TAMTAMA 2019

TAMTAMA 2019
Kapten dan Ibu Negara


__ADS_3

Tiba didepan rumah Bu Pandu , Darma melihat motor Pak Dadang. Awalnya ia ragu ragu apakah mau mampir atau balik kanan saja. Karena Darma ingin mengambil bukunya yang tertinggal maka Darma masuk kerumah Bu Pandu.


Seperti kebiasaannya Darma langsung nylonong masuk sambil memangil Bu Pandu. Karena tak ada jawaban Darma langsung menuju ruang keluarga dimana terahir Darma meletakan Bukunya.


Setelah menemukan Bukunya, Darma berjalan keluar untuk menunggu Bu Pandu diteras luar sambil membaca buku. Darma beranggapan Bu Pandu ,Tika dan Pak Dadang mungkin sedang berada di Toko.


Saat Darma berjalan menuju pintu keluar melewati depan kamar Bu Pandu. Dirinya dikejutkan dengan keadaan Bu Pandu yang hanya berbalut handuk keluar dari kamarnya dengan tiba tiba.


Seketika Bu Pandu meminta Darma untuk diam saat Darma akan mengatakan sesuatu. Yang mana Darma menyadari akan tindakan yang dilakukan Bu Pandu dan Pak Dadang.


" Benar, mungkin kamu menganggap Ibu, wanita murahan, tapi itu tidak besok aku akan ceritakan, dan mohon tolong rahasiakan ini." bisik Bu Pandu.


" Baiklah, Bu aku pulang, aku hanya mengambil Buku yang tertinggal." ucap Darma bersandiwara agar tak menimbulkan curiga Pak Dadang.


" Iya, Ibu baru selesai mandi." ucap Bu Pandu menjawab dalam sandiwara.


Setelah kepergian Darma , Bu Pandu segera mengunci pintu dan segera kembali kekamarnya dan meneruskan … yang sedikit tertunda.


" Apakah Darma menyadari keberadaanku.?" tanya Pak Dadang.


" Sudah , tidak akan,aku beralasan menggunakan motormu karena motorku banya kempes." jawab Bu Pandu.


" Baiklah, mari kita lanjutkan." ucap Pak Dadang mengajak.


Sepanjang perjalanan pulang Darma, terus memikirkan tentang ucapan Bu Pandu, karena Darma sudah dapat menebaknya.


" Kemungkinan besar kejadian ku dengan Bu Pandu itu, membuat Bu Pandu hamil dan demi menutupi skandal itu, Beliau melakukannya dengan Pak Dadang yang mana beliau juga seorang Duda keren nan baik hati. Jadi Bu Pandu akan mengatakan kehamilannya atas perbuatan Pak Dadang kemudian Pak Dadang mau tak mau harus segera menikahi Bu Pandu.


Jadi skandal diantara kita ,dapat dipastikan aman." batin Darma.


Sampai dirumahnya Darma segera masuk kekamarnya, kemudian memutuskan untuk segera tidur. Dan melupakan tentang rasa bersalahnya kepada Bu Pandu, harus rela menikahi Pak Dadang pria yang tak disukai Bu Pandu demi menutupi skandalnya bersama Bu Pandu.


" Benar , kamu pasti sudah menduganya, dan memang itu benar, Ibu mengandung anakmu. Namun jangan hawatir dan berpikir macam macam. Sebab semua ini salah Ibu bukan salahmu, jadi lupakanlah tentang kejadian itu, karenanya Ibu melakukan itu dengan Pak Dadang agar membuat skandal diantara kita aman.


Nanti setelah lahirnya anak ini dan kamu belum pulang aku akan mengirimkan fotonya untukmu. Santailah anggap saja semua ini adalah sebagai kecelakaan nikmat dan sebagai kenangan diantara kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu karena semua ini.


Ibu menyayangimu Darma, semoga kedepanya kamu akan sukses dan mampu menggapai cita citamu." pesan WA dari Bu Pandu.


" Maaf dan terima kasih Bu." balasan chat Darma.


