
...
Gedung tersebut roboh dan sedang dalam perjalanan untuk menimpa kami semua.
Aku dan Gio berlari untuk menghindari serpihan-serpihan gedung dan untuk menjauhi gedung yang roboh itu.
Tiba-tiba saja Gio berhenti berlari dan mengepalkan kedua tangannya.
Ia mengarahkan kedua tangannya ke langit.
"Gio! Apa lo gila! Gedung itu terlalu besar!", ujarku.
Gio menggigit bibirnya dan berkata, "Tenang aja bro, selama gue idup, ga akan ada hal buruk yang akan terjadi sama lo".
Aku dapat melihat kedua tangan Gio gemetaran.
Keringat membasuhi wajahnya, akan tetapi Gio tetap tersenyum.
Akhirnya gedung patah itu sedikit lagi jatuh menimpa kami.
Raut wajah Gio mulai berubah tapi ia tidak menyerah.
Ia mengeluarkan darah dari matanya, otot wajahnya berkontraksi dan semua terlihat sangat intens.
Sesaat setelah itu, Gio tersenyum.
Ia berhasil! Ia berhasil menghilangkan gedung tersebut.
Bangunan yang roboh itu hilang tak berbekas dan menjadi udara.
"Adi, tolong bantu pegang gue dong"
Kata Gio sembari mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tanpa berpikir akupun bergegas menopang tubuhnya.
Belum sempat aku berkata sepatah kata pun, aku merasakan ada hal yang tidak beres.
Perasaanku tidak enak.
Kutarik Gio ke arahku dengan cepat.
SWISSSHH!! DAAARR!!
Aku hanya mendengar suara seperti angin yang lewat, tetapi di tempat Gio berdiri tadi terdapat lubang yang cukup dalam.
"Cihh.. Yang selanjutnya tidak akan meleset"
__ADS_1
Seseorang dengan jubah hitam muncul dan kembali mengayunkan tangannya ke arah kami.
SWIISSHH
Kudekap Gio dengan erat dan menghindari serangan yang barusan.
Apakah dia seorang Darkblessed?
Apa dia alasan Lulu menghilang dan gedung roboh tersebut?
Apa dia sendiri?
Kenapa dia bisa ada disini?
Kenapa dia tiba-tiba mengincar kami?
Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benakku.
"Diam lah, jangan terus berlari, aku lelah untuk mengayunkan lenganku terus-menerus", ucap orang misterius berjubah hitam tersebut.
Untuk saat ini dia terlihat sendirian.
Aku berusaha untuk tidak memikirkan apa pun supaya aku dapat lebih fokus untuk menghindari serangan orang tersebut.
SWISSHHH
Aku merasakan perih yang mendalam dari kakiku. Aku terjatuh. Aku tidak bisa berdiri.
Syukurlah, setidaknya kakiku masih utuh, tidak terpotong menjadi dua bagian.
Orang itu berjalan perlahan menghampiri kami.
Kulihat dia mulai mengayunkan tangannya kembali.
Refleks, kuangkat tanganku dan memohon dalam hati untuk menghalau serangan orang tersebut.
Bersamaan dengan terangkatnya tanganku, di depanku muncul sebuah pintu besar terbuat dari tanah yang muncul ke permukaan.
Pintu tersebut berhasil menghalau serangan orang misterius itu.
Seperti ada yang memberiku ilham, kupegang Gio dan mengarahkan satu tanganku yang lain kebawah.
Angin berhembus dengan sangat besar.
Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana cara untuk kabur dari orang tersebut.
Angin berhembus semakin besar dan akhirnya berhasil membawa kami terbang ke langit.
__ADS_1
Angin itu muncul di sekitaran lenganku dan terus menembak kebawah.
Kugunakan tanganku sebagai kemudi untuk mengarahkan kemana kami akan terbanf.
Lima menit berlalu dan aku pun mulai merasakan mual dan fatigue.
Kamu turun kembali dari langit.
'Setidaknya aku dan Gio berhasil kabur dari orang itu', pikirku dalam hati.
"Sudah kubilang jangan terus berlari"
Badanku terdiam kaku.
"K-K-Kau, kenapa c-cepat sekali menyusul kami?!"
Aku agak kesulitan untuk berbicara dikarenakan pada saat itu aku juga memuntahkan darah seperti Gio sebelumnya.
Orang itu tersenyum dan tertawa.
"HAHAHAHA... Baiklah, sebagai hadiah perpisahan, akan kuberitahukan kepada kalian"
Orang tersebut melihat arlojinya dan berkata, "Jawabannya adalah karena....."
...
"Karena semua ini tidak nyata", mendadak muncul suara Lulu menyelimuti kami.
Aku dan Gio seperti terbangun dari tidur panjang.
Orang misterius itu menghilang, tempat kami berada pun berubah.
Sekarang kami kembali berada di History Club.
Aku dapat melihat Gio sama bingungnya denganku.
"Kita semua ditipu oleh pak Goethe"
Lulu menyentuh dahinya dan memijat pelipis matanya.
"Ya kan, pak Goethe", lanjutnya sambil menatap ke pojol ruangan.
Perlahan demi perlahan, muncul sosok pak Goethe.
Samar-samar pak Goethe seperti terlihat muncul dari udara.
Dia menaikkan kacamatanya dan berkata.
__ADS_1
"Bagaimana pendapat kalian tentang Bless milikku? Tidak buruk bukan?", ucapnya sambil tersenyum.
...