Tanjung Merah

Tanjung Merah
26


__ADS_3

Kami berjalan beriringan,membentuk banjar dengan Nenek yang memimpin dan Isah dibelakang.Menuju tempat yang di tuju,Nenek, Ayah dan Ibu tadi.


Aku melihat-lihat jalanan yang di lalui ku sedikit becek.Banyak semak-semak menjalar dimana-mana,semakin kami berjalan.Jalanan yang di lalui pun semakin terlihat gelap dan suram.


Dari jauh samar-samar aku melihat sebuah pohon beringin yang sangat besar,lebih besar dari pohon beringin di pemakaman itu.Di sana aku melihat tempat duduk terbuat dari batu,dengan sesajen yang telah tersedia.Hati ku bergemuruh,aku menautkan jari jemariku dengan kuat sesekali meremasnya menahan rasa takut yang semakin menjadi-jadi.


Ku lihat Isah,tepat di belakangan ku,aku memasang muka takut ku kepadanya.Dia terlihat tersenyum menenangkan seolah semuanya akan baik-baik saja.


Aku melihat reaksi Dara,ku rasakan dia mulai ketakutan,dari awal kami semua berjalan lebih jauh ke sebuah tempat.Di mana Ayah Dara mereka ubah menjadi Iblis.

__ADS_1


Dara terlihat semakin terlihat gelisah dan takut,ketika dari kejauhan aku melihat sebuah pohon beringin besar dengan sesajen yang tersedia di dekat nya.


Aku melihat Dara menoleh kebelakang,dia tersenyum ketakutan melihat ku.Aku tersenyum mencoba menenangkan nya.Saat ini aku tak bisa melakukan apa pun untuk Dara.Sekarang semuanya tergantung dengan Dara,jika Dara menuruti apa yang ku ucap kan, dia tak akan berubah menjadi seorang Iblis.Namun sebaliknya jika dia tak menuruti nya dia tak akan berubah menjadi seorang Iblis.


Bukan nya semakin tenang melihat senyuman Isah,justru aku merasa semakin takut dan gelisah.Jika semua tak berjalan sesuai dengan apa yang ku pikirkan.Keringat dingin tak lagi kurasakan ditubuh ku.


Dengan rasa takut yang semakin menjadi-jadi melihat pohon beringin itu yang semakin dekat dengan ku.Hingga sampai lah aku di pohon beringin itu,aku melihat Nenek,Ayah dan Ibu,yang langsung mendudukan dirinya di bebatuan tepat menghadap sesajen itu.Mataku masih terpaku melihat pohon beringin yang sangat besar dengan sesajen di dekatnya.


Aku melirik Isah seolah meminta persetujuan nya,dia mengangguk,pertanda menyetujui aku untuk duduk.

__ADS_1


Aku mendudukkan bokong ku,dengan Isah di samping ku.Aku melihat Nenek mulai menggerakkan tangan nya.Dia seperti membaca sebuah kalimat yang tak ku mengerti.


Aku merapalkan bacaan-bacaan di dalam hati ku,mencoba untuk bersikap tenang dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.


Ayah dan Ibu,mereka diam,hanya memandang Nenek saja dengan sesekali menimpali kalimat Nenek.Aku semakin takut,ku lirik Isah,dia terlihat tegang.


Nenek selesai merapalkan kalimat yang tak ku mengerti,dia mengambil cawan kecil terbuat dari tanah liat di tengah-tengah sesajen.


"Dara minum lah dan habiskan,jangan sampai tersisa sedikit pun !" Perintah Nenek menyodorkan cawan kecil itu kepada ku.

__ADS_1


Aku gusar dan semakin takut,ketika Nenek menyuruhku untuk meminum cairan di cawan kecil itu.Aku melihat isi dari cawan kecil itu,terlihat cairan merah seperti darah.Ku cium bau nya,cairan itu berbau anyir persis seperti darah.


Aku ingin berbicara,mengatakan tak ingin meminum cairan merah itu,namun aku tak bisa mengeluarkan suara ku.


__ADS_2