
"Bercanda lo gak lucu Nang!"
Kami semua menatap Danang dengan ekspresi berbeda-beda. Jam 18:12 kami kembali berseteru di tempat yang sama, dengan pembicaraan yang sama.
"Gue lagi gak bercanda Den. Keputusan gue udah bulet buat mau pulang, ikut atau nggak ikutnya kalian sama gue!"
Pupil Danang menatap kami satu persatu, semakin membuat nafas Deno memburu, bangkit meremas kerah kaos yang dipakai Danang. Tidak pernah aku melihat Deno semarah itu kepada Danang.
"Kalo kayak gini, sama aja lo egois!"
"Egois? Lo yang egois disini. Bukan gue. Semuanya berawal dari lo yang maksa kita liburan ke sini!"
"Kalo gitu, kenapa lo ikut ke sini?"
Pertanyaan Deno membuat Danang diam tak berkutik. Kerah kaos Danang, Deno hempaskan. Nafas Deno masih memburu, memijit pelipisnya pelan.
Aku dan yang lain hanya bisa diam menatap perdebatan Danang dan Deno. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, lagi-lagi suasana kembali mencekam di bawah lampu tamaram berwarna kuning.
Repa yang selalu jadi penengah kini ikut diam. Kalut dalam masalah kami.
"Kalo itu mau lo. Besok kita pulang!"
Perkataan Deno membuat kami terkejut, begitupun dengan Danang. Deno biasanya selalu kukuh dengan apa yang dia mau.
"Beneran Den?" Repa menatap Deno tak percaya. Pasalnya Deno, anak yang keras kepala dan paling sembrono di antara kami.
"Iya, gue muak terus disalahin terus sama si Danang!" Deno menatap sinis Danang. Rupanya dia masih sedikit memendam rasa kesal kepada Danang.
__ADS_1
"Bagus kalo lo merasa bersalah. Dan makasih!"
Danang balas melirik sinis Deno. Dapat aku lihat, ketakutan di mata Danang sekarang hilang. Membuat ku juga tanpa sadar menghela nafas menatap teman-temanku.
"Jadi malam ini kita facking?"
"Iya Sa, nanti gue bantuin lo!" Repa menepuk bahu Sesa, membuat Sesa tersenyum mengacungkan jempolnya.
"Kalo gitu sekarang kita facking, gue gak mau kita lama-lama. Pagi-pagi kita harus udah balik ke Jakarta."
Danang bangkit, menatap kami satu persatu. Benar apa yang dikatakan Danang, lebih baik kami segera mengemasi barang-barang kami. Aku juga harus memberitahu nenek sebelum kepulanganku.
Aku dan yang lainnya mengikuti langkah Danang, sampai perkataan Sari menghentikan langkah kami semua.
"Kita semua gak bisa pulang dari sini!"
"Maksud lo apa Sar?!" Danang menatap Sari tajam, memegang kedua bahu Sari.
"Kuda lumping?" Aku menatap Sari, meminta penjelasan. Apa yang selama ini aku dan yang lain tak tahu mengenai yang Sari tahu.
"Maaf, gue gak bisa nyegah kalian buat makan masakan nenek nya Dara. Gue masih jadi penakut buat bilang ke kalian, bahwa kita udah gak bisa pulang lagi setelah malam jum-at keliwon."
"Jadi maksud lo kita gak bisa pulang ke jakarta?" Sesa menyentak tangan Sari, menatap Sari tak percaya. Raut kemarahan jelas terlihat dari wajah Sesa.
"Bercanda lo gak lucu Sar. Kalo mau nakutin gue seharusnya bukan kayak gini!"
"Gue gak nakutin lo." Sari menatap kami satu persatu. Meyakinkan kami dari netra matanya.
__ADS_1
"Kalo gak nakutin terus lo mau apa dengan ngomong kayak gitu. Lo juga Nang, jangan diem aja. Lo tadi yang ngotot pengen pulang, setelah Sari bilang kayak gitu sekarang lo diem." Sesa meluapkan semua kekesalannya kepada kami semua. Ya, kurasa disini Sesa yang paling tertekan di antara kami. Sesa selalu memiliki rasa takut.
"Kalian semua tahu gue bisa liat apa? Gue tersiksa, kemana pun gue pergi mereka selalu ngikutin gue, mereka mau ambil jiwa gue!" Sari berteriak.
Aku diam, menatap Sari yang sekarang menangis. Kami terpaku bersama luapan emosi Sari. Selama ini, kami lupa dengan Sari yang bisa melihat segalanya. Kami lupa yang benar-benar ketakutan di sini adalah Sari.
"Maaf, gue juga mau pulang. Dari awal gue udah bilang lebih baik kita puter balik. Kita semua udah terikat di sini. Kita semua udah terikat sama kuda lumping!" Mata berkaca-kaca Sari menatap kami semua penuh keputus asaan.
"Gimanapun kita harus pulang dari sini. Disini nggak aman buat kita semua. Pasti lo tahu caranya Sar?" Danang memegang kedua bahu Sari penuh harapan.
"Maaf Nang, gue gak tahu! Kita udah masuk alam ghaib. Kampung ini sebenernya udah gak ada!"
"Nggak ada?"
"Maaf, gue baru sadar setelah satu hari kita di sini. Maaf, gue gak bisa nyegah kita buat pulang."
"Nggak bisa. Lo pasti bercanda kan Sar? Kenapa lo kayak ngebodohin gue? Seharusnya lo bilang kemarin waktu Danang pengen pulang. Kalo lo bilang gue gak akan keras kepala!"
Deno menatap Sari dengan penyesalan, matanya menatap ke bawah, menutup wajahnya frustasi.
"Sar, coba lo cari tahu caranya kita bisa pulang dari sini?"
"Maaf Dar, gue gak bisa. Yang mata batinnya kebuka di sini cuma gue. Energi nya nggak cukup kuat buat gue tahan kita dari mereka waktu portalnya ke buka!"
Pegangan tanganku pada Sari terlepas. Kami semua menghela nafas penuh keputus asaan. Apakah semuanya akan berakhir seperti ini?
"Gimanapun caranya kita harus pulang!" Ucap Sesa penuh penekanan.
__ADS_1
"Siapa yang mau pulang!"
Nafasku tercekat, menatap Nenek Damar di lawang pintu dengan pakaian hitamnya.