
…
Tak lama setelah kejadian itu, akupun bergegas lari menuju gagang telepon.
Kemudian, aku memutar nomor handphone kakak.
Tut.. Tut.. Tut..
Tidak ada jawaban. Kucoba untuk menelepon sekali lagi.
Tut.. Tut.. Tut..
Naas, hasilnya tidak berubah.
Tapi, aku tidak ingin menyerah.
Aku berinisiatif untuk menelepon langsung ke tempat kosnya, karena aku sudah beberapa kali telepon kesana.
“Halo?”
Terdengar suara dari seberang sana.
“Lucky… diangkat!”, ucapku dalam hati.
“Halo, kak Andrenya ada?”, tanyaku.
“Wah, gue kurang tau nih bos, daritadi pagi sih dia pergi keluar, belum balik-balik sampe sekarang. Gue gatau dia perginya kemana”, ucap suara yang ada diseberang sana.
“Okedeh, makasih ya kak”, balasku lesu.
“Iya sama-sama, ini dengan siapa ya? Apa ini adiknya Andre?”, tiba-tiba dia bertanya.
“Iya kak, ini adiknya, Adi. Ada apa ya kak?”, balasku penasaran.
“Kakak lo minta tolong ke gue buat nemenin lo ke tempat itu“.
__ADS_1
Terkejut? Ya. Aku sangat terkejut mendengar kata-kata tempat itu dari suara yang keluar dari telepon ini.
“Hah? Kakak tau tempat itu?”, balasku cepat.
“Ya dong, sesama manusia yang memiliki sedikit kemampuan lebih pasti tahu. Eh iya, kecuali lo dan beberapa orang lainnya yang masih belum cukup umur hahaha”.
“Belum cukup umur? Aku sudah berumur 17 tahun kak kemarin-kemarin”.
“Berarti sekarang udah pas lah ya, kalo udah berusia 17 tahun, lo dapat mengeluarkan kekuatan yang lo miliki itu”.
“Tapi kenapa kak Andre tidak pernah memberitahukan hal itu kepadaku, kak?”
“Mungkin, dia pengen lo biar jadi lebih dewasa”, jawabnya singkat.
Ya, mungkin apa yang dikatakan oleh orang itu memang benar adanya.
Aku memang belum cukup dewasa.
Mungkin gara-gara aku selalu merasa lebih beruntung dari orang lain, jadi aku selalu menyepelekan segala sesuatu, mau itu remeh ataupun penting.
“Ya kak, aku tahu itu kok”.
“Ga usah pake kak kaliii, pake gue lo aja biar kedengerannya akrab”, imbuhnya.
“Eh beneran nih aku, eh, gue boleh?”
“Yap, boleh”.
“Ngomong-ngomong, kapan kita bisa ketemu?”
“Bulan depan aja, di Jakarta, tempat pastinya nanti gue kasih tau belakangan”.
“Hah? Tempat itu ada di Jakarta? Jakarta mananya? Jakarta kan luas”, tanyaku.
“Iye, tepatnya dimana entar deh gue kasih tau, sabar aja sih”.
__ADS_1
“Oke deh, thanks ya kak”, kataku.
“Oke sama-sama”, balasnya pelan sembari menghela nafas.
...
Jakarta, ibukota negara Indonesia.
Tempat yang padat, ramai, dan juga rawan akan kejahatan (Ini yang kudengar dari berita-berita di koran dan televisi), tetapi penuh dengan budaya dan orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia.
Aku berterima kasih sekali kepada kak Anton, teman se-kos kak Andre yang baru saja berbicara denganku di telepon tadi.
Aku kaget dia mau menemaniku ke Jakarta bulan depan.
Padahal dia ada ditempat lain, di Jogjakarta dan aku ada di Cikarang, sebuah tempat yang terpencil dan jauh dari kata modern, tetapi tempat yang paling nyaman bagiku.
Aku masih merasa khawatir pada kak Andre, sepertinya ada yang mengganjal dipikiranku ini.
Kenapa dia bisa tiba-tiba menghilang?
Semoga ini hanya perasaanku saja dan bukan hal yang buruk.
…
.
.
.
NB#
Untuk belasan chapter awal mungkin plotnya sedikit lambat dan jumlah tulisannya-pun sedikit, mohon dimaklumi ya karena keadaanya dulu memang hanya sekedar iseng saja.
Terimakasih!
__ADS_1
Mowns.