Tanjung Merah

Tanjung Merah
13


__ADS_3

Aku makin terus memperhatikan sosok bertudung itu dengan intens,keringan dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhku,gigi ku bergemulutuk menahan takut.


Aku melihat sosok bertudung itu perlahan berdiri mengayunkan kapak nya kearah kakek.


Cruttt...


Darah seketika merembes keluar, kapak itu menghantam tubuh kakek dengan amat keras.


Aku melihat kakek,dia membuka matanya lebar dengan nafas menderu menahan sakit,aku melihat kakek sempat melirik ke dinding dimana aku bersembunyi.Hingga nafas itu perlahan-lahan mulai berhenti.


Sosok itu semakin mencabik-cabik tubuh kakek dengan kapak nya,dia memukul,mencabik tubuh yang sudah tak berdaya itu.Bau darah semakin menyengat.tubuh kakek makin tak terbentuk terutama,bagian dalam perutnya yang semakin terkoyak habis,hingga aku bisa melihat isi dalam perut kakek yang sebagian keluar dari dalam perut.


Seketika tubuhku membatu bau darah semakin menyengat membuat aku semakin pusing.Air mataku seketika merembas keluar, suara tangisanku makin terdengar,namun mulutku secara tiba-tiba dibekap oleh seseorang.


Tubuhku langsung membeku,aku masih menangis,perasaan ku bercampur aduk aku takut,bingung,dan masih banyak lagi.


"Shut...Jangan menangis"ucap suara seseorang dengan tiba-tiba di samping telinga ku.


Degg


Jantungku berdegup dengan amat kencang,aku menahan tangisanku,yang malah membuat hatiku semakin sakit.

__ADS_1


Perlahan-lahan ku tengok kan kepalaku dengan takut.


Aku melihat sosok Isah berada tepat di sebelahku.


Air mataku semakin merembes keluar,aku melihat Isah dia terlihat sedih namun pandangnya kosong dan dingin.


Aku tak tahu kenapa Isah sekarang bisa berada di sini.


Ku arahkan pandanganku,ku tengok kan lagi ke celah-celah dinding rumah kecil kakek.


Deg...


Aku tak melihat sosok bertudung itu lagi di sana,hanya tubuh kakuk kakek yang terkoyak berlumuran darah.


"Hilang"beo Isah


Trakk


Aku mendengar suara seperti seseorang menginjak ranting.


"Isah"gumam Dara khawatir.

__ADS_1


"Ayo lari Dara!"ajak Isah,menarik tangan ku berlari keluar menuju jalanan.


Kami,aku dan Isah berlari dengan amat kencang,sesekali ku tengok kan kepalaku ke belakang.


Aku melihat sosok bertudung itu juga berlari mengejar aku dan Isah dengan membawa kanpak tadi yang masih berlumuran darah kakek.


Nafasku semakin memburu keringat dingin semakin bercucuran dengan deras di sekujur tubuhku.Aku takut tubuh ku terjatuh ke jalanan.


Ku tengok kan kepalaku melihat sosok bertudung itu yang semakin dekat denganku dan Isah.


"Dara ayo cepat!"ucap Isah terdengar panik


Isah membantuku berdiri,ku rasakan kaki ku seperti terseleo.Sosok bertudung itu semakin dekat,ku arahkan pandangan ku,rumah nenek masih terlihat agak jauh.


Ku balikan tubuhku menghadap sosok bertudung itu, dia semakin dekat.Tak mungkin aku berlari dengan keadaan kaki ku yang keseleo.


Isah semakin terlihat khawatir dia terus menariku menjauhi sosok bertudung itu.


Aku bimbang melihat kaki ku,lalu ku edarkan pandanganku ke sekeliling, hingga aku melihat batu yang cukup besar.


Ku raih batu itu,dan ku lemparkan batu itu ke arah sosok bertudung itu hingga mengenai kepalanya.

__ADS_1


Sosok bertudung itu terjatuh,dia memegangi kepala nya.


Segera aku dan Isah berjalan dengan terseok-seok.Kami sampai di depan rumah nenek,sosok bertudung itu tak lagi mengejar aku dan Isah.


__ADS_2