
Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya di musim hujan kota Surabaya. Hujan mengguyur kota sekitar subuh dan reda ketika pukul 6 pagi. Sisa-sisa air hujan yang berada di dedaunan nampak menetes tertiup angin yang berhembus dingin.
Zarra sudah merapikan tasnya untuk segera berangkat kuliah. Hari ini ia ingin ke perpustakaan, mencari ide untuk proposal penelitiannya. Hari ini ia berangkat menggunakan gamis navy yang diberikan oleh Asyifa kemarin. Ia mematutkan dirinya sekali lagi di cermin. 'Bismillah,' bisiknya dengan senyuman di bibirnya. Ia pun berjalan melengang keluar kamarnya.
"Bi, aku pulang agak sorean ya? Assalamu'alaikum," pamit Zarra.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Asih. Ia tertegun melihat Zarra menggunakan hijab dan gamis panjang. Tampak cantik. Mata setengah baya itu mengikuti langkah Zarra hingga ia menghilang di balik pintu. Diam-diam Bi Asih berdo'a semoga Zarra istiqomah dengan jalan hijrahnya. Lalu, ia pun kembali dengan aktivitasnya di dapur.
Zarra sengaja berangkat lebih pagi. Meskipun jarak dari rumah ke kampusnya hanya 20 menit, tetapi ia ingin menghindari kemacetan. Lagipula seperti pesan Umi Fatma bahwa menunda waktu sama saja dengan membuang waktu, apalagi untuk kegiatan yang tidak jelas. Zarra sadar, kini ia harus lebih fokus pada kuliahnya. Ia ingin segera wisuda dan bekerja. Setidaknya ia tak bergantung lagi pada orang tuanya. Atau memulai usaha. Ah, apalah itu nanti ia akan memikirkannya kembali.
Hati Zarra begitu senang saat berangkat menuju kampusnya. Ia memarkir mobilnya di tempat yang teduh. Ramai juga ya kalau pagi, batinnya. Mungkin karena kampusnya berdekatan dengan sekolah SMP dan gedung perkantoran. Hari ini Zarra hanya ada jadwal satu mata kuliah. Ia pun menuju ruang kelasnya. Baru saja membuka pintu, ruang kelas itu berubah sunyi.
"Wih, siapa nih? Mahasiswi baru ya,?" seru Agil, salah seorang temannya. Beberapa temannya tertawa. Zarra berusaha tak mempedulikannya. Ia pun mengambil tempat duduk tepat di depan dosen.
"Ra, mau dong ta'arufan," seru Gilang, salah satu teman Agil. Mereka kembali tertawa. Zarra hanya diam saja. 'Biarkan saja. Dalam dua hari mereka akan terbiasa dan berhenti ngomongin kamu,' kata-kata Asyifa terngiang. Iya, sebelum ia benar-benar memutuskan menutup auratnya, Asyifa banyak menasehatinya. Terutama menghadapi teman-teman kampus yang usil. Untungnya teman-teman sekelas Zarra tak sampai usil. Godaan-godaan itupun berhenti dengan sendirinya setelah 10 menit karena Zarra tak menggubrisnya. Begitu Pak Adi masuk, ruangan itu pun sunyi. Perkuliahan pun dimulai.
❤️❤️❤️
Perkuliahan hari ini cukup panjang. Bahkan Zarra selesai lebih lambat daripada biasanya. Begitu selesai perkuliahan, ia berjalan menuju perpustakaan. Ia ingin mencari referensi tambahan untuk judul penelitiannya. Ia pun menelusuri koleksi skripsi di perpustakaan kampusnya. Skripsi-skripsi itu mengambil topik yang hampir sama dengan sudut pandang yang berbeda. Sedang asyik membaca skripsi kakak angkatannya itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan whatsapp masuk.
- Kinar -
Assalamu'alaikum, Ra.
Bisa ketemuan? Ada waktu?
__ADS_1
Zarra terdiam membaca pesan itu. Kinar ingin ketemu? Zarra masih menimbang. Sebenarnya dia ada waktu, karena sengaja hari ini ia ingin berlama-lama di perpustakaan. Kinar pasti ingin menyelesaikan atau menjelaskan perihal kemarin. Bukankah itu hal baik? Dengan mengetahui kebenarannya, tentu ia akan semakin ikhlas melepasnya. Intinya jangan suudzon. Ia pun mulai mengetik pesan membalas chat Kinar.
-**Zarra -
Wa'alaikumsalam. Iya. Bisa. Mau ketemu dimana?
- Kinar -
Kantin aja gimana?
- Zarra -
Okay. Otw kantin ya?
- Kinar -
Zarra pun mengembalikan skripsi yang baru dibacanya. Ia bergegas menuju kantin kampusnya. Sesampainya di kantin, ia melihat Kinar duduk di meja sendirian. Zarra pun berjalan mendekat.
