
Namaku Dara, umurku 17 tahun setelah kenaikan kelas XII di sekolahku. Tepat hari ini aku berencan berlibur ke rumah nenek, kampung halaman ibu. Ini pengalaman pertama ku setelah belasan tahun lalu aku mengunjungi rumah nenek. Kebetulan, saat ini aku berlibur bersama teman-temanku. Sebenarnya, pergi beberapa hari berlibur di rumah nenek sedikit membuatku keberatan. Karena menurutku kampung di mana nenek ku tinggal sedikit jauh dari jangkauan dunia luar. Tapi apa boleh buat, teman-teman ku yang metropolitan sangat ingin merasakan yang namanya tinggal di desa dengan perkampungan yang masih asri.
"Dara, cepat turun. Temen kamu udah pada nunggu. Ini anak gadis kok lelet nya minta ampun!"
Aku menatap jengah Ibu ku satu-satunya. Iya, satu. Masa ibuku dua, bisa berabe aku mempunyai Ibu dua yang sama-sama cerewet nya minta ampun.
"Cepetan, jalan kok kaya siput!" Ibu menarik tanganku, menyeret ku di depan teman-teman ku yang sudah siap dengan tas besar di setiap punggung mereka.
"Ibu apa-an sih? Dara kok kaya diseret begini."
"Udah, jangan bawel kamu. Temen kamu udah pada nunggu dari tadi."
"Iya bu, ini dara mau pake sepatu dulu. Lagian ini itu masih pagi. Masih banyak waktu kok!" Aku mengangguk meminta persetujuan temanku, yang hanya diam menatap tak enak pada Ibu.
"Dara cepet. Semakin cepat kamu sampe di rumah nenek, semakin baik!" Ibu mulai terlihat kesal melihat keleletan ku memakai sepatu. Meski nada bicaranya sekarang melembut.
"Iya bu, ini dara udah selesai kok" Aku menghampiri Ibu, menyalimi tangan Ibu sepenuh hati. "Dara berangkat ya bu, sampaikan salam Dara sama Ayah!"
"Iya, nanti Ibu sampein." ibu mengangguk, beralih menatap Deno, salah satu temanku.
"Deno, hati-hati bawa mobilnya. Kamu bawa anak tante loh!"
"Iya tante, Deno kan bisa diandalkan!" Deno membusungkan badannya bangga.Membuat kami terkekeh melihat tingkahnya.
"Ya udah, ini udah mau jam 9. Dara takut nanti kemaleman sampe di rumah neneknya."
"Iya, hati-hati! Kalian jangan banyak tingkah. Kalo kata orang sunda mah tong mincrak. Turutin apa kata nenek Dara nanti."
Aku menatap ibu sabar. Dari hari sebelum-sebelumnya Ibu selalu berkata seperti itu kepadaku. Maklum, wejangan orang tua. "Iya bu, Dara udah hafal kok. Assalamualikum!"
"Waalaikumsalam!"
"Kami berangkat ya tan!" Seru teman-temanku melambaikan tangan. Sebelum mobil yang kami tumpangi melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Mobil dengan enam orang di dalamnya, termasuk aku dan ke lima temanku. Dua diantara mereka laki-laki, Deno dan Danang. Tiga diantaranya Sesa, Repa, dan Sari. Ngomong-ngomong, salah satu temanku Sari adalah indigo.
"Dar, jauh bener rumah nenek lo!" Sahut Danang menatap google maps di depannya.
"Iya Dar, dari tadi gue nyetir berasa gak sampe-sampe." Doni ikut menyahut, menatap jalanan sepi di depannya. Setelah melewati perkotaan, google maps membawa kami ke jalanan sepi yang belum terjamah satu rumah pun.
__ADS_1
"Kan udah gue bilang, rumah nenek gue di pelosok, jauh. Lo semua pada ngeyel si. Gue aja ogah liburan ke nenek gue, lah lo papa kenapa pengen."
Aku menatap puas wajah bosan mereka, salah sendiri ingin liburan ke kampung halaman ibuku. Aku saja sudah lupa dengan jalan menuju kesana, maka karena itu kami menggunakan google maps.
"Kita kan mau ngerasain gimana asri nya perkampungan, udara seger, telinga adem ayem. iya kan gays? Masa kayak gitu lo gak ngerti." Deno mencibir. Membuat kami para perempuan menatap sinis si mulut lemas Deno.
"Iya Deno, makan tuh liburan yang lo pengen. Lagian rencana awal gak ke sini. Kita kan mau ke balik papan. Dan demi lo yang kebetulan ultah, kita turutin kemauan lo yang penasaran banget sama kampung halaman ibu gue."
"Udah-udah, kampung di balik papan sama kampung halaman Ibunya Dara pasti sama kok!" Repa menengahi pertengkaran kami.
Aku sedikit tersulut emosi, merasa menyesal dengan perkataan yang kulontarkan untuk Deno. Perkataanku sedikit keterlaluan.
