
…
Dimana aku? Kenapa semua terlihat gelap?
Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku?
Tolong, seseorang tolong aku!!
Apa ini?
Ada apa ini?
Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
Tetapi kekacauan yang timbul oleh para Darkblessed tersebut masih kuingat dengan jelas.
Walaupun aku tidak melihat mereka secara langsung.
Aku tidak ingat apa pun yang terjadi setelah hal itu.
Tiba-tiba saja semuanya menjadi lebih gelap lagi, aku mual.
Dan entah kenapa, kepalaku rasanya seperti akan pecah, dan bergoyang-goyang.
Tunggu, aku mendengar sesuatu.
Aku mendengar desiran ombak, suara burung burung pantai.
Apakah ini artinya aku berada didalam sebuah ruangan yang terletak di dalam sebuah kapal?
Aku segera memeriksa kantung jas ku.
Ah! Sedikit senyuman kutampilkan. Telepon genggamku masih ada disini.
Aku mencoba menyalakan telepon genggamku dan mencoba menghubungi kak Anton.
Tetapi ternyata tidak terlalu membantu, tidak ada sinyal.
Aku juga telah berkali-kali mencoba untuk menghubungi kak Anton melalui telepati, tapi entah kenapa selalu gagal, seakan ada tembok atau sesuatu yang menghalangi.
Melalui cahaya yang berasa dari layar telepon genggam, samar-samar aku dapat melihat keseluruhan dari ruangan ini.
Ruangan ini tidak kecil, tapi juga tidak besar.
Sepertinya ini adalah sebuah kamar tidur, akan tetapi setelah kutelurusi lebih lanjut lagi akan lebih tepat jika aku menganggap bahwa ini adalah sebuah gudang. Banyak benda-benda rongsokan disini.
Aku kembali bertanya, “Apa ini? Aku berada dimana sebenarnya?”
__ADS_1
Aku kembali berputar-putar didalam ruangan tersebut.
Dan baru saja aku sadari, benda-benda rongsokan yang ada di kamar ini, lebih tepat bila disebut barang-barang super antik dan kuno.
Televisi generasi satu, radio produksi tahun pertama, mesin jahit manual, meja baca dengan ukiran naga emas, pena dan juga tempat tinta dari negeri timur.
Benda benda ini sudah jarang sekali terlihat, mungkin, seumur hidup pun baru kali ini aku melihat benda-benda tua macam ini.
Aku meletakkan tanganku di atas meja berukiran nagas emas tersebut.
”Aneh, meja ini tidak berdebu sama sekali, malah sepertinya terawat sekali”.
”Oh, kau sudah bangun rupanya“, tiba-tiba ada suara seseorang yang terdengar.
” Siapa anda?”, aku bertanya pada suara tersebut.
Melalui telepati tentunya, karena dia juga berbicara melalui telepati.
Aku menunggu, menunggu jawaban dari lelaki tersebut. Ya, suara yang terdengar memang suara lak- laki, dan tua sepertinya.
“Aku? Aku adalah penolongmu bocah kecil”, jawab pria tua itu.
“Sepertinya kau tidak ingat dengan apa yang telah terjadi, benar kan? “, dia menambahkan.
Aku menjawab dengan sedikit bingung,
“Ya, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa aku bisa berada disini? Dimanakah ini? Kenapa anda membawa aku kesini?”.
Lalu pria tua itu menjawab, “Pelan-pelan bocah kecil, lebih baik kau lihat sendiri apa yang terjadi”.
Ya, sesaat setelah dia berkata seperti itu, rasanya kepalaku seperti dihantam oleh sesuatu.
Sangat keras, akan tetapi tak terasa apa-apa. Akupun tak merasakan sakit sama sekali, hanya seperti ada yang masuk kedalam kepalaku ini.
Aku melihat kejadian di restoran tadi dalam pengelihatan orang ketiga.
Aku bisa melihat diriku sendiri, lalu dalam hati akupun berpikir.
“Mungkin ini kemampuan yang dia miliki, it’s his Bless”.
Apa yang kulihat benar-benar membuatku terdiam.
Ada seorang lelaki yang dapat mengeluarkan banyak kilatan cahaya berwarna-warni dan indah, tetapi dapat menghancurkan dan menghempaskan barang-barang yang berada disana.
Indah, tetapi, sangat sangat berbahaya.
Lalu, ada pula seorang wanita yang dalam pengelihatanku itu terlihat seperti melayang.
__ADS_1
Melayang, literally melayang.
Kemudian diantara wanita dan pria tersebut aku melihat ada anak kecil, mungkin seperti anak SD kelas 5 atau 6.
“Hei, kenapa bisa ada anak kecil disana?”
Tetapi dia tidak terlihat melakukan apapun. Hanya diam dan berdiri disana.
Aku tidak melihat kak Anton disana.
“Dimana dia? Apakah dia berhasil lari?”
Aku terus bertanya seakan-akan aku adalah anak kecil yang tersesat dan terpisah dari orangtuanya di daerah yang belum pernah aku temui sebelumnya.
Kemudian pria itu tiba-tiba bersuara.
“Sepertinya kau tidak perlu khawatir dengan Anton. Dia sudah pergi dari sana sesaat setelah kau pergi dan kubawa kesini. Kau jatuh pingsan di depan tempat tersebut, dan aku membawamu kesini”.
Lalu aku pun membalas, “Kenapa anda menolongku? Anda juga tidak kenal denganku bukan?”
“Bocah kecil, bukankah untuk menolong orang kita tidak membutuhkan alasan? Apabila ada orang yang membutuhkan bantuan, kita harus membatu, terlebih lagi jika masih sesame blessed. Kau tahu? Bukankah hidup itu akan menjadi lebih indah jika setiap individu dapat saling membantu satu sama lain? Kita adalah orang-orang yang terpilih, maka tidak ada salahnya jika kita membantu orang lain bukan?”
Orang ini ternyata adalah orang yang menepuk pundakku saat aku berada diluar, jika aku mempercayainya, sepertinya dia bukan orang yang jahat.
“Kata-kata anda barusan sangat benar pak tua, tetapi jika aku boleh tahu, apa sebenarnya kemampuan anda? Apa Bless yang anda miliki?”
"Maaf jika terkesan tidak sopan, tapi aku ingin dapat percaya dengan anda", kataku.
“Kemampuanku, bocah kecil, akan kau ketahui nanti jika sudah sampai pada saatnya”.
Apa yang pak tua itu katakan mirip dengan kak Anton, cara bicaranya, dan juga sikapnya.
Kenapa orang-orang dengan Bless semuanya bersikap demikian?
Semoga saja aku tidak menjadi seperti itu.
…
.
.
.
NB#
Rada lambat memang, tapi kalau cerita yang lama sudah semua di upload, cerita baru akan lebih panjang perchapternya dan plot juga akan sedikit dipercepat.
__ADS_1
Terimakasih!
Mowns.