Tanjung Merah

Tanjung Merah
4


__ADS_3

Jantungku semakin berdetak kencang ketika mereka masih menatapku tajam, enggan memalingkan tatapan buasnya.


Entah kenapa aku semakin memajukan langkahku, menghampiri mereka. Rasa penasaranku semakin membuncah besar. Kini mereka tertawa lagi bahkan semakin keras dengan terus menatap ku, seolah aku adalah lelucon untuk mereka.


Nada lagu sekarang dimainkan, gendang itu di pukul keras. Orang-orang menari-nari tak sadarkan diri, mereka seakan lupa dengan sekitar. Ada apa ini?


Aku berada persis di sekitar mereka yang sedang menari dengan penuh tawa yang semakin keras. Membuat gendang telingaku berdengung kesakitan.


Sesuatu mengalir dari celah-celah telingaku. Darah. Telingaku mengeluarkan darah, sampai menetes pada leher ku. Membuat leher ku menjadi sakit,


teramat sakit sampai aku pun sudah tak sanggup mengeluarkan suara ku.


Dengan palan ku angkat kepalaku, pandanganku hanya pokus kepada para pemain yang sedang memakan serpihan kaca. Mereka seperti tak merasakan sakit dan terus memakannya sampai aku melihat leher mereka mengeluarkan darah. Sama seperti ku, leher ku ikut mengeluarkan darah.


Orang-orang yang berada disekitarku makin tertawa dengan kerasnya, mereka tak lagi melihat ku tapi para pemain Kuda Lumping itu.


Tanpa bisa ku cegah kaki ku dengan sendirinya menghampiri para pemain Kuda lumping itu. Menghampiri mereka tanpa takut terluka dengan larian kencang mereka. Hingga sampailah kaki ku berada di tengah-tengah mereka semua, di tengah para pemain Kuda Lumping itu.


Tubuhku bergerak sendiri, jiwaku seakan mau copot dari raga nya. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. Melihat bagaimana pemain kuda lumping yang tengah menunggangi kuda mainan itu berhenti, seiring dengan tarian dan musik gendang yang juga ikut berhenti, mereka semua menatapku.


Sangat takut, tubuhku menggigil ketakutan, leher ku sakit, membuat suara ku tertahan. Dalam tangisan aku menatap Sari dibawah pohon beringin besar di tanah merah kawasan kuburan. Dia hanya diam menatapku tanpa berniat menolong ku. Rasa ingin menghampirinya membuatku sekuat tenaga berlari, melepaskan belenggu yang menjerat ku. Aku berlari menghampiri Sari, dan pemain kuda lumping itu juga berlari mengejarku. Aku lupa, mereka suka warna merah di sekitar leher ku.


Melihatku berlari Sari masih diam, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Tangannya menjulur ke arah dimana aku berada. Membuatku tanpa sadar tersenyum.


Dugaan ku salah, nafasku tercekat. Sari mencekik leher ku, menambah kesakitan yang tak sanggup aku katakan.

__ADS_1


•••


"Dara...! Dara bangun...!"


"Hah... hah... gue mimpi buruk Sar!" Dara menggenggam tangan Sari erat. Nafasnya memburu, keringat bercucuran disekitar pelipisnya.


"Minum dulu Dar!"


Aku menegak habis air dari Sari, nafasku masih memburu, degup jantungku berdetak dua kali lipat lebih cepat. Tanpa sadar aku menyentuh leher ku, rasa sakit dengan darah yang terus berceceran membayangi ingatanku.


"Dar, lo gak papa?"


"Gue sekarang lagi kenapa-kenapa Sar?"


"Dar, ada baiknya kita balik lagi ke Jakarta!"


Aku tertegun mendengar Sari mengatakan itu. Liburan kali ini memang terasa tidak beres. Dalam beberapa menit itu aku dan Sari hanya diam dalam keterpakuan, tenggelam dalam pikiran kami sendiri. Sampai, Sesa menyadarkan kami.


"Halo gays...! Pada ngebo lagi nih!" Sesa dan Repa berdiri di depanku dan Sari. Mereka sudah tampak segar lagi setelah ksmarin menempuh perjalanan panjang.


"Kalian belum pada mandi nih?" Repa menatap aneh aku dan Sari.


"Gue udah. Dara yang belum!"


Ucapan Sari tanpa sadar membuatku menatap tubuhku dan mereka bertiga bergantian. Memang benar, disini terlihat aku sendiri yang belum berganti pakaian.

__ADS_1


"Tumben lo bangun kesiangan Sar? Cepet mandi, dari tadi si Deno ngerengek pengen jalan-jalan di sekitar kampung!" Repa menepuk pelan bahuku.


Aku mengangguk, sedikit meremas rambutku sebagai bentuk pelampiasan dari kacaunya pikiranku. "Iya, kalian bisa pergi duluan. Nanti gue nyusul!" Senyum baik-baik ku saat itu kutunjukan. Seolah-olah aku memang bangun kesiangan.


"Kalo gitu kita duluan ya!" Sesa menarik tangan Repa dan Sari, menutup pintu itu pelan. Meninggalkan ku seorang diri di kesunyian pagi.


Jendela kecil di sampingku membuat perhatianku teralihkan. Sorot dari matahari yang menyengat tidak membuatku gentar ketika menatapnya. Disana, di tanah merah kawasan kuburan, dibawah pohon beringin besar, ada seorang anak kecil bersama kera berdiri di sana.


Bulu kunduk ku meremang, segera kuputuskan tatapan ku. Menutup tirai dari jendela kecil di depanku. Ada baiknya aku mengabaikan semua keanehan yang ada.


"Dara mana Rep?" Sosor Deno mendapati Dara bersama mereka.


"Dia lagi mandi!"


"Mandi? Yang bener aja lo, si Dara mana mungkin mandi siang. Orang dia selalu mandi paling pagi!" Deno mengelak, lelucon dari Repa pagi ini sama sekali tidak lucu.


"Sotoy lo. Terserah Dara dong mau mandi kapan!" Sesa menoyor kepala Deno.


"Iya... iya... kebiasaan banget si Sa, selalu noyor kepala gue. Tuh toyor aja kelapa biar lo puas." Gerutu Doni mengusap kepalanya pelan. Membuat mereka sejenak tertawa diatas diamnya Danang.


"Udah lah. Lo semua jangan ketawa kayak gini. Telinga gue sakit!" Sentak Danang menatap semua temannya tak suka.


"Eh Nang. Lo kenapa? Gak tidur semaleman?"


"Iya Sa. Anak itu emang nggak tidur. Lo liat aja mata panda nya!" Ejek Deno tanpa balasan berarti dari Danang. Danang bergumam lirih, hanya bisa di dengar Sari yang kebetulan duduk disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2