Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 5 - Extractor


__ADS_3


“Tunggu sampe lo tahu asal mulanya, baru lo bisa bilang hal ini menarik!”, sahut kak Anton.


Yah, lagi-lagi dia membaca pikiranku. Benar-benar kemampuan yang menyusahkan, tetapi mengasikan juga kalau aku sudah dapat menguasainya, pikirku.


“Ngomong-ngomong kak”, balasku, “dimanakah tempat itu? Apa hubungan kemampuan kita dengan tempat itu?”


“Kalo ngomongin tempat itu, kita harus tahu asal mulanya dulu. Asal mula dari kemampuan yang kita miliki, walaupun lo belum bisa hahaha”.


“Ya ya lucu, terus bagaimana caranya supaya gue bisa menguasainya?”


“Lo perlu belajar sama seorang Extractor, dialah yang dapat menarik kemampuan kita keluar”.


“Jadi, gampang dong? Tinggal cari Extractornya, terus beres”, ucapku.


“Buat info lo aja, seorang extractor itu di dunia ini hanya ada 4 orang. Mereka menetap di benua yang berbeda di bumi ini”, ucapnya menyela.


“J-ja-jadi, di Indonesia, tidak, di Asia hanya ada 1 Extractor?!”


Luar biasa! Pikirku. Tanpa aku sadari, aku berteriak dan otomatis aku menjadi pusat penglihatan para tamu di Oishi-Sushi.


Refleks, akupun meminta maaf dan melanjutkan pembicaraanku dengan kak Anton.


“Jadi, bagaimana kita mencarinya?”, bisikku. “Mencari Extractor itu”.

__ADS_1


“Dulu sih sebenarnya gue sama kakak lo itu ga tahu kalo kita punya kemampuan itu, tapi tiba-tiba ada seorang kakek-kakek yang datang ke kita. Dia bilang, kalian memiliki kemampuan, kenapa tidak dikeluarkan?”


“Terus gimana kak?”, aku menyela perkataannya.


“Gue masih ngomong woi, dengerin dulu dong”, balas kak Anton.


“Oiya iya maaf-maaf, karena terlalu penasaran gue jadi keceplosan nanya”.


“Abis itu kakek-kakek itu ngomong, kalo mau kemampuan kalian dikeluarkan datanglah ke Jakarta bulan depan. Setelah berbicara, kakek-kakek itupun berlalu”.


“Nah, gue kira tadinya tuh kakek-kakek cuman bercanda doang, yodah omongan dia ga kami gubris”.


“Loh kalo gitu, kok kak Anton sama kak Andre akhirnya bisa ngeluarin kemampuan itu?”, tanyaku.


“Jadi tempat itu adalah Monas kak?”, ujarku tak percaya.


“Ya, tepat sekali. Coba kasih tahu gue apa yang lo ketahui tentang Monas”, tanya kak Anton.


“Hmm Monas itu adalah simbol dari kebesaran negara Indonesia dan juga menandakan kemerdekaan Indonesia kak”, jawabku singkat.


“Ya, lo emang ga salah, tapi lo tahu ga kenapa Monas itu dibangun? Pasti engga kan? Nah mendingan gue kasih tahu sekarang aja alasannya kenapa”.


Sial, belom juga gue jawab bisa-bisanya dia bilang gue gatau. Yah, walaupun gue emang bener-bener gatau sih, hatiku berbicara.


“Udah denger dulu, di dunia ini ada beberapa tempat yang mengandung medan khusus. Tempat itu mengeluarkan Force yang dapat membuat orang-orang memiliki kemampuan ini”.

__ADS_1


“Jadi kemampuan kita ini asalnya dari medan tersebut?”


“Ya”, jawabnya singkat. “Tapi itu dulu, sekarang kekuatan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang pernah memiliki kemampuan tersebut, alias reinkarnasi dari orang-orang jaman dulu”.


Menarik sekali, gumamku.


Ternyata reinkarnasi itu memang benar-benar ada.


Semua hal yang diceritakan oleh kak Anton benar-benar membuatku takjub, membuatku tidak percaya. Tapi, pertanyaan yang kumiliki masih banyak, masih ada segudang, ah tidak, bergudang-gudang pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada kak Anton.


Hal ini membuat darahku bergejolak, membuatku sangat bersemangat sekali.


….


.


.


.


NB#


Ahem.


Mowns.

__ADS_1


__ADS_2