
...
Manipulasi benda, manipulasi pikiran.
Sejauh ini hanya dua kemampuan itu yang aku ketahui, selain kemampuan bawaan dari telepati.
Kedua kemampuan tersebut selalu berhubungan dengan manipulasi, apakah ada hal yang berkaitan satu dengan yang lainnya?
Apa mungkin pula kemampuan kak Andre berkaitan juga dengan kata manipulasi?
Dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa kemampuan kami nanti akan berkaitan dengan ‘manipulasi’.
“Sayangnya, mungkin kita harus tetap kesana agar lebih leluasa dalam mencari jawaban yang kita cari. Kakek juga sepertinya tidak akan ikut, dia akan menunggu kita disini”, lanjut Gio.
“Oke, bagaimana jika besok pagi kita berangkat? Kita tidak dapat mengulur waktu lebih lama lagi”, kataku.
“Tenang saja di, kakek juga belum memberitahu kita kapan kita akan berangkat ke Amerika. Tetapi, gue setuju kalo kita gaboleh ngulur-ngulur waktu. Kalo bisa sekarang, kenapa harus besok?”
“Tapi sekarang udah malem, mau naik apa kita kesana?”, tanyaku.
Tiba-tiba muncul kakek Tony keluar dan berkata, “Hal itu biar kakek yang usahakan, kalian segeralah bersiap-siap saat ini juga”.
Terlalu sering, terlalu sering dia muncul seperti ini, mendadak. Tak bisakah dia muncul dengan wajar? Tidak selalu mendadak seperti ini.
Monas, Jakarta 19:07
“Ga nyangka gue kita sampe dengan cara yang seperti ini”, kata Gio.
“Ya, ternyata kak Anton kenal dengan kakek. Padahal gue kira mereka ga kenal satu sama lainnya”, balasku.
Benar, hanya sekejap mata saja kami sudah sampai disini. Kemampuan kak Anton benar-benar luar biasa. Ternyata kakek sudah menghubungi kak Anton dan menceritakan kepadanya bahwa kami ingin terlebih dahulu datang kesini sebelum kami akan pergi berangkat ke Amerika.
5 menit sebelumnya
“Kak Anton? Kenapa kakak ada disini?”, tanyaku kaget.
“Kenapa ya? Karena emang seharusnya kita ketemu disini, setelah kita sudah selesai di Monas. Kita akan berangkat dengan kakek Tony dan cucunya, Gio. Harusnya ini gue kasih tau waktu kita masih di restoran itu, tapi sayangnya kita malah diserang mendadak”, jelasnya.
__ADS_1
“Kak Anton berarti udah kenal sama Gio dong?”, tanyaku lagi,
“Emang kita udah kenal di, lo nya ga nanya sih daritadi, makanya ga gue ceritain deh. Gue kenal kak Anton juga dari kakek waktu gue berulang tahun untuk yang ke 17 kalinya”, dengan santainya Gio menjawab pertanyaanku.
“Ayok, sekarang satu-satu gue anter lo lo pada kesana”, kata kak Anton.
Monas, Jakarta 19:08
“Oh iya di, sebelum gue di teleportasi tadi kata kak Anton bilang dia bakal nyusul kesini”.
Kemampuan kak Anton itu memiliki suatu kelemahan, dia tidak dapat menteleportasikan manusia dengan jumlah lebih dari 1 pada saat yang bersamaan.
Aku belum tahu apakah dia dapat menteleportasikan benda dengan jumlah lebih dari satu pada saat yang bersamaan, ataukah dia tidak dapat melakukan hal itu.
Tidak lama setelah kami sampai, kami langsung berjalan tepat menuju ke bangunan Monas tersebut.
Tidak ada hal yang aneh, Monas tetap terlihat sama seperti sebelumnya aku kesini dari penglihatanku.
“Apakah ada yang terlihat berbeda buat lo gi?”, tanyaku pada Gio.
“Ga ada di, mungkin di pusatnya nanti baru kita bisa lihat perbedaannya”, jawab Gio.
Kami mencari jalan untuk masuk ke monumen nasional tersebut.
Setelah beberapa saat, akhirnya kami menemukan pintu masuk rahasia dipinggir monumen tersebut.
2 buah batu kecil yang ada di dekat monumen tersebut aku tekan dengan bersamaan.
Aku merasa ada yang aneh dengan dengan batu ini, terlalu mencolok.
Batu-batu lain yang ada disekitar sini memiliki pola yang sama, hanya 2 buah batu ini saja yang berbeda.
Dan ternyata firasatku benar, tak lama setelah kami tekan mendadak muncul sebuah jalan dari bawah.
Kami menyusuri jalan rahasia ini dengan perlahan.
Jalan ini tidak gelap, karena saat jalan rahasia ini muncul, deretan obor yang ada disamping jalan rahasia ini langsung menyala dengan sendirinya.
__ADS_1
Jalan ini memakai sensor angin, sangat simple tetapi juga sangat canggih.
Setapak demi setapak kami lalui, sudah beberapa menit kami melewati jalan ini.
Jalan ini berliku-liku dan panjang, yang dapat kami dengar sejauh ini hanyalah suara langkah kaki kami.
Sampai pada akhirnya, jalan ini memperlihatkan ujungnya, jalan terakhir ini hanyalah jalan lurus dan kami dapat melihat ujungnya.
Tak lama kemudian, akhirnya kami berdua sampai di tempat ini.
Tepat pada saat kami menjejakkan kaki di tempat ini, jalan yang barusan kami lalui tadi langsung tertutup setelah sebelumnya lampu obor yang merenangi jalan kami mati.
“Apa lo bisa lihat sesuatu gi? Gue tidak dapat melihat apa-apa semenjak jalan yang tadi tertutup”, tanyaku pada Gio.
Gio menjawab pertanyaanku dengan suara perlahan, “Ssst, sepertinya ada seseorang disebelah sana. Ah tidak, ada dua orang disana. Gue bisa lihat siluetnya”.
Akupun mendekat pada Gio dan ikut mengamati arah yang ditunjukkan olehnya.
Samar-samar, aku dapat melihat siluet yang ditunjukkan olehnya.
Seperti dua orang dewasa, yang satu lebih tinggi daripada yang satunya, dan yang satu lagi terlihat agak bungkuk.
Siapakah mereka? Apakah mereka juga ingin mencari jawaban di tempat ini?
Ataukah mereka Darkblessed?
Disaat aku sedang berpikir, kedua orang tersebut berjalan menghampiri kami.
Kami tahu karena bayangan mereka tersebut semakin lama menjadi semakin besar, dan juga suara langkah kaki mereka terdengar menjadi lebih jelas.
Gio mendekat padaku dan berkata, “Lebih baik kita bersembunyi dulu, lo ngumpet disana, gue disana”, sambil menunjuk arah tempat kami akan bersembunyi.
Akhirnya, kedua orang tersebut sudah berada di tempat kami berdiri tadi.
Tetapi kami masih belum dapat melihat mereka dengan jelas.
Sepertinya aku mengenal mereka, tapi siapa?
__ADS_1
...