
Namun Darma, Angga dan Aldi enggan konfoi, mereka terlihat malas dan menolak ajakan dari teman teman sekelasnya.
Kemudian mereka bertiga berniat langsung pulang.
Namun ketika mereka akan pulang, Darma dipanggil Bapak Kepala Sekolah. Kemudian Darma meminta Aldi dan Angga untuk mengantarkan Ibu mereka dan kembali lagi untuk menyusulnya. Aldi dan Angga pun segera berangkat.
Sampai di kantor Kepala Sekolah, Darma dipersilahkan duduk oleh Pak Indra Kepala Sekolah, kemudian memberikan selamat kepada Darma.
Pak Indra mengatakan, bahwasanya beliau diberikan Mandat, oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bapak Yohanes, untuk memberikan Bea siswa, apa bila dirinya mau , malanjutkan kuliah di Australian National University ( ANU ) sampai kejenjang S3.
" Jangan lewatkan kesempatan ini, Darma ,kamu akan jadi, orang, apabila kamu melanjutkan Study disana, lebih lebih dapat berprestasi di ( ANU ),mungkin kamu bisa meneruskan jejak Bapak Mantan Wakil Presiden , Bapak Boediono, yang menjadi staff di Universitas itu. " Ucap Pak Indra.
Darma pun merasa delima dengan tawaran ini, karena, dengan keadaan itu mungkin dirinya meninggalkan Indonesia untuk beberapa tahun kedepan.
Setelah beberapa menit diam, berfikir Darmapun menjawab " iya Pak saya bersedia.".
" Bagus, jangan hawatir dengan biaya kebutuhan mu, disana karena kamu sepenuhnya, dibiayai oleh Bapak Yohanes, juga Beliau telah menyiapkan tempat tinggal dan keperluanmu disana.
Karena menurut Beliau akan menempatkanmu, diposisi penting didinas, pendidikan, nantinya." kata Pak Indra.
" Iya Pak, terima kasih. Kapan kiranya kita menemui Beliau Bapak Yohanes." ucap Darma.
" Sudah, kamu bersiap siap sajalah, biar kami mengurus, keberangkatanmu, tunggu kabar dari Bapak Yohanes." ucap Pak Indra.
" Ya, sudah Pak, kalo begitu," ucap Darma, pamit dan meninggalkan ruangan Pak Indra.
Ketika Darma keluar ruangan, Darma di tarik oleh, Bu Pandu dan membawanya ke mejanya, di Kantor Guru, setelahnya Beliau menanyakan apakah, Darma menerima Bea Siswa yang ditawarkan oleh Pak Indra. Kemudian Darmapun menjawab bahwasanya dirinya bersedia dan menerima tawaran itu.
Bu Pandu, seakan tak senang dan kecewa, dengan keputusan Darma yang berniat melanjutkan kuliah di Australia National University ( ANU ). Kekecewaan Bu Pandu , bila Darma menerima Beasiswa tersebut, membuat dirinya kehilangan Darma, Walau tak mungkin memiliki Darma, namun Bu Pandu ingin sekedar dekat dengan dirinya. Bu Pandu pun hingga meneteskan air mata, kesedihannya.
Sempat Bu Pandu, meminta Darma untuk membatalkan Beasiswa kuliah di Australia, dengan alasan akan membiayai kuliahnya di Unnes yang mana Darma, telah diterima disana, dengan jalur undangan SNMPTN.
Juga Bu Pandu mengatakan bahwasanya Beliau tidak ingin jauh darinya. Walau kedekatan mereka tak wajar, Bu Pandu menjelaskan tak begitu membebani dengan itu.
Darma nampak diam saja dengan permintaan Bu Pandu, Darma telah memutuskan tetap akan berangkat, walau dirinya juga agak sulit menerima keputusan itu. Namun Darma ingin menyudahi skandalnya dengan Bu Pandu, juga memutus hubungan dengan Ajeng yang mungkin akan membuat gaduhan lebih dari kemarin.
" Sudah, Bu mari kita pulang, mungkin anak anak telah menunggu kita, juga ada banyak orderan. " ucap Darma.
Merekapun bergegas pulang, Namun ketika mereka berjalan melewati Ruan Kepala Sekolah, Pak Indra menghentikan langkah mereka.
" Darma, besok Minggu kita diminta Bapak Yohanes, untuk menemuinya! Memang belum pasti kapan kamu akan berangkat, Namun kita diminta kesana untuk, menyiapkan berkasmu, jadi besok minggu pagi datanglah kemari." ucap Pak Indra.
" Baik, Pak." jawab Darma.
Mereka melanjutkan langkahnya, menuju parkiran Motor, karena tadi Bu Pandu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Mereka berduapun mengunakan motor itu, untuk pulang. Dan sebelumnya Darma memberitahu Aldi dan Angga, untuk menyusulnya ke Rumah Bu Pandu.
Setiba di rumah Bu Pandu, mereka teman temanya sudah berada disana.
Ajeng, Sintya, Rana , Rani dan Ferik nampak senang , sambil ngobrol dan membungkusi pesanan.