"Assalamu'alaikum," sapa Zarra. Kinar mendongak
"Wa'alaikumsalam. Duduk, Ra," jawab Kinar mempersilahkan Zarra duduk. Zarra pun duduk di depan Kinar. "Jadi, benaean nih kamu hijrah?," tanya Kinar. Zarra hanya mengangguk pelan.
"Emm..aku to the point aja ya? Aku mau jelasin soal pertemuan kita kemarin, Ra," kata Kinar. Zarra tak bergeming. Ia menatap Kinar dalam-dalam. Menunggu kata-kata Kinar selanjutnya.
"Kami menikah, Ra. Untuk itulah aku ambil cuti kuliah," ujar Kinar.
DEGG
__ADS_1
Jantung Zarra berdegup kencang. Pipinya terasa panas. Ia berusaha mengendalikan emosinya dengan terus menggumamkan istighfar dalam hatinya.
"Maaf, Ra. Aku nggak maksud merebut Malik dari kamu. Atau nggak setia kawan sama kamu. Ini keputusan keluarga Malik. Sebulan yang lalu mereka meng-khitbah ku. Lalu, kami menikah seminggu setelahnya. Aku mohon jangan salah paham, Ra. Awalnya memang kamu yang ingin dikenalkan Malik ke keluarganya. Tetapi ibu Malik kesehatannya menurun dan kamu tahu keluarga Malik seperti apa 'kan? Mereka menginginkan wanita yang berhijab, dan kamu pada saat itu masih belum berhijab. Malik ingin menunggumu, tetapi ibu Malik tak bisa. Dan kebetulan sekali kedua orang tua kami saling kenal lama sekali," jelas Kinar. Zarra menghela napas panjang untuk menenangkan hatinya yang mulai gusar.
"Enggak apa-apa, Ki. Sebenarnya kamu nggak harus membuat penjelasan juga seperti ini. Kamu ingat? Aku dan Malik sudah putus. Dia bukan siapa-siapaku. Dia berhak memutuskan wanita mana yang mau dinikahinya dan itu bukan urusanku lagi, Ki," jawab Zarra dengan penekanan. Kinar menghela napas mendengar jawaban Zarra. Ia tahu Zarra pasti sakit hati dengan dirinya dan Malik. Apalagi sebulan terakhir mereka berlagak menghindari Zarra, karena belum siap memberikan penjelasan.
"Ra, aku tahu perasaan kalian. Aku rela kalau harus berbagi Malik dengan dirimu. Aku akan mengatakan pada keluarga kami," bujuk Kinar setengah berbohong. Sebenarnya ia tak akan sanggup melihat Malik menikahi Zarra. Pertemuan kemarin saja sudah membuatnya cemburu setengah mati. Zarra tertawa kecil.
"Maaf, Ki. Aku enggak bisa. Jangan pernah mendustai dirimu sendiri bahwa kamu rela berbagi pasangan. Kalaupun iya, maaf, aku yang enggak bisa. Aku belum siap. Alhamdulillah aku tahu sekarang. Malik jodohmu, jagalah! Aku ikhlaskan kalian seperti kehidupan masa laluku," kata Zarra. Ia menghela napas panjang. Hening kemudian diantara keduanya.
"Kalau sudah tak ada yang dibicarakan lagi, aku pamit ya? Assalamu'alaikum," pamit Zarra sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Kinar. Matanya tak lepas memandang kepergian sahabatnya itu. Dalam hatinya ada rasa bersalah, seolah ia telah mengkhianati persahabatan mereka. Tetapi nasi telah menjadi bubur dan Zarra sudah mengatakan keikhlasannya. Kinar bahkan tak sanggup memberikan undangan kepada Zarra. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju parkiran dimana Malik sudah menunggunya. Tak lupa ia membuang undangan untuk Zarra itu ke tempat sampah. Hari ini menjadi hari yang berat bagi mereka.
❤️❤️❤️
POV ZARRA
Sakit? Yes! Marah? Banget! Kecewa? Sudah pasti! Tapi aku bisa apa? Mereka sudah menikah. Tak ada undangan, tak ada pemberitahuan. Meskipun aku bisa menebak alasan mereka, at least mereka bisa memberitahuku. Jadi ujung dari setiap perubahan mereka akhir-akhir ini adalah pernikahan ini.
Aku sudah berjanji mengikhlaskannya. Aku juga harus siap melepasnya. Memang kami tak berjodoh. Bodohnya lagi, Kinar menawariku untuk menjadi istri kedua Malik. Ia rela berbagi Malik. I knew she's lying. Bohong kalau dia bisa berbagi Malik. Jikalaupun memang benar dia bisa berbagi Malik, aku tak mau. Aku tak mau menikah untuk menebus rasa bersalah mereka padaku. Aku tak mau menjadi duri. Lagipula hubungan kami sudah selesai. Aku anggap selesai sampai di sini saja. Insha Allah aku ikhlas melepas mereka seperti aku melepas kehidupanku sebelumnya. Insha Allah.
❤️❤️❤️
__ADS_1