Temani Aku Berhijrah

Temani Aku Berhijrah
HIDUP BARU


__ADS_3

Hari telah berganti. Matahari pagi sudah mulai terang menyinari kota Surabaya. Zarra mengejapkan matanya. Ia teringat tadi pagi ia tertidur setelah sholat subuh bersama Fahri. Seingatnya ia tertidur di atas sajadah saat Fahri sedang berdzikir. Ia tak dapat menahan kantuknya setelah lelah akibat pesta semalam. Pesta resepsi mereka selesai pukul dua belas dan Zarra baru bisa tidur setengah 2 karena harus melepas baju, menghapus make up dan mandi. Bahkan, saking lelah dan ngantuknya Zarra tak sempat ngobrol dengan Fahri.


Zarra bangun dari tempat tidurnya. Ia masih menggunakan mukena, tetapi ia telah berpindah ke tempat tidur. Zarra melepas mukenanya dan memandang sekeliling. Tak ada sosok Fahri. Ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi, tak ada jawaban. Ia membuka pintunya. Fahri tak ada juga. Kemana Fahri sepagi itu pergi, batinnya. Apakah Fahri marah karena Zarra ketiduran semalam dan subuh tadi? Pertanyaan itu terus mengganggu pikiran Zarra.


Zarra menghela napas panjang. Di hari pertamanya sebagai seorang istri, ia tak melakukan apa yang seharusnya istri lakukan. Mereka masih di hotel saja seperti ini, apalagi nanti pulang ke rumah, pikir Zarra. Ia merasa khawatir kalau ia melakukan kesalahan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berusaha sebaik-baiknya. Ia termenung di tempat tidur yang besar itu sendiri. Namun, ia baru menyadari kamarnya rapi dan kopernya pun telah siap. Pasti Fahri yang melakukannya.


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Fahri muncul dari balik pintu dengan membawa sebaki sarapan. Ia muncul dengan senyum manisnya. "Pagi, Sayang. Udah bangun ternyata. Sarapan yuk!," kata Fahri. Ia meletakkan baki berisi kopi susu, sepiring sandwich dan segelas air putih di meja dekat tempat tidur mereka. Melihat senyum Fahri, semua pikiran buruk Zarra perlahan menguap dari hatinya.


"Kakak darimana sih?," tanya Zarra.


"Maaf, Ra. Tadi abis sholat, aku ke gym trus sarapan," jawab Fahri. Zarra baru tahu kalau Fahri suka olahraga. "Karena tadi aku lihat kamu capek banget, ya aku nggak bangunin kamu. Kasihan, kamu cuma dapet tidur 3 jam semalam," lanjut Fahri. Zarra menatap Fahri lekat-lekat. Sekarang semua pikiran negatifnya benar-benar menguap tak bersisa di hatinya.


"Maaf, Kak. Semalam Zarra langsung tidur abis mandi. Tadi juga abis sholat subuh. Maafin Zarra ya, Kak?," ucap Zarra akhirnya. Fahri mengernyitkan dahinya heran.


"Kok minta maaf?," Fahri balik bertanya.


"Iya. Kan seharusnya Zarra nemenin Kakak ngobrol dulu. Apalagi imam lagi dzikir, akunya ketiduran. Sekarang, harusnya aku yang siapin sarapan buat Kakak, malah Kakak yang siapin semuanya," ujar Zarra kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri. Fahri terkekeh mendengar penuturan istrinya yang polos itu.


"Kamu pernah belajar adab suami istri?," tanya Fahri. Zarra menggeleng. Ia menunduk malu. Fahri mengangkat dagu Zarra lembut. "Hei. Zarra sayang, seorang istri itu datang untuk dibahagiakan. Bukan pesuruh atau pembantu. Suami istri itu saling melengkapi kekurangan masing-masing. Saling menutupi aibnya masing-masing. Istri itu pakaian bagi suaminya. Dan sebaik-baiknya suami adalah ia yang memuliakan istrinya. Kakak menyiapkan kamu sarapan karena itu keinginan Kakak sendiri. Itu namanya tawadhu', yang artinya merendahkan diri untuk memuliakan istri. Istri itu juga manusia yang juga punya limit di tubuhnya. Ia juga bisa capek, lelah dan stress. Dan disitulah fungsi suami, melengkapinya," jelas Fahri panjang lebar.


Zarra benar-benar bersyukur mendapatkan suami seperti Fahri. Kekhawatirannya sedikit berkurang. Ia pun tersenyum. Jelas sekali kecantikan Zarra di mata Fahri saat tersenyum seperti itu.


