
Aku dan Sari berjalan menyusuri jalanan setapak di kampung ini. Jaringan yang kami cari-cari sama sekali belum ku temukan. Hp android milikku kembali ku masukan ke saku jaket. Percuma mencari, yang jelas-jelas kampung ini tidak bisa menjangkau jaringan internet.
"Sar, kayaknya jaringannya gak bakal ketemu deh. Kita balik aja yuk!"
"Mmm... iya."
Sari mengangguk, sedari tadi tatapannya mengelana kesana kemari. Takut sesuatu mendekati dirinya. Kasihan Sari, memiliki sesuatu yang spesial itu tidak selalu baik.
"Sar, selama disini lo pernah liat yang gak bisa gue liat gak?"
Pertanyaanku membuat langkah Sari terhenti. "Dar, lo gak perlu tahu apa yang gue tahu. Lo bisa nyaman tanpa mata dimana-mana yang natap lo!" Sari menggenggam tanganku, menarikku mempercepat langkahnya. Membuat jalanku sedikit terseok-seok mengikuti langkah cepat Sari.
Kami sesekali berpapasan dengan warga kampung, mereka sepertinya sudah menjalankan aktivitas sehari-hari. Banyak yang bertani di kampung nenek ku ini.
"Eh, eneng teh cucuna Nenek Damar sanes?" Seorang bapak-bapak menghentikan langkahku dan Sari dengan cangkul di pundaknya.
"Emm... iya mang. Saya cucunya Nek Damar!" Aku tersenyum canggung, bagaimana pun bapak di depanku sama sekali tidak ku kenal.
"Eneng liburan di sini?"
"Iya Mang, sama temen-temen saya!"
"Oalah... sae atuh neng. Kalo butuh sesuatu Mamang tetangga eneng anu bumina warna biru!" Aku menatap rumah di depan rumah nenekku dari sini.
"Enya Mang!"
"Mamang tipayun nya Neng. Lewih sae mah eneng ge gera uih, tos Asar pamali. Bisi aya bala nu kacanak!"
Aku tersenyum canggung, mendengar perkataan bapak-bapak yang membawa cangkul itu membuatku berpikir ke mana-mana.
Ditambah suasana desa yang semakin menggelap, faktor dari hari yang semakin sore dan kampung yang masih dilingkupi pepohonan besar di mana-mana. Membuat suasana sedikit membuat bulu kunduku meremang.
"Ayo Sar, kita pulang!"
Sari, diam. Penatap punggu bapak-bapak itu yang semakin menjauh. Kakinya melangkah tanpa mau membalas perkataanku.
__ADS_1
Sepertinya perkataan Sari benar, seharusnya mulutku tidak begitu lancang mengatakan itu. Sari punya ranah nya sendiri, begitupun aku.
"Den, lo ngerti gak sih?"
"Apa yang harus gue ngertiin? Sesa aja yang parnoan berlebihan!"
Suara bentakan Deno menyambut kepulanganku dan Sari. Ada apa dengan mereka selama aku dan Sari pergi.
"Lo jangan ngebacot aja, seharusnya lo mikir Dan ngertiin perasaan temen lo!" Aku berdiri mematung di depan pintu, melihat bagaimna nafas Repa dan Deno saling memburu.
Bagaimana dengan Danang yang terlihat kalut, dan Sesa dengan segala ketakutannya.
"Ada apa? Kenapa kalian jadi kayak gini?"
Aku memegang pundak Repa. Membawanya kembali dukuk di atas kursi. Nafas Repa masih memburu, menatap tajam Deno.
"Lo tanya aja sama temen egois lo itu?"
"Den ada apa? Kenapa kalian jadi kayak gini!"
"Gue gak kenapa-kenapa. Dan seharusnya temen lo satu itu gak terlalu penakut sama suara timer kuda lumping gue!"
"Oke gue tahu apa masalahnya. Dan lo Den, stop kasih suara timer lo pake suara yang serem kayak gitu. Lo nggak tahu semua orang bisa biasa aja ngedenger suara kayak gitu. Buktinya Sesa, dia ketakutan sampe mau nangis, lo tahu kan dia parnoan sama penakut. Repa, lo juga. Jangan kepancing emosi dulu, lo tahu sendiri mulut Deno itu lemas." Aku menatap mereka bergantian, Deno dan Repa menarik nafasnya masing-masing.
