
"Nduk, nenek mau kenalin kamu sama Isah!"
"Isah siapa Nek?" Aku menatap heran, kami semua berkumpul sehabis makan, sedikit berbincang-bincang. Tak enak kepada nenek bila langsung pergi ke kamar.
"Isah, dia udah tinggal sama nenek dari lama. Orang tua nya meninggal, jadi dia tinggal sama nenek, kebetulan nenek juga tinggal sendiri."
Aku menatap perempuan di samping nenek lamat-lamat, perempuan itu juga menatapku. Merasa tak enak, aku memutuskan kontak mata kami. Memilih untuk menatap Sari. Dari tadi dia hanya diam, menatap takut disekitarnya.
"Kalo nenek nggak ada dan kalian butuh sesuatu. Kalian bisa tanya sama Isah."
"Makasih Nek, hmm omong-omong kamar mandinya dimana ya Nek? Saya kebetulan mau ke kamar mandi."
Danang mewakili kami yang enggan untuk bicara. Hari ini ku rasa cukup sampai di sini perbincangan kami.
"Kamar mandinya ada di belakang. Asih, antar Danang ke kamar mandi!"
"Makasih nek!" Danang pergi bersama Asih. Sangat kentara sekali bila wajahnya tengah menahan boker. Kasihan Danang, padahal yang makan banyak itu Deno, bukan dirinya.
"Besok, kalo kalian mau ke mana-mana kasih tahu nenek atau asih dulu ya."
"Iya Nek, Dara sama temen-temen Dara palingan juga maen di sekitar sini!"
Krett...!
Semuanya diam mendengar suara itu, jantungku berdetak kencang menatap Sari. Pasti dia tahu apa yang terjadi. Repa dan Sesa yang parnoan menatap takut dinding kayu di sekitar kami. Ah seperti dalam film horor saja. Hanya terdengar suara jangkrik ditengah keheningan malam.
__ADS_1
"Maaf ya, maklum ini rumah tua!" Suara Nenek mencairkan suasana.
"Mmm... Nek, boleh gak kita ke kamar sekarang. Dara mau istirahat dulu!" Aku menatap nenek tak enak, takut menyakiti hati beliau.
"Maaf ya Nduk, nenek lupa kalo kalian baru sampe. Yowes nggak papa kamu sama temen-temen kamu yang lain istirahat, kita bisa bicara besok. Ada yang mau nenek bicarain sama kalian."
Nenek pergi meninggalkan kami, tubuhnya yang masih sehat itu berjalan menjauh menuju kamarnya. Membuatku tanpa sadar bernafas lega
"Yuk ah, gue udah ngantuk seharian nyetir mobil. Sekarang kita tidur, besok kita ngumpul lagi buat seneng-seneng di kampung ini." Deno menguap lebar, merentangkan tangannya sambil berjalan mendahului kami.
"Ayo, kita juga perlu istirahat!" Repa berdiri, menatap silih berganti kami bertiga.
"Lo bener Rep!" Angguk Sesa.
"Asih, ini beneran kamar mandinya?" Danang menatap horor pintu kamar mandi di depannya. Ternyata kamar mandi milik nenek Asih berada di luar rumah. Menyeramkan sekali.
"Sih, jawab gue dong! Udah kebelet nih."
"Asih, lo...!"
Danang terdiam, Asih yang tadi di belakangnya sama sekali tidak ada. Hati Danang menjadi tak enak, melirik lampu kamar mandi yang mulai berkedip-kedip. Semilar angin berhembus kencang ditengah mencekam nya malam. Rasa ingin BAB tadi hilang, terganti oleh keringat yang bercucuran di pelipis nya.
Danang berlari kencang, telinganya berdengung penuh suara tawa. Matanya mengedar menatap sekitar was-was, menggapai kenop pintu, menutup nya cepat. Nafas Danang memburu, tubuhnya masih bekum rileks sepenuhnya.
Plak...!
__ADS_1
"Lagi nagapain Nang?"
Tanpa sadar Danang bernafas lega mendengar suara Deno. Mengusap peluh di pelipisnya.
"Dari mana aja lo? Lain kali jangan tepuk bahu gue!" Semprot Danang.
"Gue dari kamar mandi. Lah elo kayak abis dikejar setan aja." Cibir Deno.
"Kamar mandi? Barusan gue habis dari kamar mandi ogeb. Gue sendirian diluar sana!" Nafas Danang memburu, menunggu apa yang akan Deno katakan.
"Lo yang Ogeb. Kamar mandinya itu ada di dalem bukannya di luar."
Nafas Danang tercekat, menatap wajah menyebalkan Deno yang sedang mengejeknya. Yang benar saja, barusan dia pergi kemana?
"Den, tungguin gue!" Danang berlari menyusul Deno, melirik takut dinding-dinding kayu di sekitarnya.
"Lepasin tangan lo, gue geli dipegang sama cowok normal kayak lo!"
Telinga Danang seakan tuli dengan apa yang Deno katakan. Mereka sampai di depan kamar dengan tangan Danang yang masih memegang erat ujung baju Deno.
"Lepas ogeb, lo sekarang beneran kayak orang yang habis dikejar setan." Sungut Deno kesal, menyentak kasar tangan Danang.
"Gue emang habis dikejar setan!" Danang berjalan cepat merebahkan tubuhnya, menarik selimut menutupi semua bagian tubuhnya. Mengabaikan tatapan aneh Deno yang ikut berbaring di sebelah Danang.
"Harusnya Deno yang di kejar setan begini, bukannya gue!" Danang berbisik di balik selimut.
__ADS_1