"Kita akan saling menasehati dan mengingatkan ya? Kamu jangan sungkan curhat sama Kakak," kata Fahri meyakinkan Zarra. Zarra mengangguk. "Ya sudah, ayo kamu sarapan dulu. Abis itu kita siap-siap balik ya?," kata Fahri lagi. Lagi, Zarra mengangguk. Sejenak, saat Fahri mengambilkan sarapannya, ia menatap wajah Fahri. Hidung mancung, kumis dan jenggot tipis. Kulitnya bersih dan rambut lurus rapinya benar-benar memukau. Zarra baru kali ini bisa memperhatikan Fahri sedekat ini.


"Besok kita urus passpor sama visa kamu untuk ke Kairo ya?," ucap Fahri membuyarkan lamunan Zarra. Zarra mengangguk senyum. Ia meneguk kopi yang diberikan Fahri. Fahri tersenyum sembari merapikan rambut istrinya, membuat Zarra tersipu malu. Wajahnya sampai bersemu merah. Saking malunya ia pun salah tingkah.

__ADS_1


"Aduh, aku mandi dulu aja, Kak," kata Zarra. Fahri terkekeh mengetahui istrinya yang tengah salah tingkah itu. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika Zarra masuk ke dalam kamar mandi.


 


❤️❤️❤️


 


"Selamat datang Nyonya Akhtar Rahman!". Suara Amira terdengar ceria melihat kedatangan Fahri dan Zarra. Zarra sampai tersipu malu mendengarnya. Ibu Fahri langsung menyambut menantunya itu dengan mencium keningnya.


"Ayo sarapan dulu!," ajak Ibu Fahri. Zarra pun mengiyakan. Ia berjalan menuju meja makan bersama Ibu Fahri, Husna dan Amira. Humaira tak terlihat. Mungkin sedang bermain dengan pengasuhnya. Sedangkan, Fahri membawa koper mereka menuju kamarnya di lantai dua.


"Ibu masak spesial untuk kamu," kata Ibu Fahri. Zarra tersenyum. Ia melihat makanan lengkap tersaji di mejanya. Tak lama kemudian Fahri turun menyusul duduk di ruang makan bersama mereka. Zarra mengambilkan Fahri piring beserta makanannya. Ibu Fahri hanya meliriknya dengan senyuman.


"Nak, gimana kelanjutan studimu di Kairo?," tanya Ibu Fahri.


"Zarra gimana?".


"Besok kita mau urus passpor sama visanya. Dia ikut aku, Bu. Soalnya bulan depan kita sudah harus terbang ke Kairo," jelas Fahri. Ibu Fahri mengangguk senang.


"Trus usaha Bang Fahri di sini gimana?," tanya Amira. Usaha?, batin Zarra. Zarra tak tahu Fahri punya usaha sendiri. Setahunya Fahri dan keluarganya mengelola minimarket peninggalan ayah mereka. Minimarket itu juga sudah memiliki 3 cabang, yang masing-masing dipegang Husna, Fahri dan Amira. Namun, Husna memiliki usaha lain berupa butik busana muslim yang baru saja dibuka baru-baru ini. Sedangkan Amira, membuka usaha kopi kekinian dan membuka gerainya di Tunjungan Plaza 2.


"Usaha?," tanya Zarra spontan. Semua mata tertuju padanya. Zarra pun sama bingungnya seperti tatapan mereka. Fahri sudah memberi isyarat agar Amira tak menceritakan hal itu. Namun, Amira tak melihat isyarat Fahri.


"Lho, Bang Fahri belum cerita kalau dia buka usaha buat kamu?," tanya Amira. Zarra bertambah bingung. Ia menggeleng cepat. Husna dan Ibu Fahri sudah menahan tawa melihat situasi itu. Fahri sudah menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Adik perempuannya itu memang tak bisa diajak kompromi memberikan surprise.

__ADS_1


"Jadi, Bang Fahri itu nyewa tempat di deket minimarketnya. Dia mau buka cafe buat kamu," jawab Amira dengan santainya melirik Fahri. Fahri hanya menggelengkan kepalanya. Rusak sudah surprise yang direncanakannya.


"Masih renovasi, sih. Rencananya pas kalian pulang dari Kairo cafe itu sudah bisa jalan," sambung Amira. Tambah rusaklah rencana surprise Fahri. Akhirnya Ibu Fahri dan Husna benar-benar tertawa. Zarra menatap Fahri meminta penjelasan.