"Dan lo Sa. Kurangin sedikit rasa takut lo itu, kita semua ada di sini. Temen-temen lo, kita nggak bakal ngebiarin sesuatu terjadi sama lo!" Aku manatap Sesa dalam-dalam.
"Makasih Dar. Gue coba saran dari lo buat kurangin rasa penakut gue. Dan Deno, Repa gue minta maaf udah ngebuat kalian adu bacot!"
"Iya Sa. Deno Gue juga minta maaf terlalu kepancing emosi. Habis mulut lo lemes sih, bikin gue emosi!" Repa terkekeh mengulurkan tangannya kepada Deno.
"Iya Rep gue juga minta maaf. Lo tahu kan gue emang kayak gini?! Lo juga Sa, maafin gue ya. Janji deh gak bakal masang suara timer kayak gitu lagi." Deno ikut terkekeh merima uluran tangan Repa.
Kami semua kembali seperti semula, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Repa dan Deno tidak lagi mengibarkan bendera perang. Sesa tersenyum seperti biasa, hanya Danang dan Sari yang sekarang menjadi lebih pendiam. Dan aku, dengan segala pikiran rumitnya.
"Dar, masa tadi lo gak nemu-nemu jaringan sih. Gue gak bisa dong mengabadikan perjalan gue waktu ke sini."
__ADS_1
"Nggak, gue sama Sari gak nemu jaringan. Iya kan Sar?" Aku menatap Sari disampingku, membuat Deno mendengus.
Ruangan 3×3 meter ini sunyi, hanya terdengar suara jam dinding di belakang Repa yang bisa ku lihat. 18:05 WIB. Jam dimana semuanya mulai terasa berbeda.
"Asih, kamu liat Nenek gak?" Aku menatap Asih, dia berdiri di dekat kursi yang ku duduki bersama Sari. Entah dari kapan Asih berdiri di situ.
"Nenek Damar katanya ada urusan sebentar!"
"Asih!"
Aku menatap Asih, perempuan itu seperti tak berkedip menatap Sari disampingku. Kami diam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ada apa dengan Asih?
"Haha...! Kayaknya kita harus istirahat nih Sih. Sorry ya, gue sama yang lain cape habis jalan jauh tadi."
Tawa sumbang Deno membuat suasana semakin tak mengenakan. Pelan-pelan Deno berdiri, membuat Asih menatap lekat Deno, mengikuti setiap pergerakan Deno.
"Gue, cuma mau ke kamar kok!" Deno tergugu menatap Asih yang diam menatapnya lekat.
"Iya. Tutup tirai jendelanya, kunci pintunya. Sekarang malam jum'at keliwon!"
Nafasku tercekat, Asih berlalu pergi dalam diamnya kami semua. Menyisakan segelung pertanyaan besar.
"Gila, ada apa sama si Asih. Perasaan gue gak enak!" Deno mengelus dadanya, kembali duduk di sebelah Danang. Niatnya untuk pergi kandas melihat kami semua masih duduk.
"Rep, ke kamar yuk! Gue takut nih."
"Iya Sa, tunggu bentar. Lo gak perlu takut, ada kita kok di sini!" Repa mengelus pelan bahu Sesa.
"Bener Sa, lo gak perlu takut. Besok kita keliling sawah!" Deno menyengir, memperlihatkan semua giginya.
Kekonyolan Deno sama sekali tidak membuatku perkataannya. Pikiranku sumrewet, rumit, berjalan kemana-mana. Aku bingung dengan situasi kami sekarang, bingung dengan diriku sendiri.
Hawa dari pertengkaran Repa dan Deno terasa berbeda dengan sekarang.
"Den, lo bisa serius ga?"
__ADS_1
Aku menatap Danang terkejut, rahangnya mengeras dengan tatapan tajamnya kepada Deno.
"Gue serius kok dari tadi!"