Darma berpasrah diri, karena semua sudah terjadi dan harus terjadi.


Darma yang tidak bisa tidur karena memikirkan Bu Pandu yang merelakan diri untuk dinikahi oleh Pak Dadang seorang Duda yang tak beliau sukai.


" Lee, " panggil Ibunya.


" Iya, Bu " jawab Darma kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


" Lee opo bener kamu,sekarang adalah Tentara pasukan kusus.? tanya Ibunya.


" Benar Bu, maaf aku tak bercerita dengan Ibu dan Bapak, karena bila aku bercerita akan membuat cita citaku ini sirna." jawab Darma bersujud di pangkuan Ibunya.


" Ya sudah, Ibu dan Bapak mendukungmu, walau tak mungkin Ibu dan Bapak selalu menghawatirkanmu." ucap Ibunya.


" Bapak gak apa apa, namun alangkah baiknya kamu bercerita, dan tugasmu kali ini akan berapa lama.? tanya Bapaknya.


" Mungkin 6 bulan sampai 1 tahun Pak." jawab Darma kemudian melepas kaosnya dan menujukan Rompi anti pelurunya yang


juga terselip sebuah Pistol dan beberapa pisau belati.


Melihat rompi itu Ibu dan Bapaknya kaget, namun juga bangga.


" Bapak dan Ibumu , sebenarnya bangga dengan mu lee, tapi kami tak memyngkiri takut akan terjadi sesuatu hal, karena tugasmu bertaruh dengan nyawa demi kejayaan Bangsa dan Negara. Sebab kamu lah harta satu satunya yang Bapak dan Ibumu miliki." ucap Bapaknya dan menangis bangga namun juga bersedih.


" Aku akan berjanji, untuk kembali dengan selamat, Pak Bu doa restu panjenengan menyertai di setiap langkahku." ucap Darma meyakinkan kemudian Darma memeluk Bapak serta Ibunya.


Rasa haru menyelimuti keadaan mereka.


Setelah menjelaskan keadaannya sekarang Darma kembali kekamarnya dan segera tidur. Ibu dan Bapaknya kembali membuat pesanan ramuan yang telah dipesan Sintya dan Ajeng untuk dikemas dan dipadarkan.


Di pagi harinya Darma bangun untuk melatih kebugaran tubuhnya juga mengetes senjata cincin pemberian Alvia dan Selvi.


" Anjay , benar benar senjata TOP," gumam Darma setelah mengepaskan tangannya kesebuah dahan Pohon mangga, dan seketika ranting muda pohon itu patah terkena sayatan taji kecil dari cincinya.


Dan kembali mencoba cincin laser pemberian Alvia. Saat memancarkan laser dari cincinya kearah daun mangga, sontak daun itu bolong terbakar, kemudian sinaran itu juga mengenai tali pada pot gantung. Lagi lagi tali pot gantung itu terputus, lalu pot tersebut jatuh dan pecah.


" Pyaaarrrr." bunyi pecahan pot itu.


" Darma apa yang kamu lakukan, lee?" tanya Ibunya saat mendengar suara pecahan.


" Nggak papa, Bu hanya kesenggol." jawab Darma gelagapan dan segera menyinkirkan pecahan pot itu.


Setelah membersihkan pecahan pot itu, Darma segera meminum ramuan suplemen yang sering ia minum sambil beristirahat dipondok bambu belakang rumahnya.

__ADS_1


Di sela istirahat Darma kembali membentuk otot tangannya menggunakan sebuah Barbel 7kg.


Sintya dan Ajeng datang dari gerbang belakan mengagetkatkan Darma, hingga seketika menjatuhkan barbel ditangannya.


" Siap grak.!" ucap Darma latah, " untung tak menjatuhi kakiku." ucap lagi Darma kemudian mengambil kembali barbelnya.


Sintya dan Ajeng tertawa melihatnya.


Melihat Darma meneruskan mengayun barbelnya, Sintya yang usil memukul lengan Darma yang memperlihatkan otot besar naik turun.


" Apa kamu tak merasakan sakit." tanya Sintya saat melihat Darma biasa saja, setelah menerima pukulanya.


