
Sudah 3 hari aku dibuat tidak bisa tidur.
Aku selalu memikirkan tempat itu.
Apakah tempat itu?
Dimanakah tempat itu?
Apakah aku pernah berada disana?
Jawaban apa yang akan tersedia disana?
Apa sebenarnya yang akan kutemui disana?
Aku bingung, benar-benar bingung. Rasanya seperti sedang mengerjakan soal olimpiade fisika, kimia, dan matematika dijadikan satu, bahkan lebih dari itu.
Otakku benar-benar terpakai sampai pada batas akhir, aku benar-benar lelah memikirkannya.
Selama 3 hari aku tidak tidur, dan selama 3 hari itu pula aku tidak dapat berkonsentrasi dalam pelajaran. Aku tidak memperhatikan guruku mengajar, dan aku juga tidak mengendahkan perkataan teman-temanku. Aku saat ini benar-benar seperti mayat hidup, yang tidak dapat menikmati kehidupan ini.
“Heh Adi! Kenapa sih lo bengong terus belakangan ini? Kenapa? Ada apa?”, tanya Silvi, salah seorng teman baikku.
“Ya, kok lo keliatan kayak orang kurang tidur?”, timpal Yanto.
“Klo ada masalah, bilang aja sama kita-kita, kita selalu ada buat lo kok”.
Suara terakhir itu membuatku tersadar, aku tidak sendirian.Pemilik suara itu adalah Tita, seseorang yang kukagumi dan juga kucintai.
“Kalo kamu gitu terus, kita putus ya?”, ancam Tita.
“Eh, jangan gitu dong, janji deh ga kayak gini-gini lagi”, aku berkata dengan memasang tampang memelas.
__ADS_1
“Yah, diancem dulu baru deh ngalah”, ledek temanku yang lainnya.
“Hahaha mau gimana lagi coba? Hiks, demi cinta ini, bhuahaha”, kataku sambil tersenyum kecil.
…
7 hari kemudian
Aku benar-benar sudah melupakan segalanya, aku tidak pernah lagi memikirkan tentang kemampuan terpendam yang kakak bicarakan padaku. Mungkin aku akan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya padanya. Sayang, dia sedang tidak ada disini.
Andaikan ada kakak disni, mungkin aku dapat langsung bertanya padanya.
Kakakku sedang berkuliah di Surabaya, Jawa Timur. Ia mengambil jurusan kedokteran disana.
Dan setiap liburan semesternya dimulai, Ia akan pulang kerumah, setahun sekali.
“Nah loh? Udah jelek makin jelek aja lo nampangin muka bingung kaya gitu”.
“Yah, lagi-lagi kak”, jawabku sekenanya.
“Kenapa kau tidak mencoba untuk menghubungiku?”
“Telepati maksudnya? Aku belum bisa, aku tidak tahu caranya”.
“Kan ada facebook dodol! Bisa nanya lewat sana kan?”, bentak kakak.
“Hahaha iya juga sih, tapi aku kan takut kak, kakak selalu melihat sinis kearahku. Kukira kakak benci padaku”.
“Oo begitu menurutmu? Aku bukannya melihat sinis kepadamu, tetapi aku melihat potensimu yang sedang terlelap. Hal itu membutuhkan banyak konsentrasi”.
News for me, aku baru tahu tentang hal ini. Kalau dipikir-pikir, memang sebenarnya kakak sangat baik kepadaku. Mungkin aku saja yang melihat keadaan dengan terlalu berlebihan.
__ADS_1
“Jadi itu sebabnya kakak selalu terlihat sinis padaku?”, tanyaku.
“Ya, mungkin saja”, ucapnya.
“Oh ya kak, apa yang kakak maksud dengan tempat itu?”.
“Tempat itu? Kukira kau sudah tahu tentang tempat itu? Tempat itu adalah …”
Bzzzztt ..
Tiba-tiba saja kupingku terasa sakit, entah apa yang terjadi. Seperti ada semacam force yang mengganggu telepati kami. Aku merasa khawatir dengan kakak. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Kalian dapat bilang bahwa ini adalah instuisi antar saudara.
…
.
.
.
NB#
Cerita ini dulu kubuat sampai sekitar belasan part/chapter.
Dan sampai chapter tersebut adalah tulisan asli dari sepuluh tahun yang lalu.
Akan kuberitahu jika tulisan baru (2021-up) mulai ditulis (melanjutkan chapter selanjutnya).
Seperti biasa, terimakasih!
Mowns.
__ADS_1