Telepati : a Blessing or a Curse

Telepati : a Blessing or a Curse
Chapter 8 - Gelap


__ADS_3


Setelah kejadian itu akupun menoleh kearah kak Anton.


Tapi aneh, kenapa kak Anton sekarang malah duduk ditempat lain?


Apakah selagi aku memandangi vas yang ada disebelahku, dia pindah ke meja lain yg ada didepan mejaku sekarang ini?


Tapi akhirnya aku sadar, akulah yang telah berpindah tempat, dari meja kak Anton ke meja yang ini. Akalku mengetahui bahwa ini juga adalah salah satu dari kemampuan kak Anton, selain dapat mengkopi benda. Lalu dengan santai aku menuju kembali ke meja kami.


Kemudian kak Anton bertanya, “Apa lo udah tau kemampuan gue?”


“Udah kak, gue tau lo bisa mengkopi dan menteleportasikan benda, ya kan?”, jawabku semangat.


“Sebenarnya sih gak juga, seorang blessed cuman bisa punya 2 kemampuan, telepati dan 1 kemampuan lain yang dimiliki oleh bakat alami kita”, kak Anton menjelaskan.


Sontak, aku kaget dan bingung. Akupun lalu bertanya, “Loh kok? Terus apa tadi kemampuan lo itu? Gue ga mungkin salah dong? Ya kan?”.


“Emang lo ga salah, tapi…”, kak Anton melanjutkan, “Emang nyatanya gue cuman punya 1 kemampuan, bukan 2 seperti yang lo kira tadi”.


“Kemampuan gue itu, memanipulasi benda”, jelas kak Anton .


“Gue bisa memindahkan, menambahkan detail, mengurangi detail, mengkopi, menghilangkan, menteleportasi, dan lain-lain. Yang pasti memanipulasi”.


“Tapi….”, kak Anton melanjutkan, “Khusus benda hidup seperti manusia, tumbuhan, dan hewan gue cuman bisa memindahkan dan teleportasi doang, selama mereka pernah ke tempat yang diteleportasikan”


“Inget, memindahkan dan teleportasi itu berbeda”, imbuhnya.


Ya, aku tau maksud kak Anton.


Memindahkan itu hanya menggeser atau menggerakkan, tetapi teleportasi lebih dari itu, seperti menghilangkan dan memunculkan dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Begitulah kesimpulan yang kudapatkan.


Tubuhku tiba-tiba merinding.


Aku seperti merasakan adanya bahaya yg sedang mengancamku saat ini.


Dan tak lama kemudian.


“ Pranggggg!!”, terdengar suara kaca-kaca di restoran ini pecah.


“Lariiii!!! , Adi!! !”, teriak kak Anton.


“Ada apa ini kak?”, tanyaku kaget.


Kenapa kak Anton mendadak seperti ini?


Apakah akan terjadi sesuatu yang tidak kuketahui?


Entahlah, lebih baik aku sekarang mengikuti perkataannya terlebih dahulu.


“Okee, ayo kak”, ajakku.


“Ga di, gue tetep disini dulu, biar lo bisa lari”.


“T-ta-tapi kak?”, balasku ragu.


“LARI!!”, suara kak Anton menggema hingga ke langit-langit.


Suaranya itulah yang membuatku memalingkan muka dan mulai melangkahkan kaki untuk keluar dari tempat itu sambil berlari.


Aku mulai yakin bahwa ini adalah serangan dari para Darkblessed dan bukan kejadian biasa, karena suara dari kak Anton barusan.

__ADS_1


Dalam hati aku pun berkata, “hati-hati kak Anton”.



Aku terus berlari menuju ke arah pintu keluar bersama dengan orang-orang yang lainnya.


Aku mendengar mereka pun juga Berta nya-tanya ada kejadian apa yang terjadi barusan disini.


Ada yang berkata gempa, tapi tidak ada gempa, hanya kaca kaca yang pecah saja. Ada pula yang bilang *******, sepertinya alasan yang lebih masuk akal bagi mereka-mereka manusia normal.


Tapi untuk dapat membuat kak Anton terkejut dan berkata dengan terburu-buru seperti tadi, aku hampir yakin bahwa ada Darkblessed yang terkait dengan kejadian itu.


Aku tidak tahu batas dari kemampuan kak Anton ada dimana, aku juga tidak tahu kemampuan yang dimiliki oleh Darkblessed tersebut.


Akankah kak Anton dapat menyainginya?


Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang buruk.


Disaat aku sedang berpikir barusan, aku merasakan ada sentuhan tangan dipundakku.


Lalu, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


...


.


.


.


NB#

__ADS_1


Terimakasih!


Mowns.


__ADS_2