" Tenagamu , seberapa.? bisa pukul lebih keras lagi.! " ucap Darma meremehkan Sintya.


Kemudian Sintya mencoba memukul lengan Darma lagi, namun dengan tenaga Sintya yang seorang wanita tak membuat Darma kesakitan.


" Iptu Krisna, Bagus dan Hendro, didepan mereka bertiga meminta ramuan obat dari Ibu, guna menyembuhkan beberapa lukanya yang belum begitu pulih." ucap Ajeng.


Mendengar ucapan Ajeng, Darma kaget.


" Iya,tah." ucap Darma tak percaya.


" Ayo, kita temui, mereka." ucap Ajeng mengajak.


Darma segera melempar barbelnya kemudian melepas kaos yang penuh dengan keringat dan berganti kaos lainnya, berjalan keruang tamu menemui mereka.


Sampai di ruang tamu, Iptu Krisna yang melihat Darma menemuinya, langsung menjabat tangan militer serta memeluk Darma. Lalu diikuti hal yang sama oleh Iptu Bagus dan Hendro.


" Baik, silahkan duduk." ucap Darma sambil melemparkan Rokok Djarumnya serta mentalakan sebatang rokoknya.


Tak berselang lama Ajeng menghidangkan Kopi juga sepiring singkong goreng.


" Maafkan, kami atas kejadian tempo lalu, bang." ucap Darma kepada mereka bertiga.


" Sudah, lupakan, semua ini memang salahku karena keegoisanku merasa ingin mengalahkanmu. Namun pada kenyataannya kamu adalah senior kami, jadi kami ini bukan apa apa." jawab Iptu Krisna.


" Benar, kamilah yang selalu mengusikmu, padahal kamu sudah, menghindari kontak perkelahian." ucap Iptu Bagus menimpahi.


" Sudahlah, kalo gak begini tak akan ada yang bisa diceritakan." ucap Darma sambil tersenyum.


" Apakah tak, mengganggu kinerjamu, kejadian kemaren.? " tanya Iptu Hendro.


" Sudah, Pak Indra sudah membereskannya. Oh iya, darimana kalian mengetahui tentang diriku.?" tanya balik Darma.


" Kemaren Pak Jatmiko memarahi kami, hingga ahirnya kami, diskorsing dengan hukuman kedisiplinan selama 2 minggu juga untuk pemulihan luka kami, serta Pak Jatmiko menceritakan semua tentangmu." ucap Iptu Krisna.


Mereka nampak akrab dalam kebersamaan, dan melupakan kejadian perkelahian waktu lalu.


" Semua anggota bersiap.!" suara Selvi terdengar dari headset Darma.


Selvi memberikan intruksi kemasing masing anggota Tim Rajawali. Kemudian tiba mengintruksikan Darma. " Darma , misi anak sekolah di Komplek Perum Griya Asri, pukul 11.00." kata Selvi mengintruksi.


Darma melirik jam tangannya, dan waktu menunjukan pukul 09:09, " masih lama." batin Darma.


" Aku, tinggal sebentar." ucap Darma kepada mereka bertiga kemudian masuk kedalam rumahnya.


Darma menuju Ruang tengah tempat menyimpan Rompi senjatanya.


Setelah mandi bebek ( Mandi cepat cepat ), Darma segera mengenakan seragam sekolahnya.


" Woy, cumi, apa yang kamu lakukan.?" ucap Sintya yang kaget dan malu saat melihat ketelanjangan Darma. Karena seketika Darma melepaskan handuknya kemudian berganti pakaian dihadapan Ajeng dan Sintya, yang sedang membantu Bu Mirna meracik obat.


" Ih, kamu ini, gak mikir ada kami apa.?" ucap Ajeng yang juga melihat ketelanjangan Darma.


" Siapa suruh, kamu melihatiku, ini rumahku, juga aku sedang buru buru." ucap Darma seenaknya.


" Gak gitu juga kaleee." ucap Ajeng dan Sintya besamaan.


