
" Gunakan selalu rompi ini, karena mulai saat ini, akan ada intruksi dadakan untukmu." ucap Selvi.
" Terus, untuk latihan selama 3 bulan sampai 6 bulan untukku?" tanya Darma.
" Itu sudah kami siapkan, hanya saja selama seminggu ini ada sebuah misi lainnya, Bapak Panglima TNI menyerahkan tugas ini kepada kita Tim Rajawali, sedangkan Tim Elang sedang bertugas menarik perhatian Jaringan Terosris." ucap Selvi.
" Baiklah, sekarang tolong antarkan aku, dan kamu nanti bawalah sebuah motor sebagai iventarismu." ucap Selvi mengajak Darma.
Mereka berduapun segera berangkat, menuju tempat tinggal Selvi.
Sampai di sebuah Ruko pinggir jalan besar Kota, Selvi meminta Darma menghentikannya. Alvia yang mendengar kedatangan mereka segera membuka pintu roling, kemudian meminta membawa masuk motor Selvi.
Di ruko tersebut adalah tempat tinggal Selvi dan Alvia, yang mana terdapat banyak berbagai sepatu, karena memang di ruko itu adalah toko sepatu BATA,
Alvia segera menghidangkan makanan untuk Selvi dan Darma.
" Sudahlah, tinggalah makan sebentar, dan aku akan menunjukan beberapa senjata untukmu." ucap Alvia yang sedang membawa makanan ke meja makan.
Selang beberapa saat , Darma tertegun melihat Selvi setelah mandi dan berganti pakaian yang sangat minim karena pakaian yang ia kenakan nampak menojolkan lekuk lekuk bentuk tubuhnya.
" Biasa aja, nglihatinnya." ucap Selvi melihat Darma terbengong karenanya.
Darmapun tertunduk malu, saat itu.
" Sudah mari makan." ucap Alvia memecah kegundahan Darma.
Setelah mereka makan, Darma dimarahi Selvi karena sebagai prajurit , disayangkan bila seringnya merokok.
Di Gudang belakang ruko tersebut, banyak sekali dengan senjata dan amunisi.
" Pilihlah senjata untukmu, yang dapat kamu gunakan secara nyaman." ucap Selvi.
Darmapun segera memilih, sebuah kotak berisi 3 cincin. Dimana cincin itu bila diputar akan menonjolkan sebuah pisau kecil yang tajam seperti taji.
Darma mengambil 2 cincin itu kemudian memakainya ditangan kiri dan kanannya.
" Sudah sementara ini aku ambil cincin ini saja." ucap Darma.
" Tepat sekali, kamu adalaah salah satu dari semua prajurit yang memilih cincin itu, aku juga akan memakainya, karena cincin ini adalah salah satu senjata terbaik untuk kita gunakan, yang mana sesui keharusan kita sebagai tentara bayangan." ucap Selvi.
" Tunggu, ini aku ada cincin lagi untuk kita pakai." ucap Alvia menunjukan 3 cincin miliknya dan membagikan cincin itu kepada Selvi dan Darma.
Kemudian Selvi dan Darma menerima dan memakai cincin dari Alvia.
" Karena kita sama sama memiliki ketertarikan terhadap senjata mungil ini, maka cincin ini berhak kalian miliki. " ucap Alvia kemudian menujukan cara kerja cincin itu. Cincin itu harus dikenakan di jari tengah, karena posisi jari tengah yang cukup efektif, sebab cara kerja cincin itu dengan menekan tombol dibawah lingkaran cincin itu. Cara menekannya hanya cukup mengepalkan tangan maka secara otomatis dari mata cincin itu meluncurkan sebuah sinar laser yang teramat panas.
Alvia pun mencoba mempraktekan kepada sebuah gelas didepannya, seketika gelas itu bolong terkena pancaran sinar laser dari cincin itu.
" Wow, amazing." ucap Darma terkagum kagum.
" Gila, baru kali ini, aku melihat senjata sepertinini." ucap Selvi juga terpaukau dengan kehebatan Cincin milik Alvia.