"No, maafin gue ya. Gue ke sulut emosi, mungkin karena gue ngerasa, gue yang cucunya aja gak mau nengokin nenek gue. Lah elo yang bukan siap-siapanya kebelet amat." Aku menepuk pelan pundak Deno.
"Iya gak papa Dar, gue ngerti kok. Lo kan cucu yang durhaka!" Doni menatap jahil diriku dari balik kaca. Perkataannya mengundang kami tertawa, termasuk aku.
"Haha, tahu aja lo!" Aku menyahut, mengundang tawa ke dua kalinya. Mobil yang tadinya sedikit terisi cekcok kini di iringi tawa kami bersama. Ku rasa tidak buruk juga pergi berlibur ke rumah nenek ku.
"Gays...!"
"Iya Sar, ada apa? Lo butuh sesuatu?" Tanya Sesa duduk di bangku paling belakang bersama Sari.
"Jangan bercanda Sar, ini udah setangah perjalanan!" Danang menatap Sari tak suka.
"Iya, gue tahu. Tapi perasaan gue udah gak enak sekarang, lo ngerti ga sih!" Perkataan Sari dengan bentakan seperti itu membuat kami kaget. Di dalam mobil tidak ada satupun yang bersuara. Jika Sari sudah seperti ini, perasaanku juga ikut tak enak.
"Maaf, gue... gue mungkin cuma kesel aja dari tadi gak nyampe-nyampe, padahal ini udah lewat waktu dzuhur kan?" Sari memelankan nada bicaranya. Menatap danang sesal. Membuat kami bernafas lega.
"Iya Sar, gue ngerti kok. Sekarang ada baiknya para cewek tidur. Biar gue sama Deno yang tetep sadar, nanti kita bangunin lo pada!" Danang mengangguk. Menatap kami satu persatu. Kali ini aku setuju dengan perkataan Danang.
Pelan-pelan aku mencoba menutup mataku, tertidur bersama yang lain. Tapi entahlah dengan Sari, dia menutup matanya rapat-rapat, membalas pelukan Sesa. Semoga perasaan Sari tidak mengganggu perjalan ini.
"Lo yakin ini kampungnya?"
"Iya, gue yakin. Kita udah berhenti tepat di depan gapura kampung halaman ibunya Dara!" Danang mengangguk, meyakinkan Deno dengan kampung di depannnya.
"Yang bener Nang, masa kita disambut sama kuburan dulu bukannya rumah!" Deno berucap panik menatap hamparan kuburan di depannya.
"Udah ah, lo bawel. Di kampung emang biasa kayak gini, mending kita bangunin mereka dulu!"
__ADS_1
Danang memilih abai dengan Deno, lebih baik membangunkan teman perempuan mereka.
"Bangun-bangun, kita udah sampe nih!" Tanpa etika, danang berteriak membangunkan mereka.
"Danang, lo buat kita kaget aja!" sungut Repa menggeplak lengan Danang cukup keras. Membuat Danang tertawa puas dengan muka bantal kami.
"Dar, ini kampung halaman nenek lo?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Kok ada kuburan sih?"
"Kayak orang katro aja lo. Di kampung emang ada kuburan!"
"Iya Don, bawel banget lo. Kayak gak pernah liat kuburan aja!" Danang menatap jengkel Deno begitupun dengan ku.
Melihat tatapan kami, Deno diam. Kembali melajukan mobilnya memasuki gapura. TANJUNG MERAH. Entah mengapa tempat ini dinamakan seperti itu.
Apa mungkin tanah kuburan yang berwana merah. Jadi di namakan seperti itu. Ah sudahlah untuk apa aku memikirkan hal itu.
""Berhenti Den, ini rumah nenek gue. Lo bisa parkirin mobilnya di samping rumah!"
Terlihat rumah tua di halaman yang luas, rumah nenekku sedikit jauh dari kuburan dan rumah lainnya. Di samping rumahku belum terjamah rumah, hanya ada perkebunan milik warga di sini.
"Asaalamualaikum, Nek!"
""Waalaikumsalam Nduk!"
"Cucu nenek udah besar sekarang. Ayo masuk, udah mau magrib, pamali. Ajak temen-temen mu yang lain. Nekek mau nyiapin air hangat dulu!"
"Ayo masuk. Maaf yah, rumah nenek gue emang udah tua." Aku menatap mereka tak enak. Sepertinya mereka tidak terlalu terganggu.
"Gak papa. Kalo tau gini rumahnya meski di tengah kuburan pun gue merasa gak keberatan kok!" Deno menyelonong masuk, tersenyum begitu lebar. Rumah bertingkat dua dari kayu seperti ini memang kesukaan Deno.
"Iya ayo!" sahut yang lain mengikuti Deno yang tanpa malu menyelonong masuk ke dalam. Menyisakan diriku dan Sari.
"Sari, ayo!" Aku menarik tangan Sari.
"Dar, gue berharap kita bakal baik-baik aja!" Sari menatapku dalam. Mengabaikan udara mencekam disekitar kami.
__ADS_1