Tanjung Merah

Tanjung Merah
5


__ADS_3

"Nek, ini kita mau kemana?"


Aku dan teman-temanku menatap Nenek. Tujuan kami tadinya hanya ingin berkeliling-keliling kampung lebih dulu, tanpa ditemani Nenek.


"Kita mau silaturahmi ke tetangga-tetangga Nenek di kampung!"


"Gak papa Nek. Nanti nenek kecapean, biar kita silaturahmi sendiri aja!" Aku menatap teman-temanku, meminta dukungan mereka.


"Ndak bisa Nduk. Nenek temanai kamu sama yang lain. Atau kalian ditemani Asih saja ya!"


Aku menatap teman-temanku, mereka semua mengangguk. Lebih baik kami ditemani Asih yang memiliki umur tak jauh dari kami. Dan tanpa aku sadari, Danang membesarkan pupil matanya merasa keberatan.


"Iya Nek. Dara takut Nenek nanti kecapean!"


"Ya sudah. Asih kamu temani mereka ya Nak!" Nenek menatap Asih yang hanya mengangguk. Aneh, aku sama sekali belum pernah mendengar suara Asih.


Setelah mengatakan itu Nenek pergi meninggalkan kami bersama Asih. Perempuan itu tanpa kata berjalan mendahului kami. Membuat ku dan temanku kebingungan, mau tak mau mengikuti setiap langkah perempuan itu.


Perjalanan hanya di isi celotehan Deno dan Sesa. Kami semua hanya diam, begitupun dengan Danang. Dia hanya memegang ujung baju Deno, dari tadi pagi Danang terlihat berbeda. Dia ketakutan.


Cukup banyak rumah yang kami datangi. Sekarang hanya tersisa sebuah gubuk kecil di dekat tanah merah kawasan kuburan. Menurutku gubuk itu tidak bisa di sebut rumah. Terlalu tidak berpenghuni dan juga kecil, menambahkan kesan mistis dengan pintu yang digembok dari luar.

__ADS_1


"Asih, apa rumah itu berpenghuni?" Aku memberanikan diri bertanya kepada Asih. Tanpa dapat kami duga Asih akan menjawab pertanyaanku.


"Rumah itu kosong, sudah lama tak di huni oleh orang." Jawab Asih singkat tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Suara Asih membuat kami merasakan hawa dingin. Pantas saja Asih jarang berbicara.


Aku memelankan langkah ku, rasa penasaran membuatku terus menatap gubuk kecil itu lamat-lamat.


"Dar, ayo! Jangan buat rasa penasaran lo itu ngebuat kita semua celaka!" Danang menarik tanganku ketakutan. Aku dan Danag berjalan paling belakang, mengabaikan Deno dan yang lainnya menikmati tour kecil ini.


"Celaka gimana Nang?"


Danang sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Wajahnya fokus ke depan mendengarkan setiap perkataan Asih mengenai Kampung ini. Kampung Tanjung Merah.


"Nang semalem gue ngimpi aneh. Di dalem impian gue, ditanah merah kawasan kuburan itu...!"


Asih menatapku lamat-lamat, membuat kami menghentikan perjalanan kami. Bagaimana dia bisa mendengar perkataan ku dan Danang di depan sana.


"Jangan pernah singgung apapun mengenai Kampung ini. Ingat, kalian semua itu disini hanya tamu, cukup tutup mulut kalian, ikuti apapun yang nenek dan aku katakan. Maka kalian akan selamat!"


Kami semua terdiam, dapat kurasakan nafasku dan Danang tercekat. Sesa tanpa sadar mengeratkan cekalan tangannya pada Repa. Bila di ingat Sesa yang paling takut dengan hal mistis diantara kami


"Kenapa?"

__ADS_1


Aku berjijit kaget saat Sari mengeluarkan suaranya Dia dari tadi hanya diam menebalkan ekspresinya. Aku lupa, bahwa Sari itu Indigo.


Tanpa menjawab perkataan Sari, Asih kembali melangkahkan kakinya. Berjalan seperti semula seperti tidak terjadi ada apa-apa diantara kami dan dirinya barusan. Dan mengenai mimpiku, ku rasa Asih benar. Lebih baik mereka semua tidak tahu mengenai mimpiku. Apalagi dengan Danang yang sekarang bersikap aneh.


"Besok gue mau lihat sawah di sini ah!"


Deno membuka obrolan diantara kami. Setalah kurang lebih 3 jam kami berjalan-jalan mengitari kampung, hanya Deno yang masih terlihat bersemangat. Dia sama sekali tidak terganggu dengan apa yang Asih katakan, berbeda dengan Sesa yang mulai merasa tak enak.


"Sa, hapus jauh-jauh pikiran buruk lo. Disini nggak ada apa-apa. Nanti kita lihat sawah sama Deno dan yang lain!" Repa menepuk pelan tangan Sesa, membuat Sesa bernafas lega.


"Maaf ya gays! Kalian tahu sendiri kan gue yang paling parnoan." Sesa menatap kami tak enak.


"Gak papa ko Sa. Mungkin gue habis kecapean jadi kebawa mimpi kemana-mana!" Aku terkekeh menautkan jari jemari ku.


Sesa kembali tertawa dengan lawakan Deno si mulut lemas. Aku melihat Danang dan Sari yang banyak diam sekarang. Tatapanku ku alihkan menatap Repa, dia yang paling dewasa di antara kami setelah Danang. Ku rasa perkataannya untuk Sesa sedikit membuatku tenang dan ragu di saat bersamaan.


"Gue, mau ke depan dulu ya. Gue mau cari jaringan!" Sari berdiri, menatap kami semua.


"Gue ikut Sar. Gue lupa belum nelpon Ibu gue!" Aku berdiri mengikuti Sari. Meninggalkan keempat temanku yang lain di ruang tamu.


"Iya, pergi aja. Nanti kabarin gue kalo lo nemu tempat jaringan internet. Maaf ya, soalnya di rumah nenek lo jaringannya gak ada!"

__ADS_1


Teman-temanku tertawa mendengar perkataan si mulut lemas Deno. Ditambah delikan khas ku bila Deno sudah berulah dnegan mulutnya.


"Iya, nanti gue cariin. Sekalian bawa tempatnya ke elo." Aku berlalu pergi menarik tangan Sari. Mengabaikan teriakan Deno yang semakin membuatku jengkel.


__ADS_2