" Itu aku hadiahkan untuk kalian, ini adalah pemberian dari Kakekku, dan cincin ini memang sengaja Kakekku ciptakan. Yang semula Beliau ingin menciptakan dengan jumlah banyak namun karena keterbatasan material, sampai beliau meninggal hanya mampu membuat 3 cincin ini." ucap Alvia.
Kemudian Darma melepas satu cincin taji yang dia kenakan kemudian menyerahkannya pada Alvia. Jadi mereka bertiga sama sama menggunakan 2 cincin di tangan mereka. Satu cincin taji dan satu cincin laser.
Alvia kembali menjelaskan bahwasanya cincin itu lebih baiknya digunakan di tangan kiri, karena kemungkinan tangan kiri mengepal sangat jarang. Namun Apabila digunakan ditangan kanan , kemungkinan secara tak sengaja mengepalkan tangan kanan dan akan dapat melukai orang orang atau barang barang disekeliling kita.
Dengan kebaikan Alvia Darma merasa tersanjung kemudian melepaskan kalungnya yang berbandul 3 batu giok pemberian ibunya sebagai jimat keberuntungan.
Batu giok berwarna hijau itu sebenarnya dua pasang Anting dan kalung, kemudian dua pasang anting itu Darma berikan kepada Selvi dan Alvia.
" Ini , sungguh anting yang sangat istimewa, aku suka dengan anting giok ini." ucap Alvia kemudian memakainya di kuping kanan dan kirinya. Selvipun juga mengikuti Alvia memakai anting itu di kuping kiri dan kanannya.
Selvi dan Alvia yang menggunakan Anting Giok tersebut menambah cantik juga menambah karismanya.
Darma saat melihat mereka berdua pun nampak terbengong seketika karena terkesima dengan dua wanita didepannya.
__ADS_1
" Woy, biasa aja, ngeliatinnya." ucap Alvia dan Selvi hampir bersamaan.
" Anda berdua begitu cocok, dan menambah cantik anda." ucap Darma menyanjung.
" Yee, emang kita udah cantik dari lahir. " ucap Selvi.
" Cantik cantik kok judes, galak dan jutek." ucap Darma mengatai.
" Darma beraninya kau, mengataiku." ucap Selvi marah.
" Kita ini atasanmu, tak seharusnya kamu berkata demikian." timpah Alvia juga marah.
" Kalo di Markas, kalian adalah atasanku namun disini kalian hanyalah wanita biasa, yang memang kita mengharuskan bersikap begitu." ucap Darma seenaknya.
" Gak gitu juga kaleee." ucap Selvi dan Alvia kemudian memukul Darma.
Plak plak
" Aduuhh." teriak Darma dan langsung memegangi pipinya yang memerah setelah menerima tamparan Alvia dan Selvi.
" Udahlah, aku pulang saja, dan nanti akan aku laporkan kepada Pak Indra, atas penganiayaan yang kalian lakukan." ucap Darma.
" Hey, Darma tak usah begitu, kitakan cuma bercanda." ucap Selvi merayu.
" Iya, kita cuma bercanda gak seriusan." ucap Alvia juga merayu kemudian mendekati Darma kemudian langsung mengecup pipi Darma yang ditampar oleh mereka.
" Dan ini adalah obat penawar dari tamparan kami." ucap mereka berdua.
Darmapun nampak sehat dan sumringah.
" Kalo beginikan, cantik." ucap Darma merajuk berharap mendapatkan ciuman lagi.
" Dasar, lelaki kalo ada maunya, pasti mengucapkan kata kata manis, namun aslinya beracun." ucap Alvia.
" Ok, kali ini, serius jadi latihanku kali ini, kapan dilaksanakan.?" tanya Darma serius.
" Latihan kali ini dimulai minggu depan, yang diadakan di sebuah lereng bukit Sikopek, disana aku akan gembleng kalian selama satu minggu kemudian langsung terjun dalam sebuah misi pengamanan Dr. Ashari." ucap Selvi.
" Baiklah, kak, kalo begitu aku pulang dulu ya." ucap Darma beranjak darinkursinya.
