
-Keesokan Harinya-
Kami bertiga berkumpul kembali di History Club.
Kali ini bukan hanya kami bertiga saja yang ada di ruangan ini.
Ada satu orang lain yang kelihatannya seperti pria paruh baya.
"Hai, maaf kalau aku baru bisa berkunjung kesini pada hari ini"
"Aku adalah dosen pembina kalian di club ini"
"Namaku adalah Goethe, dan Bless milikku adalah gravitasi".
Ternyata pria ini adalah seorang dosen sekaligus pembina kami di club ini.
"Bapak sudah tahu nama dan Bless milik kalian semua, sudah diberitahu oleh Tony"
"Gio, Substance. Adi, World. Lulu, Word"
Langsung setelah pak Goethe menyebutkan Bless milik kami semua, wajah Lulu menjadi seperti tidak senang.
Kami memang sebelum ini tidak mengetahui apa sebenarnya Bless milik Lulu.
Word, perkataan.
Mungkin pikiranku dalam hati juga termasuk perkataan?
Maka dari itu dia dapat membaca pikiranku.
Word. World. Mungkin saja kami berjodoh. Kalau melihat nama Bless kami yang cukup mirip.
"Hah! Mimpi!"
Lulu berkata dengan kencang dan membuyarkan lamunanku.
"Oke, cukup ya perkenalannya"
__ADS_1
"Besok kalian semua balik kumpul disini soalnya bapak mau ajak kalian semua untuk membuat artifak milik kalian sendiri"
Pak Goethe berkata dan mengambil sebuah benda untuk ditunjukkan kepada kami, "Benda ini lah yang namanya artifak"
Benda yang ditunjukkan oleh pak Goethe tersebut adalah sebuah benda silver seperti kepunyaan kak Anton dan kakek Tony.
Aku segera bertanya kepada pak Goethe, "Pak, bukannya benda itu cuna bisa kami miliki jika kami sudah menguasai Bless milik kami dengan baik?"
"Ya pak, kemarin sih kita dibilanginnya gitu", tambah Gio.
"Tidak ada salahnya jika kita coba terlebih dahulu kan? Toh, udah cukup mahir atau belumnya biar dilokasi saja kita cek besok", kata pak Goethe sambil tersenyum.
"Sekarang kalian pulang saja dulu, makan dan istirahat yang cukup. Kita akan bertemu lagi besok setelah jam pelajaran selesai di ruangan ini"
...
Kami semua kembali ke rumah.
Aku dan Gio sedang berjalan ke kamar kami masing-masing saat kami mendengar suara Lulu.
"Beres-beres cepetan, terus kumpul di ruangan tamu. Kita harus bicara".
Aku sampai ke ruang tamu dan melihat sudah ada Lulu dan Gio disana.
Aku taruh botol minumku dimeja, lalu ke sofa untuk duduk.
Aku berkata dengan nada suara yang perlahan.
"Lulu, apa yang mau kamu bicarakan kepada kami?"
Lulu menghela napas dan melihat kami berdua.
"Karena kalian sebelumnya sudah memberitahukan tentang kemampuan Bless kalian kepadaku, akan lebih adil apabila aku menjelaskan juga tentang kemampuan Bless milikku kepada kalian"
Kami berdua memasang telinga untuk dapat mendengarkan penjelasan dari Lulu dengan baik.
"Seperti yang sebelumnya sudah dikatakan oleh pak Goethe, nama dari Bless ku adalah Word"
__ADS_1
Lulu terdiam untuk sementara waktu dan melihat ke langit-langit ruang tamu.
"Untuk saat ini aku hanya dapat membaca pikiran orang lain saja, selama mereka terlihat dalam pandangan mataku selagi aku menggunakan kemampuanku".
Aku memang sudah menduga hal ini bahwa Lulu dapat membaca pikiran, seperti saat dia membaca pikiranku kemarin-kemarin.
Tapi sama halnya denganku, aku yakin kemampuan asli Lulu pastinya lebih dari hanya sekedar membaca pikiran saja.
Lulua menjentikkan jari jemarinya di meja.
"Sekarang kita bahas hal lain yang lebih penting, berapa angka di kolom Bless kalian saat ini?"
"Punyaku sekarang sih 78, lo Adi? Kamu Lulu?"
Setelah menatap ke layar sistem barusan Gio menjawab.
Aku juga menatap layar sistem milikku, dan angka yang tertulis adalah, "67.. Apa maksud dari angka tersebut Lulu?"
"56", jawab Lulu singkat.
Lulu terlihat berpikir sedikit, membuka catatan bukunya, lalu berkata.
"Semakin besar angka yang ada di kolom itu, artinya semakin mahir kita dalam mengendalikan Bless kita"
"Kalau angka sudah mencapai 100, kemampuan Bless kita dapat berevolusi seperti kemampuan lain yang pernah kalian lihat sebelumnya"
"Dan untuk membuat artifak, dalam catatan yang kulihat, jawabannya bervariasi. Ada yang hanya 40 sudah dapat membuat artifak, ada pula yang sudah 90 tetapi belum dapat membuatnya"
Lulu menutup kembali buku catatannya.
"Apapun yang terjadi besok, jangan berkecil hati. Kita masih pemula. Berusaha sebaik mungkin tanpa takut kalian membuat kesalahan"
Lulu langsung pergi meninggalkan kami berdua tanpa basa-basi lagi setelah mengatakan hal-hal tersebut.
Gio menepuk pundakku dan berkata, "Ternyata, dia cukup baik juga ya di, gue kira dia jutek".
Aku hanya tersenyum mendengar hal itu, dan akupun semakin bersemangat untuk melakukan ritual pembuatan artifak.
__ADS_1
Sejauh yang sudah kuketahui, bila kita dapat membuat artifak, sudah hampir pasti kemampuan kita akan berevolusi.
...