Mereka berdiam sejenak, saat memperhatikan sikap Bu Pandu dan Darma yang terlihat sangat aneh.
__ADS_1
Bu Pandu terlihat langsung menuju kamarnya, dan tak menyapa mereka belima. Juga Darma malah pergi kedapur membuat Kopi, kemudian duduk di kursi halaman belakang.
Tak berselang lama, Bu Pandu yang telah menganti seragam gurunya, menghampiri mereka berlima dan menunjukan wajah murung.
Sintyapun menanyakan, keadaan Beliau, namun Bu Pandu malah menangis, dan membuat mereka kebingungan.
Sedangkan Darma, juga nampak murung dan melamun di halaman belakang. Sambil menunggu Angga dan Aldi yang sedang menambal Ban Mobil yang mereka bawa.
Kemudian perlahan lahan Bu Pandu, menceritakan, tentang Darma yang menerima Bea siswa ke Australia. Dan seketika mereka berlima pun, kaget akan kabar itu, Mereka pun sontak berdiri dan akan menemui Darma. Namun Bu Pandu melarang mereka.
" Sudah, biarkan Darma , memikirkannya dahulu, Ibu tahu Darma juga kebingungan dengan keadaannya, jadi beri dia kelonggaran untuk berpikir, karena Ibu juga membujuknya untuk, tidak menerima Bea siswa itu." ucap Bu Pandu sambil menangis.
Mereka berlima pun, nampak lemas dan menyandarkan tubuhnya di kursi sofa yang mereka duduki sesekali menghela nafas Panjang.
Mereka berlima pun, bersedih akan kehilangan Darma, juga nampak mereka meneteskan Air Mata dan mencari tempat untuk menenangkan diri mereka masing masing.
Ajeng, yang beralasan pergi kekamar mandi, namun dirinya langsung menemui Darma.
Darma , duduk di kursi sambil menikmati rokoknya dan menatap jauh kedepan.
Ajeng, duduk disebelahnya sambil menyandarkan kepalanya di pundak Darma. Darma yang mengetahui itu hanya diam saja.
" Aku, tahu kamu tak yakin dengan keputusanmu, namun kamu mencoba meyakinkan dirimu. Mungkin berat bagimu untuk pergi meninggalkanku, juga berat bagimu untuk mempertahankan hubungan kita, Aku tahu alasanmu, menerima itu.
Aku tahu niatanmu, maka aku akan menunggu disini, sampai kau pulang." ucap Ajeng sedikit bersedih kemudian mengecup pipi Darma.
*Nampak Bu Pandu dan juga mereka sedang, melihat Ajeng dan Darma yang sedang duduk berdua di kursi halaman belakang.
Darma merubah posisi duduknya kemudian merangkul Ajeng dan tangan satunya memegang tangan Ajeng.
" Aku akan buktikan kepada Ayah Ibu dan Kakakmu, yang mengangap perbedaan Kasta diantara kita. Bahwa sesungguhnya Aku berhak memilikimu.Jadi akan ku rubah sudut pandang mereka yang merendahkanku." ucap Darma.
" Baiklah, berangkatlah aku mendukungmu, aku tahu kamu mampu membawa perubahan untuk hubungan kita, walau berat bagiku untuk berpisah denganmu, yang mana 7tahun itu cukup lama , menunggumu." ucap Ajeng tegar.
" Sabarlah, demi bersatunya cinta kita. Aku akan mengunjungimu, di ahir semester. Juga berjanjilah padaku untuk sering menemui Ibuku, karena mungkin sendirian sepeninggalanku ke Austalia." ucap Darma.
" Iya, aku janji, akan menyempatkan waktu untuk , mengunjungi mereka, sebagai baktiku dan mempersiapkan diri sebagai menantunya, esok." ucap Ajeng sambil mempererat pegangan tangannya.
" Jelaskan pada mereka, aku tak mau mendengar , cercaan mereka, aku akan kemari esok." ucap Darma dan mengajak Ajeng kembali masuk.
Sampai di tempat mereka berkumpul, Darma segera keluar Rumah Bu Pandu dan tak menyapa mereka.
Sintya yang melihat itu, sontak marah,
" Woy, kucaii, begitu sikapmu pada kami, kamu tak menghargai kami sebagai sahabatmu, begitu mudahnya kamu meninggalkan kami, begitu mudahnya kamu memutuskan itu, Aku tak melarangmu pergi, silahkan pergi, tapi tolong beri kami penjelasan.
Woy kucaii, kalo kamu masih menganggap aku saudaramu,jelaskan alasanmu, kucaii. "
Darma nampak berdiri diam,di depan pintu kemudian hanya melambaikan tanganyan dan pergi meninggalkan mereka.
Sintya yang kesal dengan sikap Darma dan ingin tahu alasan Darma, mencoba ingin mengejar Darma. Namun Ajeng segera merangkulnya, seketika Sintya menangis dipelukan Ajeng.
