kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan, karena kami adalah sahabatnya, juga Ajeng adalah calon menantu Ibu. " ucap Sintya.


Ajeng dan Bu Mirna terkagetkan dan saling pandang satu sama lain, atas ucapan Sintya.


Ajengpun mencubit Sintya, karena kesal.


Saat itupun antara Ajeng dan Bu Mirna nampak kikuk, dan suasana menjadi hening seketika.


" Bagaimana , bisnis Online kalian? " ucap Darma berjalan menghampiri mereka dan duduk pada kursi sebelumnya.


" Bu Pandu berniat, membangun sebuah Ruko untuk menjalankan Bisnis kita, juga mencari karyawan, jadi kami hanya mengirimkan orderan yang kami terima kepada mereka. Dan mereka yang menanganinya, jadi kami tak susah payah, menjalankan Bisnis ini." ucap Sintya.


" Benar, juga rencana kedepan Bu Pandu membeli sebuah sistem komputerisasi, guna memudahkan akses kita menjalankan Bisnis kita ini, dimanapun kita berada." ucap Ajeng.


" Sukurlah kalo, begitu. Rencanaku adalah untuk kalian berdua, mumpung ada waktu dua minggu lagi, untukku berangkat ke Australi karena pengunduran jadwal keberangkatan, mari kita menyusun sebuah ide bisnis untuk jamu buatan ibuku, sebagaimana beberapa tahun lalu jamu buatan ibuku sudah terbilang di laku dipasaran, karena sandungan yang Ibu dan Bapakku alami, hingga membuat bisnis jamu yang mereka bangun bangkrut. Hal itulah yang membuat suatu gebrakan untuk mengenalkan atau memasarkan kembali jamu buatan ibuku."


ucap Darma menunjukan wajah keseriusan.


" Tepat, aku juga memikirkan hal sama, aku sudah merancang sebuah kemasan untuk jamu bubuk atau padat, dan kemasan botol untuk jamu cair. Beberapa hari ini aku memikirkan hal ini, namun belum ketemu waktu yang pas, dan rencanaku aku dan Sintya menyusunya bertahap, tapi karena kamu mengajaknya jadi ayo, mari kita susun strategi dari sekarang. " ucap Ajeng.


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju halaman belakang rumah Darma, di sebuah Pondok kecil buatan Bapak Darma. Pondok itu dibuat untuk tempat istirahat Pak Wanto, saat lelah berkebun menanam tanaman herbal. Dilahan belakang rumahnya, yang tak begitu luas, namun begitu banyak akan tumbuhan herbal yang Pak Wanto tanam.


Melihat kedatangan Darma , Ajeng dan Sintya yang berjalan kearah Pondok itu, Pak Wanto segera meninggalkan Pondok itu. Ajeng dan Sintya seketika menyapa dan mencium tangan Pak Wanto yang berjalan kearah mereka.


" Pak , Pondoke kami pinjam." ucap Sintya.


" Iya, nduk silahkan." ucap Pak Wanto tersenyum, kemudian berjalan masuk rumah.


Tiba dipondok, Darma membuka laptopnya.


Darma menjelaskan rencana mereka membuat kemasan untuk produk jamu buatan ibunya dengan nama ( Jamu Nyonya Mirna ) . Hingga ahirnya merekapun menemukan sebuah ide kemasan yang sangat unik dan memiliki nilai jual tinggi.


Namun dengan biaya operasional yang cukup murah.


" Ok. fix, jamu Nyonya Mirna rilis ." ucap Darma.


" Yes, kalian berdua memang, jago dalam mengutip sebuah ide." ucap Sintya.


" So, pasti, pantaskan kami.? bila jadi pasangan kreatif." ucap Ajeng tersenyum.


" Yee, pasangan kreatif, tapi bentar lagi mau LDR,an." ucap Sintya tersenyum menghina.

__ADS_1


Ajengpun cemberut saat mendengar ucapan yang dilontarkan Sintya.


__ADS_2