
"Danang kemana?"
Aku menatap teman-temanku satu persatu. Setelah pertengkaran yang terus berlanjut kemarin malam, kami memutuskan menyudahi semuanya. Berusaha menikmati liburan yang semestinya. Bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi.
"Gak tahu, tadi dia bilang mau cari angin dulu!"
Deno menggerakan bahunya acuh. Anak satu ini seperti masih sedikit kesal dengan emosi Danang yang membuncah.
"Oh, oke. Kalo gitu rencananya sekarang kita mau apa? Kayaknya Nenek gue juga belum balik. Dari pagi juga gue nggak ngeliat Asih di rumah."
"Kita kan mau keliling liat sawah, sama liat para petani."
"Iya. Gue udah gak sabar ngeliat mereka bertani di sawah!"
Deno bangkit dari duduknya. Mengalihkan asistensi kami kepadanya. Disini Deno yang paling menikmati liburannya.
"Iya, tapi kita tunggu Deno dulu!" Angguk Repa.
"Gue mau kedepan dulu!" Sari berdiri, meninggalkan kami semua dengan keterdiaman menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Sari semakin pendiam, setalah kami memutuskan untuk menikmati liburan disini. Kemarin malam, Danang meminta untuk pulang dalam kemarahan tanpa kejelasan yang pasti. Ditambah dengan Sari, pemikirannya saat itu sama dengan Danang.
"Gue mau pulang. Sebelum kita terjerat sama semuanya. Disini nggak aman!"
Perkataan Sari membuat hati kami sedikit memiliki perasaan tak enak. Dia bisa melihat segalanya, dia bisa tahu apa yang orang lain nggak tahu.
Hingga kebanyakan dari kami memilih menetap sampai waktu kepulangan kami sembilan hari lagi. Membuat Sari dan Danang ikut menerima menikmati liburan dengan terpaksa, mencoba membuat semuanya baik-baik saja.
•••
Danang bangkit berdiri meninggalkan teman-temannya. Dia merasa muak teman-temannya memilih menikmati liburan mereka dari pada kembali pulang.
__ADS_1
Jalan setapak sudah Danang lalui sedari tadi, sama sekali tidak ada jalan dengan batu kerikil. Sesekali warga kampung juga menyapa Danang. Membuat pemuda itu tersenyum ramah membalas sapaan mereka.
Langkah kaki Danang terhenti, dari jauh penglihatannya bisa menatap segerombolan orang di dekat pohon beringin besar di kawan kuburan. Rasa penasaran membuat Danang mendekat, menatap penuh penasaran. Sampai telinganya mendengar suara gendang di pukul, nada kuda lumping seperti suara timer Deno terdengar.
Tanpa sadar keringat dingin semakin merembes keluar dari pori-pori, membuat Danang bercucuran keringat bercampur gugup.
Senyap. Nada itu dihentikan, salah satu dari mereka menghampiri Danang. Membuat Danang semakin dilanda ketakutan.
"Bade naon nya Jang?"
"Ah,, nggak pak. Saya cuma lewat aja!" Danang tergugu, menatap bapak berjenggot di depannya.
"Hente sakantenan bade mampir?"
"Memangnya bapak sedang apa?" Tenggorokan Danang tercekat, ragu bertanya kepada sosok di depannya.
"Kuda lumping!"
"Sepertinya saya sudah ditunggu sama teman-teman saya pak!"
"Diantosan? Bapak juga diantosan."
Danang terdiam, menatap bapak berjenggot di depannya yang semakin menatap nyalang Danang. Perasaan Danang sama sekali tak enak melihat tatapan itu.
"Ayo, teman-teman bapak tos ngantosan!"
Bapak berjenggot itu tersenyum, menarik Danang menghampiri segerombolan orang dengan alunan musik gendang yang dimainkan.
Kaki Danang berjalan semakin dekat, dari sini tepat di kerumunan Danang bisa melihat. Nafas Danang tercekat, tubuhnya terpaku menatap semua pemandangan yang ada. Para penonton kuda lumping itu kesurupan, mereka semua tidak mempunyai kesadaran. Menonton pertunjukan kuda lumping yang dimainkan oleh anak seusianya.
Pawang mereka berjalan membawa seekor ayam, mengitari sosok kuda lumping itu. Bisa Danang lihat dengan jelas, ayam berwarna hitam dilemparkan ke atas, membuat kedua kuda lumping itu saling berebut mendapatkan sang ayam. Sampai salah satu diantaranya menang. Ayam itu di angkat tinggi-tinggi, dalam hati Danang menghitung, dalam hitungan ketiga kepala ayam itu copot dari badannya setelah lehernya ditarik dan di gigit oleh pemain kuda lumping itu.
__ADS_1
Nafas Danang kembali tercekat, pemain kuda lumping itu meminum darah yang menetes dari si ayam. Sama sekali tidak membiarkan satu tetes darah terbuang sia-sia.
Diletakan nya, ayam tanpa kepala itu ke tanah. Para pemain kuda lumping itu kembali saling mengitari. Sampai Danang melihat pemain kuda lumping itu berhenti untuk menatapnya.
"Sia bakalan paeh!" (kamu akan mati!)
Danang menatap nenek Damar terkejut. Pikirannya sama sekali tidak memikirkan mengapa Nenek Dara ada disini. Yang Danang pikirkan, dia lupa menggunakan kaos berwarna merah.
Danang berbalik, napasnya memburu disetiap langkah, Danang berlari sekuat yang ia bisa di bawah kejaran pemain kuda lumping. Keringat berceceran memenuhi pelipis, sampai menetes-netes. Sesekali kepalanya menengok, menatap pemain kuda lumping yang semakin cepat mengejarnya. Sampai beberapa meter Danang melihat Sari duduk di teras rumah Nenek Damar.
"Sari, cepet masuk!" Teriak Danang, bak kesetanan.
Brak...!
Tanpa sadar pintu rumah nenek Dara, Danang banting kuat-kuat. Tangannya masih memegang tangan Sari dengan gemetar mengabaikan teman-temannya yang lain dengan keterkejutan mereka melihat Danang yang berantakan.
"Nang, lo kenapa?"
"Gue...!" Danang menatap Sari lekat-lekat, nafasnya masih memburu. "Seharusnya lo udah tahu Sar, kenapa gue kayak gini?"
Sari diam, memilih menutup mulutnya rapat-rapat. Semuanya sudah terlambat, mereka menginginkannya dan ke lima temannya.
"Nang, lo kenapa?" Aku menatap Danang yang tampak berantakan.
"Dar, maaf kayaknya gue milih balik, ikut atau nggak ikutnya kalian sama gue!" Danang menatapku lekat-lekat. Kami semua diam, mendengar keputusan yang keluar dari mulut Danang. Baru kemarin malam Danang menyetujui menikmati liburan disini meski dengan paksaan. Apa yang membuat Danang berubah pikiran.
"O-ke. Nanti kita kumpul disini setelah lo bersihin badan lo dan nenangin diri lo!"
Danang mengangguk, dia berlalu pergi meninggalkanku dan yang lain. Kali ini Deno juga diam, sepertinya dia sedikit menyadari sesuatu yang salah di sini.
Kami semua kembali diam, bertanya kepada Sari sama saja memecahkan teka-teki. Rencana untuk menikmati liburan, seperti akan tandas begitu saja dengan masalah yang kembali datang.
__ADS_1