__ADS_1
Ajeng mencoba menenangkan Sintya,
" Kita sama sama, berharap untuk Darma mengurngkan niatnya, tapi Darma berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Tenanglah
Darma telah bercerita kepadaku banyak, juga ia telah memutuskanku, secara sepihak, namun aku tahu maksud sebenarnya Apa?. " ucap Ajeng.
Kemudian melanjutkan bercerita.
" Kita selama ini, salah besar, dalam memperlakukan Darma. Yang mana kita terus menganggap atau mengahwatirkan keadaan dirinya, yang tak mampu untuk melanjutkan kuliah, yang mana telah kita ketahui bersama, bahwa Darma memang anak dari keluarga miskin. Namun tanpa kita sadari itu semua, membuat dirinya malu, dan merasa dirinya rendahan.
Dengan demikian ia memutuskan untuk pergi, guna merubah nasibnya dan tekatnya untuk mengankat derajatnya agar semua orang tak memandang rendah dirinya sebagai anak orang miskin.
Walau tak mungkin memang dirinya, menyadari kekurangannya itu. Dalam setahun terahir ini, ia berusaha melakukan hal hal untuk merubah keadaannya.
Bersama Pak Indra , ia merintis bisnis luar biasa, namun enggan menceritakan bisnis itu, dia mengatakan belum saatnya untuk menceritakan bisnis itu. Kita tak pernah sadar bahwa kedekatan Darma dan Pak Indra begitu dekat, dan sering menceritakan masalahnya kepada Beliau,
dan saat awal kita menjalani latihan dulu, Pak Indra memarahinya karena sebuah pancingan, untuk menegur Bapak dan Ibu Guru, namun melewati Darma yang mungkin akan membuat Bapak Ibu Guru segan apabila Pak Indra langsung menegur mereka. Beasiswa yang diterima Darma adalah juga sebagaian Dari Bisnis mereka bersama Bapak kepala dinas pendidikan Bapak Yohanes.
Jadi kita sebagai sahabat sekaligus saudaranya, maka mari kita dukung keputusan Darma. Juga nanti pada saatnya Ia sukses, kita juga akan bangga melihatnya duduk diatas kesuksesan.
Walaupun perpisahan ini berat, Darma dan Kita juga sama sama merasakan hal ini.
Aku awalnya marah dengannya, yang menurutku, Ia pengecut, lari dari kenyataan dan tak mau memperjuangkan cinta kami. Kami mencoba mengiklaskan ini, kalo kemungkinan kami berjodoh atau tidak itu kehendak Tuhan. Dan untuk itu Bu Pandu, ( sambil mengedipkan mata, seolah Ajeng telah mengetahui, skandal mereka , Bu Pandu menyadari dan membalas kode Ajeng.) juga teman teman mari selanjutnya kita dukung dan Doakan untuk kesuksesan Darma." Ajeng mengahiri ceritanya.
Kemudian , Bu Pandu dan lainnya pun mengerti, dan dapat menerima keputusan Darma.
Disisi lain, Darma setelah dari Rumah Bu Pandu berjalan menuju angkringan, dan meminta Risky menemuinya. Juga sedang menunggu Aldi dan Angga yang tak kunjung datang.
Aldi dan Angga terlihat berjalan menuju Angkringan, yang mana sesui perintah Darma mengantarkan Mobil ke rumah Bu Pandu, kemudian menyuruh menyusul di Angkringan biasa mereka nongkrong.
Mereka bertiga nongkrong ngopi dan ngrokok sambil bercandaan. Terlihat beberapa Anak anak SMA SMK terlihat konfoi melintas dihadapan mereka.
" Mending, tadi naik motor ikut, mereka konfoi, seru coy, sekali seumur hidup." ucap Aldi.
" Iya, tapi , rombongan sekolah kita, tak terlihat melintas, bisa nebeng kita." ucap Angga.
" Coba, kita tunggu, mungkin dibelakang ada, rombongan kelas kita atau sekolah kita." ucap Aldi.
" Kalian , mau ikut mereka, tunggu , sebentar.!" ucap Darma.
Angga Dan Aldi, terlihat bengong, dan hanya melihat Darma yang berjalan menuju pinggir jalan, dan melambaikan tangan seolah menghentikan mereka, dan lambaian tangan Darmapun membut beberapa anak anak yang berkonfoi berhenti, seolah terhipnotis. Dan lebih gilanya yang ia , setop rata rata, anak cewek dari SMA lain.
Setelah merayu beberapa cewek tersebut, Darma memanggil Aldi dan Angga yang terlihat *****, dengan tingkah Darma.
Darma mengarahkan Aldi dan Angga untuk membonceng Cewek cewek tersebut, jadi boti. ( bonceng tiga ) Juga dirinya.
Kemudian berjalan mengikuti Arah Konfoi rombongan mereka. Aldi dan Angga nampak senang, dengan keadaan itu.
mereka saling kebut ,kejar mengejar.
Cewek cewek tersebut juga terlihat senang dan tak merasa keberatan dengan tingkah mereka.
__ADS_1
Hingga teman teman dari cewek cewek itu, nampak menyadari dan terkejut saat melihat Darma membonceng cewek tersebut.