" Iya, pakailah motor KLX dibawah sebagai iventarismu." ucap Selvi.
Kemudian Alvia menunjukan motor KLX untuk Darma.
Darma pun bergegas pulang mengendarai motor barunya. Darmapun tak langsung pulang, ia berkeliling kota sejenak karena memang saat itu malam minggu, jadi sejenak Darma berkeliling keliling Kota.
Darma mampir ke angkringan tempat ia biasa nongkrong, dan ternyata benar dengan dugaannya, si bejundal Aldi dan Angga sudah berada disana.
" Woy, motor baru nih." ucap Aldi.
" Iya , donk." jawab Darma.
" Ye, kita juga punya. ntu." ucap Angga menunjukan motornya yang juga diiventariskan untuk mereka.
" Widih kamu juga memilih KLX 250." ucap Darma.
" Iyalah, daripada Ninja 250 tak bisa buat menyelinap hanya menang gahar saja." ucap Aldi.
Mereka pun bercanda sambil menikmati secangkir kopi.
" Jadi apa tugas kalian.?" tanya Darma.
" Untuk saat ini, Tim Elang belum bisa bertindak, hanya sebagai umpan saja." jawab Aldi.
" Iya, kami belum masuk dalam skuad inti, sepertimu." ucap Angga menimpai.
" Andai saja, kita tak , ceroboh menghajar Iptu Krisna dan temannya, kita mungkin akan jadi satu tim." ucap Darma menyesal.
__ADS_1
" Ah, sudahlah, memang kemampuanku belum menyamai dengan dirimu, dan perlu banyak latihan." ucap Angga.
Saat mereka sedang Asyik telepon masuk dari Selvi, dibalik Headset blothot yang selalu On pada mode jawab langsung memunculkan suara Selvi " Semua anggota bersiap.!" kemudian dilanjutkan
" Darma bersiaga di titik jalan Imam Bonjol, dan langsung lumpuhkan, mobil Avanza putih H 9866 AX." perintah Selvi.
" Tugas." ucap Darma kepada Aldi dan Angga kemudian segera mengendarai motornya menuju titik yang sudah ditentukan oleh Selvi.
Dibalik Pos Polisi yang kosong Darma bersembunyi disitu dan langsung mengeluarkan Sebuah Laras panjang di tas bagasi motornya.
Darma bersiap menembak dengan Laras panjangnya. Juga disebrang Jalan terlihat Raka, Fino , Leny dan Nina yang siap menyergap yang berseragam lengkap mereka yang seorang Polisi.
Disisi lain ada Jeny dan Rima yang juga siap menembak dengan Laras Panjangnya.
Sebab mereka semua telah dibekali latihan kusus dalam menyerang jarak jauh dan jarak dekat.
Tepat saat lampu merah, mobil Avanza target operasi berhenti, karena posisi Darma kesulitan untuk menembak karena adanya pengendara lain, Darma segera mengintruksikan Jeny dan Rima.
" Jeny tembak." ucap Darma mengintruksikan karena posisi Jeny yang sangat tepat untuk meluncurkan sebuah tembakan.
Cuss, seketika ban depan sebelah kiri Mobil target kempes, tanpa menimbulkan rasa curiga dari tersangka juga pengemudi lainnya , karena senjata kami ada sebuah peredam suara, juga kecepatan laju peluru yang sangat cepat jadi tak akan yang mengira telah adanya sebuah tembakan.
Ketika lampu hijau menyala tersangka masih saja melajukan mobilnya karena tak menyadari Ban mobilnya sudah kempes.
Setelah berjalan Tersangka menyadari dengan keadaan mobilnya kemudian menghidupkan lampu sein dan minggir.
Tersangkapun keluar dari mobilnya kemudian mengecek keadaan mobilnya. Pada saat itulah Raka, Fino , Leny dan Nina langsung menyergap mereka.
Ahmad dan Ryan yang berseragam Tentara ,menggunakan sebuah motor menuju TKP dan langsung membantu Raka, Fino, Leny dan Nina menangkap tersangka yang berjumlah 5 orang itu. Namun ketika mereka sedang sibuk meringkus kelima Tersangka.