Darma mengabaikan ucapan Ajeng dan Sintya kemudian mengenakan kaos dan menimpah dengan rompi senjatanya.


Melihat Darma dengan rompi senjatanya Ajeng dan Sintya terkejut, karena baru pertama kali melihat Darma bersiap menjalankan sebuah misi.


" Tolong pakaikan dasiku.!" pinta Darma kepada Ajeng, karena ia tak bisa memakai dasi.


" Sini.!" ucap Ajeng kemudian memakaikan dasi pada Darma, " Hati hati ya sayang, selamat bertugas." ucapan hawatir dan sayang Ajeng.


Darmapun mencubit hidung Ajeng, dan berkata, " Aku akan berhati hati, untukmu." lalu mengambil senjata laras panjang, memereteli susunannya dan memasukannya kedalam sebuah tas.


Bu Mirna, Ajeng dan Sintya, mengucap bersamaan,


" Siap Komandan." seraya memberikan semangat kepada Darma, walau dihati mereka sebenarnya dirundung rasa kehawatiran.


Darmapun Hormat , kemudian mamakai jasnya lalu menggendong tasnya berjalan keluar.

__ADS_1


" Setengah Jam lagi aku berangkat." ucap Darma kepada Ajeng , Sintya dan Ibunya disela jalannya.


Darma kembali duduk bersama mereka, Iptu Krisna, Bagus dan Hendro.


" Apakah kamu akan menjalankan sebuah misi.?" tanya Hendro.


" Benar, kami akan melakukan pengawalan Dr. Ashari ketua KPK, terkait kinerjanya yang tegas, hingga membuat beberapa anggota Dewan kepanasan dibuatnya." jawab Darma namun sedikit ingin menarik kata katanya keceplosan.


" Oh. baiklah, selamat bertugas komandan." ucap mereka bertiga dan memberi Hormat.


" Sudah, jangan terlalu formal, takut ada yang melihat." ucap Darma meminta.


" Ini, ada hadiah untukmu." ucap Iptu Bagus memberikan sebuah Pena lalu menjelaskan " Pena itu dapat merekam juga dapat mengeluarkan asap tebal dan ada pisau kecil diujungnya."


" Terima kasih, pena ini,sangat bagus, aku suka dan akan selalu menjaganya." ucap Darma lalu menyelipkan di saku bajunya.


" Tenang saja, kamu mungkin agak tak nyaman saat mengatakan tentang Anggota dewan yang kepanasan. Santai, kami netral, walau dari beberapa pihak ada yang kongsi dengan Anggota Dewan tersebut." ucap Iptu Krisna menekankan.


" Bagus, kita seharusnya sadar, kita digaji rakayat dan harus bekerja untuk rakyat. Jangan malah memanfaatkan kesempatan pada Jabatannya." ucap Darma.


" Benar, kami tak sepaham dengan beberapa anggota kita yang terlibat didalam kasus tersebut." ucap Hendro.


Tiba tiba Darma memancarkan sinar laser dari cincinya mengarahkan pada Ponsel Iptu Bagus dan langsung terlempar dan sedikit terbakar.


Sontak membuat Iptu Krisna dan Hendro kaget melihat hal itu.


" Jangan harap, kamu bisa menyembunyikan gerak gerikmu." ucap Darma tegas.


Iptu Krisna dan Hendro pun tersadar kemudian memarahi Iptu Bagus.


Iptu Bagus ketakutan,dengan apa yang dilakukan Darma juga kemarahan dua rekannya.


" Maafkan, aku." ucap Bagus memohon ampun.


" Baiklah, aku akan segera berangkat, mohon Iptu Krisna dan Hendro bila kalian bersedia mengulurkan tangan demi utuhnya kesatuan dan keamanan Bangsa, maka aku serahkan urusan Bagus kepada kalian berdua. ( Jangan Paksa Kami untuk Bangun Dari Tidur , Tapi Bila Itu Mau Kalian Maka Jangan Salahkan Kami Bila Akan Kami Ratakan Dengan Jalan.


Satya Wira Darma. ) ." ucap Darma tegas kemudian meninggalkan mereka segera mengambil motornya.


