
Bulu kunduku seakan meremang menengok ke segala arah. Menarik tangan Sari, masuk kedalam rumah nenek.
"Lo lama banget si Dar?" Sesa menatap ku dan Sari bergantian.
"Ah nggak. Tadi gue bantuin Sari ngambil barang yang jatuh dulu di kolong mobil!" Aku menatap Sari, beruntung sari juga mengerti dengan kode yang ku berikan.
"Nih, diminum. Nenek udah buatin teh anget buat kalian!" Nenek meletakan teh, yang langsung di sambar Deno tanpa tahu malunya.
"Makasih neneknya Dara!"
"Iya, makasih nek!" sahut yang lain ikut menghangatkan tubuh mereka. Nenek ikut duduk di sofa sebelah Repa. Bergabung bersama obrolan kami.
"Kamar kalian udah nenek siapin. Kamarnya ada di atas, ini kunci kamarnya, kalo ada apa-apa panggil aja nenek. Kamar nenek ada di sana!" Nenek menunjuk pintu bercat hitam yang tak jauh dari kami.
"Iya nek. Makasih buat semuanya. Maaf Dara ngerepotin!"
"Gak papa nduk, Nenek seneng kok. Sekarang ada baiknya kalian bebenah dulu. Nanti nenek panggil buat makan malem!"
Nenek tersenyum teduh, khas seorang nenek-nenek. Bangkit berdiri meninggalkan ku bersama yang lain. Bunyi kaki terdengar disetiap pijakan nenek pada lantai kayu. Maklum rumah berkayu akan bersuara apalagi jika sudah tua dan reyot.
"Dar, rumah nenek lo bagus benget!" sahut Deno.
"Seneng-seneng lo aja deh Den. Mau ngapain aja lo bebas sekarang!" Aku terkekeh geli menatap Deno yang tak berhenti menatap seisi rumah.
"Udah ah, gue cape mau istirahat. Siapa yang mau sekamar sama gue!" Repa menjunjung tinggi kunci kamar yang diambilnya asal.
"Gue aja. Biar Sari sekamar sama Dara. Lo sama gue!" Sesa mengangkat tangan, tersenyum lebar. Berjalan meninggalkan ku bersama yang lain.
"Ayo Sar! Lo sekamar sama gue!" Aku menarik tangan Sari, mengambil kuncinya asal.
__ADS_1
"Kamar kita yang mana ya Sar!" Aku menatap dua pintu di depanku.
"Kayaknya yang itu deh. sama Kayak warna dari gantungan kuncinya." Sari dan aku berjalan menghampiri kamar kami. Ku rasa tidak buruk juga mendapatkan kamar paling ujung seperti ini.
Pintu kamar aku buka lebar-lebar. Kamarnya cukup besar untuk dua orang. Setelah saklar lampu di sampingku dinyalakan, kamar terlihat jelas sekarang. Ranjang besar dengan kelambu di setiap sisinya. Juga sebuah lemari kayu. kamar ini terasa nyaman juga sedikit mencekam. Dan jangan lupakan jendela kecil yang bisa membuatku melihat kuburan itu dari sini.
"Gak papa kan Sar, kamarnya kayak gini?"
"Gak papa kok Dar. Yang gue khawatirin apa kita bisa pulang nanti!"
Ruangan senyap setelah Sari mengatakan itu. Mulutku seakan tak ingin bersuara lagi. Bergerak dengan hening mengistirahatkan tubuhku.
"Nang, kok dari tadi lo diem sih?"
"Hmm... lo mau apa kalo gue diem? mau beresin baju gue?"
"Ya bukan gitu, lo ngomong kek." Deno gelagapan, mengalihkan tatapannya menatap penjuru kamar.
"Mau lo apa si Den, rumah dari kayu emang kayak gini. Bukan kayak hotel bintang lima. Lo aja yang suka rumah dari kayu, gue enggak. Meskipun rumahnya agak moderen gini!"
"Hmm,,, mungkin perasaan gue aja. Yang pasti sekarang gue mau seneng-seneng di tempat asri kayak gini. Gue mau nyoba menjalani hidup penuh kesederhanaan ini!" Deno merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap lamat-lamat lampu kekuningan di atas sana.
"Gays... kalian ada didalem kan?"
"Sesa berteriak cukup kencang, beberapa kali mengetuk pintu.
"Buka aja, gak dikunci kok!"
"Hmm,,, enak banget lo tiduran. Sekarang ayo bangun, Nenek Dara nyuruh kita ke bawah buat makan!" Sesa menggeplak kencang lengan Deno.
__ADS_1
"Biasa aja lo. Gue juga gak tidur!" Sungut Deno kesal, di balas cengiran khas Sesa.
"Lama banget lo pada. Gue sama sari udah mau lumutan nih!" Dara menatap tajam ke empat temannya.
"Tahu nih Dar, kita nungguin si Deno nih!" Sesa melirik Deno kesal. Seakan abai dengan Sesa, Deno memilih duduk samping Sari.
"Udah-udah, ayo makan! Tapi tunggu nenek gue dulu ya, dia masih ada di belakang!" Aku menengahi perbincangan mereka. Takut suara mereka menganggu nenek ku.
"Ayo, kenapa pada enggak duduk begini toh. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri!" Nenek Dara meletakan mangkuk yang dibawanya. Ikut duduk bersama para remaja itu.
"Maaf nek, Dara ngerepotin!"
"Nggak kok, cepat makan! Nenek tahu kalian lapar."
Aku dan yang lainnya mengangguk, tak dapat dipungkiri perutku bergejolak minta di isi. Kami makan menggunakan tangan, seperti di perkampungan, duduk lesehan saat makan seperti sudah menjadi adat di kampung kami.
"Sar, kenapa lo gak makan?"
Aku berbisik pelan. Menatap Sari yang hanya menyendok makananya sedikit tanpa mau memakannya.
"Mmm... saya boleh minum nek!"
Sari menatap nenek, mengabaikan bisikanku.
Kunyahan kami seketika berhenti, menatap Sari dan nenek bergantian. Sari, lo ngebuat suasana jadi nggak enak.
"Boleh!" Nenek mengangguk, melanjutkan makan malamnya, begitupun kami.
Tapi tidak dengan Sari, dia sekarang hanya minum. Enggan menghabiskan makanannya, bahkan makanan itu masih utuh tak tersentuh.
__ADS_1
Mengabaikan Sari, aku kembali memakan makanan ku. Tidak menghabiskan sisa sedikitpun.