Dari arah berlawanan ada gerak gerik mencurigakan dari beberapa pengendara motor, karena memang kejadian itu menimbulkan antusias warga yang ingin melihat kejadian itu. Jadi membuat banyak orang berkerumun disekitar kejadian penangkapan. Diantara kerumunan orang orang yang menyaksikan penangkapan itu. Empat orang terlihat membawa Senpi ditangan mereka masing masing, kemudian berjalan memecah diantara kerumunan warga, seakan mau melucurkan sebuah tembakan melawan anggota yang sedang menagkap tersangka didalam mobil itu.
Keempat orang itu berpencar sepertinya menyusun sebuah strategi perlawanan.
Darma yang mengetahui hal tersebut dari teropong senjata Laras panjangnya, seketika mengintruksikan kepada Rima dan Jeny. " Siap " dan mereka berdua menjawab " Siap " yang juga mengetahui gerak gerik keempat orang itu. Darma juga mengintruksikan kepada Komandan Nurmantyo yang menyamar sebagai warga, dalam kerumunan itu.
Darma mulai menghitung " Satu, Dua, Tiga.", dan cusss, tembak.
Seketika empat kawanan itu tergeletak dijalan dan masih memegangi senjatanya.
Karena tertembak pada bagian tangan kanannya yang memegangi senpi.
Melihat hal tersebut kerumunan warga menjadi kocar kacir, hingga membuat jalanan seketika macet total. Hingga berselang beberapa saat, Anggota Koplisian dan Polantas tiba dan mengamankan tersangaka dan juga mengatur kemacetan lalulintas.
Anggota kepolisian juga melayangkan beberapa tembakan kepada keempat tersanka yang tergeletak dijalan. Sebab saat itu tangan mereka masih memegangi senjata. Dor Dor tembakan dari beberapa Anggota Kepolisian. Yang juga menembak pada pergelangan tangan mereka.
Sehingga dengan demikian, hal itu tak akan membuat curiga Kepolisian bahwasanya Tim Pasukan Kusus telah menembak tangan mereka lebih dulu. Jadi dapat dipastikan Anggota Tim Kusus aman.
Dari mobil tersangka Kepolisian mengamankan, beberapa senjata api ilegal dan juga sekardus bubuk meisu ( bahan peledak ), yang mana mereka para tersangka adalah jaringan Terorisme.
Selvi dan Alvia yang melihat keberhasilan mereka dalam menyelesaikan sebuah misi, dari layar komputernya. Yang mana Komputernya telah terhubung dengan kamera CCTV yang banyak terpasang disudut sudut jalan.
Mereka berdua mengatakan bersamaan,
" Good, mision acomplete."
Darma segera merapikan senjatanya kemudian memasukannya kembali kedalam tas bagasi motornya yang terparkir dibelakan Pos Polisi.
Beberapa Anggota Polisi yang berjalan menuju Pos Polantas, bertanya kepada Darma yang mengendap endap dibelakang Pos itu.
" Ngapain disitu.?" tanya Pak Polisi.
" Mumpet Pak, takut terkena peluru nyasar seperti di film film." Ucap Darma berasalan.
" Sudah Aman, keluarlah dan segera pulang, jaringan ******* lagi banyak menrekrut anak muda seusiamu, dan apabila tidak mau akan dikebiri." ucap Pak Polisi menakuti Darma.
" Di kebiri Pak." ucap Darma menunjukan muka ketakutan kemudian pamit kepada Pak Polisi itu serta menjabat tangan dan mencium tangan Pak Polisi itu.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi mereka melumpuhkan kawanan ******* yang bersenjata. Hanya dengan waktu 30 menit saja mereka mampu melumpuhkan kawanan ******* itu.
Darma kembali menemui Aldi dan Angga di angkringan, namun sepertinya mereka berdua sudah meninggalkan angkringan itu. Kemudian Darma mencoba mampir ke rumah Bu Pandu karena tak jauh dari keberadaannya saat itu.