Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 14 - Proyeksi


__ADS_3

...


Kedua orang tersebut berjalan semakin dekat ke arah Gio, dan tak kusangka-sangka Gio berdiri dan menghampiri kedua orang tersebut.


“Apa yang dia pikirkan”, gumamku dalam hati.


Dan tak lama kemudian akhirnya aku mengetahui apa yang Gio rencanakan.


Ternyata, kedua orang tersebut adalah kak Anton dan kakek Tony.


Sekali lagi aku berkata dalam hati, “Semoga kedua orang tersebut tidak muncul dengan mendadak lagi”.


“Ngapain kalian ngumpet? Kita berdua udah kaya orang jahat aja jadinya”, sebut kak Anton.


“Kami kan gatau kalo itu kalian kak, abisnya nongol duluan sih”, balas Gio.


“Kenapa kakak dan kakek bisa sampai lebih dulu dari kami? Kukira kalian ada di belakang kami berdua?”, aku meminta penjelasan dari kak Anton.


“Ini adalah salah satu dari syarat teleportasi milik gue, setiap orang yang ingin gue teleportasikan harus pernah ke tempat ini. Kalian berdua belum pernah ke tempat ini, jadi gue dan kakek Tony harus pergi duluan membawa kalian kesini melalui cara tersebut”, jelasnya.


Aku kembali mengetahui satu lagi limitasi dari kemampuan teleportasi kak Anton.


Yaitu, setiap manusia yang ingin diteleportasikan harus pernah ke tempat yang dituju.


Setiap manusia yang ingin diteleportasikan, tidak terkecuali kak Anton sendiri.


“Karena kita semua sudah berada disini”, kakek Tony bersuara, “Mari kita langsung menuju ke pusat urusan kita”.


Aku tidak tahu apakah benar kita sudah sampai di Amerika.


Tetapi melihat kondisi dan gaya dari bangunan yang ada diluar, ini bukanlah di Asia, apalagi Indonesia.


Kita berjalan ke sebuah bangunan yang sepertinya sebuah perpustakaan, dan masuk ke satu ruangan yang ada di bagian belakang bangunan tersebut.


Setelah sudah berada didalam, kakek Tony bergegas menuju kearah barat dari ruangan tersebut.


Kami sudah mulai dapat melihat ruangan ini karena sudah lumayan terbiasa akan kegelapan ruangan ini.


Dia mengeluarkan sejenis bolpoin berwarna silver dari saku sweaternya.


Aku tidak tahu benda apakah itu, tetapi dari jauh terlihat seperti bolpoin berwarna silver.


Kak Anton juga mengeluarkan benda yang sejenis, akan tetapi warnanya agak berbeda.


Bolpoin yang dipegang oleh kak Anton juga berwarna silver, tetapi miliknya berwarna lebih mengkilat.


Apakah ada yang hal yang berbeda dari kedua benda tersebut?


Ataukah hanya sekedar hiasan saja.


Mereka berdua menempelkan bolpoin tersebut ke tembok yang berada di barat ruangan itu.


Tepat pada saat mereka menempelkan kedua bolpoin tersebut, terbukalah pintu rahasia yang lainnya.


Pintu tersebut terbuka diatas kepala kami, dari langit-langit.

__ADS_1


Lalu tak lama kemudian turunlah sebuah tangga dari pintu yang terbuka itu.


Kami semua menaiki tangga tersebut dan sampailah kami pada mulut pintu yang baru terbuka barusan.


Apa yang muncul di hadapan kami benar-benar membuat kami takjub.


Bagaimana bisa ada langit di dalam tanah seperti ini?


Ya langit, ada awan, burung-burung, dan juga matahari.


Matahari disini berbeda dengan matahari yang kami miliki diatas sana.


Disini ia berwarna biru cerah, dan langit disini berwarna putih kebiruan dengan awan yang tetap berwarna putih seperti yang ada di tempat kami.


Gio dan aku sangat terkejut, tapi kak Anton dan kakek Tony sepertinya sudah terbiasa sehingga mereka tidak terlihat terkejut lagi.


Tempat ini bagaikan ada di dimensi lain, karena tidak pernah sekalipun aku melihat tempat seindah ini ada di tempat kami hidup.


Jauh lebih indah daripada tempat yang bisa kami dapatkan gambarnya di internet ataupun tempat-tempat wisata yang paling terkenal sekalipun.


Indah, indah sekali, bagaikan kami berada di dunia mimpi.


Bahkan mungkin dalam mimpiku aku tidak mungkin dapat membayangkan hal seperti ini terjadi.


“Indah bukan?”, kak Anton memecah kesunyian karena aku dan Gio terlalu mengagumi tempat tersebut.


Sebelum kami berdua dapat menjawab pertanyaan tersebut, kak Anton kembali mengeluarkan suaranya, “Indah, tetapi tempat ini memiliki masa lalu yang sangat gelap”.


