Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 24 - Cinema


__ADS_3

...


Lulu berkata dan menatap pak Goethe.


"Kita semua ditipu oleh pak Goethe. Semua itu adalah kemampuan Bless anda, bukan begitu pak Goethe?"


Pak Goethe tersenyum kecil.


"Benar, sejak kalian pertama masuk ke ruangan ini, kalian semua sudah berada dibawa pengaruh Bless bapak"


Beliau lalu menjelaskan semuanya tentang Bless dan kemampuannya tersebut.


"Nama dari Bless bapak adalah Cinema, jadi bapak dapat mengatur sebuah ilusi didalam suatu zona"


"Bapak juga dapat mengetahui apapun yang terjadi dan juga perkataan serta pikiran kalian selagi kalian masih berada dibawah pengaruh ilusi bapak"


Aku tidak menyangka bahwa kami telah jatuh ke dalam sebuah ilusi ini bahkan tanpa menyadarinya sedikitpun.


Pak Goethe lalu berkata kembali, "Dengan kemampuan milik bapak ini, bapak dapat mengetahui kalian ada di pihak mana, putih atau hitam. Dan itu juga alasannya kenapa bapak ditempatkan sebagai pembina di kampus ini"


"Tetapi kemampuan bapak juga memiliki satu kelemahan, yaitu jika orang yang sedang berada di dalam ilusi mengetahui bahwa kejadian yang sedang berlangsung itu tidak nyata, dia akan dengan mudah terlepas dari dalam ilusi tersebut"


"Oh ya ada satu lagi, selama orang tersebut berada di dalam ilusi bapak, orang itu tidak akan dapat berkata ilusi, palsu, tidak nyata, dan kata-kata lain yang dapat memberitahukan bahwa kejadian yang sedang berlangsung itu tidak nyata kepada temannya".


Aku menepuk punggung Lulu dan bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Lulu, kamu tahu darimana bahwa semua itu adalah sebuah ilusi?".


"Saat aku memasukkan energi Blessku ke dalam surat yang tadi, aku menyadari bahwa semua itu tidak nyata. Aku ingin memberitahukannya kepada kalian tapi ada energi yang menahanku untuk berbicara".


Lulu terlihat murung.


"Jangan bersedih, seperti yang bapak bilang tadi, kalian tidak akan dapat berkata bahwa hal tersebut adalah sebuah ilusi".


Pak Goethe menghibur Lulu.


"Kemampuan dan persepsi mu sudah cukup tinggi, Lulu. Jadi, bergembiralah", tambahnya.


Aku menganggukkan kepalaku dan bertanya pada pak Goethe, "Pak, mengenai pembuatan artifak hari ini jadinya gimana?".


"Oh, tujuan bapak hari ini sebenarnya hanyalah untuk membantu meningkatkan kemampuan Bless kalian saja"


...


Malam pun tiba dan kami kembali ke rumah dengan perasaan yang tenang.


Kami bertiga berkumpul di ruang tengah untuk kembali berbagi info dan bercengkrama seperti biasa.


Gio memberitahukan kepada kami bahwa angka di sistemnya sekarang meningkat menjadi 88.


Lulu, yang sebelumnya memiliki angka yang paling rendah, sekarang mencapai angka 76.

__ADS_1


Perkembangan Lulu sangat besar, sekarang dia hanya selisih satu poin saja denganku yang memiliki angka 77.


Aku dan Gio berhasil menambahkan 10 poin dalam 'latihan' yang dibuat oleh pak Goethe kemarin.


Tapi Lulu? Berhasil menambahkan 20 poin ke angka Blessnya.


Karena waktu semakin malam, kami pun membubarkan diri dan kembali ke kamar kami masing-masing.


Tanpa kami sadari, sudah dua minggu berlalu sejak itu.


Kami semua memiliki angka yang sama, yaitu 90.


Walaupun kami berlatih terus-menerus tanpa henti, kami semua tidak dapat melewati angka 90 tersebut.


Sebuah tembok rasanya muncul dan menghalangi kami untuk melewati angka 90 itu.


Hari itu, seperti biasanya, kami berkumpul dan berlatih di History Club.


Dan sudah dua minggu pula kami tidak mendengar kabar dari pak Goethe.


Lalu kemudian datanglah pak Goethe.


Dia membukan pintu dan segera berkata kepada kami.


"Ayo ikut bapak sekarang, sudah saatnya kalian membuat artifak kalian masing-masing".

__ADS_1


...


__ADS_2