
...
-Diruangan History Club-
Kami bertiga sampai di ruangan History Club sedikit lebih awal daripada biasanya.
Kami semua diselimuti dengan perasaan yang tidak karuan, sulit untuk diutarakan dengan kata-kata.
Bahkan Lulu pun juga terlihat sedikit gelisah.
Semua sudah berkumpul, sekarang, kami bertiga hanya tinggal menunggu pak Goethe untuk datang ke ruangan club ini dan membawa kami pergi.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara pintu ruangan ini diketuk dari luar.
"Permisi, apa ada orang disini"
"Ada, tunggu sebentar akan kubukakan pintunya"
Lulu beranjak dari kursi dan bergerak untuk membuka pintu.
"Ffuhh kukira tidak ada orang disini, pintunya tidak dapat kubuka tadi"
Seseorang yang baru masuk ruangan tersebut berkata.
"Tadi pagi pak Goethe memintaku untuk memberikan surat ini kepada orang yang berada di History Club"
Ia menyerahkan sepucuk surat yang masih tersegel dengan stamp lilin kepada Lulu.
"Karena tugasku sudah selesai, aku pamit dulu ya", lanjutnya.
"Siap, makasih banyak ya bro"
Kata Gio sembari menutup pintu ruangan.
Lulu memegang surat tersebut kemudian meletakkannya di meja.
"Kenapa tidak langsung kita buka saja surat itu?", kata Gio.
Lulu melihat ke arah jam yang ada di dinding dan berkata, "Nanti dulu waktu pertemuan kita yang seharusnya saja belum tiba. Kalau sudah waktunya, akan langsung kita buka".
__ADS_1
Tick.. Tick.. Tick.. Tick..
Waktu terasa bagaikan berjalan lebih lambat daripada biasanya.
Lulu kembali melihat ke jam dinding.
"Sudah waktunya, ayo kita buka".
Gio menganggukkan kepalanya sebagai tanda konfirmasi.
Aku mengambil surat yang berada di meja itu dan menyerahkannya kepada Lulu.
"Aku rasa kamu lah yang lebih cocok membacanya, aku dan Gio cukup mendengarkannya saja".
Lulu mengambil surat itu dan membukanya.
"Hanya ada sebuah koordinat disini, kalian berdua lihatlah kemari".
Aku mendekat untuk membaca isi surat itu.
Dan benar saja, hanya ada sebuah koordinat disana.
40.7484° N, 73.9857° W
Lulu mencatat koordinat tersebut dan mencarinya di Google Maps melalui telepon genggamnya.
"Ketemu! Empire State Building. Sepertinya kita harus kesana sekarang, jaraknya tidak terlalu jauh".
Jarak dari lokasi kampus kami Brooklyn College di Midwood menuju ke Empire State Building di Manhattan hanya berkisaran 20 KM.
Kami memesan taxi di aplikasi Lyft melalui telepon genggam Lulu.
Lyft adalah aplikasi taxi online seperti halnya GrabCar dan GoCar di Indonesia.
5 menit kemudian Lyft kami pun datang dan hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk kami tiba di lokasi yang ada di dalam surat pak Goethe.
Kami melihat ke sekeliling tetapi tidak menemukan apapun.
"Coba kalian kesini sebentar", panggil Lulu.
"Ada apa?", tanyaku.
__ADS_1
"Baru saja aku mencoba untuk memasukkan energi Bless ku ke surat ini. Dan aku menemukan sesuatu".
Lulu berkata dengan nada yang serius.
"Aku ingin mengatakannya, tapi entah mengapa aku tidak dapat mengatakannya. Sebenarnya kita....."
Mendadak Lulu menghilang dari hadapan kami.
"Lulu!!"
Kami terkejut, bagaimana bisa dia menghilang begitu saja dari hadapan batang hidung kami berdua?
DUAAARR!!
Terdengar suara ledakan yang besar dari atas.
"Lari!", teriak Gio.
Mendadak, keadaan menjadi sangat kacau.
Semua orang berlari untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Aku dan juga Gio dapat melihat bahwa gedung diatas kami ini roboh.
Dan gedung itu, sedang dalam proses untuk menimpa kami semua.
...
.
.
.
#NB:
Nama lokasi dan kampus mereka semua akhirnya dikasih tau.
Mungkin dalam beberapa chapter kedepan bakalan ada chapter khusus buat info karakter dan bless yang sudah keluar.
Makasih btw sudah baca!
__ADS_1
Mowns.