“Silahkan kalian lihat sendiri”, kakek Tony berbicara segera setelah kak Anton berhenti bicara.


Kami tidak tahu apa yang akan dia perlihatkan karena sejauh ini kami selalu dikejutkan oleh hal-hal yang tidak pernah akan bisa kami bayangkan sebelumnya.


“Tenanglah, ini tidak akan berlangsung lama”, itulah suara terakhir yang kami dengar dari kak Anton sebelum kami mendapatkan pengelihatan ini.


Tunggu dulu, kenapa kami berdua berada disini?


Dimana kak Anton dan kakek Tony?


Ini bukan hanya sekedar ingatan yang diberikan oleh kakek, ini seperti kami dilempar ke masa lalu.


Tempat ini adalah tempat yang sama dengan yang kami lihat barusan, akan tetapi tempat ini lebih mirip dengan keadaan dunia kami yang sebenarnya hanya saja tempat ini lebih bersih dan sejuk.


“Gio, ini salah satu kemampuan manipulasi ingatan milik kakek lo? Kok kayaknya beda dari yang pernah dia tunjukkin ke gue nih”, aku berkata kepada Gio.


“Dulu gue pernah denger dari mendiang nenek gue, ini adalah kemampuan kakek yang paling jarang dia keluarkan. Hanya sekali dua kali nenek pernah mengalaminya, dan itupun hanya untuk hari-hari yang spesial”, Gio menjawab pertanyaanku, tetapi aku masih belum cukup mengerti dengan penjelasannya.


Ah sudahlah, nanti juga kita tahu sendiri kemampuan seperti apa ini.


Tak lama setelah itu, langit yang semula tenang dan biasa-biasa saja mendadak berubah kelabu.


Dan dari kejauhan terlihat adanya sinar yang menyinari sebuah tempat yang tak jauh dari sini.


Tanpa banyak bicara, kami berdua segera bergegas ke tempat itu.


Kami sampai disana setelah melewati sebuah bukit kecil yang sebelumnya menutupi penglihatan kami sebelum sampai ditempat ini. Kembali, aku dan Gio dibuat luar biasa kagetnya.

__ADS_1


Sebuah kota ada disini, dikelilingi oleh bukit-bukit dan terletak agak jauh dibawah sana.


Kota apa ini?


Cahaya yang kami lihat tadi persis menyinari seluruh kota ini tanpa terkecuali.


Cahaya ini berwarna hijau kebiruan dengan sedikit perpaduan warna merah.


Kami berdua berjalan dari tempat kami berasal tadi menuju arah utara lalu aku merasakan sesuatu.


Ada sesuatu yang sedikit janggal.


Dari kejauhan memang tidak terlalu terlihat, tetapi pada saat kami sampai disini kami dapat melihat dengan jelas.


Cahaya tadi bukanlah menyinari kota ini, tapi kota inilah yang mengeluarkan cahaya ini menuju ke atas.


Kami berdua dapat melihat cahaya tersebut diluncurkan ke atas sana dan akhirnya tertutup oleh awan, sehingga kami tidak dapat melihatnya kembali.


“Lo liat itu Adi? Cahaya tersebut tidaklah menyinari tempat ini, tetapi cahaya itulah yang berasal dari sini”, Gio mengeluarkan pendapatnya yang persis sama dengan apa yang baru saja aku pikirkan.


“Saat kita berada disini, kita dapat melihat jelas hal tersebut. Tapi, apa maksud dari cahaya ini?”, aku bertanya kepada Gio.


Setelah itu, semakin lama tempat ini menjadi semakin gelap dan kamipun hampir tidak bisa melihat apa-apa.


Sampai pada akhirnya kegelapan penuh menyelimuti kami semua.


Tak lama kemudian kami mulai dapat melihat kembali karena tempat ini sudah mulai bercahaya kembali.


Itulah yang aku pikirkan, akan tetapi, tempat yang kami pijak saat ini bukanlah tempat yang sama dengan tempat kami berada barusan.


Ini adalah dunia kami, yang berada dimasa lampu.


Bagaimana kami bisa tahu? Karena kami saat ini berada didepan sebuah piramid yang sedang dibangun oleh para budak dan dikelilingi oleh gurun pasir.


Kami saat ini sedang melihat perbudakan oleh bangsa mesir yang dulu pernah kami pelajari di sekolah.


Saat ini kami sedang berada di Mesir.


...


.


.


.


NB#


Kota pertama yang ada bukit-bukit mengeluarkan cahaya itu berbeda dengan Mesir di akhir chapter.


Jadi ada dua kota ya.


Makasih udah baca sampai sini, next chapter adalah chapter yang baru ditulis ditahun ini (Yamaaf setelah 10 tahun baru aku tulis kelanjutannya, semoga nanti masih nyambung ideanya).


Mowns.

__ADS_1


__ADS_2