"Kamu nih, Dek! Rusak sudah rencana Abangmu buat kasih surprise Zarra," kata Husna sembari menepuk bahu Amira pelan. Amira baru sadar kalau semua yang ia ceritakan adalah rencana surprise Fahri. Ia menutup mulutnya dan merasa bersalah pada Fahri.


"Maaf, Bang Fahri," ucap Amira memelas. Fahri terkekeh melihat Amira yang sok imut saat meminta maaf. Ia memang tak pernah bisa marah kepada saudara-saudaranya. Zarra tersenyum melihat keakraban keluarga ini.


Setelah sarapan, Ibu Fahri dan Husna memutuskan untuk keluar mengunjungi butik Husna. Sedangkan Amira berangkat ke Tunjungan untuk mengecek usaha barunya. Zarra memutuskan untuk tinggal di rumah. Ia melihat Fahri sedang duduk di teras belakang. Zarra berinisiatif untuk mengajaknya bicara soal usaha baru itu. Ia membawakan segelas teh dan churros buatannya.


"Kak, tehnya," kata Zarra. Fahri yang sedang membuka ponselnya itu kemudian berhenti. Matanya berbinar melihat camilan yang dibawakan Zarra. Zarra pun duduk di sebelahnya. Ia menunggu Fahri selesai meneguk teh yang ia hidangkan.


"Kak, aku mau tanya soal usaha baru kakak ya ng dibilang Amira tadi," kata Zarra hati-hati. Ia takut menyinggung Fahri. Fahri menoleh ke arahnya.


"Maaf ya, Ra. Nggak jadi surprise lagi. Sebenarnya itu hadiahku untuk kamu. Kamu kan suka masak, punya catering, kenapa nggak aku buatin cafe sekalian. Yah, biar kamu bisa menyalurkan hobi. Cuma ya emang bakalan lama nunggunya. Tempatnya masih aku renov total karena bangunannya udah jelek," ungkap Fahri. Zarra menatapnya dalam-dalam.


"Kak, apa itu nggak berlebihan?," tanya Zarra. Fahri mengernyitkan dahinya. "Maaf, Kak. Aku nggak ada maksud nyinggung Kakak. Aku senang, bahagia malah. Tapi itu kan menyita cost banyak. Cuma buat aku. Aku ini siapa?," jelas Zarra. Wajahnya menunduk. Ia bukannya tak berterima kasih atau bersyukur dengan hadiah itu. Tetapi, menurutnya hadiah itu terlalu besar untuknya. Sebuah cafe. Sedangkan, ia belum bisa apa-apa sebagai seorang istri.


Fahri menghela napas panjang dan tersenyum melihat kerendahan hati istrinya itu. Menurutnya, Zarra terlalu tak percaya diri. Zarra merasa bahwa diriny seolah-olah tidak pantas menerima hadiah. Ia mengerti bahwa dialah sebagai suami yang harus membangkitkan kepercayaan diri Zarra. Ia mengangkat dagu Zarra lembut hingga wajah mereka berhadapan. Lalu, memegang kedua pipi yang setengahnya terbalut hijab maroon dengan lembut.


"Zarra, rendah hati boleh tapi jangan rendah diri. Kamu sama seperti wanita lain di rumah ini. Kamu sama berharganya dengan muslimah lainnya. Aku, sebagai suami wajib membahagiakanmu. Dan ini caraku memberi sedikit bahagia untukmu. Kamu pantas menerimanya karena kamu istriku. Walaupun seandainya itu atas namaku, hasil usaha itu tetaplah menjadi milikmu sebagai nafkah dariku. Jangan merasa tak pantas Zarra, tetapi juga jangan lupa bersyukur," jelas Fahri. Zarra mengangguk senyum. Fahri kemudian tersenyum.


"Jadi, aku mohon kamu ridho atas apapun pemberianku?," pinta Fahri lagi. Zarra mengangguk.


"Itu pasti, Kak. Aku akan selalu ridho dengan pemberianmu," jawab Zarra dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Mulai hari ini kita akan memulai hidup baru, Ra, sebagai suami istri. Bismillah aku akan bimbing kamu. Bismillah kita jalani semuanya bareng-bareng ya?," kata Fahri. Zarra mengangguk senyum. Kemudian Fahri memeluknya. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki yang kini resmi menjadi miliknya seutuhnya. Hari baru telah dimulai. Kehidupan baru dan babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Bismillah, bisiknya dalam hati.


❤️❤️❤️


__ADS_2