Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 7 - Persis Sama?!


__ADS_3


Atmosfer yang dingin datang menyergap, semua bulu kudukku serasa berdiri dengan tegak.


Aku hampir tidak percaya dengan apa yang sedang dibicarakan.


Manusia dengan kemampuan lebih, para Extractor yang immortal, medan gelap, dan lain sebagainya.


Aku kira hal tersebut hanyalah ada di komik dan juga film kartun, terutama kartun jepang yang disebut dengan anime.Tapi ini adalah hal yang nyata, sama nyatanya dengan Monas yang sedang berdiri tegak di Jakarta, tenggelamnya kapal Titanic yang megah, dan gagahnya matahari yang selalu menyinari kita.


Mataku menatap keluar jendela, yang sepertinya memiliki kaca dengan ketebalan 0.75 cm, ketebalan yang standar untuk sebuah kaca.


“Dia mati karena menarik kemampuan kami berdua keluar”.


Ucapan kak Anton barusan benar-benar membuatku kembali berpikir.


Apakah aku memang benar-benar harus pergi ke Amerika?


Untuk dapat menemui Extractor yang berada disana, di Amerika?


“Extractor itu baru bisa mendapatkan kemampuannya kembali saat Ia berumur 17 tahun”, terang kak Anton.


Aku menatap makananku, semangkuk Katsu-don seharga 65.000 rupiah itu, benar-benar belum tersentuh sama sekali olehku. Perbincangan kami ini terlalu menarik, sampai-sampai aku lupa untuk makan.


Tiba-tiba saja aku menjadi penasaran dengan apa yang dimaksudkan dengan seorang Blessed. Kemampuan apa lagi yang dimilikinya?


Kemampuan yang baru kuketahui adalah telepati. Selain itu, aku tidak tau kemampuan apa lagi yang dimiliki oleh para Blessed.


Darahku bergejolak, aku bersemangat.

__ADS_1


Pikiranku berteriak dan meronta-ronta untuk mengetahui semuanya.


Aku membutuhkan kenyataan lagi, dan lagi, dan lagi.


Aku semakin haus akan kenyataan ini, kenyataan yang mematahkan dan melewati batas yang wajar.


“Kak”, aku mulai berbicara kembali".


Sebenarnya, apa saja Kemampuan seorang Blessed itu? Aku hanya tahu telepati saja, selain itu apa?”


“Kemampuan seorang Blessed, yaitu Bless, sebenarnya tidak ada yang tahu dengan pasti.


Kenapa?


Karena kemampuan tiap Blessed berbeda-beda. Tiap orang memiliki karakteristiknya sendiri masing-masing”.


“Berbeda-beda gimana maksud lo kak?”, tanyaku.


“coba deh lo liat vas bunga yang ada di sana”, kata kak Anton sembari menunjuk vas bunga yang berada didekat meja kasir.


Aku melihatnya dengan seksama, aku ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh kak Anton, dan apa kemampuan yang dimiliki oleh kak Anton.


Aku melihat vas bunga itu, 5 detik, 10 detik, 20 detik.


Tidak terjadi apa-apa!


Aku bingung, lalu aku berkata pelan kepada kak Anton, “Tidak terjadi apa-apa?”


“Menurut lo begitu? Coba liat apa yang ada dikursi sebelah lo itu sebentar”, bisik kak Anton.

__ADS_1


Refleks, aku langsung menoleh ke sebuah kursi kosong yang ada di sebelahku.


Aku terkejut, karena kursi itu sekarang tidak benar-benar kosong seperti sebelumnya.


“Vas yang sama!”, aku memekik walaupun tidak sampai berteriak.


” Persis sama!”


...


.


.


.


NB#


Hmm, chapter yang pendek lagi.


Plot-nya disini sih udah mulai keluar kayaknya.


Mohon bersabar karena waktu dulu aku membuat cerita ini, memang tergantung mood dan jadwal pelajaran kosong.


Sebelum bel masuk kelas, jam istirahat, jam kosong, jam pulang sekolah, dan jam sebelum masuk les.


Jujur cerita ini di buat cuma di waktu tertentu seperti diatas saja, karena waktu SMA, jam diluar sekolah itu saya pergunakan untuk hal lain yang tidak dapat dilakukan disekolah.


Seperti biasa, terimakasih telah membaca cerita ini!

__ADS_1


Mowns.


__ADS_2