Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 19 - History Club


__ADS_3

-Keesokan Harinya-


"Di, sini dulu deh coba. Coba liat sini", panggil Gio.


Aku menatap Gio dan berkata, "Liat apa?"


"Ini sini, liat kelereng yang gue pegang. Bentar lagi gue lempar ya"


Gio menunjukkan sebuah kelereng yang ada di dalam genggamannya.


Kemudian ia melemoar kelereng itu tinggi keatas.


Tidak lama setelah kelereng itu dilempar oleh Gio, kelereng tersebut berubah menjadi seukuran bola basket.


Kelereng yang sudah menjadi sebesar bola basket tersebut tetap meluncur keatas yang tinggi.


Saat kelereng itu mulai meluncur lagi kebawah, kelereng itu Gio ubah lagi kembali menjadi ukuran aslinya.


Kemudian Gio melempar kelereng itu lagi kearah sebuah pohon tua.


Sesaat sebelum menyentuh pohon tersebut, kelereng itu kembali berubah ukuran menjadi seukuran bola basket dan berhasil mematahkan pohon itu menjadi dua.


"Selagi gue lempar kelerengnya pas masih kecil, walaupun kelereng itu gue ubah ukurannya jadi sebesar bola basket tadi, tenaga kelereng itu akan berubah sesuai dengan ukurannya"


"Akan tetapi, kecepatan dan jaraknya akan tetap mengikuti bentuk awal kelereng yang gue lempar pertama tadi"


"Kelereng yang gue lempar bisa jadi bola meriam di, hahahaha"


Gio menjelaskan salah satu dari kemampuan Bless yang dia miliki.


Kemampuan Guo tersebut sangat berguna dalam pertempuran apabila nanti kita memiliki konflik dengan pihak Darkblessed.


"Kayaknya kemampuan yang lo buka udah banyak juga ya, Gi"

__ADS_1


"Kalo gue masih gini-gini aja, cuma baru bisa ubah cuaca doang kayak pawang ujan"


"Padahal nama Bless nya bagus", kataku pada Gio.


"Ya mungkin lo belum ketemu aja selanya di, pelan-pelan aja gapapa kok kata kakek", hibur Gio.


Semoga saja begitu adanya, aku tidak tahu harus berlatih seperti apalagi untuk membuka kemampuanku yang lain.


"Kalian, masuklah dan makanlah"


Lulu memanggil kami dan langsung kembali ke kamarnya di lantai atas.


Kami dapat melihatnya berjalan ke tangga dari taman diluar.


Walaupun terlihat dingin dari luar, tapi Lulu adalah orang yang baik.


Dia menyiapkan sarapan untuk kami semua bahkan tanpa ada yang memintanya untuk menyiapkan sarapan.


Hanya sepotong roti panggang dengan telur mata sapi, sosis, dan dilengkapi oleh segelas susu putih.


Akan tetapi yang paling utama adalah niat baiknya kepada kami.


...


Selesai sarapan, kami bertiga bersiap-siap untuk berangkat ke kampus untuk memulai hari pertama kami sebagai mahasiswa.


"Jangan lupa untuk memilih History Club sebagai ekskul kalian berdua. Kita dapat bertemu dengan Blessed lain disana"


Lulu berkata sebelum ia langsung menghilang diantara kerumunan mahasiswa dan langsung menuju fakultasnya sendiri.


"Tch, gadis itu, kebiasaan", Gio menggerutu.


"Dah udah, sana lo juga langsung ke kelas. Kita beda jurusan, nanti ketemu di History Club abis kelas ya", kataku.

__ADS_1


"Ya ya, gue jalan duluan di"


...


Jam demi jam berlalu sampai akhirnya bel tanda akhir pelajaran di hari itu berbunyi.


Aku bergegas menuju ke ruangan History Club seperti yang disebutkan oleh Lulu sebelumnya.


Aku sudah menanyakan lokasi club tersebut, jadi cukup mudah bagiku untuk menemukan club itu.


Sesampainya disana, aku melihat Gio berdiri di depan pintu ruangan club itu.


"Kok diem gi, kenapa ga masuk?", tanyaku.


"Ini, pintunya ga bisa dibuka ini di, eh, coba lo yang buka dah"


Aku mencoba untuk membuka pintu itu, tapi tidak bisa.


Pintunya seperti pintu rusak.


Aku menatap Gio dan Gio pun menatapku balik.


"Minggir, biar aku yang buka"


Kami terkejut, karena tiba-tiba saja Lulu muncul dibelakang kami berdua.


Tangan Lulu memegang gagang pintu tersebut dan pintu tersebut langsung terbuka sebagaimana pintu mestinya.


"Masuk, nanti aku jelaskan kepada kalian di dalam", kata Lulu.


Tanpa banyak bicara, kami berdua langsung masuk ke dalam ruangan itu mengikuti Lulu.


...

__ADS_1


__ADS_2