Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 26 - Grade C!


__ADS_3

...


Sesudah semua itu berakhir, aku dapat merasakan udara disekitarku menjadi kembali normal.


"Kalian sudah dapat membuka mata kalian dan lihatlah apa yang berada di tangan kalian itu".


Aku membuka mataku dan melihat Gio juga Lulu sedang melihat ke arah benda yang ada di tangan mereka masing-masing.


Kudekatkan tanganku ke tubuhku.


Jantungku kembali berdegup dengan kencang dan tak beraturan.


Artifak!


Ini adalah artifak yang berhasil kubuat, yang berhasil kami buat!


Aku dapat merasakan adanya koneksi antara artifak itu dan tubuhku.


"Selamat, sekarang kalian sudah menjadi seorang Bless yang seutuhnya!"


Pak Goethe datang dan menghampiri kami.


Beliau lalu menambahkan, "Sekarang kalian lihat sistem Bless kalian, pasti akan ada perubahan disana".


Kubuka sistem Bless ku dan mencari apa perubahan yang dimaksud oleh pak Goethe.


"Grade C - 95 poin", itulah yang sekarang tertulis di kolom Bless ku.


"Grade C - 95 poin? Kita punya hal yang sama!", sahut Gio.


"Hehehehe, Grade C - 99 poin"


Gio dan aku melihat kearah Lulu yang sedang tertawa.


...


Dalam perjalanan pulang, pak Goethe memberitahu kami bahwa kami harus selalu membawa artifak milik kami kemana pun kami pergi.

__ADS_1


Setelah artifak ini berhasil kami buat, kami semua merasakan lelah yang berlebihan.


Jadi, kami memutuskan untuk langsung kembali dirumah diantar oleh pak Goethe.


Pak Goethe menekankan sesuatu sebelum beliau pergi.


"Setelah kalian selesai beristirahat, kalian dapat kembali berlatih dan lihat perubahan apa yang terjadi di sistem kalian".


Lulu membuka pintu rumah dan menyalakan seluruh lampu.


"Aku merasa sangat lelah, lebih baik kita langsung istirahat saja seperti kata pak Goethe. Besok kita akan berlatih bersama di taman belakang".


Dia menaiki tangga dan meninggalkan kami berdua dibawah.


"Bro, gue juga cabur duluan ya ke kamar. Rontok-rontok nih badan rasanya".


Gio menepuk pundakku selagi dia berjalan melewatiku.


Aku membalikkan badanku dan melihatnya masuk ke kamar.


Walaupun hal tersebut hanyalah sebuah ilusi, tetapi Gio berani untuk mengorbankan dirinya demi menyelamatkanku.


Tanpa ada seorangpun yang memberitahukanku, aku tahu bahwa jika seorang Bless memaksakan diri untuk menggunakan kemampuan yang melebihi kapasitasnya, akan ada akibat buruk yang terjadi.


Aku masuk ke dalam kamarku dan mengangkat selimut di kasurku, bersiap-siap untuk tidur.


'Ah, aku juga merasa sangat lelah hari ini'


Dan akupun menutup mataku.


...


Aku membuka mataku dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Kupanggang roti san menyeduh kopi untuk memulai hari ini dengan energi yang cukup.


Langkah kaki terdengar dari mendekati dapur.

__ADS_1


"Aku juga mau dong rotinya, buatin juga ya".


Lulu membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol jus apel.


"Oke, sekalian deh porsi untuk Gio kubuat juga", jawabku ringan.


Tak lama kemudian roti panggang sudah tersedia si ruang tamu.


Saat aku dan Lulu sedang menikmati sarapan kami berdua, Gio datang dengan rambut yang berantakan dan berkata, "Waaah, kalian berdua bangun pagi-pagi sekali".


"Sana ambil air, lalu makan disini. Roti dah dibikinin", aku berkata sembari menunjuk ke arah dapur.


Selesai sarapan, kami berkumpul di taman belakang untuk berlatih.


Menggunakan kemampuanku, aku dapat merasakan adanya perbedaan.


Aku dapat merasakan tenaga dari Bless ku bertambah dengan signifikan.


Begitupula dengan Gio dan Lulu, mereka mengatakan hal yang sama.


Aku yakin ini adalah efek yang kami dapatkan setelah membuat artifak dan mencapai Grade C.


...


.


.


.


#NB:


Pendek-pendek yang penting rutin ya :)


Makasiih


Mowns.

__ADS_1


__ADS_2