Ajeng dan Sintya pun segera keluar melihat keributan tadi.


Darma melayngakan sebuah Kissby kepada Ajeng, kemudian menarik gas motornya berangkat.


Ajengpun tersenyum serta melambaikan tangannya, dan melihat Darma yang telah jauh meninggalkannya.


" Selamat bertugas, Kapten, Ibu Negara menunggumu kembali dalam keberhasilan." chat Ajeng melalui Wa kepada Darma.


Melihat Chat Ajeng dari Smartwatchnya Darma senyum sumringah, kemudian membalasnya dengan pesan Voicenote


" Siap, Ibu Negara , Kapten segera kembali." 😘


**


Ajeng dan Sintya kembali masuk dan duduk dikursi ruang tamu, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Saat itu Krisna dan Hendro tampak murka dengan Bagus.


" Mengapa kamu, begitu bodoh, melakukan ini, kita sudah sepakat bahwa kita tak mau ikut campur dengan Atasan kita, ikut andil dalam skandal kasus Anggota Dewan." ucap Krisna marah besar.


" Benar, apa gunanya jabatan dan uang berlimpah, bila kita harus hidup tak tenang. Juga yang kamu hadapi bukan orang sembarangan Dialah Darma, dengan kekuatannya setara dengan 12 orang seperti kita." ucap Hendro.


Baguspun nampak diam dan menundukan kepalanya, ketakutan serta kebingungan.


" Sekarang, jelaskan apa maksudmu sebenarnya, jadi pena yang kamu berikan Darma juga sebuah pena untuk merekam kegiatannya." ucap Hendro.


" Bila , di tempat lain, aku akan mengahajarmu, Bagus.!!" , " Memang aku sedikit memiliki rasa dendam dengan Darma, tapi setelah aku tahu tentang Darma yang juga sama sama seperti kita aparatur Negara jadi aku mengaku kalah dengannya, dan bersedia tunduk kepadanya. Sebab Darma senior kita pada saat ini." ucap Krisna.


Ajeng dan Sintya nampak , bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


" Aku, terpaksa dengan ini, karena aku dipaksa oleh Bapak Wakapolsek, juga tak dipungkiri aku sangat amat dendam kepada Darma, yang mana aku juga suka dengan Ajeng." ucap Bagus menjelaskan.


" *****, kalo hanya soal perasaan , seharusnya kamu bisa bersikap, sehat." ucap Krisna kemudian menampar Bagus.


Ajengpun kaget dengan ucapan Bagus yang mengatakan suka padanya.


" Iya, aku salah, dan aku berjanji akan mengahiri, semua ini. Dan bantu aku untuk menjelaskan pada Bapak Hendarso yang mengatakan akan memutasi kita, juga menurunkan jabatan kita sebagai petugas lalulintas." ucap Bagus.


" Bodoh, Pak Hendarso itu cuma Wakapolsek, juga dia tidak berhak memutasi kita, apalagi menurunkan jabatan kita. Karena kita Anggota Akpol bukan Bintara Polisi jadi yang berhak atas kita adalah Bapak Jamal." ucap Hendro.


" Sudah, sudah mungkin ini, adalah kesalah pahaman, saja." ucap Sintya kemudian mengajak mereka masuk kedalam ruang tengah , untuk sarapan juga akan memberikan ramuan untuk luka mereka bertiga.


Saat mereka bertiga masuk kedalam ruang tengah, mereka diterkesima dengan laras panjang sniper, yang diselipkan di atas atap rumah.


" Itu, baru semalam, Darma menaruhnya, juga Darma baru menceritakan Pekerjaanya tadi malam." ucap Bu Mirna menyiapkan hidangan untuk tamu tamunya.

__ADS_1


" Silahkan Bapak bapak Polisi, disini ni ya begini ini, alakadarnya." ucap Pak Wanto kemudian mengawali sarapan.


Merekapun segera mulai sarapan dengan hidangan yang disediakan Bu Mirna dibantu Sintya dan Ajeng.


__ADS_2